35. Masa Lalu Diandra 5

1175 Kata
Setelah puas berbicara dengan sang Madam, Diandra dengan cepat memilih bunga Liliy yang bagus dan segera kembali menemui kakaknya. Sang Madam juga sudah lebih dulu pergi, katanya ada panggilan dari seseorang. Tidak mau membuang-buang waktu sang Madam, Diandra tentu saja membiarkan sang Madam pergi. Saat ini matahari sangat terik, tepat di siang hari. Diandra dengan langkah larinya yang gesit pun berusaha secepat mungkin untuk menemui kakaknya kembali. Sejujurnya dia agak sedikit tidak tenang ketika meninggalkan kakaknya sendiri di situasi seperti ini, dia takut kakaknya diganggu oleh para preman berandalan kurangajar. Ketika sampai di g**g tempat kakaknya beristirahat seorang diripun, Diandra langsung menegang, karena pasalnya dia tidak melihat kakaknya di tempat sebelum dia pergi menuju Gereja. “Kakak?” gumam Diandra, keningnya sedikit mengerut, raut wajahnya tegang dan pucat. Diandra segera berlari masuk ke dalam g**g lebih dalam, matanya melihat ke setiap sudut g**g untuk menemukan Liliana kakaknya. Kedua mata ceria Diandra kini mulai berkaca-kaca, menahan tangis. Di mana kakaknya? Mengapa tiba-tiba menghilang? Tidak menemukan kakaknya di g**g tersebut, Diandra segera berlari kencang keluar g**g dan mencari kakaknya di setiap sudut kota New York hingga malam hari. Orang-orang yang melihatnya sedikit heran, mengapa anak kecil itu terlihat sangat kacau? Apa yang sudah terjadi padanya? Tiga – lima orang bertanya kepada Diandra, namun lidahnya terlalu kelu untuk bicara saking paniknya ia. Lagi pula di pikirannya pun percuma menjawab pertanyaan mereka, karena Diandra tahu, mereka itu hanya ingin tahu, bukan membantu. Langit saat ini benar-benar gelap, angin dingin pun berhembus kencang menyapa kulit Diandra. Dinginnya sangat menusuk tulang, pakaian Diandra tidak cukup tebal untuk melawan angin malam yang dingin. Sampai akhirnya, Diandra masuk ke dalam g**g terakhir yang ia temui. Jaraknya sudah lumayan jauh dari g**g yang sebelumnya menjadi tempat ia dan kakaknya beristirahat. Terdengar suara pria yang ramai dari dalam g**g, hati Diandra awalnya merasa ragu untuk terus masuk ke dalam, namun saat melihat syal milik kakaknya yang kemarin malam diberikan oleh sang Madam, Diandra tanpa pikir panjang pun langsung menepis perasaan ragunya dan berjalan masuk dengan berani. Memang benar hatinya merasa takut, tetapi jika dia lebih mendengarkan perasaan hatinya, kakaknya bisa saja saat ini sedang dalam bahaya yang tidak ia ketahui. “f**k! Pegang kedua tangannya dengan benar!” “Kau mau roti? Masih banyak sekali roti di kantung plastic ini, entah dari mana jalang itu mendapatkannya.” “HAHAHA, bisa saja dia mencuri!” Paa!!! Terdengar suara tamparan yang nyaring, membuat Diandra terkejut dan menghentikan langkah kakinya. Kini dia samar-samar dapat melihat tiga orang laki-laki di dalam g**g, mereka tidak terlihat jelas karena langit sudah berganti malam dan hanya mengandalka penerangan lampu redup di ujung g**g. Ukh … susah dipastikan apa yang terjadi di depan, apa lagi bau asap rokok dan alkohol yang menusuk hidung membuat fantasy mengerikan Diandra bermain. Hatinya semakin merasa khawatir kepada kakaknya, kakaknya tidak mungkin berteman dengan orang-orang seperti ini. “Jangan melawan! s**t! Aku sudah sampai ujungnya!” Klang! Kaki Diandra tidak sengaja menendang botol alkohol saat kembali melanjutkan jalannya, membuat dia sendiri terkejut dan kembali berhenti. Ketiga pria itu segera menoleh dan menatap Diandra dengan alis kiri yang sedikit terangkat. “Siapa kau?” tanya salah satu dari mereka. “Hei, nyalakan senter. Aku ingin melihat wajahnya dengan jelas,” ujar salah satu pria lainnya, meminta bantuan temannya. Tak lama cahaya senter pun muncul, menerangi g**g yang tadinya gelap gulita menjadi sedikit bercahaya. Saat mereka terkejut melihat Diandra adalah seorang wanita, Diandra pun ikut terkejut saat melihat kakaknya berbaring di bawah pria tanpa busana dengan kacau. “Diandra! Sedang apa kau di sini?!” seru Liliana dengan mata berkaca-kaca. Tubuh Diandra langsung merinding sampai sedikit gemetar, matanya menatap syok ke arah kakaknya. “K – kakak ….” Gumam Diandra, matanya kini pun kembali berkaca-kaca dan meneteskan air mata. Liliana terlihat segera menutup wajahnya, menolak melihat Diandra, dia malu dengan situasi saat ini kepada adiknya. “Oh … jadi kalian adalah kakak adik, ya?” tanya pria yang memegang lampu senter dengan seringaian tipis. “Adikmu boleh juga,” ucap pria satunya yang berdiri dengan memegang botol alkohol. Liliana yang mendengar kalimat itu pun segera membuka wajahnya lagi dan berusaha bangkit dari posisi berbaringnya. “Tidak! Tidak ! Jangan sentuh adikku! Biarkan dia pergi!” “Hei, kau! Fokus, jalang. Urusanmu denganku belum selesai, jadilah jalang yang baik!” ujar pria yang saat ini tengah berada tepat di atas tubuh Liliana, pria itu dengan kasar menampar paha Liliana. Diandra masih terpaku, menatap pemandangan buruk di depannya. Dia memperhatikan tubuh kakaknya yang penuh dengan luka memar, terlihat darah juga di sudut bibir kakaknya. Kedua telapak tangan Diandra mengepal, menatap ketiga pria itu dengan tajam. “Apa yang sudah kalian lakukan kepada kakakku?” tanya Diandra, nada bertanyanya masih terdengar rendah. “Hah? Apa? Apa yang kau katakana? Katakan lebih keras!” balas pria yang memegang botol alkohol, dia bertanya balik sambil berjalan mendekati Diandra. Pria itu meletakkan tangannya di bahu Diandra, merangkul. “Apa yang kalian lakukan kepada kakakku?” tanya Diandra lagi, kini nada bicaranya sudah naik satu oktaf. “Apa? Duh, aku tidak mendengarnya! Katakan lebih keras, sayang,” ucap pria itu lagi, suaranya terdengar sangat menjijikkan di telinga Diandra. Bagaimana mungkin pria berumur dua puluh tahunan merayu anak kecil berumur sepuluh tahun? Apakah dia memiliki ‘penyakit’ atau ‘selera’ khusus? Diandra menggigit bibir dalamnya, setelah itu mendongakkan kepalanya dan menatap garang ke pria yang merangkul bahunya. “APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN KEPADA KAKAKKU?!!” Dia berteriak membentak, setelah itu kakinya dengan lincah menendang kemaluan pria itu. Buagh!!! “Akhh!!” pria itu meringis, dia segera jatuh terududuk dan sibuk mengaduh kesakitan. Sementara pria yang memegang senter tadi terkejut, begitu juga dengan pria satunya dan Liliana. “Kakak! Aku akan menyelamatkanku!” seru Diandra, menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca. Liliana tertegun, hatinya tersentuh. Ingin sekali rasanya dia menendang pria yang berada di atas tubuhnya ini, namun tubuhnya sudah kelewat lemah tak bisa bergerak, rasanya mati rasa karena siksaan mereka. Pria yang tadi memegang senter pun segera melempar senternya ke tanah, karena senter masih dalam keadaan hidup, maka pencahayaan di g**g masih bertahan. Pria itu mencekal tangan Diandra, dengan niat membatasi pergerakan memberontak Diandra. Namun Diandra segera menggigit tangan pria itu kencang, sangat kencang sampai lidahnya merasa darah milik pria yang ia gigit lengannya. “Akh! s****n!” umpat pria itu, sementara Diandra langsung meludah ke samping untuk mengeluarkan darah yang ada di mulutnya. “Berani-beraninya kau!” seru pria itu, dia masih fokus dengan rasa sakit akibat gigitan Diandra. Kelewat cerdik, Diandra tidak mau pria satunya yang tadi ia tending k*********a bangkit, kini ia kembali menginjak kemaluan pria itu lagi, membuat pria itu berteriak dan gagal bangkit kembali. Pria yang tadi digigit lengannya pun kembali berjalan maju, begitu juga Diandra yang langsung berlari maju dan memeluk pria itu sambil menggigitnya kencang-kencang. Pria itu memukul kepala Diandra, berusaha menendang, mendorong, dan menampar, namun Diandra dengan erat memeluknya serta menggigit langannya kasar. “s****n! Lepas!” Diandra memang tidak yakin akan menang melawan tiga pria dewasa ini, tetapi setidaknya dia akan mencoba yang terbaik untuk menolong kakaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN