SELAMAT MEMBCA
***
Di tempat Abi dan Utari berada, keduanya tengah sibuk menyiapkan oleh-oleh untuk anak-anak mereka. Besok pagi, mereka akan terbang ke Yogyakarta untuk menghadiri acara empat bulanan kehamilan Rinjani.
"Om sudah kabari Juna kalau kita mau ke sana?" tanya Utari pada Abi.
"Belum."
"Kok belum sih?"
"Memangnya harus kabar-kabar ya. Kan minggu lalu waktu dia pulang sudah tau kalau kita mau kesana." Jawab Abi dengan santainya.
Utari menghentikan kegiatannya sebentar, lalu menatap jengkel pada suaminya.
"Ya kabar-labar dong Om."
"Biar apa?"
"Biar tau kalau kita mau datang!"
"Besok kalau kita sampai sana juga mereka tau kalau kita datang. Orang kita juga datang kerumah sendiri, bukan bertamu. Tidak perlu konfirmasi kehadiran kan?"
"Terserah Om saja lah. Susah bicara sama orang tua."
Utari kembali memeriksa barang bawaan yang akan dia bawa besok. Tidak ada pakaian yang mereka bawa, semuanya adalah oleh-oleh untuk anak-anak.
"Sudah semua kan tidak ada yang tertinggal?" tanya Abi memastikan.
"Sudah. Itu untuk Aruna, itu Armaya, yang itu untuk Jani." Utari menunjuk satu-satu barang barang bawaan yang masing-masing sudah di kemas di wadah yang berbeda.
"Sebanyak itu punya Jani? Satu koper?" tanya Abi lagi dengan herannya. Dia melihat satu koper berukuran sedang yang di kemas dengan rapi yang katanya oleh-oleh untuk Rinjani.
"Iya."
"Isinya apa Sayang sebanyak itu?"
"Banyak Yah ada baju, sepatu, banyak pokoknya. Kemarin yang lucu-lucu bunda beli. Bunda sampai lupa apa saja isinya."
"Itu punya Arma apa isinya?" Abi gantian menujuk bungkusan yang katanya milik Armaya.
"Sepatu sama tas sekolah."
"Padahal sore tadi dia baru beli sepatu baru. Kenapa tidak di belikan yang lain?"
"Ayah tau dari mana? Ya mana Bunda atau kalau Arma habis beli sepatu. Habisnya Bunda bingung Arma mau di bawakan apa? Masa baju, nanti kalau tidak suka bagaimana. Yasudah bunda belikan sepatu," jawab Utari lagi.
"Orang sore tadi, Abang telpon katanya Arma mau beli sepatu baru. Yasudah Ayah kasih uang. Itu punya Runa apa isinya?" Abi gantian menunjuk bungkus untuk Aruna.
"Sepatu juga. Flat shoes, ada dua."
"Terus itu besok bawanya bagaimana? Mana boleh naik pesawat jinjing-jinjing begitu banyak."
"Nanti masukkan di koper kecil, atau tas kecil begitu. Sudah aman pokoknya."
"Yasudah kalau begitu. Kalau sudah beres semua, cepat tidur. Besok berangkat pagi."
***
Sementara di tempat lain, Sarni baru saja pulang. Dia menutup pintu dengan pelan.
"Assalamu'alaikum ..." Salam Sarni saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam ..." Jawab Asep yang tengah duduk di ruang tamu.
"Anak-anak tidur di sana Bu?" tanya Asep lagi saat melihat istrinya hanya pulang sendiri.
"Iya Pak, tadi mau pulang. Tapi sama Mas Juna suruh tidur sana saja."
Sarni duduk di hadapan suaminya dengan wajah murungnya. Asep yang melihat wajah tidak biasa istrinya pun langsung penasaran.
"Kenapa Bu?" tanya Asep.
"Arma tadi minta sepatu baru. Tidak Ibu kasih, maksudnya biar hemat. Orang sepatu lama masih bisa di pakai. Ehh ternyata malah di belikan sama Mas Juna. Yang kasih uangnya Tuan Abi. Ibu jadi tidak enak hati Pak, sepatunya mahal lagi." Sarni menceritakan apa yang mengganjal di hatinya pada suaminya.
Asep faham maksud istrinya. Tapi mereka memang tidak bisa berbuat apa-apa. Terkadang Asep sendiri merasa sungkan dengan sikap majikannya yang terlalu memanjakan kedua anaknya. Tapi mau bagaimana lagi, pernah sekali Asep mengungkapkan ketidakenakan hatinya pada tuannya itu perihal sikap berlebihan mereka pada Armaya dan Aruna. Tapi Abi justru marah, dia mengatakan Abi tidak memberikan apapun pada Asep maupun Sarni tapi pada anak-anaknya sendiri. Itu pertama dan terakhir kalinya Asep mengungkapkan rasa sungkannya.
Meski kedua majikannya sudah menganggapnya keluarga, bahkan kedua anaknya di anggap anak sendiri tapi Asep tetap sadar dengan posisinya. Siapa majikannya itu dan siapa dirinya.
Perihal masa lalu, sungguh Asep sudah tidak memperhitungkannya lagi. Tidak ada budi yang harus di balas sebenarnya. Meski Abi selalu mengingatkan, sebagaimana dulu Asep menjaga kedua anaknya begitu pula Abi akan membalas budinya. Tapi, Asep tidak pernah mengharapkan apapun.
"Sudah Bu, mau bagaimana lagi. Kita sudah sering membahas masalah ini." Ucap Asep berusaha menghibur istrinya agar tidak terlalu memikirkan masalah barusan.
"Iya sebenarnya Pak. Tapi Ibu ini tetap merasa tidak enak hati. Kadang sungkan juga, tapi mau bagaimana lagi. Anak-anak juga kadang suka tidak faham dengan situasi."
"Sudah tidak papa. Selama masih batas wajar, yang penting mereka tidak aneh-aneh. Tidak keterlaluan, biarkan saja. Mau di kasih tau juga susah, awasi saja."
Sarni mengangguk mendengar ucapan suaminya. Memang benar apa yang di katakan suaminya itu, selain mengawasi dan membiarkan tidak ada yang bisa mereka lakukan.
***
Abi dan Utari turun dari mobil sambil membawa satu tas jinjing di tangan mereka. Asep yang menjemputnya di bandara tadi membantu membawakan koper berukuran sedang yang di letakkan di bagasi.
"Assala'mualaikum ..." Ucap Abi dan Utari saat memasuki rumah.
Aruna dan Armaya yang sedang mengepel lantai, langsung sumringah melihat kedatangan Abi dan Utari.
"Waalaikumsalam ..." Jawab mereka dengan kompak.
Mereka langsung menyalami keduanya.
"Rajin-rajinnya anak-anak Bunda." Ucap Utari pada Armaya dan Aruna.
"Arma yang paling rajin Bun. Semua yang ngepel Arma, Mbak cuma nyeretin ember." Adu Armaya pada Utari.
Aruna yang sedang memegang gagang pel pun langsung memukulkannya pada adiknya itu. Enak saja dia di fitnah hanya nyeretin ember, padahal dia juga ikut membantu ngepel lantai hingga bersih.
"Itu Bun, Mbak masih punya tenaga buat mukul Arma. Tandanya dia tidak capek, Arma saja capek. Jalan saja rasanya melayang tidak punya tenaga."
Abi dan Utari langsung tertawa mendengar ucapan Armaya.
Mereka meletakkan barang bawaan mereka keatas meja lalu duduk untuk beristirahat.
Sarni datang membawakan dua gelas minum dan makanan ringan.
"Tuan Nyonya sehat kan?" tanya Sarni pada Abi dan Utari.
"Alhamdulillah. Sehat Bi, Arjuna gimana disini. Baik-baik aja kan? Tidak bandel?" tanya Utari pada Sarni.
"Baik Nya, Mas Juna aman disini."
Dari arah tangga Arjuna telihat turun dengan wajah mengantuknya.
"Kamu baru bangun jam segini Bang? Tidak sholat subuh? Jam berapa ini?" tanya Utari langsung saat melihat putranya datang masih dengan wajah mengantuknya.
Arjuna langsung menyalami kedua orang tuanya. Meski dengan setengah sadar.
"Sudah sholat tadi Bun. Tapi kembali tidur, mumpung libur mau istirahat." Jawab Arjuna lagi.
Dia memang merasa lelah, jadi ingin tidur seharian mumpung hari libur.
"Ada oleh-oleh tidak Bun?" tanya Armaya yang sejak tadi diam duduk manis di sebelah ibunya. Sarni yang jengkel dengan pertanyaan Armaya langsung mencubit pelan paha putranya itu.
"Kamu ini, kalau ada orang datang bukannya tanya kabar yang di tanyakan pasti oleh-oleh." Ucap Utari gemas dengan Armaya.
Dia lalu membuka tas jinjingnya dan mengambil dua kantong belanjaan lalu menyerahkannya pada Armaya. Armaya menerimanya dengan gembira.
"Terimakasih Bunda." Ucap Armaya.
"Sama-sama..."
Utari lalu menatap Aruna, melihat wajah berharap gadis itu membuatnya ingin tertawa.
"Runa mau oleh-oleh juga?" tanya Abi pada Aruna.
"Ada tidak untuk Runa Bun?" tanya Aruna dengan dengan penuh harapnya pada Utari.
Dia trauma dengan yang kemarin, adiknya dapat sepatu dari abangnya sedangkan dia tidak di bawakan apapun.
"Ada dong, masa tidak ada." Utari menyerahkan dua kotak sepatu untuk Aruna.
Aruna yang melihat oleh-oleh bagiannya langsung ikut berbinar bahagia.
"Terimakasih Bun."
"Sama-sama cantik ..."
Armaya dan Aruna sibuk dengan oleh-oleh mereka. Abi dan Utari merasa senang, melihat kebahagian kakak beradik itu.
"Cantiknya..." Ucap Aruna saat mencoba sepatu pemberian Utari.
"Cantikkan Arma?" tanya Aruna pada Armaya. Namun, Armaya tidak terlalu memperdulikannya. Dia sendiri asik dengan oleh-olehnya sendiri.
"Biasa aja." Jawab Armaya cuek.
"Dasar norak," Cibir Aruna. Sepatu secantik itu, di katakan biasa saja. Salah memang dia bertanya pada Armaya.
"Cantik kan Bu?" gantian Aruna bertanya pada ibunya.
"Iya cantik." Aruna merasa puas dengan jawaban ibunya.
Arjuna yang sejak tadi mengamati Aruna, tanpa sadar ikut tersenyum melihat senyuman gadis itu. Bahkan saking fokusnya pada Aruna, dia tidak mendengar panggilan Armaya.
"Bang..." panggil Armaya.
"Kenapa?" tanya Arjuna menoleh pada Armaya.
"Di tanya bagus atau tidak kok, malah bengong." Ucap Armaya sambil menunjukkan tas di punggungnya.
"Iya bagus." Sahut Arjuna pendek.
Arjuna kembali mengalihkan fokusnya pada Aruna, bahkan sampai gadis itu pergi untuk menyimpan oleh-oleh miliknya mata Arjuna tetap mengikutinya.
Tanpa dia sadari, sikapnya itu tertangkap oleh satu mata yang sejak tadi menatapnya dengan seksama.
***
Sore harinya, Aruna dan Armaya sedang duduk berbincang bersama Utari di halaman belakang. Entah apa yang mereka bicarakan, obrolan mereka nampak begitu menyenangkan. Bahkan sesekali, mereka tertawa. Dari dapur, Arjuna mengamati ketiganya sambil minun teh. Dari jendela dapur yang terbuka dia bisa melihat semua kegiatan di halaman belakang.
Arjuna hanya diam menatap ketiga orang tersebut, tanpa berminat untuk bergabung bersama mereka.
Tiba-tiba seseorang meletakkan gelas lain di sebelahnya. Arjuna langsung menoleh, ternyata Ayahnya yang datang. Abi datang dan ikut bergabung untuk minum teh bersama Arjuna.
"Kalau gadis yang ingin kamu nikahi itu dia, Ayah sarankan kamu fikirkan lagi Bang." Ucap Abi langsung sambil menunjuk kearah Aruna berada.
Arjuna terkejut dengan ucapan ayahnya. Dari mana dia tau, perihal masalah itu.
Arjuna hanya diam, bingung bagaimana menanggapi ucapan ayahnya.
"Masa adik sendiri Bang. Dia masih kecil, masa depannya masih panjang. Fikirkan baik-baik, jangan asal suka." Ucap Abi lagi, sambil menatap putranya itu dengan serius.
Arjuna berusaha tenang, meski hatinya merasa gugup di tatap demikian oleh ayahnya.
"Abang tidak faham maksud Ayah." Hanya itu yang Arjuna katakan.
"Kamu itu anak siapa? Kamu besar sama siapa? Kamu fikir Ayah tidak tau apa yang ada di fikiranmu itu. Kamu bisa menutupi dari semua orang, tapi bukan dari mata Ayah."
Arjuna semakin tidak berkutik. Apa yang harus dia katakan lagi.
"Ingat ucapan Ayah waktu itu. Jangan merusak hubungan yang sudah ada untuk hubungan yang belum pasti. Cinta dan obsesi itu bedanya hanya setipis kertas. Fahami dulu rasa di hati, jangan sampai obsesi menyakiti hatinya. Dia juga anak Ayah lho. Awas kamu sakiti, dia masih kecil, fikirannya masih bebas."
Arjuna langsung menatap sendu pada ayahnya. Kenapa ucapan ayahnya membuatnya kembali ragu.
"Tapi Abang suka Yah," ucap Arjuna seperti bocah yang merengek pada ayahnya.
"Kenapa adik sendiri sih Bang? Memangnya tidak ada dokter cantik di rumah sakit?" Abi terkekeh pelan melihat wajah putranya yang memelas itu.
"Di rumah sakit juga banyak dokter cantik, kenapa Bunda dengan segala keburukannya yang Ayah pilih." Ucap Arjuna membalikkan pertanyaan ayahnya.
Abi memukul pelan kepala Arjuna karena gemas.
"Sudah pintar kamu membalikkan pertanyaan Ayah."
"Ya Abang harus jawab apa. Kalau memang sukanya sama dia. Abang makan hati Yah, lihat dia bawa pacarnya pulang. Ayah tidak kasihan sama anak Ayah ini." Tanpa sadar Arjuna mencurahkan isi hatinya pada Abi.
"Betulan suka?"
Arjuna mengangguk dengan yakin.
"Kalau suka betulan, tidak main-main. Sabar Bang, dia masih punya mimpi dan masa depan yang panjang. Biar di selesaikan dulu. Jadi nanti bisa fokus dengan hubungan, kasihan kalau di nikahi sekarang nanti masih kuliah."
Arjuna semakin lesu. Menunggu menyelesaikan mimpi. Mau berapa lama, keburu dia mati makan hati jika begitu ceritanya.
"Lama Yah, Abang keburu mati saking cemburunya." Keluh Arjuna.
"Ya paling empat tahun, sampai dia lulus S1. Kalau mau nunggu lulus S2 yang lebih lama lagi." Jawab Abi santai.
"Keburu di ambil orang."
"Kalau kata tuhan itu punyamu, makhluk mana yang berani ambil."
Makhluk bernama Arif Yah, Ucap Arjuna dalam hati.
***
DI TULIS: SLEMAN, 11 SEP 2022
DI PUBLISH: WNG, 5 NOV 2023