Pandai-pandai lah menjaga lisan kita dalam berbicara. Karena tak semua orang mampu merima setiap kata yang keluar dari mulut kita, yang terkadang terucap dengan bercanda justru malah menyakitkan dihati orang lain. Benjamin Kalingga, itulah namaku, aku baru saja lulus SMA dan sedang geladi resik untuk menjadi seorang pemain tinju yang mana ketika aku sudah nenjadi pemain tinju profesional nanti pukulan pertamaku akan aku hadiahkan khusus untuk ayahku, bapak Zaki Kalingga yang terhormat ini. Yang saat ini sedang duduk di balik meja kerja sambil memandangi aku yang berdiri dihadapannya, lembar kertas kelulusan itu sudah tak dia pedulikan, ketika dia mengetahui aku lulus dengan nilai yang memuaskan dia justru tak ada rasa senangnya karena hal itu.
"Dengan nilai segitu, Papa yakin kamu bisa masuk fakultas hukum. Mau masuk kampus mana kamu? Papa bisa telfon orang Papa biar ngurus itu semua, Ben." Katanya dengan nada suara yang sombong khas bapak Zaki Kalingga sekali.
Rentetan kisah hidupku telah membawaku pada banyak petaka, karena nyatanya lahir di keluarga yang cukup berada tak lantas membuatku mempunyai hidup yang berada dan nyata. Aku ingin masuk ke fakultas kedokteran, cita-citaku adalah ingin menjadi seorang dokter. Tapi satu-satunya manusia yang tak setuju dengan cita-citaku itu adalah dia bapak Zaki Kalingga yang terhormat ini, beliau anggota dewan sudah menjabat sejak lama dan dia sangat menenang apapun yang sedang aku lakukan.
Jadi dokter? Katanya itu adalah cita-cita sampah, sebuah cita-cita yang seharusnya tak muncul dalam benak seorang anak orang terpandang sepertiku ini. Padahal apa salahnya menjadi dokter? Menururku, menjadi dokter adalah salah satu profesi yang mulia karena kita dapat membantu orang lain. Tapi bagi ayahku tidak, baginya jika profesi itu tidak menguntungkan maka seharusnya tidak usah dipilih. Karena hidup hanya sekali, tak perlu membuang-buang waktu untuk gagal. Begitu katanya setiap kali dia menceramahiku soal masa depanku yang seharusnya dapat aku pilih sendiri.
"Ben?" Panggilnya, aku menaikan wajahku yang sedari tadi menunduk untuk menatapnya. "Kenapa kamu diam aja? Papa tanya tadi, kamu mau masuk kampus mana?"
"Mana aja."
Dia menggebrak meja. "Lihat, kamu nggak punya prinsip sekali. Itu jawaban orang lemah, Ben. Seharusnya kalau Papa tanya kamu mau masuk kampus mana ya kamu jawab nama kampusnya! Bukan malah jawab kampus mana saja! Bodoh kamu, Ben!"
Baginya, aku memang hanya si Benjamin Kalingga, anak laki-laki satu-satunya yang bodoh. Baginya, aku memang hanya seorang Benjamin Kalingga yang tak berprinsip, yang tak tahu sopan santun, yang lemah dan tidak berguna. Baginya, aku memang hanya sampah, ya setidak berarti itulah aku baginya.
"Ben tanya Kak Jesri dulu, kampus kedokteran mana yang bagus." Jawabku pada akhirnya.
"Ah iya, coba kamu tanya dia. Dia pasti tahu mana aja kampus kedokteran yang bagus, dia satu-satunya anak Papa yang nggak gagal, nggak seperti kamu."
Jesri adalah kaka perempuanku, kami hanya dua bersaudara dan aku adalah anak bungsu di keluarga ini. Sama seperti ayahku, Jesri memilih untuk terjun di dunia politik padahal setahuku dulu dia ingin masuk kuliah jusrusan IT. Tapi karena dia tidak ingin bapak Zaki Kalingga yang terhormat ini marah, dia terpaksa mengubur mimpinya itu dalam-dalam dengan hanya meninggalkan satu orang yang mengetahui kalau dia tidak suka masuk kuliah dengan jusuran yang ayahku pilihkan, dia adalah ibuku. Satu-satu orang yang menjadi saksi bahwa kakaku pernah mengubur mimpinya dalam-dalam.
"Iya, nanti Ben tanya Kak Jesri."
Semestinya, sesorang berusaha menjaga perasaan orang lain. Baik itu orang lain, atau orangtua kita sendiri semestinya mereka harus menjaga lisannya ketika mereka berbicara karena bisa saja apa yang mereka katakan itu nyatanta menyakiti hati anak mereka sendiri. Aku sebagai seorang anak kadang diminta untuk selalu mengetahui sopan santun, aku sebagai anak diminta untuk selalu baik dan menghormati orangtua. Apapun keputusan mereka harus aku patuhi, tak peduli dengan pendapatku, ayahku selalu berpikir jika pendapatnya adalah keputusan yang terbaik.
"Oh iya, Ben. Itu temen kamu, si Bimo lulus nggak dia?"
"Lulus, Pa."
Dia memasang wajah meremehkan. "Anak urakan macam dia aja bisa lulus, heran Papa ..." katanya. "Kamu nggak usah terlalu dekat sama dia lah, rusak kamu nanti."
"Ben temenan sama dia sudah tujuh tahun, dan selama tujuh tahun itu Ben nggak pernah sama sekali merasa di rusak sama Bimo."
"Denger aja lah kalau Papa bicara, jangan melawan ucapan Papa. Papa bicara begini karena Papa tahu Bimo itu memang anak yang nggak baik, anak kurang didikan dia itu."
Ayahku memang selalu seperti ini, dia selalu meremehkan orang lain. Aku sama sekali tidak heran dengan dirinya yang seperti ini, karena aku saja yang anak kandungnya sendiri selalu dia remehkan. Bagaimana dengan Bimo? Yang statusnya hanyalah orang lain baginya? Sudah pasti Bimo akan diremehkan tanpa ampun oleh ayahku hanya karena penampilan Bimo yang selalu urakan, kelakuannya yang selengeean membuat ayahku enggan untuk menyukainya. Setiap kali mereka berpapasan ayahku akan memasang wajah masam dan lalu melalui Bimo begitu saja, padahal saat itu Bimo sudah memasang senyum dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ayahku.
Aku menghela napas panjang. "Ada lagi yang mau Papa omongin ke Ben?"
"Iya, ada."
"Apa?"
"Besok Papa belikan mobil, jangan pakai motor lagi."
"Nggak perlu, Ben suka motor itu."
"Itu motor butut, sudah tiga tahun kamu pakai. Apa kata orang nanti? Apa kata teman-teman Papa nanti kalau nggak sengaja lihat kamu di jalan naik motor itu?"
"Itu hadiah dari Mama, Pa."
"Nah itu lah ibumu, ngasih anak kok motor butut begitu. Dia nggak mikirin keselamatan kamu dan juga harga diri Papa itu, Ben." Dia berbicara dengan nada kesal. "Dulu kalau Mamamu bukan anak orang berada sudah Papa cerai dia dari dulu, perempuan bodoh itu selalu bikin Papa kesal!"
Jangankan aku, ibuku saja orang yang sudah mendampinginya sejak lama tak pernah sama sekali bisa dia hargai. Padahal ibuku itu adalah ibu terbaik, dia tak pernah marah ketika ayahku memperlakukannya dengan sangat buruk. Yang selalu dia lakukan hanyalah memasang senyum ketika dimarahi oleh ayahku, yang dia lakukan hanyalah melindungi kami, ketika ayahku bersikap bodoh dan kurang ajar pada keluarganya sendiri.
Dunia luar mengenalnya sebagai Zaki Kalingga, anggota dewan yang sagat ramah, dermawan dan juga penyayang keluarga. Itu hanyalah topeng yang selalu dia gunakan di luar rumah, namun jika sudah berada di dalam rumah, dia hanyalah Zaki Kalingga ayah dari Benjamin Kalingga yang selalu berkelakuan mengecewakan keluarganya.
Dunia ini tidak seperti dongeng, jadi kita sebagai manusia seharusnya harus mandiri, tidak ada orang yang bisa menghargai kita kecuali diri kita sendiri.