Haikal melangkah dan duduk ke kursi makan kesayangannya, tepat berada di paling ujung meja, sedangkan aku yang hendak duduk di kursi di depannya, merasakan sebuah getaran dari saku celanaku, kuraih benda di dalamnya, hingga menampakkan nama Alisa. [ Kakak, tidurlah yang nyenyak. Besok kakak sudah bisa pulang. Alisa yakin itu. ] Sebenarnya apa rencana Alisa dan Reynan? Kenapa mereka seyakin ini? Lalu, kenapa mendadak aku seperti belum siap meninggalkan rumah ini? “Viv! Apa yang kamu lakukan? Ayo duduk dan makan!” “Baiklah.” Aku membiarkan pesan itu begitu saja, dan ikut duduk di kursi dekat Haikal. Tak ada rasa curiga sedikitpun dari lelaki itu kepadaku, justru aku yang kini merasa iba kepadanya. Tentang hidupnya yang penuh liku, begitupun dengan mentalnya. “Makanlah yang banyak, Vi

