Aku bergegas turun ketika kendaraan ini berhenti. Secepat kilat kupercepat langkahku untuk masuk, hingga terdengar suara lantang yang menusuk nuraniku. “Untuk apa kamu ke sini, Kak? Kamu durhaka kepada ibu!” Wanita cantik berpakaian hitam itu menatapku sinis, begitupun dengan lelaki yang berada di sampingnya. Hanya memandang sesaat dan kembali menatap jasad yang telah terbujur kaku. Air mataku luruh, bersamaan dengan rasa bersalah yang kian memuncak. Aku tak peduli betapa sorot mata yang kini memandang heran ke padaku. Mungkin semua orang yang hadirpun berpikiran sama dengan Alisa. Aku adalah anak durhaka, anak yang tak berbakti kepada ibunya. Aku turut serta mengantar ibu di peristirahatan terakhirnya, menatap gundukan tanah yang kini penuh dengan taburan bunga. Jika pagi tadi rasa

