“Ada yang tak kita jauhi dengan langkah, melainkan kita tunda dengan diam.” --- Cahaya matahari menembus celah tirai, membentuk garis tipis di udara yang masih beraroma lembap. Di meja rias, botol air setengah penuh, obat-obatan, dan setangkai bunga putih yang mulai layu seperti sisa-sisa malam panjang. Shen Li duduk di tepi ranjang. Rambutnya yang masih basah menetes perlahan, membasahi bahu baju tidur abu muda yang terlihat terlalu tipis untuk menahan dinginnya hati yang sedang rapuh. Pucat wajahnya bukan sekadar karena sakit, tetapi juga karena kelelahan yang sudah menumpuk terlalu lama. Televisi menyala tanpa suara. Di layar, namanya muncul besar-besar. 'LILI PINGSAN DI ATAS PANGGUNG, REKAMAN YANG MENGGUNCANG MEDIA.' Video itu diputar berulang-ulang. Ketika dirinya jatuh, cahaya

