Aku memilih diam.
“Berapa lama kenal sekertaris saya, Pak?” tanya Reynan
“Lumayan, Pak. Aku mengenal ia baik dari luar dan dalam.”
Lelaki itu terkekeh, dan aku perlahan melangkah ke luar ruangan. Entah apa yang mereka bicarakan, akupun tak tertarik mendengarnya. Menjauh dari Haikal adalah hal yang tepat untukku saat ini.
**
“Ke ruanganku sekarang, Viv!” panggilan via telfon berisi perintah itu terputus begitu saja.
Tadi pagi ia memintaku menjauhinya, tapi siang harinya terus memintaku untuk datang ke ruangannya. Sungguh aneh bukan?
Aku menunduk hormat ketika memasuki ruangannya, menatap gelas kotor yang masih tergeletak di atas meja. Mungkin maksud bos Aroganku adalah meminta untuk membersihkan ini semua.
“Mau ngapain kamu?”
“Mengambil gelas kotor.”
“Siapa yang memintamu?”
“Bukankah Bapak yang memintaku masuk ruanganku.”
“Dengar perintahkukan? Masuk ruanganku. Bukan bersihkan ruangan.”
“Tapi untuk apa bapak ....”
“Diam. Aku masih malas bicara denganmu.” Lelaki itu menampakkan telapak tangannya ke arahku. Sedangkan fokus matanya masih ke depan laptop di depannya.
Aku yang masih bertanya-tanya, hanya berdiri mematung di depannya. Sedangkan lelaki kulkas di depanku pun tak memberikan perintah apapun. Hanya sesekali menengok, dan fokus matanya kembali ke laptop. Lalu untuk apa aku diminta kesini?
“Duduk, Viv.”
Aku menurut, duduk di kursi depan mejanya.
“Siapa yang menyuruhmu duduk di situ ? Duduk di lantai!”
“Dilantai, Pak?” tanyaku kaget. Masih belum paham apa perintah bos di depanku. Apa maksudnya?
“Kamu tidak tulikan? Duduk di lantai sekarang juga. Atau kamu akan kupecat saat ini.”
Lelaki itu memerintah dengan teriakan, hingga membuat desiran darahku mengalir lebih cepat. Apalagi kata-kata pecat yang selalu keluar dari bibirnya, seperti menjadi momok yang menakutkan, dan mampu meluluh lantahkan persendian ku. Pekerjaan ini adalah satu-satunya harapan untuk kesembuhan ibu, dan biaya sekolah Alisa.
“Ba-baik, Pak.”
Aku duduk dilantai, menekuk kakiku ke belakang, wajahku menunduk, tak mampu menatap lelaki di depanku. Pelupuk mataku mulai basah, merasakan penghinaan seperti ini. Ingin rasanya bangkit dan membalas, namun binar mata ibu dan Alisa terus saja mengurungkan niat itu.
“Apa alasanmu bekerja di sini, Viv?” tanya Reynan yang seakan kembali memberiku tes wawancara masuk perusahaan.
“Dari awal saya sudah bilang, Pak. Saya kerja di sini untuk uang.”
Lelaki itu terkekeh. “Apa suamimu tidak memberi nafkah yang cukup?”
Batinku kembali dipenuhi kalimat tanya. Untuk apa bos arogan di depanku kembali mempermasalahkan kehidupan pribadiku. Apa ia akan semakin menghina jika mengetahui semua kenyataannya?
“Tentu, dia memberiku nafkah yang cukup, justru sangat berlebih.” Aku berdusta. Setidaknya kebohonganku ini bisa menamengi diriku dari hinaan yang lebih.
“Lalu untuk apa kamu kerja di sini? Jika suamimu sudah memberikan semuanya untukmu.”
“Aku ingin mandiri, Pak!”
Lelaki itu terkekeh. “ Sejak kapan kamu tidak bergantung kepada orang lain? Dulu kamu bergantung kepada ayahmu yang kaya raya. Kenapa sekarang Vivian berubah? Kenapa tidak bergantung kepada suami milyardermu itu?”
“Vivian yang lama sudah mati, Pak. Sekarang yang ada adalah Vivian yang mandiri, yang bisa hidup tanpa uluran tangan orang lain.”
“Lalu ... “
Bos Aroganku itu terdiam, sepeti memikirkan sesuatu, antara ragu untuk berucap.
Aku kembali menunduk, dan kini terdengar suara langkah kakinya yang semakin mendekat, dan terus mendekat. Sepatu hitam mahal itu tepat berada di depanku. Lelaki bertubuh kekar berjas mahal itu berjongkok menyetarakan tubuhnya sama denganku.
“Kenapa membeli sepatu saja kamu tak mampu? Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Viv? Kenapa kamu rendahkan dirimu seperti ini? Dimana harga diri kamu yang selalu kamu tinggikan itu? Dimana? Ha?”
Lelaki itu memegang kedua pundakku, menggerakkan tubuhku dan menatapku dengan mata yang basah.
“Apa yang terjadi padamu? Apa yang kamu sembunyikan dariku?”
“Kamu tidak menjual dirimu untuk uang bukan?”
Plakk ...
Sebuah tamparan keras melayang begitu saja di pipi berwarna sawo matang itu. Aku memang rendah, tapi tak serendah yang ia pikir. Cukup sudah harga diri yang terus ia injak-injak.
Lelaki itu memegang pipinya, bahkan bekas jari menempel merah memberikan tanda dari kesombongannya.
Bos Arogan itu terkekeh. “Jangan muna kamu, Viv. Sebutkan hargamu untuk semalam. Aku akan membayar sepuluh kali lipat dari harga yang diberikan Haikal padamu.”
‘Haikal? Apa maksudnya? Apa ia berbicara yang tidak-tidak pada Reynan? Tidak saat itu, maupun masa sekarang, Haikal terus membuat ulah.’
Aku memicingkan bibirku. “Kamu yakin? Akan sanggup membayarku 10x dari yang dibayar Haikal?”
Entah kenapa aku tiba-tiba tertantang dengan penghinaan Reynan. Sudah terlanjur basah, sebaiknya menyelam juga, mungkin saat ini adalah jalan yang lebih menguntungkan untuk aku. Panggilan dari Alisa beberapa saat lalu, membuatku harus berpikir keras, ibu harus segera cuci darah, mengingat tubuhnya yang mulai kembali melemah.
Lelaki berjas mahal itu tampak merogoh dompet dari sakunya, membuka benda tersebut dia mengambil sebuah kartu debit di dalamnya.
“Kodenya hari lahirmu. Datang jam delapan di Louis apartemen nomor 93. Silahkan pergi!”
Aku mengambil benda tersebut dan berlalu, tak mampu menoleh ataupun menatap lelaki di depanku.
Kembali kujatuhkan diriku di atas kursi kerjaku, dua tanganku melingkar diatas meja, dengan kepala yang kutidurkan di atasnya.
“Viv, kamu gila ya?” tanyaku bermonolog dengan diri sendiri.
“Ini tidak boleh, Viv.”
Tanganku meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, kuusap benda tersebut hingga menampakkan walpaper di dalamnya. Foto keluarga dengan sorot mata bahagia, senyum indah melengkung di bibir kami semua. Karena aku, bapak pergi dari dunia ini. Apa aku akan kuat jika melihat ibu pergi juga karena aku?
‘Viv, cepatlah cari uang. Cuci darah ibu tidak bisa menunggu hari gajianmu bukan?’
Aku tersenyum tipis ketika melihat benda pipih yang kuletakkan di laciku. Kartu debit yang tertulis salah satu bank ternama.
“Benarkah? Atau ini hanya tipuan Reynan?”
Aku memegang kartu tersebut, sambil mengetuk benda tersebut ke atas meja.
**
Jam pulang berlalu, pak Reynan pulang lebih awal sebelum jam kerja selesai. Tepatnya seusai memberikan kartu debit miliknya kepadaku. Suka-suka dia juga si, kan ia memang bos di sini. Jadi dia bersikap suka-suka dan semaunya.
Aku perlahan melangkah, turun ke lantai bawah melewati lift. Pikiranku terus berkecamuk dengan waktu yang terus berjalan. Benarkah Reynan menunggu?
Berjalan ke luar gedung, dan mendapati mesin ATM di teras bangunan pencakar langit ini. Aku iseng sekedar memastikan ucapan Reynan.
‘Hari lahirku? Apa benar?’
Aku masih ragu untuk sekedar memasukkan benda tersebut ke mesin ATM. Kalau sandi salah dan ATM nya tenggelam bagaimana? Ah, masa bodoh, toh bukan punyaku.
140593, kutekan tombol tersebut, dan masuk.
Cek saldo, pilih.
“Ha?”
Mataku membulat sempurna, dengan mulut yang kututup dengan telapak tangan. Aku bahkan sengaja menghitung digitnya.
Kekayaan papa yang dulu melimpah, nyatanya tak pernah membuatku memiliki tabungan sebanyak ini.