Bertemu

2108 Kata
Tandai jika masih ada kesalahan kepenulisan, EYD, Grammar, dan lain sebagainya dalam cerita ini. Terima kasih. _________________________________________________________________________________________________________ 5th Years Later Paris, France 6.25 AM Pagi yang cerah dengan langit yang berawan dan sinar matahari yang memancarkan kehangatan mengawali aktivitas di kota Paris hari ini. Semua orang berlalu-lalang di jalanan kota romantis yang tak pernah sepi itu untuk berangkat bekerja dan melakukan aktivitas mereka masing-masing Semuanya nampak sangat membahagiakan hari ini. Begitu juga yang dirasakan oleh seorang wanita yang kini tengah sibuk memasak sarapan untuk putri semata wayangnya yang baru berusia tiga tahun sembilan bulan. Wanita cantik dengan balutan dress biru muda dan apron yang melekat di pinggangnya itu terlihat sangat asyik dengan wajannya. Rambut cokelatnya yang ia gelung ke atas terlihat sangat indah membingkai wajahnya yang cantik dan keibuan. Saat ia sedang asyik memasak, putri kecilnya yang semula duduk di sofa sambil menoton televisi perlahan mulai mendekatinya. Gadis kecil dengan piyama hellokitty itu terlihat sangat cantik meski ia belum mandi. "Mommy!" panggil gadis itu lalu berdiri di samping ibunya yang sedang memasak. "Ya?" Gadis itu terlihat ragu-ragu mengatakan niatnya. Namun akhirnya ia memberanikan diri mengatakannya. "Hm....a-apakah Yesselyn boleh ikut ke pesta malam nanti?" akhirnya ucapan itu keluar dari mulut mungilnya. Sang ibu yang sedang memasak pun tersenyum mendengar itu. Sebelum menjawab, ia terlebih dahulu mematikan kompornya, menyajikan masakkannya ke atas piring, melepas apron putihnya dan kemudian berjongkok di hadapan sang putri yang sebentar lagi akan genap berusia empat tahun. Ya, dia Yasemine. Yasemine Katerina Douglass. Wanita cantik yang kini berusia 26 tahun. Wanita yang telah berstatus sebagai janda sang taipan kaya raya asal Canada, Justin Reign O'Brian. Wanita yang telah memiliki dua anak dari seorang pria yang sama, dan wanita dewasa yang saat ini telah memiliki usaha rumah mode yang maju pesat dengan beberapa cabang butik yang tersebar di beberapa daerah di Prancis. Yasemine segera mengusap pipi Yesselyn dan mencium keningnya dengan sayang. "Tentu saja Yesselyn boleh ikut! Yesselyn akan terus menemani mommy kemanapun mommy pergi!" jawab Yasemine lalu menggendong Yesselyn dan mebawanya ke sofa. Yasemine memangku sang putri sambil sesekali menciumi pipinya dengan sayang. Yesselyn yang mendengar perkataan ibunya pun tersenyum senang, ia mengecup bibir ibunya. "Terima kasih mommy! Yesselyn sayang mommy," bisik Yesselyn lalu memeluk sang ibu. Yasemine tersenyum ia membalas pelukkan anaknya "Sayang Yesselyn juga," gumam Yasemine dan mereka kembali berpelukkan dengan erat. Lama mereka berpelukkan hingga Yasemine kembali menatap wajah putrinya "Yesselyn mau sarapan tidak? Mommy sudah memasak scrumble egg kesukaan Yesselyn tadi." Gadis cantik bermata cokelat itu mengangguk. "Hm, Yesselyn ingin sarapan mommy," jawab Yesselyn. Yasemine kembali tersenyum. "Baiklah, ayo kita sarapan!" teriak Yasemine lalu kembali menggendong Yesselyn. Yasemine mendudukkan Yesselyn di kursi makan dan ia pun mulai menyiapkan sarapan untuknya. Setelah meletakkan sarapannya di hadapan sang anak, Yasemine baru mengambil tempat duduk di samping Yesselyn. "Makan yang banyak sayang," ujar Yasemine lalu memandangi Yesselyn yang mulai memakan sarapannya dengan lahap. Yasemine tidak henti-hentinya tersenyum melihat wajah cantik malaikat kecilnya yang benar-benar mirip dengan sang mantan suami. Mata, hidung, bibir, dan bahkan rambut Yesselyn benar-benar sama persis dengan Justin O'Brian. Semuanya mirip dengan Justin hingga tidak menyisakan tempat untuknya menyelipkan sedikit gen genetik dalam fisik anaknya. Mengingat pria itu, Yasemine kembali mengulas senyum tipis, ia teringat akan anak pertamanya yang sekarang pasti sudah berusia lima tahun. Entah bagaimana keadaan, dan rupa Javier sekarang, Yasemine tidak tahu. Setelah ia memutuskan untuk tinggal di Paris, ia benar-benar berusaha menutup semua lembaran lamanya di Canada. Ya meski tidak benar-benar melupakan Javier barang sebentar saja, namun setidaknya Yasemine sudah tidak lagi menangisi Javier terlalu sering, terlebih saat dia dinyatakan hamil empat tahun yang lalu. Ya, setelah kejadian saat hujan malam itu, Yasemine kembali dinyatakan hamil. Dia kembali mengandung anak seorang Justin O'Brian. Yasemine mengandung dan melahirkan seorang diri. Dia tidak memiliki teman saat itu. Tapi untungnya dengan uang jutaan dollar yang ada di tangannya, Yasemine berhasil melahirkan dan merawat anaknya dengan baik. Sebisa mungkin Yasemine menghindari sesuatu yang berhubungan dengan media. Yasemine tidak ingin Justin kembali mengganggu hidupnya jika pria itu sampai mengetahui di mana keberadaannya. "Mommy tidak sarapan?" pertanyaan dari Yesselyn membuat Yasemine tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum sambil mengusap pipi Yesselyn. "Mommy sudah kenyang memakan sereal sayang," jawab Yasemine. Yesselyn pun hanya menganggukkan kepalanya dan kembali memakan sarapannya hingga habis. _________________________________________________________________________________________________________ Di sisi lain, seorang pria juga tengah duduk menghadap ke arah jendela dengan setelan kaos putihnya. "Selamat pagi, Tuan," sapa seorang pria dengan setelan jas lengkap. Pria yang sedang duduk di sofa balkon itu pun hanya mengangguk sekilas. Dia menyesap kopi hitamnya dengan tenang. "Apa dia akan datang ke pesta malam ini?" tanya pria itu lalu kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja. "Iya, Tuan. Nona Douglass juga akan hadir karena dia juga diundang ke pesta itu," jawab pria itu membenarkan. Pria yang tak lain adalah Justin pun kembali tersenyum. "Apa dia akan datang bersama anaknya?" "Kami belum memastikan itu, tapi sepertinya dia akan membawa anaknya. Mengingat selama hampir tiga tahun ini Nona Douglass selalu membawa puterinya ke mana-mana." "Baik. Kau boleh pergi," ujar Justin dan pria itu pun pergi meninggalkan Justin sendirian. Justin kembali menghirup udara pagi di kota Paris yang menyejukkan. Malam ini ia akan membawa sesuatu yang sudah seharusnya menjadi miliknya kembali. Sudah saatnya Justin menarik jaringnya ke permukaan. "Bagaimana ekspresi wajahmu saat melihatku Yasemine?" bisik Justin dengan senyum evil yang selalu menghiasi wajahnya. Ya, selama ini Justin memang tidak pernah benar-benar melepaskan Yasemine. Pria itu terlalu sulit melepaskan Yasemine yang selalu menjadi candunya. Wanita dengan manik cokelat itu berhasil membuat Justin tidak bisa menyentuh wanita manapun selama lima tahun belakangan. Justin terobsesi akan tubuh Yasemine yang menguarkan aroma plum italia itu. Dia benar-benar gila hanya dengan melihat foto Yasemine yang ia ambil secara diam-diam setiap minggu selama empat tahun belakangan ini. Bentuk tubuh Yasemine semakin menggila setiap bulannya. Gadis belia yang ia nikahi dulu kini telah menjelma ke dalam sosok seorang wanita dewasa yang matang dan keibuan. Lalu apakah Justin mengetahui kehamilan Yasemine? Tentu saja! Justin mengetahui segalanya! Siapa saja yang berteman dengan Yasemine, apa kesehariannya, di mana ia tinggal hingga siapa saja yang mendekati wanita itu. Justin tahu segalanya karena Justin memata-matai wanita itu selama ini. Justin tahu jika tidak hanya satu dua orang pria yang mencoba mendekati Yasemine, wanita itu terlalu mempesona untuk dibiarkan sendirian. Tapi sayangnya, semua itu selalu