“Maaf, Pak. Saya hanya mau lapor, ditemukan beberapa barang elektronik mahal di gudang. Apa yang harus saya lakukan?” Aku meringis, menatap Reynan yang kini berbalik menatap tajam ke arahku. ‘Kenapa begitu cepat ketahuan?’ “Itu punyamu, Viv?” Aku mengangguk, dan tersenyum menampakkan jejeran gigiku. “Sementara biarkan saja disitu.” “Baik, Pak.” Petugas tersebut, meninggalkan kami yang hanya duduk berdua. Canggung, seperti orang asing yang tiba-tiba dihadapkan untuk bertemu. Hanya saling diam, sambil sesekali melirik satu sama lain, dan berkutat dengan pikiran masing-masing. “Saya permisi dulu, Pak,” ucapku sambil berdiri, menunduk hormat dan hendak berlalu. “Siapa yang suruh kamu pergi, Viv?” “Lalu, Pak. Bukankah sudah tidak ada yang kita bicarakan?” “Siapa bilang, aku punya pe

