Aku ingin sekali menyapanya, menyapanya dengan kalimat, "Bumi, how's life going?"
Namanya Jalaludin Bumi Bagaisar, laki-laki yang aku jumpai di kantorku sebagai bosku itu adalah laki-laki yang sangat di gilai oleh karyawan-karyawan perempuan lainnya termasuk aku. Bumi, dia laki-laki yang sangat pendiam, dia perhatian namun sayang... dia kurang humoris. mungkin itulah hal yang membuat aku akhirnya melakukan hal yang paling dia benci di dunia ini; perselingkuhan.
“Kenapa kamu selingkuh?” dia bertanya kepadaku. Dan tanpa ragu aku menjawab, “Karena kamu membosankan.”
"Hai, menurutmu siapa yang memukuli ibuku?"
Govinda Hilvan, bertanya dengan nada seringan mungkin pada Vannesa Anindary
tentang siapa yang memukuli ibunya? Laki-laki dengan balutan jas hujan itu masih
terdiam memandangi perempuan bertubuh kurus yang bagian wajahnya sudah penuh dengan luka lebam. Vannesa mengangkat kepala, air hujan menyembunyikan air matanya yang jatuh.
Dia tersenyum sembari mengusap-usap lengan Govinda dan mengatakan, “Aku percaya kamu, bukan kamu, aku yakin.” Laki-laki dan perempuan itu masih saling memandangi, dalam benak laki-laki itu
muncul satu pertanyaan. Kalau hari itu mereka tidak bertemu, apakah masih ada yang mau mempercayainya?
Nada suaranya masih tak terasa mengenakan ditelingaku, dia masih memarahiku dengan kata-kata yang intinya seperti ini, "Ngapain jadi dokter kalau ujung-ujungnya cuma jadi objek makian orang-orang?"
Yang berteriak dan memarahiku sedari tadi itu Ayahku, laki-laki yang menamai dirinya sebagai seorang Ayah namun tak pernah menunjukan sebentuk tugasnya sebagai seorang Ayah selain menafkahi Ibuku dan mencukupi semua kebutuhanku.
“Apa salahnya jadi dokter?” aku bertanya kepadanya. Dan tanpa ragu dia menjawab, "Ngurus diri sendiri aja kamu nggak becus gimana kamu mau ngurus orang lain?"