Malam Setelah Perceraian

1699 Kata
Tandai jika masih ada kesalahan kepenulisan, EYD, Grammar, dan lain sebagainya dalam cerita ini. Terima kasih.   _________________________________________________________________________________________________________ Langit Canada kembali menangis malam ini. Hujan mengguyur dengan begitu lebat di Ottawa. Kilat petir yang menyambar membuat orang-orang enggan untuk keluar rumah. Namun suara hujan yang turun begitu deras, tidak akan mampu menghentikan seorang wanita yang kini sedang menangis sambil memeluk pajamas putra kesayangannya. Malam ini, adalah malam terakhir Yasemine berada di Canada. Besok pagi ia sudah harus angkat kaki dari negara dengan berlambang daun maple itu. Yasemine menangis, ia ingin bertemu dengan puteranya untuk yang terakhir kali, namun Justin tidak akan pernah membiarkan itu. Justin menjadi semakin protektif kepada Javier setelah ia mengusirnya dari mansion saat Isabelle akan tinggal bersama mereka. Yasemine ingat saat malam itu, Justin memintanya untuk segera angkat kaki saat ia tengah menyusui Javier. Dengan paksaan, pria itu menarik tangannya dan melemparnya keluar. Kalimat paling menyakitkan yang pernah Yasemine dengar selama mereka menikah keluar dari mulut Justin malam itu. "Kau harus segera pergi dari sini! Aku tidak mau Isabelle melihat wanita sepertimu menempati kamarnya! Bawa uang yang sudah kau terima dan carilah tempat tinggal baru! Aku pikir uang itu cukup untuk membuatmu bahagia! Silahkan pergi dan jangan pernah menginjakkan kakimu di sini!" Justin mengatakan itu sambil melempar kopernya. Semua pelayan yang melihat kejadian itu hanya bisa diam dengan kepala tertunduk seolah tidak sanggup melihat kekejaman Justin pada Yasemine. Yasemine kembali meneteskan air matanya jika ia mengingat hal itu. Yasemine tidak akan pernah melupakan malam itu, malam di mana Justin menginjak-nginjak harga dirinya tanpa ampun. Dan di sinilah Yasemine sekarang. Dia sudah dua bulan tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Ya, sejak diusir oleh Justin malam itu, Yasemine memilih untuk tinggal di rumah penuh kenangan peninggalan kedua orang tuanya. Meski sederhana tapi Yasemine nyaman tinggal di sini. Yasemine sebenarnya bisa saja membeli apartement mewah seharga jutaan dollar dengan uang yang diberikan Justin. Uang sebesar $75 juta USD sudah lebih dari cukup untuknya menikmati hidup bak Princess Disney. Namun Yasemine tidak melakukan itu karena ia ingin mengenang masa-masa kecilnya bersama dengan ayah dan ibunya yang sudah tiada. Yasemine ingin mengenang apa yang bisa ia kenang, karena ia tidak tahu kapan dia bisa kembali ke Canada. Namun yang menjadi duka terdalam Yasemine saat ini adalah puteranya, Javier O'Brian yang saat ini pasti sudah berumur enam bulan. Yasemine sudah tidak bertemu dengan Javier selama dua bulan lebih dan itu benar-benar menyiksanya. Yasemine rindu puteranya! Ia ingin bertemu, ah tidak, melihat sekilas pun rasanya sudah cukup bagi Yasemine. "Kamu sedang apa sayang?" bisik Yasemine sembari menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Javier yang saat itu masih berusia dua bulan. Air mata Yasemine kembali menetes. Javier-nya pasti lapar! Javier-nya pasti membutuhkan asi, entah apa yang diberikan Justin pada anaknya yang malang. Yasemine kembali menangis, kerinduannya menyeruak hingga ke ulu hati dan itu membuatnya sesak. Terlalu sesak hingga ia tidak bisa lagi menangis. Kini ia telah resmi bercerai dari Justin. Dia telah melepaskan kewajibannya sebagai seorang isteri dan juga ibu. Yasemine menarik nafasnya pelan, ia mengusap air matanya dan berdiri menatap jendela kaca rumahnya yang basah karena air hujan. Air matanya kembali turun sederas air hujan. Sekarang Yasemine menyadari, jika uang bukanlah segalanya. Uang tidak akan bisa membeli kebahagiaan dan Yasemine mengalami itu. Jika dia dulu berpikir jika uang jutaan dollar bisa membuatnya bahagia, maka sekarang Yasemine berani mengatakan jika uang itu tidak bisa membeli kebahagiaan. Uang hanya akan mendatangkan kebahagiaan semu yang tidak abadi. Yasemine tidak menyesali lahirnya Javier, ia hanya menyesali kenapa Javier harus berasal dari pria kejam seperti Justin. Sibuk dengan pikirannya, Yasemine langsung tersentak kaget saat ia mendengar suara pintu yang diketuk keras. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan itu membuat Yasemine was-was. Siapa yamg datang hujan-hujan begini? Larut malam pula! Yasemine langsung menghapus air matanya, dia mengambil stick baseball yang ada di dekat sofa dan mendekati pintu itu. Tok! Tok! Tok! Yasemine kembali tersentak kaget. Ia menelan kasar salivanya. Ketakutan tergambar jelas di wajah Yasemine. Tangannya yang menggenggam stick baseball pun nampak gemetar ketakutan. Yasemine mengambil aba-aba di dalam hatinya. Satu... Dua... Tiga! Dan... Bruk! Yasemine langsung terhuyung ke belakang saat tubuh besar Justin tiba-tiba saja jatuh di dalam dekapannya. Yasemine mematung, ia tidak bisa bergerak. Tubuh Justin yang terbalut kemeja putih dengan setelan celana dasar hitam panjang itu telah basah kuyup karena air hujan. Stick baseball yang ia pegang pun terjatuh begitu saja. "Yasemine..hah...hah..hah.." nafas hangat Justin menerpa kulit leher Yasemine. Wanita dengan balutan kaos merah jambu itu ikut basah kuyup karena tubuh Justin. Tiupan angin kencang membuat Yasemine langsung menutup pintu rumahnya. "Ka-kau kenapa?" bisik Yasemine yang berusaha melepaskan diri dari Justin. Justin yang mendengar bisikkan Yasemine pun perlahan meregangkan pelukkannya, ia menatap wajah cantik Yasemine yang terbingkai surai cokelat. Netra cokelat itu terlihat begitu memerah tanda jika ia habis menangis. Justin tersenyum ia mengusap wajah Yasemine dengan tangan besarnya yang dingin karena air hujan. Yasemine yang ditatap seperti itu pun hanya bisa diam, hingga kenyataan kembali menyadarkan Yasemine jika Justin bukan lagi suaminya. "Keluar Justin!" gumam Yasemine sambil berusaha menyeret tubuh Justin yang besarnya bahkan dua kali lipat dari tubuh Yasemine. Justin yang habis meminum alkohol pun tersenyum. Ia menegakkan badannya. Kesadaran masih menguasai Justin, beruntung pria itu tidak benar-benar mabuk. "Keluar Justin!" teriak Yasemine lalu berusaha mendorong Justin. Namun dorongan itu tidak membuat Justin beranjak sama sekali. Pria itu menatap Yasemine dengan begitu intens, tidak ada ekspresi apapun di wajah tampan milik pria itu. "Justin! Keluar! Apa kau-...hmph!!!" Justin membungkam mulut Yasemine dengan bibirnya. Pria itu merapatkan tubuhnya ke tubuh wanita yang merupakan ibu kandung dari Javier. Justin melingkarkan tangannya di pinggang Yasemine sambil sesekali mengusap lembut punggung hangat wanita itu. Yasemine yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun mati-matian menolak! Dia tidak membuka mulutnya sama sekali, tangannya tidak henti memukul d**a Justin. Terlebih saat Justin dengan kurang ajar nya meremas pantatnya dengan begitu kuat. Namun ciuman Justin yang begitu kasar dan menuntut membuat Yasemine kehabisan tenaga. Yasemine mencengkram kemeja putih Justin, air matanya mengalir. Apalagi ini? Kenapa Justin melakukan ini padanya? Bukankah kontrak mereka sudah berakhir? Lama Justin menikmati bibir semerah cherry milik Yasemine hingga akhirnya ia melepaskan ciuman mereka. Justin menatap tajam ke arah Yasemine yang kini sedang menutup matanya sambil menangis. Yasemine memukul dadanya dengan kuat. "s****n! Kau benar-benar s****n!" bisik Yasemine dengan terus memukul kencang d**a pria itu. Yasemine menumpahkan kemarahannya pada Justin. Dia mencengkram kemeja Justin dan menangis di balik d**a bidang pria itu. "Aku sangat membencimu Justin! Aku sangat membencimu hingga rasanya aku ingin membunuhmu! Kau sangat jahat!" teriak Yasemine sambil terus memukul d**a kokoh mantan suaminya. "Aku membencimu!!!" teriak Yasemine dengan kencang dan setelahnya ia menangis di atas d**a kokoh Justin. Justin hanya diam menerima semua kemarahan Yasemine yang belum seberapa. Wajar saja jika Yasemine membencinya, dia sadar jika dia sudah terlalu jauh menyakiti wanita itu. Justin memeluk tubuh Yasemine yang terasa sangat pas ditubuhnya. Dua bulan tidak bertemu Yasemine membuat Justin hampir menggila. Dia tidak bisa menyentuh wanita manapun sejak Yasemine meninggalkan mansionnya. Tidak bahkan Isabelle! Justin selalu dihantui akan sosok Yasemine yang umurnya bahkan lebih muda tujuh tahun darinya. Wanita itu terlalu menggemaskan di ranjang hingga membuat Justin tidak bisa melupakannya dengan mudah. Lama Yasemine menangis hingga tangisannya mulai mereda dan kesadaran akan posisinya kembali membuat Yasemine mendorong tubuh Justin. "Kembalilah Justin. Isabelle pasti mengkhawatirkanmu," gumam Yasemine lalu berbalik. Tenaganya sudah habis hingga ia tidak bisa berteriak lagi. Baru saja ia akan melangkah, Justin sudah lebih dulu memeluknya dengan erat. Pria itu melingkarkan tangannya pada perut Yasemine yang sudah kembali rata. "Kontrak kita sudah habis Justin. Aku bukan lagi jalangmu, pulanglah dan tuntaskan hasratmu kepada calon isterimu yang sah," gumam Yasemine dengan lesu. Justin mengecup leher Yasemine dengan lembut, ia mengusap pelan perut rata wanita itu. Perlahan, Yasemine mulai memjamkan matanya menikmati sentuhan Justin. Dinginnya hujan tidak membuat mereka merasa kedinginan karena tubuh mereka yang basah kuyup. "Apa yang kau lakukan padaku Yasemine?" bisik Justin lalu menggigit nakal telinga Yasemine hingga membuat tubuh wanita itu menegang. "Aku tidak bisa tidur dengan wanita lain selainmu Yasemine. Tubuhmu dan aroma plum Italia itu membuatku gila!" bisik Justin lalu tangannya mulai masuk ke dalam baju Yasemine. Seketika itu juga Yasemine tersadar. Ini tidak bisa dibiarkan!  Mereka sudah berpisah dan sebentar lagi Justin akan menikah! Yasemine langsung menangkap tangan Justin yang akan menyentuh bagian tubuh sensitifnya. Ia berbalik menatap Justin dengan raut permohonan. "Ini tidak boleh terjadi Justin," gumam Yasemine namun Justin hanya bisa tersenyum evil. Ia mendekati Yasemine, mengangkat dagu wanita itu dan menatap netra cokelatnya. "Tidak usah munafik Yasemine, aku tahu kau juga mendambakan sentuhanku!" Yasemine menggeleng. "Kau salah! Aku-..." "Kita akan lihat setelah ini, Nona Douglass," bisik Justin lalu kembali menyerang Yasemine tanpa ampun. Kali ini Justin tidak lagi memberi jeda untuk Yasemine menghentikannya. Pria itu melakukan semuanya dengan begitu kasar karena Yasemine yang terus memberontak memintanya untuk tidak melakukan semua ini. Tapi sayangnya, seorang Justin Reign O'Brian tidak pernah melepaskan apa yang telah menjadi miliknya. Tidak peduli dengan teriakkan dan tangisan Yasemine, Justin membawa wanita itu ke puncak ternikmat di tengah hujan yang semakin deras. Justin menyemburkan jutaan benihnya ke dalam rahim Yasemine yang masih basah tanpa mengetahui jika salah satu dari miliaran benih itu kembali membentuk sebuah janin yang akan menemani hari-hari Yasemine di kemudian hari. _________________________________________________________________________________________________________   Ottawa, 8.15 PM Justin terbangun saat kicauan burung terdengar di telinganya. Cahaya matahari pagi dan aroma kayu sehabis hujan membuat Justin menegakkan badannya. Tubuhnya kini telah terbalut selimut tebal yang hangat. Justin melihat ke sekeliling kamar Yasemine. Kamar bernuansa biru itu terlihat sangat sepi. Justin menyibak selimutnya dan turun dari ranjang. "Yasemine?" panggil Justin. Namun tidak ada sahutan dari wanita itu. Baru saja Justin akan melangkahkan kakinya keluar kamar dengan niat mencari Yasemine, langkahnya langsung terhenti saat ia melihat secarik kertas tergeletak di atas nakas. Justin langsung mengambil surat itu dan membacanya. Selamat pagi Justin. Kau tidak usah sibuk mencariku karena aku tidak akan pernah lagi menunjukkan wajahku padamu seperti yang telah tertulis di dalam kontrak. Kamu juga tidak boleh mengkhianati Isabelle seperti semalam, kamu tidak boleh menyakiti hati wanita yang akan menjadi isterimu. Aku juga tidak akan pernah mengganggu kalian. Berbahagialah Justin, besarkan anak kita dengan baik, aku percayakan Javier padamu. Tertanda, Yasemine Justin meremas kertas itu dengan amarahnya yang memuncak. "Lari dan sembunyilah sesuka hatimu Yasemine! Kau akan kembali ke Canada begitu aku menemukanmu!" Dan sejak saat itu, Justin dengan gencar mencari keberadaan Yasemine. Ia bahkan membatalkan pernikahannya dengan Isabelle yang sebenarnya merupakan kesepakatan bisnis. Dan tak butuh waktu lama, Justin menemukan keberadaan Yasemine. Paris adalah pilihan wanita itu. Justin sudah mengetahuinya dari awal, hanya saja ia tidak ingin secepat itu membawa Yasemine kembali. Pria itu sedang bermain peran sebagai seorang nelayan yang menyebar jaringnya ke dasar laut. Di mana, semua ikan bisa berenang sesuka hati tanpa menyadari, jika jaring yang telah tersebar dapat merenggut kebebasan mereka dalam hitungan detik. #To be Continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN