Kekecewaan Amanda

1083 Kata
Amanda menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ada rada sedih yang memenuhi rongga dadanya. Pantas saja jika selama ini Leon tak mengacuhkannya, tak pernah memperlakukannya sebagai layaknya seorang istri. Ada tapi gak dianggap, benar-benar menyakitkan. Kalau sudah begitu, mau dibawa ke mana hubungan ini? Rumah tangga macam apa yang tengah ia dan Leon bangun selama ini? Benak Amanda semakin berkecamuk, memikirkan hubungannya dengan Leon. "Kenapa, Manda? Kok jadi sedih gitu?" "Gak apa-apa. Cuma bingung aja. Bingung mau bersikap gimana." "Kenapa bingung? Kamu toh gak mencintai Leon. Justru ini saat yang tepat bagimu untuk minta pisah darinya. Mumpung belum telanjur. Mumpung pernikahan kalian masih seumur jagung juga, kan." Amanda melongo mendengar saran Rio yang menurutnya spektakuler itu. Pisah? Cerai, maksudnya? Lha terus Bapak sama Ibuk bagaimana? Bagaimana juga dengan perasaan orang tua Leon? Ia benar-benar tak bisa membayangkan kekecewaan mereka nanti, jika ia dan Leon benar-benar bercerai nantinya. Benarkah kata Rio tadi bahwa ia tidak mencintai Leon? Tapi kenapa ia justru merasa bahagia tak terkira saat terjadi kontak tubuh dengannya? Kenapa ia selalu merasa seperti kesetrum, jantung berdebar-debar, darah berdesir, dan sebagainya? Mengapa ia merasa benci sekali dengan sosok Raisa yang telah membutakan hati Leon selama ini? Apakah ini yang disebut cemburu? Apakah sebenarnya ia sudah jatuh cinta pada Leon? "Manda! Melamun aja dari tadi." Rio menepuk lembut bahu Amanda. Amanda hanya menjawab dengan cengiran. Setelah ngobrol beberapa lama, Rio pun pamit pada Amanda. Beberapa menit setelah kepulangan Rio, Leon pun datang. "Tumben gak diajak pergi sama Rio." Amanda diam saja, tak menanggapi ocehan Leon sama sekali. Ia masih duduk merenung di teras. Matanya menerawang jauh. "Manda, dah makan belum?" Amanda menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Kamu kesambet, Manda? Diem aja kayak patung Diponegoro di alun-alun." Amanda tidak tertawa sama sekali, mendengar ledekan Leon. Juga tak menghiraukan suara keroncongan di perutnya, yang sudah sedari tadi meminta haknya. Benak Amanda kini hanya tertuju pada satu nama, Raisa. Dalam pikirannya, Raisa pastilah perempuan yang cantik jelita tanpa cela, sampai-sampai Leon tergila-gila padanya sedemikian rupa. Setelah leon masuk ke dalam rumah, Amanda pun beranjak meninggalkan teras. Masuk kamar, lalu berbaring di kasur. Ponsel ia taruh di meja kamar. Amanda kembali merenung. Pukul 10 malam, perutnya lapar tak terkira. Namun, ia terlalu malas beranjak dari ranjang. Sosok Raisa, masih setia bercokol memenuhi pikirannya. Akhirnya, karena tak tahan lagi, pukul setengan sebelas ia memutuskan untuk beranjak dari ranjangnya. Ia kelaparan. Amanda memutuskan untuk bikin mi rebus instan saja sebagai makan malam. Daripada nanti gak bisa tidur, malah berabe, kan? Ketika ia tengah sibuk menuangkan bumbu-bumbu, tahu-tahu Leon sudah berada di dapur, menyusul Amanda. "Bikin dua bungkus, ya, Manda?" Alhasil, suara Leon membuat Amanda kaget. "Ya ampun, ngagetin aja!" Leon duduk di kursi, memperhatikan Amanda memasak. Biasanya ia akan merasa jengah dan risih diperlakukan seperti itu, tapi kali ini ia berlagak cuek. "Loh, Mas Leon bukannya tadi dah makan malam di luar?" tanya Amanda kemudian. "Masih lapar," jawab Leon singkat. Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya. "Itu perut apa karet, sih?" Leon hanya nyengir kuda. "Udahlah, gak usah ngeledek. Cepeten bikinnya, keburu laper perutku." Amanda segera membuka satu bungkus mi rebus instan lagi, menaruhnya di panci, lalu memasukkan dua biji telur, sedikit sayuran, dan beberapa cabai rawit hijau sebagai campuran. Ulala ... bakalan sedap pastinya. Setelah selesai, Ia membagi menjadi dua piring, untuk Leon, dan untuk dirinya sendiri. Mereka makan dalam diam. Leon masih memikirkan sosok Rio, dan Amanda sendiri masih disibukkan dengan sosok yang bernama Raisa. "Kamu kenapa, Manda?" Leon berusaha mencairkan suasana. "Gak apa-apa," jawab Amanda singkat. "Sariawan, Manda?" "Hmmm ...." "Kesambet?" "Hmmm ...." Leon mendecak kesal. Ia merasa sebal, niatnya mengobrol dengan Amanda tak direspon sama sekali. "Manda ...." Leon memanggil Amanda, ketika gadis itu hendak masuk ke kamarnya. "Apa?" Amanda menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya, menatap Leon. "Kamu marah sama aku, ya?" "Enggak. Buat apa marah sama Mas Leon? Manda kan gak berarti sama sekali buat Mas Leon. Iya, kan?" Leon melongo mendengar jawaban Amanda "Apa maksudmu, Manda?" Amanda mengendikkan bahunya. "Tanya sama diri sendiri lah, masak sama Manda!" Leon semakin bingung, tak paham dengan maksud ucapan Amanda barusan. Sejak saat itu, Amanda sengaja memasang jarak dengan Leon. Ia sengaja menghindari Leon. Berbicara pun hanya seperlunya saja. Kini, ia lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar; mengerjakan tugas kuliah ataupun hanya bermain ponsel. Di ruang makan, Leon tengah menekuri makan malamnya seorang diri. Sudah beberapa hari ini, Amanda tak mau lagi menemaninya makan malam, entah kenapa. Biasanya, setiap pukul setengah delapan malam Amanda akan menyeretnya ke meja makan--untuk makan malam bersama. Setelah itu, ia beres-beres meja makan dan dapur, lalu menonton kartun di ruang tengah. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Leon merasa sangat kesepian. Ia merindukan celotehan, kejutekan, dan keusilan Amanda. Leon menghela napas panjang. Ia kembali menekuri piringnya. Hilang sudah selera makannya malam ini. Padahal ia baru makan beberapa suap saja. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan ruang makan. Malam berikutnya. Di dalam kamarnya, Amanda tengah sibuk membuat tugas kuliahnya. Diliriknya jam dinding kamar. Pantesan ia merasa lapar, sudah jam sembilan rupanya. Setelah menyisir rambutnya yang awut-awutan, Amanda bergegas ke meja makan. Lagi-lagi, ia mendapati piring bekas makan malam Leon masih tergeletak di meja. Sudah beberapa hari ini, Leon selalu menyisakan nasinya di piring. Mungkin Leon lagi gak selera makan, pikirnya. Ketika Amanda tengah asyik menyendoki nasinya, Leon masih asyik menghisap rokoknya di teras. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Amanda bergegas membereskan meja makan, lalu mencuci piring. Praaang Leon terperanjat. Ia segera bergegas ke dapur. Benar saja, Amanda tengah berjongkok di lantai dapur, memunguti pecahan piring yang berserakan di lantai dapur. Terlihat darah menetes dari jari tengah Amanda. "Diam, Amanda! Anteng!" Suara Leon yang berwibawa mengagetkan Amanda. Leon bergerak cepat. Ia membimbing Amanda duduk di kursi. Lalu dengan cekatan dan hati-hati, ia memunguti pecahan beling yang masih tersisa, membungkusnya dengan Dua buah plastik sekaligus, lalu membuangnya di tempat sampah. Setelah itu, ia menyapu lantai dapur dengan teliti, agar sisa pecahan belingnya benar-benar tak tersisa. Setelah mencuci tangannya, Leon bergegas mendekati Amanda yang sedari tadi memperhatikan aksi Leon. Dengan sigap, Leon membersihkan jari Amanda yang terluka. Membubuhinya obat, lalu membalutnya dengan plester. Semua ia lakukan dengan tenang, tanpa sepatah kata pun terdengar dari bibirnya. "Makasih, Mas Leon," ucap Amanda, ketika Leon hendak meninggalkan dapur. Leon memutar tubuhnya, menatap Amanda. Hanya memandang, tanpa bersuara sedikitpun. "Mas Leon marah, ya?" Leon membelalakkan matanya. "Bukannya kamu yang marah duluan? Berhari-hari gak menegurku. Gak menemani sarapan dan makan malam. Gak pernah nemenin ngobrol. Kalau ada apa-apa itu bilang, jangan diam saja, Manda!" Amanda merasa bersalah. Belakangan ini, ia memang bertindak kekanak-kanakan. "Maaf, Mas ...." "Ada apa sebenarnya, Manda?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN