bc

GO AWAY go away

book_age18+
134
IKUTI
1K
BACA
family
independent
confident
doctor
drama
bxg
serious
ambitious
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Nada suaranya masih tak terasa mengenakan ditelingaku, dia masih memarahiku dengan kata-kata yang intinya seperti ini, "Ngapain jadi dokter kalau ujung-ujungnya cuma jadi objek makian orang-orang?"

Yang berteriak dan memarahiku sedari tadi itu Ayahku, laki-laki yang menamai dirinya sebagai seorang Ayah namun tak pernah menunjukan sebentuk tugasnya sebagai seorang Ayah selain menafkahi Ibuku dan mencukupi semua kebutuhanku.

“Apa salahnya jadi dokter?” aku bertanya kepadanya. Dan tanpa ragu dia menjawab, "Ngurus diri sendiri aja kamu nggak becus gimana kamu mau ngurus orang lain?"

chap-preview
Pratinjau gratis
Prologue
Untuk kesekian kalinya, aku jatuh lagi, oleh kata-katanya. Kenapa manusia selalu paling sensitif kalau bicara soal masa depan? Menurutku, karena sudah menjadi hal yang paling umum kalau masa depan itu ditentukan oleh kita sendiri. Kata-kata tentang mau jadi apa kita nantinya, umumnya saat ini kita akan bertanya kepada diri kita sendiri saat ini bukan mendengarnya dari orang lain lagi. Nanti, saat usia kita mulai matang dan kita belum mempunyai apa-apa yang bisa membuat orang tua kita bangga dengan diri kita, barulah saat itu kita sadar. Bahwa saat muda dulu kita bukan memikirkan masa depan yang lebih baik melainkan hidup yang apa adanya. Hmmm, itu wajar. Setiap orang tua punya caranya sendiri untuk menidik anak mereka. Ada yang mendidiknya dengan cara yang keras, protektif, santai, dan ada pula yang mendidik dengan cara masa bodo. Seperti orang tuaku ini contohnya, cara mendidik mereka kepadaku berbeda-beda. Kalau Ibuku, lebih ke arah santai. Dia percaya padaku, mendukung minatku dan mau membantuku mewujudkan mimipiku. Tapi Ayahku, tidak. Cara mendidiknya masa bodo, dia tidak pernah mau mendengarkan apa kataku dan selalu mau aku menuruti apa katanya. Jadi dokter? Dia selalu menyepelekan cita-citaku itu karena baginya cita-citaku itu hanyalah cita-cita sampah. "Dengar nggak kamu apa kata Papa, Ben?" "Iya denger." "Apa?" "Kuliah jurusan hukum politik, bukan kedokteran." "Kali ini kamu mau nurutin kata-kata Papa atau enggak, Ben?" "Iya." "Jangan iya iya aja tapi malah melenceng lagi kamu." Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa lagi. Ini masih pagi, hasil kelulusan sekolahku pun belum keluar. Tapi Ayahku, Bapak Zaki yang terhormat ini sudah sibuk membicarakan perihal kemana aku harus melanjutkan studiku. Aku sudah memutuskan akan kemana aku melanjutkan sekolah, jangan harap aku akan menuruti perkataan Ayahku seperti apa kataku tadi. Aku sudah muak menjadi bonekanya selama ini, aku juga sudah muak dengan semua kata-katanya yang selalu merendahkan aku. Yang selalu berkata bahwa aku tidak akan pernah bisa melakukan hal apapun tanpa bantuannya, yang selalu mengatakan bahwa aku hanyalah anak Mama yang bisanya cuma merepotkan orang tua. Yang tidak akan pernah bisa membangakannya dan yang selalu membuat dirinya malu karena tak punya keahlian. "Hasilnya nanti langsung kamu kasih tahu Papa, Ben." Kemudian aku mengangguk dan langsung berdiri untuk menyalimi tangannya. Lebih baik aku berangkat ke sekolah saja dari pada mati muda karena stress mendengrkan kata-katanya yang itu-itu saja. "Mau kemana kamu?" "Sekolah." "Duduk. Papa belum selesai bicara." "Apa lagi sih, Pa?" Setelah aku duduk, dia kembali melanjutkam ceramah paginya. "Ben, kamu itu laki-laki. Seorang laki-laki harus punya kuasa penuh didalam hidup, nanti kamu menikah, punya anak. Kamu akan jadi kepala keluarga, kalau kamu lembek begini siapa yang mau menghormati kamu? Yang ada harga diri kamu diinjek-injek terus sama istri dan anak kamu.... ...kamu jadi dokter, bedah umum. Gajih nggak seberapa tapi kerja udah kayak apa. Ada pasien mati karena memang udah takdirnya, tapi malah kamu yang dimarah-marahi sama orang karena nggak bisa kerja. Padahal itu bukan salah kamu tapi memang udah takdirnya itu orang harus meninggal. Jadi dokter itu banyak resikonya, dan diantara banyak resikonya itu nggak ada yang mengungungkan sekali buat masa depan." Aku bahkan sudah hapal diluar kepala dengan kata-katanya barusan. "Iya, Pa." "Papa nggak setuju kamu jadi dokter." "Ya Ben mau jadi apa juga Papa nggak bakalan setuju." "Ya karena memang kamu nggak becus sih jadi anak. Apa-apa nggak bisa, ini malah pengen jadi dokter. Nanti kalau banyak orang yang mati karena kamu, kamu bisa apa? Minta tolong Papa kan ujungnya?" Aku menatapnya dengan datar, dia bahkan nggak tahu kalau aku itu sebenarnya bisa segala macam hal. Hmm, Gimana ya aku jelasinnya? Kalian tahu tidak? Aku itu sebenarnya juara olimpiade matematika dan sains. Aku beberapa kali juga pernah ikut berpartisipasi dalam acara cerdas cermat yang sering ditanyangkan di televisi, tapi bagi Ayahku itu bukan sebuah kebanggaan sama sekali. Baginya, ya aku tetaplah Benjamin. Si anak Mama yang tidak bisa melakukan apa-apa, si laki-laki lembek yang katanya tidak bisa tegas dan tidak bisa marah kepada orang lain. Yang selalu menerima keadaan dengan ikhlas dan apa adanya, padahal aku tidak seperti itu. Dan lagi, dia tahu apa sih? Dia saja ada dirumah kadang tiga hari sekali. Dan kalau sudah di rumah mana sempat dia menanyakan bagaimana keadaanku atau sedang apa aku. Yang dia lakukan saat pulang ke rumah hanyalah mengobrol dengan Kak Jesri, Kakakku satu-satunya yang mengikuti jejak Ayahku di dunia politik. Ibuku? Dia jelas-jelas nggak pernah menanyakan bagaimana keadaan Ibuku, yang dia tahu hanyalah kirim uang dan kirim uang saja kepada kami. Kadang ketika Ibuku mengajaknya untuk pergi berlibur bersama dia akan langsung menolak dengan alasan sibuk, tapi kalau Kak Jesri yang meminta dia pasti akan langsung menemainya kemana pun dia mau. Bukan, itu bukan karena dia menyukai kakakku, anaknya sendiri. Melainkan itu adalah sebuah sandiwara, orang-orang tahu dia pejabat negara, dan akan lebih bagus pula kalau orang-orang tahu jika dia sangat menyayangi keluarganya sehingga sesibuk apapun dia, dia pasti akan meluangkan waktu untuk pergi bersama dengan keluarganya. "Kalau Ben nggak minta tolong Papa, apa Papa mau ngedukung apa mau Ben?" "Benjamin ... kamu tuh, bisa apa sih?" "Pa ... Ben bisa segala macam hal, Papa lupa? Ben juara olimpiade matematika." "Terus apa hasilnya?" "Hasilnya apa maksud Papa?" "Dengan kamu jadi juara tuh apa hasilnya? Nggak ada kan?" "Pa ..." "Kamu juara, kamu dikenal. Tapi udah cuma sampai situ aja. Uang dari hasil belajar kamu sampai bisa jadi juara itu nggak seberapa bukan? Nggak akan bisa bangun masa depan, Ben. Cuma bisa menjadikan kamu pintar nggak ada ilmu apa-apa yang bisa buat kamu jadi orang sukses. Terus apa gunanya kamu juara? Nggak ada Ben, Papa nggak liat orang-orang ngejar kamu buat nawarin kamu kerja di perusahaan mereka jadi manager. Papa nggak lihat hal apa yang bisa dibanggakan dari kamu jadi juara itu. Nggak ada Ben, jadi kamu nggak usah selalu menyombongkan diri kalau kamu itu juara. Papa katakan sekali lagi, itu nggak ada gunanya sama sekali buat Papa." "Segitu bangganya Papa sama diri Papa? Sampai Papa selalu ngerendahin, Ben?" "Kamu mau tahu kenapa Papa selalu ngerendahin kamu?" Katanya. "Kamu itu sampah, cita-cita kamu itu sampah. Papa nyesel udah ngebesarin kamu dan ngasih kamu hidup nyaman kalau tahu kamunya akan jadi senggak guna ini, Ben." Mendengar kata-katanya itu, yang aku lakukan adalah tersenyum lalu berlalu pergi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.0K
bc

TERNODA

read
199.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook