bc

LABIRIN MANUSIA GAGAL

book_age18+
329
IKUTI
1K
BACA
dark
sensitive
loser
bully
city
abuse
lonely
intersex
selfish
stubborn
like
intro-logo
Uraian

"Hai, menurutmu siapa yang memukuli ibuku?"

Govinda Hilvan, bertanya dengan nada seringan mungkin pada Vannesa Anindary

tentang siapa yang memukuli ibunya? Laki-laki dengan balutan jas hujan itu masih

terdiam memandangi perempuan bertubuh kurus yang bagian wajahnya sudah penuh dengan luka lebam. Vannesa mengangkat kepala, air hujan menyembunyikan air matanya yang jatuh.

Dia tersenyum sembari mengusap-usap lengan Govinda dan mengatakan, “Aku percaya kamu, bukan kamu, aku yakin.” Laki-laki dan perempuan itu masih saling memandangi, dalam benak laki-laki itu

muncul satu pertanyaan. Kalau hari itu mereka tidak bertemu, apakah masih ada yang mau mempercayainya?

chap-preview
Pratinjau gratis
P r o l o g u e
"Menurutmu, siapa yang memukuli ibuku?" Aku terduduk lesu di atas lantai kamar ibuku, mentap nanar pada wajah yang kini sedang memejamkan kedua indra pengelihatannya. Seulas senyum getir muncul begitu saja pada wajahku, menundukan kepala, aku mengaku kalah. Pertanyaan tanpa jawaban tentang siapa yang memukuli ibuku yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri kini sudah tidak sanggup lagi aku tanyakan. Semua kemungkinan-kemungkinan tentang siapa orangnya nyatanya hanya membuat rusak diriku saja.  Memaafkan, kata memaafkan sudah seringkali ingin aku lakukan. Tapi, seperti di tarik menuju dasar kesadaran. Amarahlah yang menungguku. Nyatanya, memang aku bukan manusia yang mudah memaafkan. Dan saat ini satu-satunya hal yang selalu aku lakukan adalah menunggu. Memaafkan rasanya terlalu sulit untuk aku lakukan maka menunggulah satu-satu hal yang bisa aku jalankan. Aku menunggi hari dimana aku bisa membalas apa yang orang itu lakukan kepada ibuku, karena rasa sakit yang aku rasakan hanya akan terobati jika orang yang melakukan itu pada ibuku juga mengalami hal yang sama sakitnya dengan apa yang selama ini ibuku alami.  Impas. Begitulah hukum alam yang aku percayai.  Mungkin sekarang, berkilo-kilo meter dari tempatku terduduk, ada seseorang yang sedang tertawa lepas. Hatinya bahagia, dan hari-harinya tidak pernah terasa berat untuk dilalui. Air matanya tidak pernah jatuh, langkah kakinya setiap menginjak bumi selalu bersemangat. Mungkin juga dia tidak pernah merasakan rasanya berjalan sembari satu tangannya bertumpu pada dinding agar tubuhnya tidak terjatuh lagi dan lagi. Dia, tidak pernah merasakan sakitnya jatuh terduduk berkali-kali lalu menyeret tubuhnya sendiri untuk bersandar pada dinding. Tidak pernah sekalipun mungkin dia membenamkan kepalanya di antara dua lututnya sambil berucap, "Apa Tuhan mendengar doaku?" Katanya ikhlas itu bertahap, setelah tersiksa dan melewati fase terpakasa maka nanti kita akan terbiasa dengan semuanya. Tapi nyatanya, itu semua nggak akan cukup untuk membuat kita tetap bertahan. Akan ada hari entah kapan pun itu ketika kita dengan tanpa sengaja mengingat maka luka lah yang kembali menyambut kita lagi.  "Pinda..." Aku mengumpat dalam hati ketika mendengar suara yang memanggil namaku dibalik pintu kamar ini. Rasanya aku ingin sekali untuk pura-pura tidak mendengarnya dan tetap berada di dalam kamar ini. Namun lain di mulut lain di hati, yang aku lakukam adalah berdiri dan membuka pintu kamar karena jika tidak aku lakukan mungkin Fikri akan memanggil namaku dengan lebih kencang setelah ini. "Pinda, gimana?" Dengan rambut berantakan, Fikri sudah berada dihadapanku. Cowok berambut ikal itu tau-tau sudah menodong jawabanku saja soal permohonan pertolongannya yang ia minta kemarin malam. "Nggak ada duit gue, Fik!" decakku kesal seraya mendorong tubuhnya menjauh dari pintu kamar ibuku yang sudah aku tutup kembali, "Serius." Tambahku. Fikri menggaruk-garuk rambutnya dengan kencang, membuat rambut ikal itu semakin berantakan. "Plis Pin, tolongin temen gue... Kasian dia, asli deh dia kasihan banget." "Ini masalahnya duitnya gak sedikit Fik! Masa gue musti jual ginjal dulu. Kalau-kalau lo mau tau itu pun masih kurang buat bantuin temen lo itu." Kataku sebal sambil memasukam kedua tanganku kedalam saku celana. "Dia cewek lho Pin..." "Ya terus kalau dia cewek gue harus nolongin banget dia gitu?! Lagian ya, dia itu pasti punya sodara! Gak mungkin kan sodaranya ngebiarin dia dan keluarganya jadi gembel gitu aja?!" Fikri nyengir kecut, sambil mengusap dadanya dengan satu tangan. Tak lupa, kata sabar pun ia ucapkan. "Govinda, kali ini aja gue mohon. Bantulah dia... kasihan, Vin." Katanya. "Gue gak ada duit segitu Fikri." "Ya usaha dong, Vin, gimana caranya supaya punya duit segitu." Seenteng itulah Fikri ketila berbicara. "Gue miskin soalnya Vin, jadi gak bisa nolongin dia." "Ya sama gue juga miskin." Aku membuang muka. Sebenarnya aku mau-mau saja menolong perempuan itu meskipun kami tidak saling kenal. Tapi ini masalahnya uang yang diperlukan perempuan itu banyak. Seperti yang tadi aku katakan pada Fikri, menjual satu ginjalku saja tidak bisa untuk membantunya. Coba kalian bayangkan, mahasiswa biasa sepertiku harus mencari uang sebegitu banyaknya untuk orang yang bahkan tidak aku kenali, tidak ada akhlaknya kan temanku ini? Sementara itu, di hadapanku Fikri kini hanya bisa menghembuskan napas keras, terlihat sekali bahwa ia masih memikirkan cara untuk menggoyahkan imanku. "Vin, plis lah cuma lo yang bisa bantu temen gue... Dia itu sama kayak lo kedudukannya di hidup gue Vin, jadi tolong banget bantu dia." Aku melenggos gusar, "Masalahnya gak segampang itu, Fik." Jawabku jujur. "Vin, orang baik jarang berpotensi bisa jadi jahat. Karena mereka terlalu mengandalkan hati bukan logikanya. Setidaknya, itu yang gue tau dari diri lo." "Fik—" "Coba lo bayangin, seandainya lo mati, terus adik lo luntang-lantung sendirian minta pertolongan kemanapun cuma buat nyokap lo gak kesusahan gimana perasaan lo liat itu diatas sana? Lo berharap apa? Keluarga lo nolongin adek lo? Vin, gak semua keluarga bisa bersikap hangat dan saling membantu. Sampai sini, paham 'kan?" "Fik—" "Kadang ya Vin, hal-hal gak terduga kayak temen minta tolong minjem duit itu harus kita terima dengan lapang d**a. Kadang emang itu ngeselin tapi yah mau gimana Vin namanya juga hidup, harus saling membantu, 'kan? Kita nggak tau gimana Tuhan pada akhirnya mengatur dan memperbaiki alur Vin. Karena Dia selalu memberikan yamg terbaik di waktu terbaik. Barangkali sekarang lo ada masalah, nggak selesai-selesai makanya Tuhan kasih jalan nih lo harus bantu orang ini dulu mungkin setelah ini ada jalan  buat masalah lo Vin..." "Lo ceramah?" tanyaku. Dia berdecak, "Udah panjang kali lebar gue ngomong Vin." Katanya kesal. "Masalahnya gue nggak nangkep omongan lo tuh kemana Fik." "Tolongin temen gue."  "Iya nanti." "Kapan?" "Kapan-kapan." Dia melotot. Ingin menoyorku namun ia tahan. Karena sadar mungkin dia masih membutuhka  aku. "Serius dong Vin." "Yadah ayo." "Kemana?" "KUA. Lo ngajak serius gue kan tadi?" "Lo pikir gue homo?!" katanya kesal. Kadang aku bingung pada manusia lain. Aku... mengalami setiap jenis rasa sakit sendirian. Entah itu sakit karena keluarga, teman, patah hati sampai depresi terhadap lingkungan dan hidup. Aku melewati setiap jenis rasa sakit itu sendirian. Tetapi kenapa orang lain lebih suka mengeluh kepada orang lain alih-alih percaya pada dirinya sendiri jika mereka bisa melewati itu semua sendiri tanpa menyusahkan orang lain?  "Pin..." "Apa?" "Bantu ya temen gue? Dia... masih virgin kok. Lo kan baik hati, ganteng dan tid—" "GUE GAK PUNYA DUIT SEBEGITU BANYAKNYA FIKRI! YAAA ELAAAAH BANGSAAAAT BANGET SIH KAMU GAK PAHAM-PAHAM!" kataku akhirnya seraya berjalan pergi meninggalkan dia.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

TERNODA

read
199.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook