BAB 2: AROMA BAHAYA YANG MENGGODA

429 Kata
BAB 2: Aroma Bahaya Yang Menggoda Cahaya lampu kota menembus kaca jendela kamar hotel lantai sepuluh itu, menciptakan bayangan panjang di dinding. Nada, yang baru saja mengganti pakaiannya dengan gaun tidur satin berwarna maroon, menatap dirinya di cermin. Sekilas, ia tampak tenang. Tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang menggigit. “Ray…” gumam Nada lirih, seakan nama itu punya sihir tersendiri. Ketukan ringan di pintu membuat jantungnya terlonjak. Ia membuka pintu perlahan—dan di sana, berdiri sosok pria itu. Ray. “Boleh masuk?” tanya Ray sambil menyodorkan dua gelas wine. Nada mengangguk, meski dalam hati ada keraguan yang tak bisa dijelaskan. “Tentu, Ray. Kamu datang dengan aroma bahaya yang anehnya bikin aku nggak bisa menolak.” Ray tersenyum samar, “Kau suka wine merah, kan, Nada?” Nada mengambil gelas itu dan menyesapnya pelan. “Aku lebih suka jawaban daripada wine, Ray. Siapa kamu sebenarnya?” Ray menatap ke luar jendela, seolah mencari jawaban dari langit malam. “Aku cuma seorang pria yang kebetulan duduk di bar yang sama denganmu malam itu.” Nada memiringkan kepalanya, tak puas. “Tapi kamu tahu namaku, kamar tempat aku menginap, bahkan... kamu tahu lagu favoritku.” Ray mendekat, mengangkat dagu Nada dengan lembut. “Nada, kadang jawaban cuma akan merusak suasana. Nikmati saja malam ini. Bukankah itu yang kamu inginkan?” Nada menahan napas. Sentuhan Ray dingin tapi membakar. “Aku bukan wanita yang mudah, Ray.” Ray menyentuh pipinya perlahan. “Aku tahu. Justru itu yang membuatmu berbahaya.” Malam semakin larut. Musik lembut mengalun dari speaker kecil di pojok ruangan. Tanpa sadar, Nada duduk di ujung ranjang, matanya masih mengawasi Ray yang kini melepaskan jaket kulitnya. “Nada,” suara Ray terdengar pelan tapi tegas, “Jika kamu benar-benar ingin tahu siapa aku, kamu harus siap dengan jawaban yang tak bisa kamu lupakan.” Nada mengernyit. “Apa maksudmu?” Ray mengambil dompetnya, mengeluarkan selembar kartu identitas. Ia melemparkannya ke meja. Nada menatapnya. “Ray... kau bukan sekadar pria biasa.” Ray mendekat. “Malam ini, biarkan aku jadi siapa pun yang kamu mau. Tapi besok pagi, kau harus memutuskan... tetap di sini atau pergi.” Nada berdiri perlahan, mendekat ke arahnya. “Dan kalau aku memilih tetap?” Ray menunduk, membisikkan sesuatu di telinganya. “Kamu akan masuk ke dunia yang penuh bahaya... tapi kamu nggak akan pernah merasa sendiri lagi.” Nada menarik napas dalam-dalam. Dunia yang penuh bahaya? Atau hati yang penuh rasa penasaran? Dan malam itu... pilihan mulai dibentuk bukan oleh logika, tapi oleh hasrat yang membara di balik jendela hotel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN