bc

I'M SO SORRY BUT IT'S FAKE LOVE

book_age18+
333
IKUTI
1.0K
BACA
independent
CEO
bxg
serious
office/work place
affair
like
intro-logo
Uraian

Aku ingin sekali menyapanya, menyapanya dengan kalimat, "Bumi, how's life going?"

Namanya Jalaludin Bumi Bagaisar, laki-laki yang aku jumpai di kantorku sebagai bosku itu adalah laki-laki yang sangat di gilai oleh karyawan-karyawan perempuan lainnya termasuk aku. Bumi, dia laki-laki yang sangat pendiam, dia perhatian namun sayang... dia kurang humoris. mungkin itulah hal yang membuat aku akhirnya melakukan hal yang paling dia benci di dunia ini; perselingkuhan.

“Kenapa kamu selingkuh?” dia bertanya kepadaku. Dan tanpa ragu aku menjawab, “Karena kamu membosankan.”

chap-preview
Pratinjau gratis
P R O L O G U E
"Pada dasarnya semua manusia memang mengecewakan." (Hitam-Senja) ----- Aku melunturkan senyum saat perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah lain terlebih dahulu seperti biasa. Lagi-lagi seperti ini, ia mengalihkan wajah dan dadaku kembali merasakan ngilu. "Doi tambah cantik, ya?" aku menoleh, menemukan Rildi yang sudah memamerkan senyum ganteng dan sempurnanya kepadaku. "Iya." Rildi berdecak, lalu meminum sisa es jeruknya dengan terburu-buru. "Lo masih stalking Ig nya?" "Udah enggak." "Bagus! Cewek nggak setia gitu jangan digalauin." Akhirnya, Rildi lah yang membuka suara tentang luka lamaku, sambil tangannya merapikan barang-barang yang ia taruh diatas meja kantin kantor kami. "Iya." "Nggak abis pikir gue, kok bisa ya dia selingkuh." Aku tidak menjawab, diapun kembali melanjutkan kalimatnya, "Mi?" "Apa?" "Jawablah," katanya lagi sambil merampas minumanku. "Kadangkala pertanyaan-pertanyaan terasa rumit sekali, padahal jawabannya sederhana saja." Kataku, dia terdiam sambil menggenggam botol air mineral. "Yang baik, tetap kalah dengan yang bisa buat nyaman." "f**k," Rildi meletakan botol air mineral milikku di atas meja kemudian berdiri. "Mi, yang terlanjur mengecewakan seharusnya nggak akan pernah bisa dapat kesempatan untuk mengulang." ia tersenyum. "Paham, ya?" katanya sambil lalu, aku tidak menghiraukan kata-kata Rildi yang sudah pergi meninggalkan kantin kantor, Rildi memang begitu. Tatapanku kini kembali terpaku pada sosok yang duduk tepat dua meja di depan mejaku. Pada perempuan cantik yang sudah memotong rambut panjangnya menjadi sebahu. Perempuan itu sedang asik mengobrol bersama kedua temannya, sambil menikmati Pizza Pie. Perempuan itu perempuan yang sama dengan perempuan yang selalu membuang tatapannya jika bertemu denganku. Shania Nabila namanya, mantan pacarku. Jika Kalian bertanya seperti apa Shania Nabila, maka seperti ini gambarannya; Shania itu seperti lukisan langit yang abstrak, seperti rumus yang rumit, kalimat-kalimat dengan kata yang acak. Namun, jika sudah menemukan keistimewaan dari seorang Shania Nabila, maka patah hati jutaan kali pun tidak akan mengubah rasa jatuh cinta ku kepadanya. Dan sialnya, perempuan manis itulah yang enam bulan lalu meminta hubungan kami disudahi dengan alasan yang tidak mau ia katakan. Kami pertama bertemu dua tahun lalu, Shania adalah karyawan pindahan dari kantor pusat yang berada di Paris. Aku adalah laki-laki terakhir yang mengakui bahwa aku menyukai perempuan itu. Dan beruntungnya, karena aku berdiri dibarisan terakhir, akulah yang mendapatkan hati Shania pada tanggal lima belas Mei 2018 lalu. Aku mengingat jelas bagaimana pertama kalinya Shania tersenyum kepadaku, manis dan penuh ketenangan, senyum itulah yang membuat aku jatuh-bangun menyayangi si pemilik senyum. Sejujurnya, aku jatuh cinta dengan Shania bukan hanya karena pandangan pertama. Bukan juga karna sekedar tatapan matanya, bukan karena detak jantungku yang selalu bertingkah tidak normal saat bertemu. Bukan, jatuh cintaku tidak sesederhana itu. Terlepas dari Shania yang manis. Baik, tegas, dewasa, pintar, ramah, pengertian dan penyayang. Ada hal-hal lainnya yang bisa membuatku jatuh cinta kepada Shania. Misalnya begini . . . di satu tahun aku dan Shania berpacaran, aku benar-benar bisa melihat Shania yang masih menatapku dengan tatapan yang sama dengan sorot mata seperti kami pertama kali bertemu, seperti memang tidak ada yang lebih menarik daripada aku. She's a good girl. Saat masih berpacaran, Shania tidak pernah menuntut aku untuk pulang dan pergi ke kantor bersamanya. Dia, tidak pernah menjadikan aku seperti abang-abang gocar yang harus antar-jemput dia ke salon setiap minggunya. Dia, tidak pernah meminta aku untuk membayari semua belanjaan dan kebutuhannya setiap bulan. Katanya, dia masih punya penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 'perempuannya' yang tidak pernah habis kalau sudah lihat diskon. Dia juga jarang sekali mau aku ajak untuk pergi berwisata ketempat-tempat dengan spot foto yang bagus. Menurutnya, lebih enak berburu makanan atau menonton film saja saat libur. Dia, tidak pernah komplain dengan aku yang sering membalas pesannya dengan jeda waktu yang lama, asal alasannya jelas ia tidak akan mempermasalahkan. Dia, tidak menganut tradisi, kalau cewek salah ya cowok yang harus minta maaf. Tidak, dia orangnya realistis, kalau dia memang salah, dia tidak akan malu untuk meminta maaf lebih dulu. Itulah Shania Nabila, perempuan manis yang setiap harinya ingin aku ceritakan kepada teman-teman ku tentang bagaimana aku selalu merindukan dia. Bagaimana aku merasa telah jatuh hati dan ingin tetap bersamanya, bagaimana aku bahagia memilikinya sampai lupa caranya mengikhlaskan. Karena Shania adalah segala hal tentang aku. Shania adalah senyum pertamaku saat seseorang sedang senang-senangnya mematahkan hatiku, dia tawa pertamaku. Setelah semua perempuan selalu menganggap ku seperti binatang. Dia perempuan baik yang bisa membuatku tahu bagaimana rasanya dihargai sebagai laki-laki. Dengan Shania, aku merasa sempurna. Diterima dengan tulus. Dia selalu menghargai apa yang aku mau dan beri. Ketika aku sedang bercerita atau sekedar meminta saran, ia pasti mendengarkan dengan baik, tidak segan untuk memberi argumen jika apa yang aku lakukan itu salah. Bersamanya, aku seperti dibutuhkan. Bahkan, ia tidak pernah meninggalkan aku sedikit pun ketika keadaanku sedang kacau-kacaunya. Itu jelas satu-satunya yang aku inginkan. Berharga, dan itu aku miliki dari Shania. Mungkin itu juga yang akhirnya membuatku semakin menyayanginya. Sebenarnya kami bukan hanya sekedar berpacaran, kami sudah bertunangan tepat di satu tahun hari jadi kami. Jika kalian bertanya kenapa aku memutuskan untuk yakin dengannya, jawabanku adalah; Dia bisa memperlakukan orangtua ku jauh lebih baik daripada aku. Kini, ketika perempuan yang aku sayangi itu selalu memalingkan wajahnya ketika bertemu, aku tahu ada bagian dari diriku yang tidak menerimanya. Sebab, kehilangan Shania sudah cukup buruk bagiku, aku tidak mau jika masih harus dilupakan olehnya. Padahal, di setiap kesempatan yang ada aku ingin sekali menyapanya, menyapanya dengan kalimat, "Shania, how's life going?" Shania Nabila, dia istimewa. Aku juga tidak tahu mengapa hanya mengingatnya saja senyumku terbit. Ada perasaan aneh yang setiap kali aku rasa ketika aku mengingatnya. Mungkin, semacam rindu yang tidak bisa aku dekskripsikan. Aku menyayangi Shania, sama seperti aku menyayangi Ibu dan Nenekku. Dua puluh lima tahun aku hidup, akhirnya hatiku jatuh kembali kepada Shania Nabila, perempuan manis yang punya segudang cara untuk membuatku lebih menikmati hidup. Tahun sudah berganti, kami sudah siap melanjutkan langkah menuju pernikahan, ia pun masih sama, tetap selalu bisa untuk membuatku jatuh cinta lagi, lagi dan lagi. Harapanku saat itu, aku ingin selamanya kami bersama, lalu saat kami menikah, kami akan kembali berdebat tentang aku yang ingin punya anak laki-laki dan dia yang ingin punya anak perempuan. Aku jatuh cinta saat ia berbicara, aku menikmati caranya tersenyum, aku menyukai caranya berjalan, aku suka mendengar nada tawa, mengeluh bahkan marahnya. Sampai hari itu tiba, hari dimana Rildi datang dan ia mengacaukan segalanya. Shania tidak pernah memberitahu apa yang membuat ia ingin menyudahi hubungan kami, tapi aku tahu semua, tentang Shania dan juga Rildi yang nyatanya . . . fake. Mungkin sejak saat itu setiap kali aku bertemu mereka rasanya . . . Hambar. Tidak ada lagi Shania yang manis. Tidak ada juga Rildi temanku sedari kecil yang menyenangkan. Aku merasakan sakit hati ketika melihat mereka, tetapi aku tidak bisa membenci mereka. Shania terasa begitu menenangkan padahal ia . . . Berbahaya. Untuk pertama kalinya aku ingin menangisi perempuan itu, perempuan yang kembali menatapku dari kursinya. Aku terus memperhatikan sampai ia berdiri dan berlalu pergi bersama teman-temannya. Bodohnya, aku tetap jatuh cinta pada perempuan itu, tidak peduli seberapa brengseknya dia. Sialnya, aku tetap menyukai sorot matanya, meskipun aku sudah tidak menemukan tatapan hangat ketika ia menatapku dulu. Setelah beberapa menit kepergiannya, aku memilih untuk memainkan ponsel dan membuka aplikasi i********:. Melihat orang yang sangat aku kenal baru saja menggunggah video. Ada satu rasa yang tidak bisa aku jelaskan. Yang siapapun tidak akan bisa mengerti kecuali diriku sendiri. Aku menghela napas berat berusaha menerima apapun yang terjadi. Nyatanya, tidak cukup untuk hanya sekedar melihat Shania yang sudah dimiliki laki-laki lain, kini aku kembali merasakan sakit yang luar biasa ketika Shania bukan hanya sudah dimiliki tapi juga sudah nyaman dengan laki-laki itu. Shania . . . Sebagai manusia, aku merasa patah hati. Aku yang selalu ada untuk kamu genggam atau peluk, ketika kamu merasa sendiri, nyatanya selalu kalah dengan dia yang kehadirannya selalu kamu tunggu-tunggu. Sebagai mantan kekasihmu, terkadang aku merasa iri. Katamu aku yang paling indah, nyatanya aku kalah dengan dia yang hanya mempunyai satu kelebihan namun kehadirannya begitu membahagiakan untukmu. Sebagai pemuja mu, aku selalu membenci rasa itu. Karena saat rasa itu hadir, aku lupa caranya membenci. Menolak untuk ikhlas, ujung-ujungnya kangen kamu lagi. Dan Shania, Jika ada hal yang membahagiakan dalam hidupku maka hal itu sebenarnya adalah kamu. Sebab, akhir dari kisah ini. Aku tetaplah Bumi Bagaisar. Si lelaki kaku yang cuma tahu tiga hal . . . Shania Nabila, patah hati dan penghianatan. Karena jika bukan karena kamu, aku tidak akan tahu jika Rildi menyukaimu dan kamu ternyata menyukai adikku, adik kandungku yang dulunya satu universitas denganmu. Maaf Shania jika selama ini aku hanya berusaha melakukan penyangkalan pada sebuah kenyataan. Mencari kebenaran bahwa kamu tidak mencintainya. Bahwa adikku tidak mungkin menyakitiku, bahwa kita masih bisa tetap bertahan pada situasi apapun. Bahwa aku masih bisa jadi bucin lahir batinnya kamu. Tapi itu mustahil, kan? I'm so sorry but it's fake love, Shania. Seperti katamu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook