“Viv, apa yang kamu ucapkan? Aku di sini mau membawamu pulang, ibu meninggal.” Bagai sengatan listrik menjalar ke otakku, mengirimkan sinyal ke syarat-syaraf tubuh lainnya, hingga hatiku teramat sangit. Benarkah apa yang aku dengar? “omong kosong apa yang kamu ucapkan, Rey?” Dua bola mataku menatap kepada bos Aroganku. Yang kedepannya mungkin hanya sebatas mantan bos. “Viv, ayolah! Kita pulang sekarang !” ucapnya lagi sambil kembali memegang tanganku. Detik ini aku masih mencoba untuk positif thingking. Aku yakin ibu baik-baik saja. Terakhir aku lihat, tadi pagi ibu sangat sehat, keadaannya membaik. Itu hanya alasan Reynan agar aku mau ikut bersamanya. “Lepaskan tangan Vivian!” Haikal dengan gemeletuk giginya, ikut membuka suara. Reynan menatapku sayu. “Viv, kamu sungguh tega

