Aku dan Arif segera menuju kamar di mana Ria di pasung di sana. Begitu pintu di buka dia terlihat sangat mengkhawatirkan. Tanganya di cakarkan ke pasung yang membelenggu kakinya. "Ria hentikan!" perintahku. Seketika dia langsung berpaling ke arahku dan menatapku tajam. Aku mundur selangkah saat melihat sorot matanya. Aku benar-benar kaget melihat apa yang aku lihat di wajahnya. "Kenapa Di?" tanya Arif. "Dia... dia bukan Ria," jawabku. "Maksud kamu apa Di?" tanya Arif bingung. Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku berusaha untuk mendekat ke arah orang yang terlihat seperti Ria namun bukan Ria. "Di mana Ria?" tanyaku. Tidak ada jawaban, dia kembali melihat ke arahku dengan mata yang garang. Bagi orang yang tidak bisa melihatnya memang akan mengatakan bahwa itu Ria, tapi dia bukan

