Labirin Manusia Gagal : 04

2013 Kata
Aku dan Vanessa baru saja masuk ke dalam kawasan pondok indah. Tentu semua orang tahu ini adalah kawasan yang seperti apa. Sebenarnya pun kalau aku tahu rumah yang akan ia jual berada di kawasan ini, aku tidak akan mencak-mencak kepada Fikri mengenai uang yang banyak diperlukan temannya itu alias Vanessa. Karena wajar saja jika rumah itu dijual dengan harga yang subhanallah sekali, namanya juga unian elit dipondok indah. Daerah ini memang dikenal dengan hunian elit orang-orang berada dengan tingkat kekayaan yang lumayan atau ... luar biasa? Sepertinya iya. Rumah di sini jauh dari kata kumuh, semuanya terbilang sangat bagus, luas dan mewah, aku bahkan sampai beberapa kali mengedipkan mata ketika baru saja parkir di carport rumah Vanessa yang luas ini. Untuk bagian carpotnya saja hampir setara dengan setengah rumahku. Bagaimana aku tidak dibuat takjub dengan rumah milik Vanessa? Tapi terkadang aku juga mempertanyakan hal ini, mengenai ... rumah mewah dan besar, tidakkah itu cukup berlebihan? Maksudku, kalau hanya dihuni oleh 3 sampai 4 orang saja, bukankah itu berlebihan? Sisa ruangan yang jarang terjangkaunya 'kan bisa saja menjadi tempat perkumpulan setan. "Ini beneran rumah lo?" bukannya menjawab pertanyaanku, aku justru mendengar pintu mobilku tertutup dengan keras. Heh orang kaya, tutup pintu mobil gue jangan pake tenaga dong. Buluk-buluk gini, mobil gue bisa melindungi dari hujan! Emangnya kalau rusak lo mau tanggung biaya perbaikannya?! Kataku dalam hati sambil menatap sedih mobilku. Vannesa menatapku heran ketika aku menatapnya tak suka. Mungkin dia bingung kenapa tiba-tiba sorot mataku seperti itu, aku mau bilang 'lain kali jangan keras-keras nutup pintu mobilnya' kepadanya, tapi tidak jadi. Jika aku berbicara seperti itu maka Vanessa akan mengira bahwa aku punya rencana mengajaknya pulang bersama besok-besok. Jadi aku diam saja dan memalingkan wajah hanya untuk menatap sudut demi sudut rumah orang kaya yang besar, megah, dan juga luas ini. "Iya," jawabnya cuek. "Masuk dulu kak, minum atau makan dulu, gerimisnya masih awet, mau makan mie? Gue lagi kepengen soalnya dari tadi." Jodoh nih. Aku sempat akan tersenyum. Apakah aku akan menyia-nyiakan kesempatan makan mie lagi kali ini? Tidak, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Orang gila mana yang akan melewatkan momen berharga seperti ini lagi. Apalagi kali ini aku sedang benar-benar lapar. Lalu yang ditawarkan Vanessa adalah mie? Aduh. Ditambah telur setengah matang dan irisan cabai akan semakin mantap. Double ya! Jangan lupa mie nya double. Inginnya sih mengatakan itu kepada Vanessa, tapi aku masih tahu diri dan tahu malu. "Ayok, kak." Kata Vanessa sambil menarik kecil pergelangan tanganku. Yes, digandeng! tapi... ...aku mengumpat kesal. Kalau tahu akan dilepaskan secepat ini pergelangan tanganku olehnya, kalau aku tahu akan dilepaskan lebih baik aku yang akan menggenggam tangannya lebih dulu tadi agar tidak dilepas-lepas. "Tunggu di ruang tengah aja ya kak,"  Kata Vanessa aku mengangguk. Gila. Ruang tengah rumah orang kaya ini luas banget. Aku kalau punya ruang tengah seluas ini di rumah mungkin aku sudah mengatur jadwal tidurku setiap harinya dengan lantai yang berbeda-beda di ruang tengah ini. Besok dengan lantai yang ini, besok dengan lantai yang sebelah sini, dan terus seperti itu sampai aku punya istri nanti. Di ruang tengah rumah Vanessa, ada piano, ruang tengah ini juga tidak memiliki sekat jadi kelihatannya lebih luas. Ruangan ini nyaman dengan atap yang tinggi, sehingga walaupun tidak ada pendingin ruangan, ruangan ini tidak akan terasa panas. Sepintar itulah arsitek rumah ini ternyata. "Jadi mau makan nasi atau mie, kak?" Tanya Vanessa. "Mie." Jawabku, yang langsung disambut dengan senyuman oleh Vanessa. "Soto atau goreng?" "Indomie soto, kalau boleh dua bungkus dijadikan satu, dan kalau boleh lagi, tolong tambahin telur setengah matang plus cabai. Pedas." Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku. Tegas, lugas, terpercaya. Mie soto harus selalu ditemani dengan telur setengah matang dan juga irisan cabai. Itu mutlak dihidupku. Vanessa cengengesan. Akhirnya, Vanessa menyuruhku menunggu sambil duduk-duduk santai saja katanya sementara dia akan membuatkan pesananku tadi. Ketika aku duduk dan menatap atap rumahnya, lagi-lagi aku hanya bisa mengedipkan mata beberapa kali melihat lampu gantung yang tergantung di sana. Ya ampun, luxury chandelier itu harganya sama dengan harga mobil keluarga sejuta umat di Indonesia. Dari pada untuk beli lampu itu, lebih baik uangnya di donasikan kepadaku saja pasti akan lebih berguna. Lagi pula kenapa orang kaya gemar sekali membeli barang-barang mahal dan tak berguna? Kenapa tidak berguna? Aku yakin sekali chandelier itu hanya sebagai pajangan saja. Sebagai pemanis belaka. Tidak akan mereka menyalakan lampu gantung itu. Kenapa tidak permen saja mereka taruh diatas meja, sama sama pemanis 'kan? Tidak lama kemudian, seorang perempuan berhijab dan anak kecil yang aku tafsir ia masih bersekolah dasar menghampiriku dengan ramah. Mereka memperkenalkan diri sebagai Ibu dan Adiknya Vanessa, yang langsung membuatku sungkan untuk menatap lampu gantung rumahnya lagi. Anak dan Ibu ini cantik, serius. Lebih cantik dari lampu gantung di rumahnya. Dan terlihat lebih mhal dari pada lampu gantung itu. Sebentar ... apa-apaan sih Govinda! Melantur. Jadi, aku hanya bisa duduk tegap saja di sini. Padahal Ibu Vanessa sendiri menyuruhku untuk santai saja. Anggap saja rumah sendiri katanya, aduh Tante, kalau Tante bilang begitu rasanya aku ingin mencopot lampu gantung itu dan menjualnya. Jangan marah, kan Tante sendiri yang bilang anggap aja rumah sendiri jadi suka-suka aku dong mau melakukan apa di rumah sendiri. "Tadi Tante kira Vanessa cuma bercanda waktu bilang dianterin pulang sama cowok pendek." Kata Ibu Vanessa yang mempunyai nama Riska. Wajahku terasa seperti ditampar ketika mendengar kata cowok pendek disebutkan tadi. Pendek-pendek begini, tidak sedikit cewek yang mengantri untuk berkencan denganku. Pendek-pendek begini, aku memiliki usaha atas jerih payahku sendiri. Pendek-pendek begini, aku yang mengantarkan anaknya pulang hari ini. Dan yang terpenting ... pendek-pendek begini, aku bisa membantunya menjual rumahnya yang luasnya mirip-mirip Gelora Bung Karno ini. Aku cengengesan. "Saya gak sependek itu kok Tante." Jawabku menahan kesal. Untung orang tua. "Padahal daripada bilang kamu pendek, Vanessa lebih baik bilang kamu ganteng. Tuh senyum kamu, manis gitu." "Hehehe." Akhinya dia memujiku. Memuji ketampananku. Setelah itu, Tante Riska dan anaknya yang paling kecil--Una namanya, mengobrol-ngobrol biasa denganku. Melihat Una yang dari tadi hanya senyum-senyum sambil mengangguk saja, dengan impulsif, aku bertanya. "Una, kelas berapa?" Kataku. Una menatap ke arahku, sebentar. Kemudian dia menunduk lagi, memperhatikan kedua jari-jari tangannya yang saling bertautan. Anak ini grogi bertemu denganku? atau memang dia mempunyai kepribadian yang malu-malu? Atau ... malu-malu tapi mau? "Kelas enam, kak." Kata Una. Aku mengangguk. Dan mulai mengobrol lagi dengan Tante Riska, beliau cerita kalau piano di ruang tengah rumahnya ini, hanya sekedar pajangan saja. Anak-anak dan termasuk dirinya tidak ada yang bisa memainkannya. Kalau gitu kenapa di beli Tante! Beliau bilang, Vannesa itu hobinya bernyanyi, Kapan-kapan katanya aku disuruh mendengar suaranya. Lalu anak keduanya itu seorang vloger, beliau bilang kalau anak keduanya ini mandiri sejak kecil. Dia pintar mencari uang, dan sekarang sudah bergabung di sebuah agensi model. Anak ketiganya, lebih suka make-up. Panggilan sayang dari kakak-kaknya adalah b***h, aku tertawa singkat mendengar kata itu. Lalu Una, Tante Riska memberi tahu jika hobinya menggambar, mungkin ketika sudah besar Una bercita-cita menjadi pelukis. "Ini, kak," Kata Vanessa yang datang bersama seorang cewek cantik sambil meletakkan dua mangkuk mie instan, gelas dan botol air putih dingin, beberapa cemilan dan juga fanta. "Bunda sama Adek mau juga?" Cewek yang datang bersama Vanessa tadi menoleh kepadaku, membuatku sempat menatapnya sebentar. "Kalau Bunda sama Una mau, biar Sarah buatin." Cewek itu bersuara. Oohh Sarah namanya. Tante Riska berdecak. "Masa Bunda sama Adek doang yang dibuatin. Kamu juga buat dong, Kak. Bunda gak suka ah kamu keseringan diet!" Pantes kurus. "Buset..." Aku garuk-garuk kepala karena kelepasan mengeluarkan kata-kata itu. "Maaf, maksudnya, diet itu kan untuk menurunkan berat badan. Tapi anak Tante udah kurus, apa yang mau di turunin..." Kataku sambil nyengir karna mereka semua menatapku. Aku itu anaknya jujur, jadi mohon maaf sekali kalau aku terlihat malu-maluin. Lagi pula, terlalu kurus juga tidak baik 'kan? "Oh, saya lagi jaga berat badan supaya pas pakai gaun buat pemotretan nanti, kak." Kata Sarah sambil tersenyum. Ya ampun! Aku pening! Kalau Vannesa punya gigi kelinci yang membuat senyumnya menarik. Cewek bernama Sarah ini, punya lesung pipi pada pipi kanannya saja. Jadi senyumnya manis, menarik, dan cantik. Seganteng apa sih Ayah mereka sampai bisa membuat anak yang cantik-cantik seperti ini? Una saja, yang masih kecil sudah kelihatan cantik bagaimana saat dia dewasa nanti? pasti kakak-kakak mereka akan kalah saing dengan kecantikan Una. Aku ... pilih yang mana 'ya? Bercanda. "Itu," Sarah menunjuk mangkuk mie di hadapanku. "Dimakan dulu kak, kalau dingin mie soto jadi engga enak." Memang sih. "Otw nih." Aku buru-buru mengambil mangkuk mieku, ribet juga sih makan dikursi gini. Mau bilang makan dibawah aja tapi nggak enak sama keluarganya Vannesa. Mengerti keadaan, Sarah mengajak Ibu dan Adiknya untuk pergi, merekapun pergi setelah Tante Riska bilang makan yang enak ya Govinda. Kujawab pasti Tante. Tidak mungkin aku memakan mie yang lengkap dengan teman-temannya ini tanpa menikmatinya dengan khusyuk. Vannesa turun dari kursi dan menepuk-nempuk karpet yang aku yakini mahal meskipun tanpa bulu-bulu halus. Aku menurut, dan duduk di sampingnya, tidak terlalu berdekatan juga sih. Takutnya dia jatuh cinta denganku kalau terlalu sering berdekatan. Biarpun pendek, tapi pesonaku luar biasa. "Katanya Adek lo tiga," Kataku. "Itu tadi Adek lo yang nomor berapa aja?" Tanyaku basa-basi. Kemudian menyeruput mieku. Lapar. Banget. Dia menoleh, tersenyum sebentar. "Una yang paling kecil, Sarah nomor dua, masih SMA." Jawabnya. "Oh, yang SMP, belum pulang?" Tanyaku lagi. "Vinka," jawabnya, "Nama Adek gue yang ketiga dan dia belum pulang, mungkin masih pacaran." Santai banget dia ngomong begitu. Kalau aku perhatikan, keluarga Vannesa ini keluarga yang hangat. Mulai dari Vannesa sampai adik-adiknya aku katakan mereka sopan semua, sangat sopan malah. Aku jarang menemukan cewek yang bertemu dengan kenalan temannya tidak ragu untuk menyalimi terlebih dahulu. Begitu saja sudah masuk dalam bentuk sopan santun, kan? "Masih SMP udah boleh pacaran?" "Boleh aja. Kita kan gak pernah tahu umur berapa kita akan jatuh cinta." Jawab Vanessa. Aku mengangguk. "Iya juga." Tak lama kemudian kami sibuk dengan mie kami masing-masing. Ini mienya nggak pesen online, kan? Enak soalnya, coba kalau aku yang bikin sendiri. Pasti kalau nggak ada rasanya yah airnya nggak ada, alias asin. Karena keseringan makan mie yang asin, aku jadi sering juga sakit kepala. "Kakak punya Adik?" Aku mendongak saat mendengar suara lembut milik Vannesa. Mienya sudah habis, dia sedang membersihkan mulut dan hidungnya dengan tisu. Aku mengangguk. Lalu, dengan segenap keberanian diri yang kupunya, kutuangkan air putih dingin ke gelas Vannesa yang sudah kosong. Kemudian kuberikan kepadanya. "Fadhil," Kataku sambil tersenyum mengingat Adikku satu-satunya itu, Adikku satu-satunya yang badannya lebih tinggi dari pada aku namun gantengnya tetap kalah dengan kegantenganku tentu saja. "Sekarang kelas tiga SMA, di Yogyakarta." Vannesa sedikit terkejut, membuatku mengeryit. Kenapa dia? Yogyakarta kan dekat, masa dia kaget mendengar Adikku yang berada di luar Jakarta. Bagaimana kalau aku bilang Fadhil tinggal di Amerika? Mungkin dia akan kejang. Tidak lama kemudian, ia meletakkan kembali gelas yang tadi aku berikan dengan keadaan kosong. Apa dia sehaus itu karena mie instan? Atau karena air itu aku yang tuangkan? "Sama," Katanya. "Sarah juga dulu sekolah disana. Pas kenaikan kelas tiga dia pindah kesini." Hah? Bukankah itu tanggung sekali? Disaat kenaikan kelas tiga ia justru pindah ke Jakarta? Bukankah lebih baik dia tetap disana dan menyelesaikan saja pendidikannya itu hingga lulus. Lalu setelah lulus, dia baru berkuliah disini. Bukankah itu lebih baik? "Kenapa?" tanyaku akhirnya. "Mungkin dia mau deket sama Ibunya. Masalah keluarga kami, mungkin jadi faktor dia mutusin buat balik ke Jakarta." Katanya dengan pelan. Aku paham. Masalah keluarga memang selalu menjadi faktor keterpaksaan. Entah tentang keharmonisan ataupun materi, itu selalu memaksa kita untuk akhirnya menyerah saja kepada keadaan atau berontak namun dengan resiko yang tidak mudah untuk dilewati? Hanya dua pilihan itu saja. Dan kebanyakan orang selalu memilih yang pertama. Dan ujungnya selalu mencoba berdamai dengan keadaan yang bahkan diri kita menolak mentah-mentah di awal. "Kalau rumah ini dijual, kalian mau tinggal dimana?" Kataku. Lalu menatap lukisan yang terpajang diruang tengah ini. "Keluarga kalian memangnya gak ada yang bisa bantu?" Sambungku. "Melihat dari tempat tinggal juga penampilan lo dan keluarga aja, gue bisa nebak kalau rata-rata kerabat kalian itu tajir." Vannesa hanya tersenyum sambil menunduk, tanpa menjawab pertanyaanku, dia membawa mangkuknya ke dapur. Satu yang kupahami saat ini: keluarganya tidak benar-benar sehangat yang kukira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN