"Hah..."
Berapa kali aku menghembuskan napas secara kasar seperti itu sejak tadi. Karena nyatanya lagi-lagi aku melakukan hal yang bertentangan dengan pikiranku. Kalian tau apa?
Hari ini, tepat di tiga hari berikutnya, seperti sekarang. Aku sedang berada di Auditorium FEB, dengan topi hitam kesayanganku yang bertuliskan Flat. Aku bersandar pada pilar bangunan yang sedikit lebih jauh dari pintu masuk gedung. Kupandangi gerimis yang jatuh, seketika aku jadi ingin makan mie indomie soto dua bungkus.
Lagi-lagi aku menyesali keputusanku sore hari ini, karena nyatanya makan mie instan dengan telur setengah matang ditambah irisan cabai lebih menarik daripada menunggu seseorang yang tidak jelas seperti sekarang.
Benar memang ternyata, menunggu itu membosankan ya teman-teman.
Aku berdiri di sini juga sebenarnya bukan tanpa alasan, sih. Alasan aku berdiri di sini adalah karena Fikri, cowok berambut ikal itu, memaksaku untuk menunggu temannya disini. Bodohnya aku malah menuruti kemauannya saja alih-alih berontak marah dan memakinya. Bodoh sekali memang aku ini.
Saat sedang khusyu-khusyunya menghitung jumlah rintik hujan yang jatuh ke bumi, ponselku bergetar. Yakin seratus persen bahwa yang menelponku saat ini tidak lain dan tidak bukan pasti Syaiton bernama Fikri.
Aku mengambil ponselku di saku celana, dan benar saja Syaiton itulah yang menelponku. Aku ingin mengangkat panggilan masuk itu, tapi sayangnya tanganku bergerak dengan slow motion jadilah panggilan itu berakhir dengan sendirinya, Alhamdulillah.
Tapi rupanya, ucapan rasa syukurku itu tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian ponselku bergetar kembali, Syaiton itu kembali menelponku. Mau tak mau aku angkat panggilan masuk itu.
"Pinda, udah ketemu temen gue belum?!"
Bercanda nih anjing anggora, bukannya salam malah ngegas. Kucoba untuk sabar agar tidak mengatainya b*****t, bagaimanapun kebanyakan mengumpat itu tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga cowok sekeren aku. Jadilah aku diam saja, terserah deh anjing anggora itu mau berkata apa lagi.
Fikri ini termasuk kedalam cowok yang nggak tahu terimakasih, dikasih hati dikit eh malah minta nambah.
Kalian tahu, semenjak aku mengiyakan permintaannya untuk bertemu dengan temannya itu dia malah semakin ngelunjak kepadaku. Ia bilang, aku tidak boleh berkata yang menyakiti hatinya lah, aku tidak boleh terlalu jutek lah, aku tidak boleh ini lah itu lah. Ngelunjak kan dia.
"Pinda! Udah ketemu belum?!"
"Inget yah Pin, yang mau lo temuin ini cewek. Jadi bacotan lo tolong di jaga."
"Gue sengaja gak kasih lo nomernya dulu, takutnya nanti lo malah pedekatan lagi sama dia."
"Pokoknya lo cari aja yang paling cantik di situ, Pin."
"Oh ya, katanya dia, dia pakai baju oversized sweater warna hitam. Lo belum buta warna, kan?"
"Terus dia pakai sepatu adidas putih,"
"Gue juga udah kasih tau dia kalau lo pakai topi hitam, hoodie hitam, sama celana cino warna hitam. Untung aja kulit lo putih ya Pin, jadi ganteng meskipun penampilan lo kaya rampok."
"Dia juga nanti nemuin lo berdua sama temennya Pin,"
"Cewek, cuma yang ini pakai hijab, nah yang temen gue ini gak pakai hijab Pin, jangan sampai salah orang pokoknya."
Aku memutar bola mata. Dia menyebutkan Ciri-ciri ku dan Ciri-ciri temannya seperti aku ini kurir yang hendak mengantar paket kepada konsumen dan dia adalah bosnya yang tidak mau repot, juga tidak mau rugi karena takut barangnya tidak terkirim karena salah orang dan tidak dibayar.
"Lo gak bilang dia sekalian kalau gue naik motor beat, Kri?"
Alih-alih menjawab pertanyaanku, Fikri justru tertawa. Dengan sisa-sisa tawanya yang masih tersisa, Fikri menjawab.
"Dasar fakboi." Katanya langsung, dengan yakin.
"Gue harus nunggu sampai jam berapa?"
"Bentar lagi."
Aku mendengus kesal, kata sebentar lagi itu bohong. Aku yakin cewek itu pasti masih lama. Kalau tahu begini ceritanya aku akan mampir dulu tadi ke kantin untuk makan mie indomie soto dengan irisan cabai dan telur setengah matang. Sial! Aku malah semkain bertambah lapar jadinya.
"Intinya gue cuma harus bilang sendiri aja kan kalau gue gak bisa bantu dia?" Untuk kesekian kalinya, aku kembali memastikan ini kepada Fikri.
"Iya, tapi tolong ya baik-baik bahasanya."
"Insyaallah."
"Jangan begitulah Pinda! Lo tuh kadang kalau ngomong suka gak ngotak, dia itu cewek Pin, udah seharusnya kita sebagai laki-laki gak boleh menyakiti perasaan perempuan."
"Apaan sih!" Decakku kesal. "Lo main di mana dah, njing, lupa lo kemarin baru selingkuh? Ceramah lo gak ada akhlaknya."
Di sebrang sana, lagi-lagi Fikri tertawa. "Ya habis mau gimana, gue bosen, dia gak bisa dipake. Eh tapi Vin, temen gue yang mau lo temuin ini beneran masih perawan, kali aja gitu lo berubah pikiran jadi mau nolongin dia."
Sebenarnya aku sudah muak dengan kata-kata Fikri, perkataan Fikri itu selalu saja seperti celah untuk mencari masalah denganku padahal aku sudah sesabar ini untuk menghadapinya.
"Gimana, lo berubah pikiran?" Tanya Fikri.
"Enggak." Jawabku tanpa berpikir panjang, lalu memutuskan sambungan telepon, karena melihat pintu gedung terbuka, aku sudah menegakan tubuhku, mulai berjalan mendekati pintu gedung dengan langkah yang santai. Karena jarak menungguku tadi cukup jauh dari pintu gedung makannya aku berinisiatif untuk melangkah mendekati pintu agar kami bisa bertemu dan urusanku dengan dia cepat selesai.
Biar bagaimanapun, Fikri adalah teman baikku. Dulu diantara pertemanan kami, ada Galuh temanku dan Fikri juga. Tapi di tengah kelulusan SMA kami berselisih paham. Dan Fikri adalah satu-satunya teman yang tidak meninggalkan ku sama sekali, Fikri rela dijauhi Galuh. Dan saat aku kehilangan semuanya, Fikri mau-mau saja merawat ibuku disaat aku waktu itu harus bekerja paruh waktu. Bahkan Fikri juga yang memberiku tumpangan saat rumahku dibakar oleh adik Ayahku sendiri. Andai saja Fikri meminta tolong hal lain, tidak seberat ini. Aku tidak akan ragu-ragu untuk membantu cewek yang Fikri bela mati-matian itu.
Masalahnya adalah ada di diriku. Aku tidak punya uang sebanyak itu, dan mencari uang sebanyak itu pun aku tidak janji bisa dapat dengan waktu yang cepat. Ya, katakan usahaku sudah cukup maju untuk bisa meminjam uang di bank dengan jaminan tempat usaha dan rumah baruku, kemudian aku berikan uang itu kepadanya, tapi dengan alasan yang lainnya aku harus berkata bahwa rencana itu tidak bisa aku jalankan karena aku akan menggunakan uang tersebut untuk biaya pengobatan ibuku.
Nah, seharusnya kalian tahu bagaimana rasanya jadi diriku. Ingin membantu, tapi miskin.