ditolak oleh Yasemine, dan sekalinya Yasemine menerima, maka Justin lah yang akan menggagalkan kencan itu. Yasemine tidak tahu saja, jika yang menggagalkan kencannya dengan seorang pria bernama Nicholas dua tahun lalu adalah dirinya. Justin rela menggelontorkan ratusan ribu dollar hanya untuk menyuap Nicholas agar membatalkan kencan itu. Dan tentu saja, uang lebih realistis dibandingkan cinta. Nicholas membatalkan kencannya dengan Yasemine hari itu juga untuk yang sebesar $700ribu. Justin kembali tersenyum mengingat semua yang dia lakukan hanya untuk menjaga Yasemine untuk dirinya sendiri. Terkadang Justin ingin menyeret paksa Yasemine ke Canada dan mengurungnya di dalam mansion, tapi Justin tidak pernah melakukan itu karena ia tahu jika Yasemine harus mengurus bayinya. Justin lalu menarik napas pelan. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi asistennya, Pieter yang saat ini ia tugaskan menjaga Javier, putra sulungnya yang saat ini sudah berusia lima tahun. "....." "Di mana Javier?" "....." "Sedang apa dia di sana?" "....." "Bisa kau berikan telepon ini padanya?" "....." Tak lama telepon pun dijawab oleh Javier. "Hi daddy!" sapa seorang anak lelaki dengan begitu riang. Justin yang mendengarnya pun tersenyum. "Hi son! Bagaimana kabarmu?" "......" "Hm, daddy baik-baik saja. Daddy akan kembali lusa nanti." "......" "Baiklah, akan daddy hubungi lagi nanti. Sekarang berikan ponselnya kepada Pieter." "......" "Jaga dia sampai aku kembali Pieter." "......." "Ya, aku akan membawa serta Yasemine kembali ke Canada." "..." "Aku tutup dulu teleponnya." Dan setelah sambungan telepon terputus, Justin kembali menyesap kopi hitamnya dengan tenang seolah menunggu malam datang. _________________________________________________________________________________________________________ 7.45 PM Ballrom hotel itu terlihat ramai dengan para tamu undangan yang datang ke acara pesta pernikahan salah satu pengusaha ternama Paris. Para tamu undangan kini sedang berdiri menikmati berbagai macam hidangan yang telah tersaji di setiap meja. Alunan musik klasik menambah kesan mewah pesta bertemakan emas itu. Semua tamu kini tengah menikmati pesta itu. Dan Justin pun kini tengah melakukan hal yang sama. Pria dengan setelan jas hitam itu kini terlihat sibuk membicarakan bisnis dengan beberapa koleganya dalam bahasa Prancis yang fasih. Saat sibuk membahas bisnis, tiba-tiba salah satu koleganya melihat ke arah belakang. "Yasemine datang!" bisiknya hingga membuat kelima orang yang berdiri mengelilingi Justin ikut melihat ke arah pandangan pria itu. Justin pun ikut melihat ke arah pintu masuk itu. "Woah! Dia cantik sekali!" Justin terpaku melihat penampilan Yasemine yang kini tengah mengenakan gaun merah menjuntai dengan pundak yang terbuka. Sebuah kalung berlian nampak menghiasi kulit mulus mantan isterinya itu. Di dalam gendongan Yasemine, ia juga bisa melihat seorang gadis kecil yang wajahnya sama persis dengan dirinya. "Lihat, dia juga membawa serta Yesselyn!" "Ah, hingga saat sekarang aku masih penasaran siapa pria beruntung yang berhasil membuatnya hamil." Justin yang mendengar perkataan dari beberapa teman bisnisnya pun berusaha untuk tetap tenang. Dia harus terlihat biasa saja. "Kau mau mendekatinya, George?" dan pertanyaan itu langsung membuat Justin mengepalkan erat tangannya. Justin menatap tajam ke arah Omar, temannya yang mengajukan pertanyaan itu. Sialan! "Aku ingin Omar, tapi aku merasa tidak percaya diri!" jawab pria bernama Geroge tadi lalu meminum wine nya. Justin yang mendengar itupun tersenyum dalam hati. Ah, mereka tahu diri rupanya! _________________________________________________________________________________________________________ Sedangkan di ujung sana, Yasemine langsung disambut oleh beberapa kenalannya dengan hangat. Tak lupa mereka juga menyapa malaikat kecil Yesselyn yang sangat cantik dengan balutan dress merah seperti sang ibu. Yasselyn langsung diambil oleh Keira, salah satu teman Yasemine. "Yasemine aku pinjam anakmu ya!" "Jangan membuatnya menangis Kei!" ujar Yasemine dan langsung dijawab oleh sebuah anggukan oleh Keira. Wanita itu langsung membawa Yesselyn dengan begitu antusias. Yesselyn pun nampak senang-senang saja. Setelah itu, Yasemine segera berjalan menuju meja salah satu temannya. Yasemine sama sekali tidak menyadari keberadaan Justin. Ia menikmati pesta itu dengan sangat khidmat. Hingga pesta pun dimulai, berbagai macam pertunjukkan dihadirkan di sana. Yasemine menikmati acara demi acara di pesta itu. Yasemine melihat dekorasi ruang pesta hingga tatapan matanya bertemu dengan netra cokelat Justin yang sedari tadi menatapnya dengan begitu dingin. Yasemine langsung terdiam. Matanya terkunci dengan wajah Justin yang bertambah dewasa. Yasemine tidak menyangka jika Justin juga diundang ke acara ini. Tatapan mereka bertemu beberapa saat sebelum akhirinya Yasemine membuang tatapannya ke arah lain dan berusaha untuk tenang. Dia berusaha kembali menikmati pesta seperti biasa, meski itu sangat sulit. Sesekali ia akan melirik ke arah Justin yang untungnya tidak lagi menatapnya. Hingga Vey Morgan, sang pemilik pesta menghampirinya. "Kau terlihat cantik Yasemine!" Yasemine langsung berusaha tersenyum mendengar pujian dari wanita hamil itu. "Ah, kau juga sangat cantik! Aura kehamilanmu membuatmu bertambah cantik Vey! Selamat untuk pernikahanmu!" balas Yasemine lalu memeluk Vey beberapa saat. Wanita bernama Vey itu pun tersenyum. "Aku berharap anakku akan sama cantiknya dengan Yesselyn, Yasemine!" mendengar perkataan Vey, Yasemine langsung teringat akan keberadaan puterinya! Ya Tuhan! Yesselyn! Dia membawa Yesselyn ke pesta di mana Justin juga ada di sini! Yasemine langsung panik. "Kau baik-baik saja?" tanya Vey yang melihat gelagat aneh Yasemine. Yasemine pun langsung mengangguk dengan senyuman yang dipaksakan. "O-oh...aku baik-baik saja.," jawab Yasemine lalu menundukkan kepalanya. "Jangan sampai dia melihat Yesselyn. Kumohon padamu Tuhan, biarkan Keira mengajak Yesselyn bermain lebih lama..." Namun semua doa itu langsung sia-sia saat Keira datang dengan membawa Yesselyn dan mengatakan.... "Mommy, Yesselyn ingin pulang," ujar gadis kecilnya yang sudah terlihat mengantuk itu. "Yasemine, nampaknya dia mengantuk," ujar Keira. Yasemine seketika itu juga mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia mencoba untuk tidak menatap ke arah depan, di mana mantan suaminya tengah berdiri dan berbicara dengan beberapa orang yang mungkin adalah kolega bisnisnya. Namun sebesar apapun ia menghindari mata elang yang sedingin es itu, pada akhirnya Yasemine tetap melirik ke arah Justin yang ternyata juga sedang menatapnya dengan tatapan dingin yang begitu menakutkan. Yasemin pun langsung membuang pandangannya ke arah Yesselyn. Ia segera mengendong putrinya dengan panik. "Keira, aku akan membawa Yesselyn pulang." Keira mengangguk. Yasemine lalu menatap Vey. "Vey, aku pamit duluan ya, Yesselyn nampaknya sudah mengantuk," ujar Yasemine dengan tidak enak hati. Vey pun mengangguk, meski wajahnya terlihat sedikit kecewa. "Ah sayang sekali. Tapi tak apa, terima kasih sudah datang, Yasemine!" ujar Vey dan Yasemine pun mengangguk. "Sekali lagi selamat atas pernikahanmu! Aku pamit dulu!" ujar Yasemine dan segera meninggalkan ruangan pesta dengan jantung yang berdebar kencang. Yasemine berjalan menuju lift secepat yang ia bisa. Belum sempat Yasemine menekan tombol lift suara bariton Justin langsung menggema ke lorong ballroom yang sepi. "BERHENTI YASEMINE!!!" #Mau lagi ya? :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN