“Tidak, aku hanya kesusahan bernafas. Pelukanmu terlalu erat,” dustaku. Aku mencoba menutupi rasa ketakutan yang begitu hebat. Lelaki itu manggut-manggut, mendongakkan wajahku dan menatapku dengan seksama. “Kamu menangis?” tanyanya yang sepertinya menyadari sudut mataku yang basah. “Aku hanya rindu, Ibu. Mendadak aku ingin bertemu dengannya.” Lelaki itu tersenyum, senyum yang tadinya tampak mengerikan kini mendadak hangat. “Jika kamu berkenan, kamu ajak ibu dan Alisa tinggal di sini. Kamu bisa memilih siapapun dokter yang kamu tunjuk jadi dokter pribadi ibumu.” Aku ternganga, melihat lelaki yang kini tepat di depanku. ‘Benarkah?’ “Ini kartu debit ku, kamu bisa memakainya sesuka mu. Belilah pakaian sebanyak yang kamu inginkan, bahkan jika lemari itu tidak muat?” lelaki itu menunjuk

