Pukul tujuh malam, Amanda nampak asyik dengan ponselnya, ia tengah berbalasan pesan dengan Rio melalui Aplikasi Hijau. Hingga ia lupa jam makan malam. Ketika tengah asyik-asyiknya ketawa-ketiwi, pintu kamar Amanda tiba-tiba terbuka. Siapa lagi kalau bukan Leon yang datang.
"Mau apa?" tanya Amanda galak.
"Mau makan gak? Kalau gak mau ya udah, jatahmu mau tak kasihin ayam tetangga aja."
"Idih, jangan! Lapar banget, tauk!" Amanda langsung bangkit dari kasur, tak lupa membawa serta ponselnya.
Malam ini, Leon membeli ayam penyet dua porsi. Gara-gara bangun kesiangan, Amanda tak memasak hari ini. Leon dan Amanda menikmati makan malamnya dalam diam. Di sela-sela makan, Manda masih sempat berbalasan pesan dengan Rio, walaupun repotnya minta ampun, karena harus menggunakan satu jari.
Melihat ulah Amanda tersebut, Leon langsung berkomentar pedas. "Penting banget ya, sampai dibela-belain gitu. Table manner-nya dong dipakai. Cewek kok barbar gitu."
Amanda langsung terdiam, ia merasa tersindir. Amanda melirik Leon tatapan tajam. Eh, malah Leon cuek aja, tetap melanjutkan makan malam dengan santai. Terpaksa, Amanda menaruh ponselnya, biar gak dikatain cewek barbar.
'Ting'
Sepertinya ada balasan pesan dari Rio. Namun demi melihat mata Leon yang melotot, Amanda mengabaikan pesan tersebut. Daripada disemprot Leon melulu, kan?
Segera setelah nasinya habis, Amanda langsung membereskan piringnya, lalu masuk kamar, tanpa berpamitan pada Leon.
"Amanda, di TV ada kartun kesukaanmu, tuh," teriak Leon dari luar kamar. Amanda merasa kaget, sejak kapan Leon memperhatikan kebiasaannya menonton SpongeBob jam delapan sampai jam sembilan malam di salah satu channel kartun berbayar?
"Malam ini Manda gak nonton TV, Mas! jawab Manda, sambil berteriak.
Hening, tak ada sahutan dari Leon. Amanda kembali menekuri ponselnya.
Saat sarapan keesokan harinya, Leon tampak lebih ramah dan ceria. Gak jutek seperti biasanya.
"Mas, Sabtu sore nanti, temanku mau ke sini. Boleh, kan?" Amanda membuka pembicaraan.
Leon langsung memasang wajah juteknya lagi. "Cowok apa cewek? Mau apa ke sini?"
"Rio, Mas."
Leon terkejut, ia merasa familiar dengan nama itu. "Rio yang dulu pernah kamu ceritakan itu?"
"Iya, Mas."
"Bukannya kalian dah lama sekali lost contact? Kok dia tahu nomor kamu? Mau apa dia nyariin kamu?"
"Ya ampun juteknya. Dia ke sini cuma mau ngobrol, Mas. Dah lama banget kami gak ketemu."
"Pantesan kamu cengar-cengir melulu pas pegang ponsel."
"Idih, rempong! Biarin lah, ponsel-ponselku sendiri kok."
Setelah perdebatan gak jelas tersebut kelar, Amanda segera pamit berangkat kuliah. Namun, rupanya Leon masih kesal hatinya. Dia tak menjawab ucapan Amanda. Malahan langsung masuk rumah meninggalkan Amanda yang masih terbengong-bengong dengan kelakuan Leon yang aneh.
Tak terasa, Sabtu pun tiba. Sore ini, Amanda sudah nampak cantik, memakai jins overall, tak lupa menyapukan make-up tipis-tipis, untuk memyempurnakan penampilannya.
"Mau kondangan apa menyambut teman? Heboh amat dandannya," ledek Leon.
"Emang kenapa? Jealous ya?" jawab Amanda santai.
"Idih, amit-amit." Leon pun masuk ke kamarnya.
Tepat pukul empat sore, Rio pun datang. Ia mengendarai sebuah mobil hitam mengkilat. Penampilan Rio semakin menawan. Dulu, ketika Rio masih kuliah, wajahnya sudah mulai bertambah tampan. Apalagi sekarang, setelah karirnya matang, semakin menawan.
"Woi! Malah bengong sih ...!" Rio memanggil Amanda, yang masih terbengong-bengong memandanginya sedari tadi.
"Eh, hai, Mas Rio! Ganteng banget deh sekarang. Sumpah Manda pangling. Beda banget sama pas SMP" jawab Amanda panjang lebar.
"Halah, gombal, kamu, Manda! Kamu sendiri juga cantik banget sekarang. Gak sedekil dulu waktu masih SD."
Dan mereka pun tertawa terbahak-bahak. Amanda mempersilakan Rio duduk di kursi teras, sementara ia pergi ke dapur mengambilkan Rio minuman dingin. Juga menyediakan beberapa camilan untuk menemani obrolan mereka. Ketika Amanda melewati ruang tengah, nampak Leon yang tengah duduk di sana sambil bermain ponsel. Sudah keluar dari kamar, ia rupanya.
"Apa lihat-lihat!" hardik Amanda, sambil lewat.
Leon hanya melengos, tak membalas hardikan Amanda.
Sesampainya di teras, Amanda melanjutkan lagi obrolannya dengan Rio.
"Kamu gak pingin ngenalin aku sama suamimu apa?" Rio bertanya pada Amanda.
"Entar aja, deh. Bukan hal yang penting-penting amat pun," jawab Amanda santai.
Rio mengendikkan bahunya, sementara Amanda meneruskan ucapannya. "Mas Rio kok bisa awet muda gitu, ya. Awet imutnya. Dah 27 tahun kan, padahal. Jangan-jangan pas di Kalimantan Mas Rio mengabdi sama Kuyang, nih."
"Sembarangan! Yang makai Kuyang itu perempuan, bukan laki!" sembur Rio sambil mengacak rambut Amanda.
Mereka asyik mengobrol ini itu, sampai tak menyadari, bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang selalu mengawasi mereka dari ruang tengah.
Pukul setengah enam sore, Rio pamit mau pulang. Amanda segera ke dalam, memanggil Leon. Saat itu, Leon sudah masuk lagi ke dalam kamarnya.
"Mas Rio, perkenalkan ini Mas Leon, yang saat ini kebetulan sekali sedang berperan jadi suamiku." Amanda memperkenalkan Leon pada Rio.
Leon mengulurkan tangannya pada Rio "Halo, saya Leon, suami Amanda. Senang bisa berkenalan denganmu."
"Saya Rio, Mas. Teman lama sekaligus tetangganya Amanda. Saya pamit dulu, ya, Mas. Terimakasih atas semuanya."
Setelah itu, Rio pun pulang. Amanda segera membereskan teras. Sementara Leon malah duduk di kursi teras sambil melihat Amanda beres-beres. Amanda cuek-cuek saja.
"Teman apa teman? Teman kok mesra-mesraan segala, pakai ngacak-ngacak rambut gitu." Tiba-tiba Leon bicara dengan nada gak enak.
Amanda terkesiap. Kok dia bisa tahu ya, Aji mengacak-acak rambutnya tadi? Pasti Mas Leon ngintip, nih.
"Bukan urusan Mas Leon!" jawab Amanda ketus, sambil membawa bekas jamuan tadi masuk rumah.
Malamnya, Amanda kembali ngobrol dengan Rio di Aplikasi Hijau.
[Manda, suamimu kok aneh, ya?] tulisnya.
[Aneh gimana, sih?]
[Entahlah, kayak jutek-jutek gitu deh.]
[Dia emang kayak gitu, dah bawaan bayi kalik ya.] Amanda menambahkan emot tertawa ngakak.
[Kamu dah hamil belum, Manda?] tanya Rio kemudian.
[Hamil gimana? Lha wong Manda masih tersegel rapat kok.] Waduh, Amanda keceplosan, bakalan runyam ini. Mau men-delete komen, tapi telanjur sudah dibaca Rio.
[Kamu serius, Manda?] Rio menambahkan emot melongo.
[Serius, lah. Besok deh, kalau pas ketemu, Manda ceritain semuanya.]
[Oke, deh.]
***
Tak perlu menunggu lama, karena keesokan harinya, tepat pukul sembilan pagi, ketika Amanda baru saja selesai mandi dan sarapan, Rio sudah datang mencarinya.
Leon yang sedang berada di garasi membersihkan motornya, berteriak memberitahu Amanda. "Manda, keluar! Ada temanmu, tuh!"
Mulanya Amanda tidak percaya, apa iya Rio datang lagi secepat ini. Dipikirnya, Leon tengah mengerjainya, seperti biasa. Ternyata memang benar, Rio yang datang. Namun kali ini, Rio mengajaknya keluar.
"Ada acara apa memangnya?" selidik Leon, setelah Rio mengutarakan maksud kedatangannya.
"Cuma jalan-jalan, Mas. Ngobrolin masa lalu aja," jawab Rio dengan sopan.
Akhirnya, Leon pun mengizinkan mereka pergi. Rio menghentikan mobilnya di alun-alun, lalu mengajak Amanda duduk-duduk di sana.
"Gimana ceritanya, sih, sudah berbulan-bulan nikah tapi kamu-nya masih ori gitu?" Rio membuka pembicaraan dengan Amanda, mengorek informasi dari Amanda.
Meluncurlah serangkaian kisah dari mulut Amanda. Dari awal mula perjodohan hingga kondisi pernikahannya yang sudah berusia tiga bulanan sekarang.
"Begitu, Mas. Aneh gak sih, sikap Mas Leon menurutmu, Mas?" tanya Amanda setelah ia menyudahi ceritanya.
"Ya jelas aneh, lah. Kayaknya nih, dia menyimpan sesuatu, Manda. Sebuah masa lalu dengan seorang perempuan kurasa."
"Hah?"