Setelah tiga bulan

1059 Kata
Hari demi hari berganti. Genap tiga bulan sudah pernikahan Leon dan Amanda. Mereka sudah mulai akrab satu dengan yang lainnya, juga mulai tahu hal-hal yang disukai maupun yang dibenci dari pasangannya. Belakangan ini, Amanda begitu serius memikirkan rumah tangganya dengan Leon. Ia mulai memikirkan ke mana hubungan ini akan dibawa? Apa iya mau begini-begini saja selamanya, tanpa kepastian? Malam ini, Amanda telah membuat sebuah keputusan besar. Ia akan memberikan apa yang telah menjadi hak Leon sebagai seorang seorang suami. Walaupun sebenarnya ia masih bingung dengan perasaannya pada Leon. Ia memang belum jatuh cinta padanya, tapi sikap Leon yang sopan selama ini, perhatian yang ia berikan pada Amanda, telah meluluhkan hati Amanda. Leon berhak mendapatkan apa yang menjadi haknya sebagai suami Amanda. Amanda terlihat berdiri di depan pintu kamarnya Leon. Untuk beberapa saat, ia merasa ragu. Ia ingin mengurungkan niatnya. Namun, ia segera menepis ketakutannya, lalu mengetuk pintu kamar Leon. "Ada apa, Manda?" Leon menyahuti dari dalam. "Mmm ... Manda boleh masuk, gak, Mas?" Leon mengernyitkan dahinya, sebelum akhirnya, mengizinkan Amanda masuk. Amanda duduk di ranjang Leon. Matanya menatap laptop yang nampak terbuka di meja kamar. Oh, rupanya Leon tengah menonton sebuah film. Sementara Leon terus-terusan memandangi Amanda, ia masih menduga-duga maksud kedatangan gadis itu ke kamarnya. "Ada apa, Manda?" Amanda menundukkan kepalanya dalam-dalam, ia merasa malu. "A-a-aku sudah siap itu, Mas ...." ujar Amanda gugup. "Anu apa?" "Itu!" "Itu apa? Ayolah, bicara yang jelas." "Mmm ... waktu awal nikah dulu, Mas Leon pernah bilang kan, jika Mas Leon tidak akan menggauliku, sebelum aku siap. Sekarang, aku sudah siap, Mas." Leon terperanjat. Wajahnya langsung terlihat pucat pasi. Amanda bingung jadinya melihat reaksi Leon seperti itu. Leon menjawab sambil tertunduk lesu. "Maafkan aku, Amanda. Aku belum siap." Amanda melongo sejadi-jadinya. Tak menyangka dengan jawaban yang diberikan Leon barusan. "Ya, sudah ...." Amanda balik kanan, hendak meninggalkan kamar Leon. "Amanda!" Amanda langsung membalikkan badannya. "Maaf, ya, Manda," ujar Leon lembut. Amanda menganggukkan kepalanya, lalu berlalu dari hadapan Leon. Sepanjang malam itu, ia merenung. Kira-kira, kenapa, ya, dia menolaknya? Jangan-jangan Leon gak doyan perempuan? Namun ia kemudian menendang jauh-jauh ide konyol itu. Ia yakin Leon normal. Amanda masih berkutat dengan pikirannya. Apa aku kurang cantik dan seksi, ya? Besok aku mau dandan yang cantik lah, kalau di rumah mau pakai dress casual yang seksi-seksi, biar Mas Leon kepincut pingin meng-unboxing aku. Seperti itulah isi kepala Amanda saat itu. Lelah memikirkan Leon, Amanda ketiduran. "Manda, bangun!" Leon memanggil Amanda, sambil menggedor pintu. Perlahan-lahan, Amanda membuka matanya. Dengan bermalas-malasan, ia bangun dari kasur, membukakan pintu untuk Leon. "Dah jam tujuh lebih, Manda. Kamu gak kuliah apa?" "Iya, sebentar lagi aku mandi," jawab Amanda sambil menguap lebar. Amanda memandangi kasurnya yang awut-awutan. Merem 10 menit lagi, asyik kalik ya, pikirnya. Tapi niat itu seketika buyar, ketika Leon kembali menghampirinya dengan berkacak pinggang, persis mandor bangunan. "Perlu dimandiin, Manda?" Seketika kantuk Amanda lenyap. Ia langsung terbirit-b***t meninggalkan kamar, mengambil handuk di jemuran lalu pergi mandi. "Kamu gak sarapan, Manda?" "Enggak." "Mau tak anterin?" "Gak usah. Makasih." "Idih, judes bener ngejawabnya. Kamu masih marah sama aku karena tadi malam itu?" "Enggak." Leon mendengkus kesal. Namun, Amanda tak menghiraukannya. Ia tengah terburu-buru. Pukul delapan nanti, ia ada kelas. Sesampainya di kampus, ia diledekin beberapa teman. Apalagi kalau ia kebetulan habis keramas, seperti hari ini. "Cie ... yang asyik bertanding beronde-ronde tadi malam." "Cie ... yang diajak lembur suami, sampai bangun kesiangan." "Cie ... yang masih bau-bau pengantin baru, senggol bacok melulu nih, kayaknya." Amanda tersenyum kecut mendengar ledekan mereka. Ia menyesal keramas tadi tadi pagi. Jadi bahan olok-olakan jadinya. Pukul sepuluh, Amanda melihat ada sebuah pesan di Aplikasi Hijau dari Leon. [Manda, jangan lupa beli sarapan.] begitu isi pesannya. Tumben amat, perhatian. Biasanya gak pernah tuh nanyain ini itu sama Amanda, saking cueknya. Amanda meraba perutnya yang kempes karena belum sarapan, gara-gara bangun kesiangan. 'Ah nanggung, ditahan dulu saja lah, entar jam 11 beli makan. Dirapel, sarapan sekaligus makan siang,' ujarnya dalam hati. Amanda masih memainkan ponselnya ketika sebuah pesan dari sebuah kontak tanpa nama muncul di aplikasi yang sama. [Apa kabar, Amanda? Kudengar dari ibumu, kamu sudah nikah, ya. Selamat ya, aku ikut bahagia. (RIO)] Amanda membaca pesan yang ternyata berasal dari Rio itu berulang-ulang. Ia tak menyangka sama sekali, Rio akan menghubunginya, karena sudah lama lost contact dengannya. Mungkin Rio meminta nomornya pada sang ibu di rumah. [Hai, Mas Rio. Miss you so much. Kemana saja, sih, selama ini? Terakhir dengar kabar, kamu kerja di bank ya, sekarang.] [Iya, Manda. Banyak yang ingin kuceritakan padamu. Pingin banget ngobrol-ngobrol sama kamu, Manda. Tapi kayaknya gak bisa, ya. Kan kamu dah bersuami sekarang.] [Omong kosong, ah. Aku bakalan senang banget bisa ketemu dan ngobrol-ngobrol sama Mas Rio. Gini aja, Sabtu atau Minggu Mas ke rumahku. Oke?] [Gak enak sama suamimu lah, Manda.] [Udah, gak usah dipikirin. Dia orangnya santai kok. Masak iya sih, menerima kunjungan dari teman lama gak dibolehin? Aku tunggu, ya, Mas] [Okelah kalau begitu. Entar jangan lupa share loc rumahmu. Sabtu sore aku ke rumahmu] [Oke. See you on Saturday.] Hati Amanda berbunga-bunga seketika. Ia merasa senang sekali, dihubungi oleh Rio--sahabat lamanya. Rio ini sebenarnya tetangganya di Muntilan sana. Mereka sudah kenal satu dengan lainnya, sejak dulu. Walaupun usia Rio tujuh tahun lebih tua darinya, tapi Amanda merasa nyaman bermain dengannya. Rio tak pernah menakali bocah-bocah yang lebih muda usianya. Ia menjadi pengayom bagi anak-anak kecil, termasuk Amanda. Ketika Amanda mulai masuk SD, ia sering ke rumah Rio, minta diajari mengerjakan PR. Rio--yang saat itu sudah duduk di bangku SMP-- selalu menerima kedatangan Amanda dengan senang hati. Kedua orang tua Rio pun sangat akrab dengan Amanda. Amanda kecil adalah sosok yang manis sekali. Wajahnya cantik, dengan rambut yang selalu dikuncir dua. Ia selalu ceria, banyak omong dan ceplas-ceplos. Ketika Rio mulai masuk SMA, Amanda masih kelas tiga SD. Ia mulai jarang ke rumah Rio. Kata ibunya, Rio pulangnya sore terus, karena ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Apalagi sejak Rio kuliah di luar kota, hubungan mereka benar-benar menjadi renggang. Mereka bertemu, saat Rio kebetulan sedang pulang saja. Itupun ia jarang keluar. *** "Status online tapi gak ngebales pesanku. Sopan gak, menurutmu?" Baru saja turun dari motornya, Leon sudah menyambut Amanda dengan omelannya yang merdu. "Baperan, ah! Gitu aja ngambek. Malu sama jenggot, dong." "Aduh!" Leon menjerit, saat sebelah kakinya terinjak Amanda. "Jalan pakai mata, Dodol! Awas, kamu ya, entar!" Amanda segera berlari terbirit-b***t, takut dibalas Leon ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN