2 | Temanku Saudaraku

1001 Kata
Satu hari sebelumnya ... "Jadi, hukum nih, Ben?" Pertanyaan dari temanku Bimo, itu berhasil membuatku mengangkat kepala dari buku menu makanan yang sedang aku baca saat ini. Dia sudah menyebutkan nama makanan apa yang diinginkan kepada pelayan kafe, dan aku menghela napas terlebih dahulu sebelum akhirnya menyebutkan nama makanan dan minuman yang sama seperti yang Bimo pesan tadi. Tak lama dari jeda pelayan kafe itu pergi, Bimo kembali bersuara. "Yakin lo mau ngambil hukum, Ben?" "Enggak." Bimo terdiam mendengar jawabanku itu. Lagi pula, sejak kapan aku berjanji menuruti perkataan Ayahku? Kata-katanya kemarin memang sengaja aku iyakan dengan cepat agar aku bisa terhindar dari percakapan membosankan itu. Aku tidak pernah benar-benar serius ingin mengambil kuliah jurusan hukum. Selama ini aku selalu berusaha untuk menjadi anak yang baik dan membanggakan. Tapi baginya apapun yang aku lakukan tidak berarti apapun, padahal sampai kemarin aku masih memberikannya sedikit kesempatan agar bisa memperlakukan aku dengan baik. Setidaknya, dia bisa memperlakukan aku sebagai seorang anak. Memberikan aku motivasi dan mendukungku, bukannya malah terus meremehkan aku sehingga aku benci kepadanya. Katanya aku ini anaknya, tapi entah mengapa aku melihat jika aku dan Kak Jesri sangat berbeda sifat dengannya, aku dan Kak Jesri sama-sama penyayang keluarga. Tapi Ayahku tidak terlihat seperti seorang Ayah yang sayang kepada keluarganya. Maka, sudah kuputuskan aku ingin membuat dia sadar bahwa apa yang dia lakukan selama ini kepada kami adalah hal yang salah. Uang memang penting, tapi keluarga juga tak kalah pentingnya seperti uang. Setelah ini, aku akan pergi dari rumah. Mungkin keputusanku ini akan menjadi beban bagi Ibuku dan juga Kakakku, tapi pelan-pelan aku akan menjelaskan kepada mereka bahwa ini adalah keputusan yang baik. Mereka mungkin kesedihan itu tak akan berlangsung lama karena semuanya akan baik-baik saja nantinya, aku akan kembali setelah aku mendapatkan gelar seorang dokter. Mungkin aku memang masih naif, beranggapan bahwa hidup itu mudah. Bahwa aku masih bisa bertahan dengan dunia luar tanpa campur tangan Ayahku, tapi Bimo sering berkata padaku bahwa hidup itu tidak pernah sesederhana yang kita pikir. Hidup itu tergangung kita bagaimana bisa menjalaninya, hidup itu sulit. Tidak pernah mudah, Bimo selalu berkata seperti itu. Karena itulah aku selalu memikirkan hal ini dengan matang-matang sejak lama. Bisakah aku bertahan hidup, mampukah aku membuktikan diri kepada Ayahku kalau aku mampu? Dan dengan tekad yang kuat, aku sudah meyakini bahwa pilihanku untuk keluar dari rumah dan hidup sendiri itu adalah pilihan yang tepat. Sekali-kali orang tua itu harus mendengarkan apa kata anaknya. Walaupun pendapat kami mungkin bisa salah tapi apa susahnya sih mendengarkan? Kalau sudah mendengarkan dan kalau kami ini memang salah ya tolong dibenarkan. Beritahu kami bagaimana caranya menjadi benar dan ajari kami bersikap dan berpikir lebih baik lagi, kadang aku ingin Ayahku bisa bersikap seperti itu. Seperti Ibuku, Ibuku mau mendengarkan apa yang aku ceritakan. Kami sering berdiskusi bersama dan kami sering bertukar pikiran, banyak pelajaran hidup yang bisa aku ambil darinya. Kadang aku berpikir, kalau aku pergi bagaimana dengan dirinya? Dia pasti akan kesepian tanpa aku, karena temannya di rumah adalah aku ketika Kak Jes dan Ayahku sibuk bekerja dan mencari relasi. Ibuku tidak suka bepergian, kegiatannya sehari-hati hanya mencoba berbagai resep menu makanan. Menyiram tanaman dan juga bermain game denganku, kalau aku tanya kenapa dia tidak pergi saja, mencari teman atau ikut dengan Ayahku untuk menghadiri acara koleganya. Ibuku pasti akan menjawab, kalau dia tidak pernah merasa nyaman berada disituasi itu. Dia tidak nyaman menjadi orang lain, makanya dia tidak suka berpergian. Mengurus rumah dan anak sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu, tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada melihat pertumbuhan anak-anaknya. Katanya seperti itu, aku menyayangi Ibuku. Karena itu aku takut sekali jika dia menentang keputusanku. "Lo udah ngasih kabar belum ke bokap lo kalau lo lulus?" Untuk apa memberitahu, aku yakin jika dia sudah tahu aku lulus. "Belum?" Bimo menjawab pertanyaannya sendiri pada akhirnya. "Kasih tahu, nanti ribet lagi urusannya." "Gampang lah, itu bisa nanti." "Tuh, elo ya selalu begitu, Ben. Gimana nanti. Hidup itu jangan gimana nanti, nggak akan maju hidup lo kalau pola pikir lo selalu gimana nanti." Umur kami sama, kami sama-sama lulus disekolah yang sama. Dulu kami pun tinggal di lingkungan yang sama tapi Bimo selalu bisa lebih dewasa daripada aku. Belum lama ini ibunya meninggal, dan itu pertama kalinya aku melihat dia menangis. "Iya okee ... pulang dari sini gue mampir ke tempat bokap deh." "Bokap lo lagi dimana emang?" "Nggak tahu, ntar gue telepon dia minta ketemu." "Ya udah oke, salam ye." Aku hanya mengangguk. "Gue mau kerja di kantor bokap gue, Ben." Katanya tanpa aku tanya. Bimo ini anak satu-satunya, keluarganya kaya. Meskipun bukan pejabat, tapi keluarga Bimo itu kaya. Ayahnya baru menikah lagi satu minggu yang lalu kalau tidak salah, dan seperti cerita-cerita permasalahan anak orang kaya pada umumnya. Bimo tidak menyukai Ibu sambungnya saat ini karena kata Bimo, Ibu sambungnya itu jelas mengincar harta mereka. "Ada lowongan?" "Ada, jadi OB. Mau?" Katanya. "Mau aja." "Gila, anak dewan mau jadi OB di kantor gue?" "Yaah kenapa enggak sih, bentar lagi juga gue nggak bakalan jadi anak dewan." "Gue yakin sih lo bakalan baku hantam dulu sama bokap lo." "Nggak akan." Karena memang begitu kebenarannya, Ayahku itu memang tidak pernah peduli kepada keluarganya. Tapi dia, tidak pernah sekalipun memukul kami. Jadi, kalau pun nanti aku mengatakan kalau aku ingin keluar dari rumah dan hidup sendiri, dia pasti akan membiarkan aku pergi begitu saja tanpa ada acara baku hantam seperti apa kata Bimo barusan. "Jadi, kampus mana yang lo pilih?" Tanya Bimo mengalihkan pembicaraan. "Ada deh, nanti kalau udah daftar gue bakalan kasih tahu lo." "Tempat tinggal?" "Masih gue cari, Mo. Belum nemu gue tempat yang pas sampai sskarang." "Duitnya ada?" "Ada duit mah." "Ya udah gue anterin nyari deh hayuk kalau lo ada duitnya mah. Hehehe..." Kadangkala aku berpikir, bagaimana aku kalau tidak ada Bimo. Aku pasti tidak akan bisa mempunyai teman sebaik dirinya, Bimo kadang bersikap absurd dan itu malah menjadi hiburan tersendiri bagiku. Dalam dunia yang membosankan ini, Tuhan ternyata masih sebaik hati itu kepadaku dengan mengirimkan orang-orang baik untuk selalu berada disekitarku selama ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN