Hasil penyelidikan Rio

1051 Kata
"Kurasa nih, sebelum dijodohin sama kamu, dia sudah punya kekasih di masa lalu, tapi entah kenapa gak berakhir di pelaminan. Makanya dia gak mau mantap-mantap sama kamu. Artinya, selama ini dia sebenarnya gak cinta sama kamu, Manda." "Gitu, ya, Mas?" "Itu cuma dugaanku, sih. Pernah gak, sih, kamu pingin tahu masa lalu suamimu seperti apa?" "Mmm ... pernah sih, tapi males nanya-nanya. Entar dipikirnya aku kepo." "Gini aja deh, biar aku yang menyelidikinya. Gimana, Manda?" "Asal gak ganggu kerjaan Mas Rio aja, sih." "Enggak lah, cuma perlu bergerak dikit aja itu. Serahkan saja padaku, oke?" Amanda menganggukkan kepalanya dengan mantap. Setelah itu, mereka jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Di sana, Rio membelikannya beberapa potong baju. Tentu saja Amanda merasa senang sekali. Setelah makan siang bersama, Rio pun akhirnya mengantarkan Amanda pulang. "Katanya hanya ngobrol lha kok pulangnya nenteng belanjaan?" sindir Leon, begitu mereka turun dari mobil. Amanda tersenyum kecut, ia merasa heran dengan kejutekan Leon yang belakangan ini semakin menjadi-jadi. "Oh, itu tadi saya minta tolong Manda mengantarkan saya ke pusat perbelanjaan, beli kado buat ulang tahun teman. Jadi, sekalian aja ngebeliin Manda. Gak apa-apa, kan, Mas?" ujar Rio sopan. Tanpa menjawab pertanyaan dari Rio, Leon berlalu meninggalkan mereka. Rio dan Amanda hanya berpandang-pandangan. Tak berapa lama kemudian, terdengar dentuman keras--Leon membanting pintu kamarnya. "Suamimu marah kayaknya, deh," celetuk Rio. "Biarin aja. Emang Manda pikirin." "Ini gak apa-apa aku pulang gak pamitan sama suamimu?" "Gak apa-apa. Udah, deh, santai aja lagi." Amanda berusaha menenangkan Rio. Setelah Rio pulang, Amanda segera mencoba baju barunya. Bolak-balik ngaca, sampai cerminnya bosan. "Manda!" Suara Leon terdengar memanggil Amanda. "Apa?" jawab Amanda sambil membuka pintu kamar. "Idih, kayak anak TK aja, nyobain baju baru gak dilepas-lepas." "Biarin. Soalnya pemberian dari orang istimewa sih." Dengan cueknya Amanda membalas ledekan Leon. Amanda melirik Leon melalui cermin di mejanya. Terlihat Leon tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Entah apa maksud tatapannya itu. Wajahnya pun terlihat kesal. "Apa lihat-lihat!" teriak Amanda kesal, merasa risih ditatap seperti itu. "Gak apa-apa." Leon membalikkan badan, meninggalkan kamar Amanda. Amanda mengendikkan bahunya. 'Dasar aneh!' ujarnya dalam hati. Di kamarnya, Leon tampak tengah berbaring di ranjangnya. Entah mengapa, ia merasa kesal sekali dengan Rio. Sejak kedatangan pemuda itu, Amanda menjadi aneh. Ia selalu nampak ceria. Dan yang lebih menyebalkan, ia selalu menyambut kedatangan pemuda itu dengan suka cita. Leon merasa curiga, jangan-jangan ada hubungan istimewa antara Amanda dan Rio. Jam sudah menunjukkan pukul dua lebih, tapi Leon belum beranjak dari ranjangnya. Sebenarnya, ia sudah merasakan perutnya keroncongan. Namun, saat ini hatinya masih merasa kesal pada Amanda. Amanda merasa heran, Leon mengurung diri sejak tadi. Sorenya, Amanda memberanikan diri mengetuk pintu kamar Leon. "Mas Leon ...." Amanda memanggil Leon dari balik pintu. Tak ada jawaban. Amanda memutuskan untuk langsung membuka pintu kamarnya saja. "Idih, ada orang manggil-manggil, gak ngejawab, malah asyik main ponsel gitu. Gak sopan banget sih jadi orang," omel Amanda pada Leon, sementara yang diomelin berlagak budeg, cuek-cuek aja. Leon hanya melirik Amanda sedetik. Setelah itu, ia kembali menekuri ponselnya. Amanda merasa kesal. Ia membaringkan tubuhnya di samping Leon. Ia merasa sebal dengan Leon, yang tak mengacuhkannya sejak siang tadi. "Gak usah mancing-mancing. Entar nyesel, loh." Tiba-tiba Leon bicara, tanpa mengalihkan pandangan pada ponselnya. "Yang mancing-mancing juga siapa, sih? Gak usah nakut-nakutin juga. Manda tuh cuma kesepian, butuh teman ngobrol. Sepi banget nih rumah, dah kaya' kuburan aja. Mas Leon dari tadi ngendon melulu di kamar. Lagipula, Manda yakin, Mas Leon gak bakalan ngapa-ngapain, Manda, kok," jawab Amanda dengan cueknya. "Sok tahu!" Tiba-tiba, Leon membalikkan tubuhnya, lalu menindih tubuh Amanda. Amanda terkesiap, tubuhnya kaku seketika. Wajah Leo begitu dekat dengan wajahnya. Ia bisa merasakan hembusan napas Leon menyapu wajahnya. Jantung Amanda berdegup sangat kencang, darahnya berdesir. Mulutnya seakan terkunci, tak mampu mengucap sepatah kata pun, membeku begitu saja. Ia hanya mampu diam, tanpa melakukan perlawanan. Amanda memejamkan matanya, tak kuasa menerima tatapan tajam dari Leon. Setelah beberapa saat berlalu, Leon membebaskan tubuh Amanda. Ia menelungkupkan tubuhnya di samping Amanda. "Sorry, Manda, kalau aku membuatmu takut," ujar Leon, dengan suara parau. Amanda menjauh dari tubuh Leon. Sebelum meninggalkan kamar Leon, ia menatap lelaki itu dengan pandangan tak mengerti. Sesampai di kamarnya, ia menjatuhkan dirinya di kasur. Bukan hanya sekali ini saja, ia merasakan sebuah sensasi luar biasa, saat terjadi kontak tubuh dengan Leon. Ada perasaan takut saat Leon menindihnya, tapi di sudut hatinya yang terdalam, ia menikmati hal tersebut. Ia bahkan menginginkannya lagi. 'Aku sudah gila rupanya,' ucapnya dalam hati. Malam pun tiba. "Manda, makan di luar, yuk," ajak Leon begitu melihat Amanda keluar dari kamarnya. Ia bermaksud mencairkan suasana dengan gadis itu. Ia sadar, seharian ini ia sudah bertingkah absurd--gak jelas banget. "Tumben ngajak makan di luar." Amanda menjawab dengan ketus. "Mau, gak? Bawel aja jadi orang." "Iya, bentar. Manda mau ganti baju dulu." "Gak usah ganti baju. Cuma makan di Lamongan kok, bukannya di resto." "Nyisir doang deh, boleh ya?" "Ya udah cepetan. Kutunggu di mobil." Baru saja masuk mobil, terdengar suara klakson dari luar pagar. Rio datang lagi rupanya. Amanda melirik Leon dengan sudut matanya, ingin melihat tanggapan Leon kali ini. Belum sempat Amanda bicara, Leon sudah menyuruh turun dari mobil. "Tapi, Mas ...." Amanda bingung, harus bagaimana. Tetap pergi, atau turun menemui Rio. "Sudahlah, cepetan turun sana! Temui teman istimewamu. Aku bisa makan sendiri," ujar Leon dengan nada sewot. Wajahnya terlihat memerah seakan tengah menahan amarah. Amanda pun tak jadi pergi dengan Leon. Setelah mobil Leon pergi, Leon pun memarkirkan mobilnya di depan rumah. "Ada apa, Mas" tanya Amanda pada Rio, ia merasa penasaran sekali dengan maksud kedatangannya yang tiba-tiba. "Duduk sini, Manda, aku ada info penting. Dengarkan baik-baik!" Amanda menurut. Siap mendengarkan Rio bicara. "Amanda, aku sudah menyelidiki masa lalu suamimu." Leon memulai pembicaraan. "Gercep, ya? Perasaan baru siang tadi Mas Rio bilang mau bergerak." "Iyalah gercep, ini masalah penting soalnya." Setelah itu, Rio pun menceritakan hasil penyelidikannya tentang masa lalu Leon dengan runtut. Amanda mendengarkan dengan serius. "Jadi, namanya Raisa, ya, Mas?" "Iya. Jadi, katanya tuh dulu suamimu sama Raisa itu dah tunangan. Tapi, bubar jalan karena Raisa selingkuh, dan menikah dengan cowok lain. Gagal move on lah suamimu ceritanya." Amanda manggut-manggut. Oh ... pantesan kaku gitu. Gagal move on ternyata. "Berarti selama ini Mas Leon gak nikah-nikah gara-gara Raisa, ya, Mas?" "Mungkin. Tapi kurasa benar dugaanmu, Manda, Leon masih mencintai Raisa." Mendengar pernyataan Rio tersebut, hati Amanda terasa mencelos ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN