Labirin Manusia Gagal : 02

868 Kata
Aku masih berdiri di depan pintu gedung Auditorium FEB. Tidak terlalu depan seperti nonton konser juga sih, intinya aku masih berada di jarak yang cukup aman. Ngomong-ngomong, cewek yang katanya Fikri paling cantik itu belum juga menunjukan batang hidungnya padahal sudah banyak orang yang keluar gedung, masa iya dia nggak bisa melihat pesona kegantenganku di sini. "Nunggu siapa, Bang Vin?" Sapa seorang adik tingkatku, sepertinya, aku tidak tahu namanya tapi aku tahu mukanya, mirip seperti manusia Ciri-cirinya. "Cewek yang paling cantik," Kataku. "Lihat nggak?" Dia terkekeh-kekeh saat Kubilang begitu, hei Bung, saya lagi serius lho. Aku ini sedang menunggu seseorang yang tidak kuketahui wajahnya, tetapi aku tahu namanya, dari Fikri, aku tahu nama cewek itu Vanessa. Fakultas Psikologi angkatan 2019. Sedang apa dia di Auditorium FEB? Mengikuti seminar, entah seminar apa. "Kenapa gak di hubungin aja, Bang?" tanya cowok itu yang membuat mataku mendelik ke arahnya. Eh, kucing anggora. Kalau gue punya nomor hapenya juga udah gue telepon. "Bang, emang lo tau gue?" Aku berdecak. Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku malah menyeret langkah kakiku untuk maju meninggalkan dia. Maaf Bung, tapi kamu nggak ngerti kondisi sih, ini masih gerimis dan indomie soto masih menggodaku, kamu paham nggak gimana rasanya laper tapi nggak bisa makan karena kesel nungguin orang? Nah seperti itulah kondisiku, jadi jangan ajak aku mengobrol kalau kamu sendiri tahu jika aku tidak mengenalimu. Sesuai dengan prediksiku, cowok yang tidak kuketahui namanya itu langsung berlalu pergi. Aku mengetahui itu saat berbalik badan sambil pura-pura membenahi letak ranselku. Sekarang, aku berdiri tepat di samping pintu masuk sebelah kanan gedung Auditorium FEB, masih dengan melihat-lihat orang-orang yang keluar dari gedung itu. Dan aku tidak menemukan cewek yang paling cantik itu sedari tadi. "Gue baru keluar gedung, temen lo di mana?" kulipat kedua tanganku di atas perut sambil memperhatikan dua orang cewek yang baru saja keluar gedung dan berhenti di tengah pintu masuk, salah satu dari cewek itu sedang melakukan percakapan melalui telepon. "Apa? Yang paling ganteng tapi kayak rampok?" katanya Kudengar. Cewek itu menghentakkan satu kakinya sambil menggerutu manja. Halah, dasar cewek! Teman di sebelahnya terlihat malu sekali, buktiknya ia sampai menutup sebagian wajahnya menggunakan kerudung. Lantas, otakku yang cemerlang ini langsung bekerja menggali informasi yang diberikan oleh Fikri, Ciri-ciri yang diberikan Fikri sama persis seperti kedua orang di hadapanku ini. Kalau dilihat dari punggung, suara, dan warna kulitnya sih, aku rasa dia memang benar cantik. Cewek itu menarik lengan temannya untuk mencari tempat menunggu yang lain, sepertinya ia baru sadar jika sudah terlalu lama berdiri di tengah pintu masuk. Kini, cewek itu sudah berdiri tepat di hadapanku. Kami hanya berjarak beberapa meter saja. Tidak terlalu jauh, tidak juga terlalu dekat. Dari jarak ini aku bisa benar-benar melihat wajahnya, gigi kelinci itu membuat wajahnya semakin enak untuk dipandang. Rambutnya panjang, wajahnya tidak ada pori-porinya sama sekali. Sepertinya ia rajin merawat diri di salon. Terbukti dengan kulitnya yang putih, bersih, mulus dan bersinar. Mungkin lalat pun sekalinya ingin hinggap di tangannya akan tidak percaya diri terlebih dahulu karena terlalu malu dengan silaunya kulit cewek itu. Kalian tahu, Ketika ia membenarkan bentuk rambut dengan poni sampingnya, entah mengapa aku sedikit menarik sudut bibirku. Waktu dia memicingkan mata, memberenggut kesal karena si lawan bicaranya malah bercanda, dia terlihat menggemaskan. Ekspresi wajahnya lucu ketika sedang berbicara, bahkan sampai pandangan mata kami bertemu pun, ekspresi lucu itu masih bisa kulihat. Sekarang kentara sekali jika dia sedang berpikir, mungkin dia pun sama sepertiku, mengingat-ingat informasi yang Fikri berikan kepadanya tentang diriku. "Vanessa?" tanyaku, dia mengangguk tanpa menutup mulutnya. "Gue udah ketemu sama temen lo," katanya pada orang yang sedang berada di sebrang sana. "Udah, matiin, lo kelamaan." Katanya lagi sambil mematikan sambungan telepon. "Sini." Pintaku. Diam-diam, aku menyembunyikan senyumku, dan merekam semua gesture tubuh cewek itu. Cewek itu masih di sana, sedang berbicara dengan temannya. "Gak biasa lo aja yang kesini? Kan gue cewek, masa gue nyamperin lo duluan." Katanya sedikit kencang, padahal bicara pelan pun aku masih bisa mendengarnya. Jarak kami ini, tidak sejauh Sabang sampai Merauke. "Yang perlu siapa?" Dia tersenyum, "Gue sih." Sekarang, aku melihat lagi dia membenarkan bentuk rambutnya sambil mengatakan kata sebentar ya pada temannya itu. Cewek itu berjalan ke arahku, kami sama-sama tidak melepaskan arah pandangan kami, tertuju pada satu tempat yang sama, mata. Jantungku berdetak cepat seiring dengan langkah kakinya yang mendekat ke arahku. Aku ingin sekali mengubah ekspresi wajahku, tapi susah. Filter di wajahku memang sudah terpasang sesinis ini jika melihat seseorang, wajarlah jika banyak orang yang salah sangka dengan arti tatapanku. Alih-alih jatuh cinta karena tatapanku, mereka malah ingin membunuhku saking tidak bisa selownya aku melihat seseorang. Ya ampun, Pikiranku sekarang sudah kemana-mana. Seperti menyusun kata yang pas lah, berfikir untuk harusnya aku tersenyum atau tetap begini saja lah, atau yang paling kalsiknya, kata apa yang harus aku keluarkan pertama kali untuk menyapanya. Aku membelalakan mata terkejut ketika cewek ini menarik tangan kananku yang masih terlipat di atas perut kemudian hendak menyaliminya. Buru-buru aku menarik kasar tanganku ketika sebentar lagi sampai pada wajahnya. Dia berdecak begitu menatapku. "Nggak sopan!" Katanya kesal. Aku mengerutkan dahi. Kenapa dia tersinggung? "Kakak temennya Fikri, kan?" tanya cewek itu dengan suara yang enak didengar. Dia memanggilku kakak tapi Fikri tidak pakai embel-embel kakak. Curang dia, padahal mukaku ini lebih muda dari Fikri. "Iya, Govinda Hilvan, Fasilkom angkatan 2018." Aku memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan. Cewek itu hanya tertawa renyah sambil menganggukan kepalanya beberapa kali. Lalu lanjut menarik napas dalam, kemudian memandangku lagi. "Gimana, kak? Bisa nolongin gue?" tanyanya. "Enggak bisa, maaf." Seperti orang yang sudah paham, dia kembali tersenyum. Pantas saja Fikri ingin menolongnya mati-matian, kalau dilihat-lihat, dia sepertinya punya cara berpikir yang rasional. Dibandingkan bertanya tentang alasanku yang tidak bisa membantunya, ia malah tersenyum dan memamerkan gigi kelincinya itu. Mungkin sejak awal pun ia sudah paham jika aku tidak bisa membantunya. "Lo masih punya kendaraan?" Aku mulai bertanya, berusaha nggak terlalu ngalus untuk mengajaknya pulang bersama. Dia mengangguk. "Masih. Tapi dipakai adik." Bagus. "Adik lo ada berapa?" Pelan-pelan, Vin. Pasti bisa. "Tiga. Satu masih SMA, satu masih SMP, dan yang satunya lagi masih SD. Kami empat bersaudara, perempuan semua." Jawab dia lagi. Aku hanya mengedip dua kali sebagai respon. Ini adalah saat yang pas, untuk mengajaknya pulang bersama. Iya, kan? "Gue punya motor satu dan mobil dua," tambahnya, padahal aku tidak bertanya. "Mobil di pakai Bunda buat kerja sama anter jemput si kecil, yang satu di pakai adik gue yang SMA, dan motor buat adik gue yang SMP." Kenapa nggak lo aja yang pakai mobilnya maemunah! Kataku dalam hati. "Bokap lo gak kerja?" tanyaku sedikit kepo dan heran, dari tadi ia tidak berbicara tentang Ayahnya. "Bokap kandung gue di Singapura, nyokap sama bokap tiri gue baru aja cerai. Dan, adek gue yang tiga itu beda bapak sama gue. Intinya, gue satu Ibu tapi beda Bapak sama mereka." Aku ber-oh panjang. "Oke, ayok pulang bareng." Kataku, dengan yakin dan serius. "Hah?" Katanya. Aku menatapnya bingung. Kok dia malah jawab begitu? Seharusnya dia menjawab 'Iya' bukannya malah 'Hah' aku benar, kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN