“Tidak semua pertemuan membawa luka. Beberapa datang untuk mengajarkan cara menyembuhkan.” --- Dua hari sebelum konser, udara Lincheng terasa berat. Kabut pagi menggantung rendah. Shen Li berdiri di sana, menatap embun yang mencair perlahan. Setiap tetesnya seperti waktu yang berjalan tanpa bisa ia genggam. Dari dapur, aroma teh menguar lembut. Suara sendok beradu dengan gelas terdengar ritmis, bunyi kecil yang biasanya menenangkan, tapi pagi itu justru terasa terlalu sunyi. “Ma,” panggilnya pelan seperti gumam. Nyonya Zhang menoleh. Wajahnya lebih segar dibanding beberapa hari lalu, meski masih ada sisa pucat di bawah mata. “Kau tidak perlu menatapku seperti itu,” katanya, tersenyum tipis. “Pergilah, A Li. Kau sudah menyiapkan semua ini terlalu lama untuk membatalkannya sekarang.”

