4 – Sisa Kenangan

1126 Kata
“Beberapa kenangan tinggal lebih lama dari yang kita inginkan.” --- Tirai malam turun perlahan, gerimis pun jatuh bagai napas yang telah lama tertahan. Di luar studio, jalanan Lincheng berkilau dalam kelembapan, cahaya lampu jalan berpendar, bergetar di genangan air. Shen Li berjalan cepat ke arah taksi yang telah ia pesan. Ujung rambutnya basah, napas sedikit terengah, bahunya ikut turun sebab lelah. Latihan malam ini berjalan panjang, suaranya masih terasa di tenggorokan, tapi pikirannya tak kunjung tenang. Tentang lagu yang belum selesai, ibunya, dan seseorang yang dulu sempat terluka bersamanya. Saat ia hendak membuka pintu mobil, ponselnya bergetar di dalam tas. Nomor tak dikenal. Ia menatap layar sejenak, ragu. Tapi tetap menjawab panggilan. “Permisi, apakah ini keluarga Nyonya Zhang Hua?” suara seorang perempuan di seberang terdengar tergesa. “Beliau pasien di Rumah Sakit Yueshan. Baru saja pingsan di depan rumah dan kini dirawat di ruang observasi.” Waktu seolah berhenti. Suara hujan tiba-tiba hilang dari pendengaran. Shen Li tidak sempat menjawab. Tangannya gemetar, ponselnya hampir lepas dari genggaman. Napasnya sesak, paru-paru terasa terbakar. Ia hanya sempat berbisik pelan di antara detak jantungnya yang tak beraturan. "Ma, jangan sampai terjadi sesuatu padamu." --- Rumah Sakit Yueshan. Aroma antiseptik menusuk indera penciuman. Cahaya putih dari lampu langit-langit rasanya seperti terlalu terang, seolah membuka semua rasa takut yang ingin ia sembunyikan dalam-dalam. Shen Li berdiri di depan ruang perawatan. Di balik kaca bening, ibunya terbaring dengan wajah pucat, oksigen menempel di hidung, tangan lemah di atas selimut putih. Dunia di sekitarnya terasa samar, seperti diselimuti kabut. “Bibi kehilangan kesadaran sekitar lima menit sebelum dibawa ke sini,” kata seseorang dengan suara tenang. “Untung tetangga segera menghubungi kami.” Shen Li menoleh. Xuan Zhan berdiri di samping, jas putihnya rapi, rambut sedikit berantakan. Wajahnya tetap tenang, terlalu tenang, seolah sedang berusaha menahan. Ia tidak menyapa dan Shen Li pun tidak. “Bagaimana keadaannya?” suaranya nyaris bergetar, seolah takut pada jawaban yang akan ia dengar. Xuan Zhan menatap berkas di tangannya, lalu berkata pelan, “Tekanan darahnya turun drastis. Kelelahan dan kurang gizi. Sekarang kondisinya stabil, tapi sebaiknya jangan ditinggal sendirian.” Nada suaranya lembut, terukur. Ia tidak menatap Shen Li lama-lama, tapi cukup untuk mengetahui gejolak emosi yang sengaja ditahan lewat sorot matanya. Shen Li menunduk, napasnya pendek. “Terima kasih,” bisiknya lirih. Xuan Zhan hanya mengangguk, tapi di balik ekspresinya yang datar, ada kilasan kecemasan yang nyata. “Bibi kuat,” katanya, hampir seperti menenangkan dirinya sendiri. “Dia hanya butuh istirahat dan sedikit ketenangan.” Keheningan turun di antara mereka. Hanya bunyi pelan mesin infus dan langkah perawat yang sesekali lewat di lorong panjang. Shen Li akhirnya duduk di kursi panjang di koridor. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangan saling menggenggam di pangkuan. Air matanya jatuh diam-diam. Pikirannya kusut oleh suara-suara yang tak ingin ia dengar. Kenapa aku selalu datang terlambat? Kenapa aku tidak pernah ada saat dibutuhkan? Xuan Zhan membereskan obat-obatan di meja, gerakannya hati-hati, nyaris tanpa suara. Sekilas ia melirik Shen Li. Cara bahunya turun, matanya menatap lantai, semuanya mengingatkan pada masa-masa itu. Ia ingin melangkah mendekat. Ingin mengatakan sesuatu, apa pun. Tapi langkahnya seolah terpaku. Xuan Zhan sadar, masih ada dinding tak kasat mata yang berdiri di antara mereka. Dinding yang dibangun dari masa lalu yang belum siap disentuh. Xuan Zhan menghela napas pelan, mengambil satu langkah kecil, lalu satu lagi. Tanpa bicara, ia menaruh segelas air hangat di meja kecil di sebelah Shen Li. “Minumlah,” ucapnya datar tapi pelan. “Biar lebih hangat.” Shen Li menoleh sekilas. Cahaya lampu menyentuh sisi wajah Xuan Zhan, membuat bayangan lembut di rahangnya. Tidak ada tatapan iba, tidak juga simpati berlebihan hanya perhatian yang sederhana, tulus, dan menenangkan. Shen Li menunduk, kedua tangannya membungkus gelas itu erat. Hangatnya meresap ke telapak tangan, lalu menjalar ke dalam hati. Ia menarik napas panjang. “Terima kasih,” katanya kemudian, pelan, lelah, dan mungkin putus asa. Xuan Zhan mengangguk kecil, lalu mundur setengah langkah, memberi ruang. Keheningan kembali turun, tapi kini terasa lebih ringan. --- Cahaya pertama masuk lewat setiap jendela yang terbuka, memantul pada tirai, dan menciptakan bayangan lembut di lantai. Udara lebih hangat dari semalam. Shen Li duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ibunya yang terasa lebih ringan dan dingin. Wajahnya tampak tenang, napas pun kembali stabil. Untuk sesaat kemudian, kelopak mata nyonya Zhang terbuka. Tatapan yang dulu keras kini sedikit melembut. “A Li.” Suaranya yang keluar terdengar seperti bisikan. Shen Li bergerak cepat, berdiri, napasnya menahan haru. “Ma? Jangan bicara dulu. Aku panggil perawat.” “Tidak perlu.” Tangan ibunya terangkat lemah, menyentuh pergelangan tangan Shen Li. “Kau habis menangis.” Shen Li menunduk, tersenyum kecil di antara sisa air mata. “Sedikit.” suaranya parau. “Aku takut sesuatu terjadi padamu, Ma.” Nyonya Zhang menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. Garis-garis di wajahnya tampak lebih jelas di bawah cahaya pagi. “Maaf, A Li,” katanya, suara bergetar. “Telah membuatmu khawatir.” Shen Li menggeleng cepat. “Tidak, Ma. Aku yang salah. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, jarang mengunjungimu, dan kurang perhatian.” Nyonya Zhang menarik napas panjang. “Tidak ada yang salah, A Li. Hanya beberapa tahun terakhir terasa panjang sekali.” Keheningan hadir secara bertahap, tapi kini tidak ada lagi ketegangan. Shen Li menunduk, memeluk tangan ibunya erat-erat. Suaranya pecah, lirih seperti doa, “Aku takut tidak sempat memperbaiki semuanya, Ma.” “Masih sempat,” jawab nyonya Zhang lembut. “Selama kita masih bisa mendengar suara satu sama lain.” Kalimat itu sederhana, tapi menembus jauh ke dalam hati. Ia tidak menahan air matanya kali ini. Membiarkannya jatuh, membasahi tangan ibunya yang masih ia genggam erat. Dari pintu, Xuan Zhan berdiri diam. Tidak masuk. Hanya menyandarkan bahu pada kusen, membiarkan pemandangan itu menenangkan dirinya dengan cara yang aneh. Sinar mentari perlahan bergeser, menyentuh wajahnya, memantul lembut di kacamata tipis yang ia kenakan. Ada senyum samar di sana, bukan senyuman bahagia, tapi sebuah kelegaan. Ia tahu, tidak semua luka memerlukan obat. Xuan Zhan menatap mereka sekali lagi, lalu berbalik perlahan. Langkahnya tenang, tapi di dadanya ada getar yang sulit dijelaskan. Semoga kau baik-baik saja, A Li. Sementara itu, Shen Li masih duduk di tepi ranjang. Nyonya Zhang telah tertidur kembali, napasnya tenang. Ia mengusap lembut punggung tangan sang ibu dengan ibu jari, gerakan kecil, tapi mengandung seluruh penyesalan dan kasih yang tertunda. Air mata terakhir jatuh pelan di punggung tangannya sendiri. Namun kali ini, bukan karena takut. Akan tetapi karena harapan yang perlahan tumbuh. Meskipun jalan yang ia lalui masih panjang. Ketika Shen Li melangkah keluar dari kamar perawatan, koridor rumah sakit terasa terlalu sunyi, namun menyimpan sesuatu yang tak terucap. Ada ketenangan aneh yang menempel di udara, seperti jeda sebelum bayangan masa lalu perlahan kembali mengikuti dari kejauhan. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN