Tandai jika masih ada kesalahan kepenulisan, EYD, Grammar, dan lain sebagainya dalam cerita ini. Terima kasih.
_________________________________________________________________________________________________________
Canada, 3 Month Later....
Yasemine membuka matanya saat ia merasakan cahaya matahari menerapa kulit wajahnya. Begitu netra cokelatnya terbuka, wajah Justin yang masih terlelap adalah hal yang pertama kali dilihat oleh Yasemine. Tanpa mau berlama-lama, Yasemine segera bangkit, ia mengikat asal rambutnya dan mendekati box bayi tempat Javier Reign O'Brian-anaknya tertidur.
Senyum Yasemine langsung terbit saat ia mendapati Javier telah membuka mata cokelatnya yang indah. Bayi berusia satu bulan itu tersenyum menatapnya.
"Hi baby... Good morning!" sapa Yasemine dengan senyuman hangatnya. Yasemine mengangkat tubuh Javier dan menimangnya dengan sayang. Yasemine memberikan kecupan-kecupan sayang pada putra sulungnya. Dia lalu membawa Javier ke balkon untuk menikmati cahaya matahari pagi yang hangat.
Ia duduk di sofa yang ada di sana dan mulai menyusui Javier.
"Kamu tampan sekali," gumam Yasemine sambil memainkan alis Javier yang tebal. Memiliki anak di usia 21 tahun ternyata tidak seburuk yang Yasemine pikirkan. Dulu, memiliki anak adalah list terakhir yang akan dilakukan Yasemine di sepanjang hidupnya. Namun setelah merasakan bagaimana rasanya hamil, melahirkan, menyusui, dan menimang seorang bayi, Yasemine malah merasa bahagia. Ia tidak menyesali apapun kecuali uang jutaan dollar yang ia tukarkan dengan darah dagingnya.
Mengingat itu, senyum Yasemine perlahan memudar. Waktunya tinggal lima bulan lagi. Setelah lima bulan, ia akan meninggalkan bayi tampannya yang lucu. Air mata Yasemine mengalir dari sudut matanya. Yasemine mengusap rambut Javier dengan sayang dan menciumnya berkali-kali.
"Mommy sayang kamu....," bisik Yasemine lalu memejamkan matanya. Jika bisa, Yasemine ingin sekali membatalkan perjanjian itu, tapi rasanya tidak mungkin. Justin O'Brian tidak sebaik itu hingga membiarkannya memutus perjanjian yang telah ditanda tangani.
"Kau di sini ternyata."
Suara Justin yang baru saja menginjakkan kaki di balkon langsung membuat Yasemine menoleh. Ia menatap ke arah Justin sejenak dan tersenyum tipis. Namun itu hanya sepersekian detik sebelum Yasemine kembali mengarahkan tatapannya kepada Javier yang sedang asyik menyusu.
Justin yang sebenarnya sudah bangun dari tadi pun hanya bisa diam melihat sikap Yasemine yang dingin. Wanita itu tidak berubah sama sekali bahkan setelah malam-malam panas yang mereka lewati. Yasemine benar-benar bertindak seperti seorang b***k yang ia bayar. Wanita itu membatasi semua sikapnya.
"Yasemine."
"Ya?" sahut Yasemine sambil menolehkan kepalanya ke arah Justin. Justin menarik nafas pelan. Ia mendekati Yasemine.
"Uang itu-...."
Deg!
Yasemine menahan napasnya.
Namun ia tetap bersikap biasa saja. Justin pun sebenarnya merasa tidak enak hati mengatakan tentang uang jutaan dollar itu. Entahlah, sejak malam di mana Yasemine mengatakan jika dia tahu posisinya, Justin jadi segan atau bahkan takut mengungkit masalah itu lagi.
"Kenapa dengan uangnya? Kau sudah mengirimnya ke rekeningku ya?"
Pertanyaan Yasemine yang seperti itu, entah kenapa malah membuat Justin merasa tidak suka. Dia tidak suka melihat Yasemine yang terlihat bahagia dengan semua ini. Justin lalu mengangguk.
"Hm. Uangnya sudah aku kirim ke rekeningmu," ujar Justin membenarkan. Yasemine lalu mengangguk ia kembali menatap Javier.
Hatinya hancur saat melihat netra cokelat milik Javier yang polos. Dia ingin tetap berada di sisi Javier, menyusuinya, mengajaknya bermain dan melihat ia tumbuh besar menjadi anak yang pintar. Tapi Yasemine sadar itu semua hanya angannya, Justin tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.
"Sudah kenyang ya?" tanya Yasemine berusaha tersenyum menatap Javier yang telah melepas p****g susunya. Yasemine segera menutup payudaranya, ia mengusap wajah Javier dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Mau menggendongnya?" tanya Yasemine kepada Justin yang sedari tadi memperhatikannya.
Justin mengangguk.
"Tentu saja!" jawab Justin lalu mendekati Yasemine dan mengambil alih Javier yang ada di dalam gendongan sang isteri. Justin tersenyum bahagia melihat betapa mirip wajah Javier dengannya. Putra sulungnya itu bahkan tidak menyisakan tempat untuk Yasemine mengambil bagian dari dirinya.
"Kau tidak ke kantor?" tanya Yasemine. Justin menoleh sekilas.
"Sebentar lagi," jawab Justin lalu kembali sibuk dengan Javier. Pria itu menimang sayang pewarisnya yang baru saja lahir ke dunia. Yasemine yang melihat itu pun tersenyum, meski sakit tapi Yasemine tahu jika Justin akan menjadi ayah yang baik.
"Aku akan menyiapkan air mandi untuk Javier dulu," ujar Yasemine yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Justin. Yasemine lalu kembali masuk ke dalam kamar. Yasemine melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, dan ia pun mulai menyiapkan air hangat untuk memandikan Javier.
Setelah air untuk mandi Javier siap. Yasemine kembali keluar untuk mengambil handuk yang ada di dalam lemari. Namun saat ia membuka lemari, sebuah map merah tiba-tiba saja jatuh ke lantai. Yasemine mengambil map itu, awalnya ia akan mengembalikannya ke tempat semula, namun Yasemine tidak jadi melakukan itu saat ia menyadari jika map itu berasal dari pengadilan.
Yasemine terdiam sejenak. Ia duduk di atas sofa dan dengan perlahan membuka isi map itu. Begitu map terbuka, Yasemine seketika itu juga menahan nafasnya.
Surat cerai.
Itu adalah surat cerai antara dirinya dan Justin. Justin sudah menandatangani surat yang dibuat dua minggu yang lalu jika dilihat dari tanggal pembuatannya. Yasemine memberanikan diri membaca surat itu hingga air matanya langsung lolos saat ia melihat kalimat....
"Pihak tergugat tidak boleh menemui atau bahkan mengambil alih hak asuh anak sesuai dengan kesepakatan yang sudah disetujui. Dan apabila, pihak tergugat berani melanggar hal tersebut, maka pihak tergugat akan menerima sanksi."
Yasemine menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga. Dia menangis tanpa suara. Yasemine membekap mulutnya dengan kedua tangan, rasa sesak dan sakitnya benar-benar membuat Yasemine tidak bisa bernafas dengan baik.
Pria itu bahkan sudah menandatangani surat perceraian mereka begitu suratnya keluar. Tapi kenapa Justin tidak memberitahunya tentang surat ini?
Persetan dengan itu!
Yasemine dengan segera menghapus air matanya. Dia mengambil bolpoin yang ada di dalam laci.
"Maafkan mommy, Javier," gumam Yasemine sebelum ia akhirnya ikut menandatangani surat perceraian antara dirinya dan juga Justin O'Brian. Segera setelah itu, Yasemine kembali meletakkan map itu di tempat semula. Namun lagi-lagi, saat ia akan meletakkan map itu, sesuatu kembali jatuh ke lantai.
Namun kali ini bukan sebuah map, melainkan sebuah foto pre-wedding.
Bukan, itu bukan foto pre-wedding-nya dengan Justin. Mereka tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu saat akan menikah kemarin.
Di dalam foto itu, Yasemine dapat melihat dengan jelas jika Justin tengah memeluk seorang wanita yang mengenakan gaun pernikahan yang begitu indah. Mereka berdua nampak sangat bahagia di dalam foto itu. Yasemine tertegun, ia mengambil foto itu dan melihatnya lamat-lamat. Tampaknya foto itu baru saja dibuat, melihat wajah Justin yang saat ini berusia 29 tahun.
Yasemine membalikkan fotonya dan...
Justin & Isabelle (21th of June)
Sekali lagi, rasa sesak itu menyeruak memenuhi rongga d**a Yasemine. Hatinya terluka begitu parah.
Ah, ternyata Justin akan menikah sebentar lagi.
Pria itu telah menemukan penggantinya. Dan itu adalah seorang wanita cantik yang tentu saja pantas menjadi isteri seorang Justin O'Brian. Wanita baik-baik yang berpendidikan, tidak seperti dirinya yang rela menjual rahim demi uang.
Tapi jika Justin telah memiliki kekasih, kenapa Justin menikahinya? Kenapa pria itu tidak menikahi wanita yang sepadan dengannya dari awal? Apakah pria itu sedang mempermainkannya?
"Yasemine!"
Semua pertanyaan itu langsung menghilang saat Yasemine mendengar suara Justin yang memanggil namanya. Yasemine segera mengembalikan semua barang-barang itu ke tempat semula. Ia mengusap kasar air matanya dan menarik napas pelan.
Setelah ia merasa tenang, Yasemine pun keluar dari dalam walk in closet.
Begitu ia keluar, sosok Justin yang tengah menimang Javier langsung menyambut Yasemine. Yasemine berusaha tersenyum. Sepertinya Javier memang akan lebih bahagia jika tinggal bersama dengan Justin dan ibu barunya nanti. Javier akan memiliki kehidupan yang sempurna setelah ia pergi.
Yasemine mendekati Justin dan Javier.
"Ayo baby, kita mandi."
Suara Yasemine yang terdengar serak langsung membuat Justin menoleh. Wajah Yasemine nampak terlihat memerah seperti habis menangis.
"Yas-....."
"Aku akan memandikan Javier dulu."
Justin tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat Yasemine dengan tiba-tiba mengambil alih tubuh Javier dan masuk ke dalam kamar mandi. Justin heran melihat perubahan sikap Yasemine.
Apa wanita itu sakit?
Tanpa mau berpikir lebih jauh, Justin memilih untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi. Dia harus berangkat ke kantor. Kamar mandi yang ada di dalam kamar Justin memang ada dua, satu master bathroom dan satu lagi baby's bathroom yang Justin siapkan untuk anaknya jauh sebelum ia menikah dengan Yasemine.
Yasemine memandikan Javier dengan air matanya yang mengalir deras. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakitnya saat ini. Yasemine benar-benar merasakan sesak yang teramat sangat saat ia mengetahui betapa Justin menginginkan kepergiannya.
Pria itu bahkan sudah memiliki calon yang akan menggantikan posisinya sebagai ibu Javier. Lalu apalagi yang bisa dia harapkan?
Lama Yasemine menangis hingga ia akhirnya selesai memandikan Javier. Yasmine segera keluar dari dalam kamar mandi, ia memakaian semua perlengkapan Javier hingga selesai. Setelah selesai, Yasemine kembali menyusui Javier hingga putra sulungnya kembali tertidur.
Yasemine mencium kening Javier dengan sangat lembut sebelum ia kembali meletakkannya ke dalam box bayi. Saat ia selesai dengan Javier, Justin pun keluar dengan wajah segarnya. Pria itu terlihat sangat tampan dengan setelan jas hitamnya.
"Yasemine?" panggil Justin sambil membawa dasinya ke hadapan Yasemine. Yasemine berbalik, ia menatap Justin yang kini berjalan mendekatinya. Yasemine langsung mengambil dasi yang ada di tangan Justin.
Tanpa kata-kata, Yasemine langsung memakaikan dasi itu ke kerah kemeja Justin. Justin hanya bisa diam melihat kebungkaman Yasmine yang tidak biasa.
"Selesai," ujar Yasemine yang kemudian akan beranjak dari hadapan Justin. Namun Justin segera menahan pergelangan tangannya.
"Yasemine?"
Yasemine memejamkan matanya. Ia menarik nafas pelan dan kembali menatap Justin.
"Ya?"
"Aku ingin memberitahumu sesuatu. Sebenarnya aku-..."
"Aku tahu."
Justin mengernyitkan dahinya.
"Surat cerai yang ada di dalam lemari itu, aku sudah menandatanganinya."
Boom!
Justin mengetatkan rahangnya.
"Berani sekali kau-..."
"Aku juga mengucapkan selamat untuk pernikahanmu dengan Nona Isabelle yang akan digelar pada bulan Juni nanti. Aku harap kalian bahagia dan bisa menjadi orangtua yang baik untuk Javier," sambung Yasemine lalu menyentakkan tangannya dari genggaman Justin.
Baru saja ia melangkah, Justin kembali menahan pergelangan tangannya. Yasemine kembali menoleh dengan netra cokelatnya yang menahan tangis.
"Maaf, tapi aku harus membereskan pakaianku dan segera mencari tempat tinggal baru, Justin," gumam Yasemine lalu menyentak tangan Justin dan masuk ke dalam walk in closet.
"YASEMINE!"
Brak!
Pintu walk in closet itu tertutup dengan begitu kencang. Yasemine langsung merosot ke lantai dangan tangisan tertahannya.
Ah betapa Yasemine membenci rasa sesak dan sakit yang ia rasakan sekarang!
Betapa ia mengutuk hatinya yang mati-matian menolak dan menepis rasa itu sejak dulu.
Ya, Yasemine kini sedang menangis. Menangis untuk cintanya yang tidak pernah terbalas.
Cinta pertama yang sayangnya ia jatuhkan kepada pria seperti Justin Reign O'Brian
#To be Continu