Labirin Manusia Gagal : 29

1703 Kata

Selama dalam perjalanan mencari Vannesa, aku dan Fikri tidak ada yang mengeluarkan sepatah atau bahkan dua patah kata sekalipun. Kami masih sama-sama terdiam, bahkan sampai aku sudah ada di tol Jagorawi keluar Gadog arah puncak. Aku dan Fikri masih sama terdiamnya, dia sama sekali tidak menanyakan untuk apa aku mengajaknya ke Puncak. Baguslah, aku jadi tidak perlu repot-repot menjelaskan kepadanya tentang apa maksud dan tujuanku mengajaknya kesini. Biar saja ini menjadi kejutan kecil untuknya, sebuah hadiah dari teman lama yang akan menjadi kenangan tersendiri bagi dirinya kelak. Aku yakin, dia tidak akan bisa melupakan momen ini. Momen ini akan dia ingat selalu, aku jamin itu. Apa kalian tahu? Saat ini, aku seperti orang bodoh yang setiap hari menanti sesuatu yang tidak pasti. Aku selalu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN