‘Kenapa kamu tiba-tiba hadir seperti ini, Viv? Seburuk-buruknya kamu di masa lalu kenapa tidak pernah bisa membuatku membencimu? kenap sayangku membutakan segalanya?'
Aku menatap laptop yang selalu menemani hariku, membuka folder di dalamnya. Sebuah kenangan dengan Vivian terekam indah di sana. Vivian yang cuek, Vivian yang selalu marah-marah, dan Vivian yang suka seenaknya sendiri, dan tentunya Vivian yang manja. Tapi entahlah, kenapa aku tak bisa membuang sedikitpun memori tentangnya, meskipun ia terus menghujamku dengan kesedihan, dan penderitaan. Bagaimanapun perlakuannya, cinta tak butuh alasan untjk itu.
“Rey, aku mau es krim.”
“Tapi di sini gak ada penjual es krim, Viv! Aku ke swalayan sebentar ya.”
“Enggak mau. Aku gak mau ditinggal.”
“Ya sudah, kamu ikut saja.”
“Aku mager. Aku malas jalan.”
Hah, aku membuang nafas kasar, mencoba mencari ide untuk Vivianku yang terlampau manja. Duduk di bangku kuliah di semester satu sudah tak layak dibilang anak-anakkan? Tapi nyatanya Vivian terus bersikap layaknya anak SD, dan aku terus berusaha menurutinya. Di setiap senyum yang mengembang dari bibirnya, adalah suatu kebahagiaan tersendiri, yang tak bisa kudapati dari siapapun.
“Rey, tidak sepeti ini?”
Wanita itu memberontak ketika tubuhnya kubopong, seperti karung beras, dan kusampirkan di punggung. Kakinya terus meronta, sedangkan tangan-tangan indahnya digunakan untuk memukuli punggungku. Salah satu hal konyol yang pernah kulakukan.
“Sadar, Rey. Dia wanita bersuami. Kamu tak boleh terus memikirkannya.” Aku mengacak rambutku kasar, melepas kepenatan dalam otakku. 5 tahun telah berlalu, Vivian sudah move on dan menikah dengan lelaki lain. Sedangkan aku? Aku menatap getir diriku sendiri, yang sampai detik ini, belum mampu melepas tentangnya dari pikiranku.
Menjalani hubungan sejak SMA, dan berlanjut di bangku kuliah, bukanlah waktu yang sebentar. Ditambah lagi aku menyayanginya sepenuh hati, melebihi diriku sendiri. Membuat aku tak bisa menerima kenyataan degan semua yang terjadi.
Sesekali ku buka cctv ruangan depan, mengintip wajah cantiknya, yang terus cemberut degan tugas-tugas yang kuberikan. Vivian yang dulu tetaplah sama, cantik dan tidak-tidak ... dia sekarang jauh berbeda, lebih dewasa, lebih bertanggung jawab dan ... Lebih rendah diri, serta tak menyombongkan apa yang ia punya.
Ia bekerja di sini? Untuk apa?
Pertanyaan itu belum mampu kudapatkan jawabannya. Pertanyaan yang pernah kulontarkan saat pertama kali aku kembali bertemu wanita cantik berambut panjanh dengan warna legam itu.
Karena uang? Rasanya tak masuk akal. Hidupnya sudah bergelimangan harta. Bahkan aku yakin kekayaan papanya tak akan habis tujuh turunan. Lalu suami milyardernya tak mungkin membiarkan wanita itu bekerja di sini bukan? Apalagi aku terus berusaha membuat ia tak betah. Meskipun dalam hati kecilku, sungguh sangat ingin dia terus berada di sini. Tak peduli meskipun hanya memandangnya, sekedar melihatnya dan mendengar suaranya itu sudah lebih dari cukup.
Balas dendam? Ya, itu awal aku menerimanya. Tapi entah, sepeti hanya kata itu yang mampu menutupi diriku dari rasa ... Rindu.
Kali ini aku menunggu tamu ku datang. Lelaki kaya dan sukses itu akhirnya mau bekerja sama dengan perusahaan rintisan seperti yang saat ini aku kembangkan. Sungguh suatu kebanggan.
Aku kembali menyetel cctv di laptopku, tak ingin Vivian mengerjai tamu agung dan merusak segalanya. Aku yakin, ada udang di balik batu dengan alasannya yang mau jadi sekertaris ku, dan kurendahkan di setiap saat. Bahkan aku sengaja memindahkan Santoso ke cabang, agar Vivian berangkat kerja di antar suaminya. Aku penasaran sekali siapa lelaki yang mampu mengambil hati wanita itu.
Lelaki itu datang, bersamaan dengan asistennya. Ya wanita berpakaian seksi dengan bibir yang merekah. Berbeda sekali dengan sekertaris ku Vivian, yang tampil dengan sederhana tapi mampu memancarkan aura cantiknya. Aku tersenyum sendiri kembali mengakui betapa cantiknya Vivian di mataku.
“Vivian?”
Aku menatap wajah ketakutan dari wanita itu saat pak Haikal datang. Sebenarnya apa yang terjadi? Dan yang membuatku terheran, kenapa lelaki itu berani mendekat dan ...
‘Bah.”
Aku tak sanggup melihat lelaki itu berbuat kekerasan. Bergegas aku bangkit dan keluar.
‘Senyum, Rey. Kamu harus pura-pura tak tahu semuanya. Vivian masih teka-teki untukmu bukan? Tak mungkin juga kan ia akan mengakui semua yang terjadi?’
Batinku terus mengirimkan sinyal ke otak.
Aku terus berusaha bersikap setenang mungkin, meskipun batinku dipenuhi tanda tanya besar. Ingin rasanya aku datang dan mencaci maki lelaki itu.
“Bapak mau minum teh atau kopi?” tanyaku, sesaat setelah mereka duduk di bangku di depan mejaku.
“Terserah. Yang penting Vivian yang membuatkan.”
Deg. Vivian? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada rasa tidak terima? kenapa lelaki itu memanggil nama sekertarisku? Benar dugaanku, mereka saling kenal bukan?
“Tentu.”
Vivian masuk ke ruangan dengan membawa nampan berisi minuman. Tubuhnya terlihat gemetaran dengan sorot mata ketakutan. Setakut-takunya Vivian kepadaku, dia tak pernah setakut ini, dia kenapa?
Sedangkan, mata lelaki di depanku sepeti tak pernah lepas dari tubuh sekertarisku. Ingin rasanya aku bangkit dan menghajar ia. Tapi apa posisiku? Apa untungnya untukku?
Sepanjang waktu bersama, pak Haikal tak membahas masalah pekerjaan, yang keluar dari bibirnya hanyalah nama Vivian, dan selalu nama itu. Bahkan ia bercerita sendiri bagaimana kemolekan wanita cantik bernama Vivian kala di depannya. Hati ini tak terima, tapi aku bisa apa? Lalu bagaimana Pak Haikal bisa cerita setiap inci tubuh Vivian? Apakah wanita itu berubah jadi wanita malam? Tidak-tidak, itu rasanya tidak mungkin.
Dan yang terakhir dia akan menerima hubungan kerja sama perusahaan apabila kita bertukar sekertaris. Tanpa mendengar sedikitpun penjelasan tentang kerjasama.
Sangat aneh bukan?
Pikiran ku kacau. Sebenarnya ada hubungan apa Haikal dan Vivian? Kenapa Vivian terima saja di sakiti sepeti itu? Bahkan ia tak melawan sedikitpun. Lalu suami Vivian? Aku membuka data karyawan, mencari nama Vivian di dalamnya, statusnya janda?
Aku membelalakkan mata. Sebenarnya apa yang terjadi.
Kulayangkan panggilan ke Santoso.
“Katakan kepadaku sekarang. Siapa nama suami Vivian? Apakah mereka memang suda bercerai?”
“Maafkan saya, Pak. Saya tidak bisa bicara banyak, meskipun bapak akan memecat saya. Saya ikhlas.”
Lelaki ini, kenapa belum digertak sudah bicara seperti itu? Lalu, aku mau menggertaknya dengan apalagi?
“Kasih aku penjelasan sedikit tentang Vivian.”
“Vivian hidup di bawah garis kemiskinan.”
Deg. Apa yang terjadi dengan wanita itu? Berarti Vivian memang menjadi wanita malam dan tidur bersama Haikal?