"Udah kangen-kangenannya?" Aku bertanya dengan ramah kepada Ayah Fikri dan juga Desi saat tiba dihadapan mereka. Ayah Fikri memicingkan matanya menatapku. "Bener kamu ternyata." "Ya benar menang saya, Govinda." Ayah Fikri tersenyum sinis. "Mau apa kamu?" Aku menatapnya dengan ekspresi menilai sebentar, kemudian tanpa ancang-ancang aku meninju wajah Ayah Fikri sehingga dia mundur beberapa lanhkah. Desi menjerit, tapi dia langsung diamankan oleh Bang Tinje. Bang Tinje memanggil salah satu anak buahnya yang berjaga, kemudian menyuruhnya membawa Desi ke dalam mobilku. Kata Bang Tinje kepada anak buahnya itu, terserah mau dia apakan Desi asalkan dia--Desi jangan sampai kabur saja. Dengan wajah sumringah orang itu membawa Desi kembali ke dalam mobilku, sementara Ayah Fikri mencoba menghentik

