3 – Yang Tak Terucap

1204 Kata
"Terkadang paling menyesakkan bukanlah kalimat yang terlontar, akan tetapi kata-kata yang sengaja ditahan.” --- “Ada yang datang bukan untuk tinggal.” Suara melayang di udara, samar, lalu tenggelam ke dalam nyanyian hujan. Shen Li berhenti. Bukan karena lupa, melainkan karena dadanya terasa terlalu sesak untuk melanjutkan. Pintu kamarnya berderit. Langkah kaki terdengar mendekat. “Belum tidur?” Suara itu datang lirih, datar tapi tidak sepenuhnya dingin. Shen Li menoleh. Ibunya berdiri di sana. Wajahnya tidak menampakkan emosi yang jelas, hanya kelelahan yang tertahan. “Sebentar lagi, Ma,” jawab Shen Li pelan. “Aku mencoba menyelesaikan sesuatu.” Nyonya Zhang masuk beberapa langkah. Lantai kayu berderit lembut di bawah pijakannya. Iris cokelat tuanya menelusuri kamar, tumpukan kertas, gitar, cangkir teh yang tak lagi mengepulkan asap. Semua tampak begitu familiar, tapi sekaligus juga terasa asing. “Lagu baru?” tanya nyonya Zhang kemudian, tanpa benar-benar menatap putrinya. “Mungkin.” Jeda panjang menggantung, sementara rintik hujan di luar mengisi kekosongan. Kemudian disusul suara halus pena yang kembali tergores di atas kertas. Dari sudut pandang ibunya, bayangan Shen Li di bawah cahaya lampu tampak seperti potongan masa lalu, sebelum semuanya berubah. Kali ini, ada sesuatu yang lain. Ketenangan Shen Li justru menimbulkan kegelisahan yang tak ia kenali. Bukan amarah, bukan kebencian, tapi rasa bersalah yang belum menemui jalan keluar. Nyonya Zhang ingin mengatakan sesuatu, tapi semuanya tertahan di ujung lidah. “Jangan terlalu larut.” Hanya itu yang akhirnya bisa ia ucapkan. Suaranya lebih lembut dari niat awalnya. “Udara malam lembap.” Shen Li menatap ibunya sebentar. Ada banyak hal yang ingin diucapkan, tapi lidahnya kelu. “Iya, Ma. Aku akan segera tidur.” Nyonya Zhang mengangguk, tapi tidak beranjak. Pandangannya jatuh pada buku catatan yang terbuka di meja. Ia membaca sepintas kalimat pertama. Ada yang datang bukan untuk tinggal. Jantungnya bergetar halus. Kata-kata itu terasa seperti belati kecil yang menyentuh sesuatu di hatinya. “Lirikmu." Ia berbisik nyaris tanpa sadar, “terasa seperti—” Nyonya Zhang berhenti. Shen Li menatapnya, menunggu kelanjutan kalimat yang pada akhirnya tidak pernah keluar. Nyonya Zhang hanya menghela napas pelan. “Sudah malam. Jangan lupa matikan lampu.” Kemudian berbalik sebelum Shen Li sempat menjawab. Langkahnya menjauh perlahan. Shen Li menatap pintu yang kembali tertutup. Tangannya sedikit gemetar, tapi tak membuatnya berhenti untuk mengangkat gitar lagi. “Ada yang datang bukan untuk tinggal. Tapi sempat membuatku percaya, bahwa langit bisa jernih setelah hujan.” Suaranya tenang, tapi matanya basah. Di luar, hujan bertahap berhenti. Shen Li menulis satu baris terakhir di bawah lirik itu. Dan mungkin, aku hanyalah nada yang kembali pulang, bukan untuk tinggal, tapi hanya untuk mengingat. Ia menatap tulisan itu lama, kemudian menutup bukunya perlahan. Di luar kamar, nyonya Zhang berdiri di lorong, bersandar pada dinding, tidak jadi melangkah pergi. Matanya menatap lantai, tapi telinganya menangkap setiap bait lagu putrinya yang mengalun pelan di balik pintu. Tangannya menggenggam selendang, jari-jarinya bergetar tipis. Wajahnya tetap datar, tapi di ujung mata ada kilatan basah yang cepat ia hapus. Hanya satu kalimat terlintas di pikirannya. "Suaramu masih sama, A Li. Persis seperti dulu sebelum semuanya berubah." Lalu ia melangkah pergi, pelan, nyaris tanpa suara. --- Pagi di Lincheng datang dengan cahaya pucat. Kabut tipis menyelimuti kota, menembus celah-celah pepohonan, menempel di setiap kaca jendela seperti embun yang enggan hilang. Shen Li bangun lebih awal. Ia turun ke dapur dengan langkah pelan, menyalakan teko air, lalu menyiapkan dua cangkir teh. Aroma daun melati seketika mengisi udara, bercampur bau kayu lembap dari meja makan tua yang sudah mulai retak di setiap tepinya. Beberapa saat kemudian, suara langkah lain terdengar di lorong. Ibunya muncul. Mereka saling menatap sejenak. Lantas kemudian Shen Li terlebih dulu menunduk. “Tehnya sudah siap,” ucapnya pelan. Nyonya Zhang duduk tanpa banyak bicara. Ia menatap cangkir di hadapannya, uap mengepul tipis, menari pelan di udara. Tak ada suara selain bunyi sendok kecil yang beradu dengan keramik ketika Shen Li mengaduk. Ibunya membuka mulut. “Kau tidur larut?” suaranya datar, tapi tidak keras. Menatap Shen Li dengan tatapan yang sulit diartikan. Shen Li mengangguk. “Sedikit.” “Menulis lagu?” Kekhawatiran halus terselip di antara setiap kata yang terlontar. “Hanya menyelesaikan yang tertunda.” Jawaban itu sederhana, tapi cukup membuat udara di antara mereka terasa menegang. Nyonya Zhang memalingkan pandangan, seolah ingin menghindari sesuatu. Shen Li memperhatikan tangan ibunya. Urat biru terlihat jelas di tangannya, jemarinya tampak lebih kurus dari yang ia ingat. Di sisi lain meja, sang ibu menatap jauh ke luar jendela, melihat taman kecil di mana kuncup melati mulai mekar. Shen Li mengangkat cangkir teh, menyesap tanpa bicara. Begitu juga dengan sang ibu, keheningan panjang terasa canggung. Tatapan keduanya sesekali bertemu, lalu cepat menghindar. Setelah beberapa saat, Shen Li beranjak, mencuci cangkir. Suara air yang mengalir deras dari keran memecah keheningan. Ia hampir berkata sesuatu, tapi urung. Sementara itu, nyonya Zhang masih duduk. Pandangannya tak lagi berpusat pada taman, melainkan ke kursi kosong di seberang meja. Tempat yang dulu selalu diisi oleh suaminya, lalu lama dibiarkan begitu saja. Ketika Shen Li mematikan keran, ibunya berkata pelan, hampir tak terdengar. "Lain kali, sekalian buat sarapan juga.” Shen Li berhenti, bahunya menegang sesaat. Ia menatap punggung ibunya tegak, tapi ada kerapuhan yang ditekan dalam-dalam. Mengerutkan bibir, ia pun menjawab lembut, “Baik, Ma.” Itu saja. Tapi di balik kata sederhana itu, ada sesuatu yang pelan-pelan bergerak di antara mereka. Setidaknya ada sedikit ruang untuk bernapas. Tidak banyak, tapi cukup. Di luar, sinar sang Surya akhirnya menembus kabut. Cahaya keemasan pucat menembus tirai tipis dan berakhir menyentuh permukaan lantai. Uap teh di meja makan mulai menghilang, menyisakan aroma samar melati yang menempel di udara. Shen Li memeriksa jam di pergelangan tangannya. Ia meraih sweater tipis dan tas selempang hitam di gantungan pintu dapur. Nyonya Zhang menatap sekilas dari balik cangkir yang belum disentuh. “Mau pergi?” tanyanya datar, suaranya pelan namun menahan sesuatu dari dalam. Shen Li menunduk sedikit, suaranya terdengar lemah. “Latihan di studio. Hari ini agak panjang, mungkin pulang malam.” Ibunya tidak langsung menjawab. Hanya jari yang bergerak menyentuh bibir cangkir, seolah menimbang sesuatu. Tetapi tidak jadi diucapkan. “Jangan lupa makan." Hanya kalimat itu yang akhirnya keluar. Pendek, hampir seperti kebiasaan lama yang terlontar tanpa sadar. Shen Li berhenti di dekat pintu. Jemarinya meremas tali tas sesaat. “Baik, Ma.” Ia hendak melangkah keluar, semilir angin dari jendela membawa aroma lembap pagi hari. Ia menatap punggung ibunya di meja makan, tegak, tapi terasa jauh. “Hari ini mungkin hujan lagi,” kata Shen Li pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Nyonya Zhang tidak menjawab, hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. Gerakan itu cukup membuat sesuatu di dalam hati Shen Li terasa sesak. Ia membuka pintu perlahan. Udara pagi menyambutnya dengan dingin yang sarat pertanda hujan. Aroma tanah basah menyelimuti udara. Shen Li melangkah mantap, meskipun napasnya sedikit berat. Langit yang masih berawan dan bayangan wajah ibunya di balik jendela terasa seperti kenangan yang belum usai. Dengan langkah perlahan, ia menyusuri jalan besar, meninggalkan aroma teh dan kabut pagi di belakang. Namun, di hatinya ada satu perasaan samar yang tak bisa ia abaikan. Sebuah ketegangan halus. Seolah ada yang menunggu di studio, siap menguji nada yang baru ia temukan, dan mungkin juga hatinya. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN