15 menit kemudian sebuah jeep berhenti dihadapanku dan Fauzian. Wilman turun dari mobil dengan wajah yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Dia terlihat benar-benar sangat marah padaku. Tanpa banyak bicara aku langsung masuk dan duduk di kursi samping supir dan Fauzian duduk di belakang. Wilman menjalankan mobilnya dengan sangat cepat. Aku sudah bersiap dengan apa saja yang akan dia katakan nanti. "Mau kamu apa sih, Di?" tanya Wilman saat kami telah sampai di rumah Hendra. "Aku... aku hanya...," kataku terbata. "Hanya apa? Aku akui sosial dan tanggung jawabmu sangat bagus, tapi harus pergi dengan cara seperti ini? Harus kamu pergi dengan mengendap-endap seperti pencuri?" kata Wilman memarahiku. Aku hanya terdiam seribu bahasa. Percuma aku menjawab perkataan Wilman karena dalam hal in

