BAB 12: UANG TUTUP MULUT

1627 Kata
SELAMAT MEMBACA *** "Bu, ayo lah belikan sepatu futsal baru Bu. Sepatu yang lama sudah jelek, mau beli yang baru Bu." Entah sudah berapa kali, Armaya merengek pada ibunya untuk di belikan sepatu baru. Namun, Sarni sama sekali tidak memperdulikan rengekan putranya itu. "Kan belum lama itu belinya, masa sudah mau beli lagi. Jangan boros Arma. Sebentar lagi masuk SMA, biayanya banyak. Lebih baik uangnya di simpan, untuk keperluan lain dulu." Jawab Sarni. Sambil tangannya sibuk memotong bahan makanan untuk di masak makan malam. "Kan Ibu tau sendiri, sepatunya sudah jelek. Warnanya sudah buluk." "Cuma kotor itu Arma, masih bagus. Nanti Ibu cucikan biar bersih." Ucap Sarni lagi. Membuat Armaya langsung cemberut. Gagal niatnya untuk minta di belikan sepatu futsal baru. Arjuna yang lewat di dapur, mendengar Armaya sibuk mengganggu Ibunya. Dia merasa penasaran. "Kamu bantuin Bibi masak, apa cuma gangguin Arma?" tanya Arjuna. Dia duduk di kursi meja makan. Mengamati kegiatan Sarni dan Armaya di dapur. Armaya tidak menanggapi, pertanyaan Arjuna. Dia hanya diam, dengan wajahnya yang di tekuk lesu. "Kenapa dia Bi?" tanya Arjuna pada Sarni. "Ini Mas, aneh-aneh. Minta sepatu futsal baru, orang beli belum lama kok. Katanya sudah rusak, padahal cuma kotor dia nya malas cuci." Jawab Sarni. Arjuna tertawa pelan, jadi wajah di tekuk Armaya karena tidak di izinkan beli sepatu baru. "Ibu mana faham. Aku maunya yang model baru, yang punyaku sudah ketinggalan zaman." Sahut Armaya langsung. "Nah kan, berarti cuma gengsi. Bukan karena kebutuhan, pokoknya tidak Ibu belikan. Tunggu yang lama rusak, nanti baru beli baru." Armaya langsung keluar dari dapur, dengan lesu dia berjalan menuju pintu keluar. "Awas kalau berani minta sama bapak," teriak Sarni pada anak laki-lakinya itu. Tapi sama sekali tidak di hiraukannya. Melihat Armaya keluar, Arjuna pun langsung mengejarnya. "Abang mau jalan-jalan. Ikut tidak?" Tanya Arjuna saat berjalan di samping Armaya. Armaya menggeleng dengan malas. Mendingan pulang dan tidur, dari pada jalan-jalan. Suasana hatinya sedang buruk. "Nanti Abang belikan sepatu baru," Bisik Arjuna lagi. Armaya yang awalnya tidak begitu tertarik, langsung menatap Arjuna dengan berbinar-binar. Tapi setelahnya kembali lesu. Arjuna merasa bingung, apa tawarannya tidak menarik. "Nanti di marahi Ibu kalau minta belikan sama Bang Juna." Jawab Armaya lagi dengan lesunya. "Nanti kita telpon Ayah. Minta transferan sama Ayah, jadi kan yang belikan bukan Abang. Tapi Ayah, kan Ibu jadi tidak marah." "Sepakat. Kalau begitu pasti tidak di omeli Ibu. Ayo-ayo kalau begitu, kita beli sepatunya. Biar besok bisa pamer pas main futsal." Armaya langsung semangat mengajak Arjuna pergi untuk beli sepatu baru. Melihat antusias Armaya, Arjuna hanya menggeleng tak habis fikir dengan tingkah Armaya. "Tidak ganti baju dulu?" tanya Arjuna saat Armaya menariknya menuju mobil. Armaya berhenti sejenak, mengamati penampilannya. Hanya menggunakan kaos oblong dan celana pedek serta sandal jepitnya. Tapi apalah arti penampilan, yang penting punya uang. Tidak punya sih sebenarnya, tapi yang penting kalau beli nanti bisa bayar lah. "Alah tidak papa, yang penting nanti bisa bayar. Ayo Bang, keburu berubah fikiran. Gembel juga tetap ganteng kok." Ucap Armaya dengan percaya dirinya. Akhirnya Arjuna mengikuti Armaya sampai menaiki mobil. Mereka akan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan untuk mencari sepatu futsal yang di inginkan Armaya. Namun, sampai di mobil Arjuna tidak juga menyalakkan mobilnya. Membuat Armaya bertanya-tanya. Dia sudah tidak sabar untuk beli sepatu baru, tapi abangnya itu justru tidak segera menyalakkan mobil. "Ayo Bang..." Ucap Armaya dengan tidak sabarnya. Namun, Arjuna justru sibuk mengetik kan sesuatu di ponselnya. "Assalamu'alaikum. Ayah dimana?" tanya Arjuna pada ayahnya. Ternyata di menelpon Abi. "Waalaikumsalam. Dirumah, kenapa Bang?" Jawab Abi dari seberang sana. Arjuna langsung mengubah mode kamera depannya dengan kamera belakang. Mengarahkannya pada Armaya yang duduk di sebalahnya. "Nemu anak kecil di pinggir jalan, minta sepatu baru Yah. Tapi tidak punya uang." Ucap Arjuna pada Abi. Armaya merasa kesal karena ucapan Arjuna. Dia memasang wajah merajuknya kearah kamera. "Pergi belikan dari pada nangis, nanti Ayah kasih uang." Abi terkekeh di seberang sana mendengar ucapan putranya. "Terimakasih Ayah ..." Ucap Armaya dengan girangnya. Tidak sungkan-sungkan lagi dia pada Abi. "Oke Yah. Yasudah Abang antar beli dulu, keburu ngamuk." Setelahnya Arjuna menutup panggilannya. Dia lalu menyalakkan mobil, untuk pergi membeli sepatu. "Ayah kan kasih uang jajan untuk kamu Arma. Masa beli sepatu saja merengek sama Ibu." Tanya Arjuna saat mereka tengah dalam perjalanan. Sejak kecil Armaya dan Aruna juga menjadi anak-anak dari orang tuanya. Mereka juga mendapatkan uang jajan, seperti dirinya dan Rinjani dulu. "Ya ada Bang sebenarnya. Tapi kan uangnya di tabung, sayang mau di belikan. Jadi minta saja sama Ibu. Tadi kalau Ibu tidak kasih, rencananya mau minta ke Bapak. Kalau Bapak pasti kasih, ehh sudah dapat dari Ayah ya Alhamdulillah. Uang tetap aman, sepatu tetap dapat yang baru..." jawab Armaya dengan santainya. "Licik ya ..." Sindir Arjuna. "Bukan licik Bang. Tapi cerdas." Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan yang ingin mereka datangi. Tujuan pertama mereka tentu saja, toko peralatan olahraga. Armaya langsung sibuk memilih sepatu yang dia inginkan, sedangkan Arjuna hanya duduk menunggunya. Tak beberapa lama, Armaya datang dengan sepasang sepatu di tangannya. "Mau ini Bang," Armaya menunjukkan sepatu di tangannya pada Arjuna. Arjuna mengangguk setuju, dia lalu membawa sepatu itu kekasir untuk dibayar. Setelah membeli sepatu, mereka berjalan-jalan sebentar. Dan berakhir di sebuah restoran cepat saji. Armaya ingin makan es krim sebelum pulang. Arjuna mengamati Armaya yang tengah menikmati es krimnya dengan tenang. Armaya yang sejak tadi di tatap oleh Arjuna, tidak menyadari hal tersebut. "Arma..." panggil Arjuna pelan. "Kenapa Bang?" Armaya menatap Arjuna. Menunggu, sepertinya ada yang ingin abangnya itu katakan. "Abang yakin, kamu faham masalah tadi." Ucap Arjuna langsung. Armaya yang faham maksud Arjuna hanya diam. Belum mengatakan apa-apa. "Arma..." panggil Arjuna lagi. "Aku cuma mau bantuin Abang. Tidak ada maksud lain." Bela Armaya. Dia tidak mau di salahkan, karena dia merasa tidak salah dengan apa yang dia lakukan. "Abang tau maksud kamu baik. Tapi ini tidak sederhana dan tidak untuk kamu campuri Arma." Ucap Arjuna dengan sabar. Dia berharap cukup sekali ini, Armaya ikut campur. "Bukannya tidak sederhana, Abang saja yang tidak berani jujur. Apa susahnya jujur. Kalau Abang tidak berani bicara, biar aku yang bicara." Ucap Armaya dengan menggebu-gebu. Dia sudah terlalu gemas, menjadi penonton. Arjuna hanya bisa tersenyum. Andai semua sesederhana yang di katakan Armaya. "Kamu itu masih kecil, urusan Abang biar jadi urusan Abang. Tidak perlu kamu campuri, urusanmu itu belajar dengan rajin. Jadi boleh kan kalau mulai sekarang, Abang minta Arma jangan ikut campur. Lebih baik pura-pura tidak tau." Armaya melengos kesal mendengar ucapan Arjuna yang memintanya tidak ikut campur. Dia juga sebenarnya tidak ingin ikut campur, tapi lagi-lagi dia terlalu gemas menjadi penonton. Meski semua orang mengatakan dia anak kecil, tapi dia kan tidak bodoh. Lain halnya dengan kakak perempuannya yang umurnya sudah tua tapi otaknya sedikit bodoh itu. "Arma, dengar kan apa yang Abang bilang?" tanya Arjuna lagi saat tidak mendapatkan respon dari Armaya. "Dengar." Jawab Armaya singkat. Lalu kembali sibuk pada es krimnya. "Tadi terakhir Abang dengar kamu bicara seperti itu. Besok-besok kalau kamu bicara lagi, Abang marah betulan." "Iya-iya Bang. Tapi memangnya Abang tidak marah perempuan yang Abang suka punya pacar?" Arjuna tersenyum kecil mendengar ucapan Armaya. "Itu urusan Abang. Jangan kamu fikirkan, yang penting kamu diam. Sudah Abang belikan sepatu mahal, awas kalau mulutnya rusuh!" ancam Arjuna. Armaya kembali cemberut, jadi ceritanya dia dapat uang tutup mulut ini dari abangnya. "Iya-iya. Asal Abang jangan menyesal saja nanti." Armaya kembali mengingatkan Arjuna. "Itu urusan Abang!!" *** Setelah membeli sepatu dan jalan-jalan. Armaya dan Arjuna pulang, saat waktu hampir isya. Sampai di rumah, sudah ada Sarni dan Aruna yang menunggu mereka. "Kalian dari mana?" tanya Aruna saat melihat Armaya dan Arjuna datang. Armaya langsung menyembunyikan kantong belanjaan yang dia bawa di belakang tubuhnya. Namun, dengan gesit Aruna berhasil merebutnya. "Abang culas, masa cuma Arma yang di bawa jalan-jalan. Runa tidak," protes Aruna pada Arjuna. Matanya terbelalak melihat apa yang Armaya beli, apalagi melihat harga yang tertera. "Ibuuuuu, Arma beli sepatu baru. Coba lihat harganya..." Aruna langsung berlari menuju Sarni. Memperlihatkan harga sepatu yang di beli adiknya. Armaya yang tau, pasti akan di omeli langsung bersembunyi di belakang tubuh Arjuna. "Arma, kan sudah Ibu bilang tidak usah beli sepatu dulu. Apalagi semahal ini Arma," ucap Sarni pada putranya. Dia hanya bisa menggeleng tak habis fikir dengan harga sepatu yang di beli putranya. "Kamu minta sama Bang Juna ya?" tanya Aruna langsung. Mendengar pertanyaan Aruna, Sarni kembali menatap tajam putranya. Siap untuk mengomel. "Abang..." bisik Armaya pada Arjuna. Dia ingin meminta bantuan Arjuna. "Bukan aku yang belikan Bi. Ayah yang kasih uangnya. Tidak mahal kok, biarkan saja." Kali ini Arjuna yang bicara. Armaya langsung bernafas lega. Setidaknya, selamat dia untuk saat ini. "Jangan di biasakan Mas. Nanti nglunjak anak ini, dasarnya bandel masih di manja." Ucap Sarni dengan tidak enak hatinya. "Tidak papa. Sekali-sekali, tidak setiap hari juga." Jawab Arjuna lagi. "Iya, cuma sekali kok Bu. Besok tidak lagi." Sahut Armaya yang sejak tadi masih bersembunyi. Sarni tidak lagi mengatakan apapun. Lagi pula, apa yang mau di katakan. Mau marah, juga sudah terlanjur. Dia juga tidak kehilangan apapun, justru hanya buang-buang tenaga jika memarahi Armaya. "Runa di belikan juga tidak Bang?" tanya Aruna dengan penuh harap. Tapi dia tidak melihat, ada kantong lain yang mereka bawa kecuali kantong sepatu tadi. Arjuna dan Armaya kompak menggeleng. Membuat Aruna, kecewa. "Abang pilih kasih, masa Arma di belikan. Runa tidak Bang," Protes Aruna pada Arjuna. "Jangan iri dong Mbak. Ini kan memang rezeki anak sholeh." Sahut Armaya. Melihat situasi yang pasti akan ada pertengkaran sebentar lagi. Arjuna memilih pergi dari sana. Lebih baik, kembali kekamarnya ketimbang menyaksikan perdebatan Aruna dan Armaya yang pasti tidak akan ada habisnya itu. "Abang mau kekamar. Nanti turun lagi, kalau kalian sudah tidak bertengkar. Kasih kabar aja, kalau sudah damai." Ucap Arjuna sambil berjalan menuju kamarnya. *** DI TULIS: SLEMAN, 9 SEP 2022 DI PUBLISH: WNG, 4 NOV 2023
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN