"Kenapa gak tanya langsung sama Mas Rio aja biar lebih jelas? Emang siapa juga yang keganjenan? Emangnya Mas Leon pernah lihat Manda ngerayu-rayu cowok lain? Dasar nyebelin!" Amanda meradang. Ia tinggalkan sarapannya yang masih separuh itu, lalu masuk ke kamarnya.
Leon tergugu. Ia menyesal, sudah membuat Amanda marah lagi. Padahal niatnya hanya mengingatkan Amanda, tapi rupanya ia salah memilih kata. Terpaksa, ia meneruskan sarapannya seorang diri.
Sementara di kamarnya, Amanda tengah ngomel-ngomel gak jelas. Ngomelin Leon lah, siapa lagi. Tiba-tiba, terlintas di benaknya untuk update status di Aplikasi Hijau, 'Ada tapi gak dianggap. Nyebelin gak sih?' Setelah itu, ia memutar lagu kesayangannya keras-keras, lalu duduk manis mengerjakan tugas kuliahnya.
Pukul 11 siang, Leon tengah duduk santai di meja kerjanya. Meeting dengan klien dah kelar. Iseng-iseng ia membuka ponselnya. Eh, tumben amat Amanda update status di Aplikasi Hijau-nya. Ia lalu meng-klik status Amanda tersebut, lalu membacanya.
Hatinya mencelos seketika. Ia merasa tertampar. Rasa bersalah seketika menyeruak ke dalam hatinya. Kenyataanya, selama ini ia memang tidak memperlakukan Amanda sebagaimana mestinya. Padahal gadis itu, sudah dinikahinya secara resmi. Namun, selama ini ia belum pernah menyentuhnya. Entah kenapa, sosok Raisa masih setia bersemayam di hatinya. Rasanya, ia tak bisa menyentuh wanita lain, selain Raisa--cinta pertamanya itu.
Dalam hatinya, Leon mengakui bahwa ia bodoh. Bodoh karena telah membutakan hatinya selama ini. Bodoh karena belum bisa move on dari Raisa. Padahal wanita itu telah terang-terangan mengkhianatinya, dan menikah dengan pria lain. Ia sadar telah menyia-nyiakan hidupnya selama ini, pasca perpisahannya dengan wanita itu--10 tahun yang lalu.
Leon menghela napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. Entah kenapa, sejak putus dengan Raisa dulu, ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lain. Hatinya seakan telah membeku, tertutup untuk wanita lain selain Raisa. Pesona Raisa telah menancap begitu kuat dalam hati dan pikirannya. Wajahnya yang ayu, suaranya yang lembut, tubuhnya yang ramping menawan, rambutnya yang selalu wangi tergerai, selalu menari-nari di benaknya.
Leon meraih ponselnya, lalu mengetik sebuah pesan untuk Amanda. Sesaat sebelum menekan tombol enter, ia menghapus pesan itu. Hatinya terasa tak karuan saat ini.
Leon meraih rokoknya. Akhirnya ia berjalan menuju gazebo, melepas kegundahannya dengan merokok di sana. Senyum tipis terkembang di bibir Leon. Ia sudah memutuskan, jika hari Minggu nanti, ia akan mengajak Amanda keluar, jalan-jalan mengunjungi suatu tempat wisata sekitar Magelang, ia ingin lebih dekat dengan gadis itu.
Minggu pagi.
"Selamat pagi, Mas. Manda ada?" sapa Rio pada Leon, yang tengah duduk merokok di teras.
Tanpa menjawab pertanyaan Rio, Leon meninggalkan teras dengan sikap acuh.
Boro-boro mempersilakan tamunya duduk. Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan suami Amanda tersebut. Namun, ia tak merasa kesal sama sekali.
[Manda, aku ada di teras rumahmu.] Rio mengirimkan sebuah pesan pada Amanda, sambil duduk di kursi teras.
Sejurus kemudian, Amanda membalas pesan Rio. [Hah? Serius?]
Segera setelah membalas pesan Rio, Amanda membuka pintu kamarnya, bergegas ke teras--menemuinya.
"Kirain bercanda loh. Mas Rio baru aja datang apa dah dari tadi di sini, sih?" Amanda menyambut kedatangan Rio dengan sukacita. Lumayanlah, ada teman ngobrol.
"Udah dari beberapa menit yang lalu. Ketemu sama suamimu tadi," jawab Leon santai.
"Hah? Kok dia gak manggil Manda sih?" Amanda mendelikkan matanya. "Memang nyebelin tuh orang."
Rio hanya tersenyum tipis. "Udah, gak apa-apa. Santai aja."
"BTW, ada perlu apa, Mas?"
"Gak ada apa-apa. Pingin ngobrol aja sama kamu. Syukur-syukur mau kuajak keluar sih."
"Mau ngajak ke mana, emangnya?" Amanda merasa excited. Maklum saja, Leon hampir tidak pernah mengajaknya jalan-jalan, boro-boro piknik.
"Kamu pinginnya ke mana, Manda?"
Amanda mengerenyitkan dahinya. Ia bingung mau jalan-jalan ke mana.
"Ketep Pass mau gak?" Rio menawari Amanda.
"Yes! Manda mau. Tunggu bentar ya, Manda mau mandi dulu."
"Oke. Aku tunggu di sini, ya."
Setelah itu, gegas Amanda pergi mandi lalu berdandan tipis-tipis. Ketika ia membuka pintu kamarnya, Amanda terkejut, karena Leon sudah berdiri di depan kamarnya, sambil berkacak pinggang.
"Mau ke mana?" tanya Leon jutek.
"Mau pergi sama Mas Rio. Dia ngajak jalan-jalan. Emangnya kenapa, gak boleh?"
"Jangan lama-lama pulangnya! Jadi cewek jangan kebanyakan ngeluyur. Apalagi ngeluyurnya sama cowok gak jelas gitu."
"Idih, sok tahu. Manda kenal Mas Rio tuh sejak kecil. Manda tahu Mas Rio orangnya kayak apa. Yang jelas, dia gak galak, gak pecicilan juga kayak Mas Leon." Amanda membela Leon dengan sengit.
"Aku mana ada pecicilan. Kamu tuh, yang masih pecicilan. Dasar ABG labil!"
"Biarin! Daripada situ, aki-aki kolot bucin gagal move on!" Amanda mencebikkan bibirnya ke arah Leon, lalu segera berlari kecil meninggalkannya--takut dijewer.
Leon menghentakkan kakinya ke lantai--geram. Ia merasa kesal pada Amanda, juga pada pemuda bernama Rio itu. 'Sudah tahu Amanda dah jadi istri orang, eh, tetep aja ke sini melulu. Mana sering diajak pergi lagi. Mana Amanda-nya mau lagi. Dasar kegatelan tuh bocah', ucapnya dalam hati.
Sementara itu di teras.
"Yuk, Mas, Manda dah siap."
"Oke. Tapi aku bawa motor, gak apa-apa, kan?"
"Biasa aja, kalik, Mas. Manda ke mana-mana naiknya juga motor."
Mereka pun kemudian berangkat, meninggalkan Leon di rumah seorang diri. Setelah Rio dan Amanda berangkat, gegas Leon menutup pagar rumah, lalu mengunci diri di kamarnya. Padahal sebenarnya, sebelum jam sebelas nanti, ia sudah berencana mengajak Amanda jalan-jalan ke Balkondes sekitar Borobudur, sekalian makan siang di luar. Eh, malah keduluan Rio. Sialan.
Leon sadar, sejak menikahinya beberapa bulan yang lalu, ia jarang sekali mengajak Amanda keluar rumah, sekedar jalan-jalan atau makan bersama. Gadis itu memang tak pernah menuntut apapun. Namun ia tahu, pada dasarnya wanita akan senang jika mendapat perlakuan manis.
Leon juga sadar sepenuhnya, ia memang bukanlah pria romantis--yang pandai mengucapkan kata-kata yang mampu melumerkan hati pasangan--apalagi memberi kejutan-kejutan manis seperti membawakan bunga dan hadiah-hadiah kecil lainnya. Namun, ada sebuah sudut di hatinya, yang mendorongnya untuk memperlakukan Amanda dengan lebih manis. Ia merasa, Amanda layak mendapatkan itu.
***
Sejak pukul satu tadi, Leon mondar-mandir di kamarnya. Ia mengomel sedari tadi. Hatinya kesal bukan main. Sejak tadi, ia menghubungi nomor Amanda, tapi sekalipun tak diangkatnya. Entah sibuk, tak ada sinyal, atau sedang berada di jalan raya?
Ting.
Sebuah pesan masuk ke Aplikasi Hijau dari Amanda. [Ada apa, Mas? Nelponin melulu. Jarang sinyal di sini.]
[Posisimu sekarang ada di mana?] balas Leon.
[Lagi di kebun strawberry, deketnya Ketep tuh. Emangnya kenapa?]
[Kok gak pulang-pulang, sih? Dah mulai mendung nih. Jemurannya entar kehujanan loh.]
[Lah, tibang ngangkatin jemuran apa susahnya sih? Sekali-kali kek mbantuin kerjaan istri.]
Deg. Saat Amanda menuliskan kata istri, tiba-tiba saja hatinya merasa tergetar. Ia kadang lupa, bahwa Amanda itu istrinya--dan bukannya orang lain.
[Cepetan pulang, ya, Manda.] Setelah mengirimkan pesannya, Leon menaruh ponselnya di atas nakas. Lalu membaringkan tubuhnya di ranjang, menunggu Amanda pulang.
Tak lama kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan rumah Leon. Leon segera bangkit. Ia menduga itu pasti Rio dan Amanda. Tapi kan perlu setidaknya sejam perjalanan dari rumah sampai Ketep Pass? Leon penasaran ....