Bapak itu seolah tidak percaya jika aku mengetahui tempat pemujaan itu, tempat tumbal mereka. Aku memahami kenapa dia begitu kaget karena sebuah tempat seperti itu pasti akan sangat di rahasiakan keberadaannya. Aku pun enggan untuk memberitahukan di mana tempat pemujaan itu. Aku memilih bungkam mengenai tempat itu. "Bagaimana cara menyelamatkan teman-temanku yang lain?" tanyaku. "Hanya dengan menghancurkan pemujaan mereka maka teman-temanmu akan selamat. Tapi itu sangat berbahaya, lebih baik membiarkan mereka saja," katanya. Aku terdiam mendengar perkataannya. Aku tidak mungkin membiarkan teman-temanku celaka. Jika aku membiarkannya maka pasti aku akan merasa bersalah seumur hidupku. Aku melihat Fitri mulai sadar dari pingsannya. Dia terlihat sangat bingung karena tidak berada di posk

