36. Masa Lalu Diandra 6

1405 Kata
“s****n, berisik sekali,” umpat pria yang sibuk ‘bermain’ dengan Liliana. Pria itu segera berhenti dan memakai celananya dengan sempurna, setelah itu mengambil suatu barang dari dalam tas-nya. Liliana yang melihat ini pun segera membelalakkan matanya. Diandra yang masih sibuk melawan pria yang tengah dia gigit pun tidak menyadari bahwa pria yang berada di dekat kakaknya tadi kini berjalan mendekatinya. “Mengurus bocah sepuluh tahun saja tidak becus!” ucap pria itu sambil menarik temannya dari cengkeraman Diandra dan melemparnya ke samping dengan kasar. Kepala pria itu membentur dinding kasar, sepertinya kepalanya juga bocor akibat lemparan dari temannya sendiri. “Aku hanya ingin bersenang-senang, mengapa kalian menggangguku, sih? Bagaimana mungkin mengurus satu bocah saja tidak bisa!” ucapnya lagi dengan nada penuh amarah, lalu tangan kanannya mengeluarkan sesuatu. Diandra terpaku di tempatnya berdiri, matanya menatap lekat ke benda yang pria itu genggam menggunakan tangan kanannya. Itu … pisau lipat. “Tidak! Jangan! Jangan sentuh adikku!” teriak Liliana sambil menangis, dia berusaha untuk bangkit, melawan seluruh rasa ngilu dan nyeri di tubuhnya. “Diandra! Lari! Jangan pedulikan kakak! Lari!” seru Liliana lagi, berharap Diandra segera berlari pergi dan meninggalkannya. Diandra harus selamat, Liliana tidak ingin melihat adiknya terluka. Kaki Diandra perlahan mengambil langkah mundur tanpa sadar, lalu tiba-tiba pria yang tadi sibuk mengaduh karena alat vitalnya ditendang oleh Diandra pun bangkit dan mulai menahan kedua tangan Diandra. “Anak nakal, mau pergi ke mana kau?” ucapnya. Diandra sempat melirik ke arahnya yang kesusahan untuk bangkit, mata mereka saling bertatapan. Terlihat jelas di mata Liliana bahwa ia mengharapkan Diandra untuk cepat beralari pergi. Tetapi … itu tidak akan terjadi. Bagaimana mungkin Diandra meninggalkan kakaknya sendirian? Satu-satunya keluarga Diandra yang masih hidup. Lagi pula, jika posisi mereka dibalik pun, apakah Liliana akan bersedia pergi juga? Tidak ‘kan? Begitu juga dengan Diandra. Diandra kembali fokus ke dalam pikirannya, berusaha untuk memberontak dan melawan dua pria yang mencekalnya. “Lepaskan aku!” teriak Diandra, dia melawan dan marah sambil menangis. Paa! Pria yang membawa pisau lipat itu menampar pipi Diandra dengan kasar, setelah itu menempelkan badan pisau yang dingin ke pipi Diandra. “Lebih baik kau menjadi jalang juga seperti kakakmu. Jika aku menjualmu, menilai dari parasmu pun … sepertinya aku akan mendapatkan harga jual yang tinggi. Ada om-om tua gila di luar sana yang menyukai anak kecil.” Badan Diandra kembali bergetar saat mendengar ini, tetapi dia masih tetap menatap pria di depannya tajam. Saat pria itu mendekatkan wajahnya, Diandra tanpa pikir panjang lagi segera meludahi wajah pria tersebut. Cuih! Kedua pria itu langsung terkejut, pria yang diludahi juga langsung marah besar, semua itu terlihat dari wajahnya yang langsung memerah galak. Paa! Lagi-lagi Diandra ditampar. “Jalang tetaplah jalang. Jika kakaknya jalang, maka pasti adiknya juga begitu!” “Aku lebih memilih mati dari pada harus melihat kau melukai kakakku atau menyentuhku!” ujar Diandra, matanya balas menatap galak pria yang ia ludahi. “Berisik! Lebih baik kau tutup mulutmu itu rapat-rapat!” ucap pria yang menahan kedua tangan Diandra. Diandra tidak mendengarkan, dia terus memberontak. Tak lama kemudian pria yang ia ludahi pun berkata,”Jika dia ingin mati, maka lebih baik kita kabulkan. Menjual organ tubuhnya lebih banyak mendapatkan keuntungan dari pada harus menjualnya ke om-om tua yang kaya.” Tangan kanan pria itu terangkat ke atas, menghunuskan pisau lipat yang ia miliki, lalu tak lama berayun turun. Diandra menatap ujung pisau yang terlihat dingin, tajam, serta berkilau itu sangat lekat. Kepalanya mulai membayangkan seperti apa rasanya jika benda tajam itu menembus perut serta organ tubuhnya. Tetapi … saat pisau lipat itu berayun turun dan siap menerkam perut Diandra, tiba-tiba Liliana muncul dan menarik Diandra kencang sampai terlepas dari cengkeraman pria yang mencekalnya. “Diandra!” seru Liliana, menggantikan posisi Diandra. Krack! Pisau lipat itu gagal menargetkan Diandra, kini justru pisau lipat itu menembus perut Liliana. Diandra yang terlempar ke samping pun syok. Dia melihat pemandangan kakaknya yang ditusuk oleh pisau lipat yang seharusnya menusuk dirinya, pemandangan darah kakaknya pun terlihat jelas di matanya, ini akan menjadi ingatan yang tak akan pernah ia lupakan. Banyak sekali darah yang mengalir keluar, tubuh Liliana pun sudah ambruk ke samping. Diandra mulai merangkak kea rah Liliana dengan air mata berjatuhan, menarik tubuh kakaknya ke dalam pelukannya. “Kakak!” teriak Diandra, kini dia sudah menangis histeris. Kedua pria yang melihat pemandangan ini pun segera mengerutkan kening mereka, pria yang tadi menerkam Liliana dengan pisau lipat pun berdecak. “Ck, untuk apa wanita ini menghalangi?” lalu kakinya menendang tubuh Liliana yang sudah bersimbah darah di dalam pelukan Diandra. Diandra memeluk kakaknya erat, sangat erat. Perlahan napas kakaknya yang tadi memburu mulai menghilang, hati Diandra benar-benar merasa takut, tubuh anak itu kini sudah kembali gemetar, kali ini terlihat lebih nyata dan kencang. Matanya melotot syok dengan kosong, menatap tanah yang sudah dilumuri darah segar kakaknya. “Padahal dunia ini sudah kelewat kejam untuk anak seusiamu, mengapa saat ini kau masih menjadi orang baik? Dan lagi, jika aku yang ada di posisimu barusan, aku tidak akan berlutut. Aku lebih memilih mematahkan leher mereka dari pada berlutut dan menurunkan harga diriku.” “Memaksakan diri menjadi orang yang baik di dunia yang jahat itu sangat merepotkan.” Entah mengapa kalimat yang pernah diucapkan sang Madam muncul di otaknya yang tengah kacau, membuat Diandra semakin erat memeluk kakaknya. Di tengah kesibukannya yang mengingat kalimat sang Madam, tiba-tiba Liliana berkata,”Diandra, tetaplah menjadi orang yang baik. Karena dunia selalu berpihak kepada manusia yang baik.” Diandra beralih menatap kakaknya, wajah kakaknya mulai terlihat pucat. Tubuhnya pun sudah mulai terasa dingin, keadaan mereka berdua benar-benar kacau. Tak lama setelah itu, tiba-tiba kakaknya memejamkan matanya, membuat Diandra semakin membelalakkan matanya dan berusaha untuk membangunkan kakaknya. “Kakak! Jangan tutup matamu! Kakak!” “Percuma saja, dia akan mati karena pendarahan,” ucap pria yang mencekal tangan Diandra barusan. Diandra tertegun, kepalanya menunduk dalam sambil menangis. Mengapa? Mengapa seperti ini? Bukankah dia dan kakaknya sudah berusaha untuk menjadi orang baik? Bukankah tadi pagi dia sudah berdoa kepada Tuhan akan Tuhan memihak mereka berdua? Mengapa seperti ini? Bukankah kakaknya adalah orang baik? Mengapa dia harus mati dan diperkosa oleh berandalan? Bagaimana dengan dirinya? Mengapa dunia tetap tidak berpihak kepada mereka berdua, bahkan setelah mereka menjadi orang baik? Sekali lagi, kalimat yang pernah diucapkam sang Madam yang lain pun muncul di otaknya. ”Tidak semua orang jahat itu buruk, ada yang baik. Tetapi jika ada kejahatan, maka pelakunya pasti orang jahat. Dunia ini hidup perbedaan yang berpasangan seperti wanita dan pria, matahari dan bulan, dan di China ada Yin dan Yang. Begitu pula dengan hukum dunia, ada baik dan jahat. Orang jahat ada untuk membuat dunia seimbang, jika tidak ada orang jahat di dunia ini, maka akan terjadi ketidakseimbangan dunia. Pihak kepolisian akan menganggur dan memakan gaji buta, nak.” “Kau tidak perlu harus memaksakan dirimu untuk menjadi orang yang baik di dunia yang jahat ini, nak. Kau tidak perlu menahan emosi hatimu dan membiarkan orang lain mneginjak-nginjakmu dengan mudah hanya karena kau adalah ‘orang baik’. Orang baik juga memiliki emosi dan batas kesabaran, konyol jika kau terus tersenyum selagi mereka merusak apa yang kau cintai. Menjadi jahat lebih baik dari pada harus membohongi hatimu sendiri.” “Benar, itu jawabanmu ‘kan? Lalu, aku akan kembali bertanya. Jika memang Tuhan yang mengatur takdir manusia, bukankah berarti dia yang memberikan takdir buruk dan baik kepada manusia itu sendiri? Dan lagi, kau mengatakan bahwa Tuhan adalah pemilik segalanya dan pencipta alam semesta, jika Tuhan baik, lalu mengapa ia menciptakan kejahatan? Jika manusia baik adalah manusia yang mulia, lalu mengapa Tuhan menciptakan manusia lainnya menjadi jahat? Apa maksud semua ini? Apakah Tuhan mencoba menciptakan perbedaan kasta antar manusia? Singkatnya begini, jika Tuhan baik, mengapa dia memberikan penderitaan kepadamu?” “Karena … karena aku masih belum menjadi anak yang baik?” “Alasan ini lebih konyol dari pada menjadi orang jahat ‘hanya’ karena dunia jahat kepadamu, seperti yang kakakmu bilang itu.” Diandra menggigit bibir dalamnya, setelah itu melepaskan pelukannya dari jasad kakaknya. Tangan kanan Diandra meraih botol alkohol tersebut dan membenturkannya ke tembok, membuat pecahan tajam di botol. Dua pria lainnya hanya diam dan melihat, penasaran apa yang akan Diandra lakukan. Di luar dugaan mereka, Diandra tiba-tiba maju dan menerkam pria yang tadi mencekal tangannya itu dengan botol setengah pecah yang ada di tangannya. Ia sudah hilang akal, benar apa yang dikatakan sang Madam. Orang baik pun memiliki batas kesabarannya tersendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN