Percakapan

1119 Kata
"Raisa itu siapa, Mas?" tanya Amanda tiba-tiba. Pertanyaan Amanda membuat Leon terperangah. "Tahu dari mana tentang Raisa?" Leon menatap lurus ke mata Amanda. "Gak penting kan, Manda tahu dari mana atau dari siapa," jawab Amanda dengan nada ketus. "Aku ingin mendengarnya langsung dari mulut Mas Leon." Terdengar Leon menghela napas kasar, sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan Amanda tadi. "Raisa, dia bekas pacarku." "Berapa lama pacaran sama dia?" "Dua tahun. Sudahlah, gak perlu nanya-nanya dia lagi. Malas aku," ujar Leon, sambil bersiap meninggalkan dapur. "Mas Leon masih mencintai Raisa sampai saat ini, kan?" Lagi-lagi, pertanyaan Amanda menohok relung hati Leon. Leon hanya diam saja. "Iya, kan, Mas?" "Entahlah ... aku tak tahu," jawab Leon, sambil bergegas meninggalkan Amanda. Jawaban Leon membuat Amanda semakin sedih. Tanpa bertanya pada Leon pun, sebenarnya ia tahu bahwa Leon masih sangat mencintai Raisa. Buktinya, ia masih belum bisa move on darinya hingga bertahun-tahun lamanya. Amanda menitikkan air matanya diam-diam. Ia bangkit dari dapur. Membuka pintu kamarnya dengan kasar, lalu membantingnya sekuat tenaga. Ia merasa marah pada Leon, juga pada dirinya sendiri. Di ranjangnya, gadis itu kembali meneruskan tangisnya, hingga ia ketiduran. Sekitar pukul 11 malam, Leon berjalan menuju kamar Amanda. Dibukanya pintu perlahan-lahan, agar tidak membangunkan Amanda. Hati Leon bergerimis, menyaksikan Amanda yang tengah tertidur lelap. Jejak tangisnya masih terlihat di pipi gadis itu. Entah kenapa, akhir-akhir ini, ia semakin menaruh perhatian pada gadis itu. Ia selalu ingin mendapatkan perhatiannya. Itulah mengapa, ia suka menjahili Amanda. Ia suka saat gadis itu ngomel-ngomel atau manyun-manyun akibat kejahilannya. Pembawaan Amanda yang riang dan selalu ceria, membuat harinya menjadi penuh warna. Leon membungkukkan tubuhnya, mendekati Amanda. Secepat kilat, dikecupnya pipi gadis itu. Setelah itu, ia pun segera bergegas meninggalkan kamar Amanda. Sementara Amanda masih tertidur lelap. Di kamarnya, Leon tengah berbaring di ranjangnya. Ia berusaha memejamkan matanya, tapi kantuk tak jua menderanya. Dengan kesal, diambilnya lagi ponsel yang tadi sudah ia simpan di bawah bantalnya. Ia membuka galeri foto. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, ia pun tersenyum. Dipandanginya foto itu sambil tersenyum. Namun, lama kelamaan, ia malah merasa baper. Ditaruhnya lagi ponsel itu di bawah bantalnya. Menit demi menit berlalu. Jam sudah menunjukkan hampir pukul satu pagi, tapi Leon belum juga berhasil memejamkan matanya. s**t! Leon merasa sangat kesal. Padahal besok pagi, ia ada meeting dengan klien kantor pukul delapan tepat. Tiba-tiba, sebuah ide gila melintas di benaknya. Serta merta ia mengambil bantal dan gulingnya, lalu berjingkat-jingkat menuju kamar Amanda. Nampak Amanda masih tertidur lelap. Leon pun segera membaringkan tubuhnya di samping Amanda dengan perlahan-lahan. Ia berharap, besok pagi gadis itu tak murka atas apa yang ia lakukan malam ini. Leon mulai memejamkan matanya. Dihirupnya keharuman tubuh gadis itu. Bau harum yang selalu memabukkannya, dan membuatnya ingin selalu menyentuh gadis itu. Tak berapa lama kemudian, Leon pun sudah terseret ke alam mimpi. Hawa dingin semakin menusuk tulang. Dengan mata masih terpejam, Amanda meraba kasurnya--mencari selimutnya. Sejurus kemudian, ia tersentak kaget. Tangannya menyentuh sesuatu, yang jelas sesuatu bukanlah selimutnya. Seketika Amanda membuka matanya. Ia semakin terbelalak, ketika mendapati Leon berbaring di sampingnya--tengah tertidur lelap. Amanda mengucek-ucek matanya, meyakinkan diri bahwa sosok itu memang Leon--suaminya. Ia merasa bingung, gimana ceritanya Leon bisa tidur di sini. Padahal tadi malam mereka habis bertengkar. Amanda meraih selimutnya, lalu menyelimutkannya ke tubuh Leon, juga ke tubuhnya sendiri. Entah kenapa, kali ini tidak ada niatan sedikitpun di hatinya, untuk mengusir Leon dari kamarnya. Malah justru berbagi selimut dengannya. *** Pagi mulai menyapa. Sinar matahari mulai masuk memenuhi sudut kamar. Amanda membuka kelopak matanya. Lalu memandang Leon yang masih terbaring lelap di sampingnya tersebut. Amanda mengakui, bahkan pada saat tidur pun, Leon nampak sangat tampan. Entah kenapa, ia yang biasanya menghindari saat-saat yang mengharuskannya tidur seranjang dengan Leon, kini ia justru malah menikmatinya. Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa dirinya sudah mulai gila. Amanda menyibakkan selimutnya, lalu turun dari ranjang. Setelah mandi dan salat Subuh, ia ke dapur lalu memasak. Pukul tujuh pagi, ia kembali masuk ke kamarnya--hendak membangunkan Leon. "Mas, bangun. Dah jam tujuh loh." Amanda menowel bahu Leon, berusaha membangunkannya. Leon tetap bergeming. Amanda mulai kesal. Ia lalu menepuk-nepuk kaki Leon, sambil memanggil namanya. Entah setan apa yang merasukinya, tiba-tiba Amanda membungkukkan badannya, lalu mengecup pipi Leon sekilas. Berhasil. Leon seketika membuka matanya. Ia langsung terduduk, mengucek-ucek matanya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Amanda. "Kamu menciumku, Manda?" tanya Leon dengan nada lembut, matanya menatap lurus ke mata Amanda. Amanda tak berani membalas tatapan Leon. Ia yakin, pipinya sudah memerah sedari tadi. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya ia mencium pipi Leon tadi. Entah dari mana datangnya keberanian itu. "Manda ...." "I-itu gak sengaja kok. Habis Manda kesel sih, mbangunin Mas Leon susah bener. Ditowel-towel juga diem aja dari tadi," jawab Amanda sambil menundukkan kepalanya. "Besok lagi, ya!" Leon mulai iseng. Amanda memelototkan matanya. "Enak aja!" "Habis enak bener sih tidurku. Ada yang nyelimutin lagi," tukas Leon. Amanda merasakan pipinya semakin memanas. Ia segera bergegas meninggalkan kamarnya. Meninggalkan Leon yang masih tersenyum-senyum sedari tadi. Ia heran, tumben Amanda tidak mengamuknya. Padahal ia sengaja tidur di samping gadis itu secara diam-diam, tanpa seizinnya. Setelah mandi dan berganti pakaian, Leon menuju dapur. Nampak Amanda tengah asyik menyendoki nasinya. Lagi-lagi, Leon merasa heran. Karena beberapa hari belakangan ini, Amanda seperti tengah mengambil jarak dengannya. Boro-boro makan semeja, ketemu aja dia melengos. Dasar wanita. "Tadi malam kenapa Mas Leon tidur di ranjangku? Sengaja, ya?" cecar Amanda. Leon tak menjawab, ia masih sibuk menyendoki nasinya. Beberapa kali ia mencuri pandang pada Amanda. Ia bimbang, mau jujur atau tidak. "Kok gak ngejawab?" Leon menatap wajah Amanda, yang tengah menanti jawaban darinya. "Tadi malem tuh, aku gak bisa tidur. Aku kepikiran kamu terus. Aku-hmmm ... aku merasa gak enak sama kamu, Manda." "Merasa gak enak kenapa? Karena masih mencintai Raisa--mantan pacar Mas Leon itu?" jawab Amanda polos. Leon menganggukkan kepalanya. "Dia cinta pertamaku, Manda. Aku memang bodoh, Manda. Bertahun-tahun tak mampu move on darinya." "Tidak perlu minta maaf, Mas. Hati mana bisa dipaksa. Manda ngerti kok. Manda tahu, Mas Leon belum bisa move on dari Raisa. Lalu bagaimana dengan pernikahan ini, Mas? Apa iya mau kayak gini selamanya?" Leon tak kuasa menjawab pertanyaan Amanda. "Kita jalani dulu saja, ya, Manda. Bersabarlah!" Amanda mengerenyitkan dahinya. "Bersabar untuk apa, maksudnya?" "Untuk segalanya, Manda. Juga terimakasih karena sudah mau mengorbankan hidupmu untukku. Gara-gara dijodohin sama aku, kebebasanmu jadi terenggut. Seharusnya di usiamu itu, kamu masih asyik-asyiknya bergaul dengan teman-teman kuliahmu," ujar Leon panjang lebar. Amanda merasa heran, tumben amat Leon bersikap manis padanya. "Berarti boleh kan, Mas Rio atau teman-teman lain pada main ke sini atau ngajak Manda keluar?" "Ya, boleh aja sih. Yang penting kamu selalu jaga diri, Manda. Jangan keganjenan juga. Tapi aku heran deh, sama Rio itu. Ngapain sih dia ke sini melulu?" Ada yang mulai jealous sepertinya ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN