Tak terasa, dua bulan sudah berlalu. Hubungan Amanda dan Leon masih stuck, belum mengalami perkembangan.
"Manda!" panggil Leon, dengan suara keras.
"Apa!" jawab Amanda sambil mendelik kesal.
"Bikinin nasi goreng dong!" perintah Leon, masih dengan nada berteriak.
"Bikin sendiri lah. Ngapain nyuruh-nyuruh." Amanda menjawab dengan nada tak kalah tinggi.
"Please lah, Manda. Aku kelaparan loh." Leon memasang wajah iba.
"Ini kan hari Minggu. Biasanya pagi-pagi Mas Leon dah beli sarapan untuk kita." Amanda mulai menyiapkan bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk membuat nasi goreng.
"Sekali-kali pingin dimasakin istri boleh, kan?" Leon mulai jahil menggoda Amanda.
"Halah ... gak usah nggombal, Mas. Gombalanmu gak laku." Amanda mencebikkan bibirnya ke arah Leon.
Leon tertawa terbahak-bahak. Beberapa menit kemudian, nasi goreng sudah siap disantap.
"Enak juga masakanmu," Leon memuji masakan Amanda.
Amanda jadi tersipu-sipu jadinya. "Sebenarnya aku gak terlalu pinter masak, Mas. Malesan lagi."
"Iya, aku percaya kok, kamu kan memang pemalas," jawab Leon, sambil menyuap nasi.
Karena sudah selasai sarapan, Amanda bangkit dari kursinya.
"Mau ke mana, Manda?"
"Mau tidur. Mau ikut apa?"
"Idih, ogah!" jawab Leon dengan tampang jijik.
Amanda tertawa terbahak-bahak melihat gaya Leon yang centil kayak upil.
Keesokan paginya.
"Mas, hari ini aku pulang lambat, ya. Mau pergi sama teman kampus." Amanda berpamitan pada Leon, ketika lelaki itu hendak berangkat ke kantor.
"Temanmu cowok apa cewek?" tanya Leon menyelidik.
"Cowok sama cewek, total ada enam orang pokoknya" jelas Amanda, sambil menyisir rambutnya yang panjang tergerai.
Amanda melirik Leon dengan sudut matanya. Ternyata, diam-diam Leon tengah memandanginya. 'Baru sadar kan, kalau istrimu cantik mempesona?' ujar Amanda dalam hati.
"Pantesan kamu dandan cantik gitu," komentar Leon judes.
"Ngapain di rumah dandan cantik-cantik, wong ya cuma dianggurin kok."
"Lah, memangnya kamu minta diapain, dipisangin?"
"Ogah. Pisangmu belum mateng!" jawab Amanda, sambil ngacir ke garasi, berangkat ke kampus.
Pukul 11 malam, Amanda baru sampai rumah. Tubuhnya lelah, tapi wajahnya terlihat gembira. Hari ini Amanda beserta lima teman kampusnya, melakukan piknik bareng, jalan-jalan ke Taman Kyai Langgeng--sebuah obyek wisata di Magelang. Dah kayak anak kecil aja mereka seharian ini. Naik bianglala, komidi putar, kereta mini, dan lain-lain. Bosan bermain di Kyai Langgeng, mereka pindah ke alun-alun. Membeli gelembung sabun, lalu meniup bergantian, persis anak TK. Pukul tujuh, mereka pindah ke lesehan, makan malam di situ, sambil asyik ngobrol cekikikan.
Pukul 10 lewat, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Mainnya ke Planet Mars, ya?" ujar Leon, begitu melihat Amanda memasuki rumah.
"Ho oh. Pingin lihat alien soalnya."
Amanda memasang wajah cuek. Ia mengambil handuk dan baju ganti, bersiap untuk mandi. Sementara Leon hanya bersedekap memandangi Amanda, dengan tatapan juteknya.
"Kenapa ngeliatin melulu? Kangen, ya?" tuduh Amanda, ia merasa risih dipandangi Leon seperti itu.
Leon mencebikkan bibirnya, meniru gaya Amanda saat merajuk. Namun, Amanda tak menghiraukan lelaki itu. Ia segera masuk ke kamar mandi.
Baru saja mengguyurkan air beberapa gayung, tiba-tiba lampu di kamar mandi mati. Amanda langsung jiper. Ia paling takut dengan gelap.
"Mas ... jangan main-main dong!" Amanda berteriak dari kamar mandi.
Tidak ada sahutan Leon.
"Mas Leon!" Amanda kembali memanggilnya.
Samar-samar, Amanda mendengar langkah orang kaki berjalan mendekat.
"Mas Leon ... ini lampu kamar mandi kok mati, mati listrik total apa gimana? Cepetan bawain senter, Mas. Aku takut gelap." Amanda bicara dengan nada hampir menangis.
"Tunggu sebentar, aku cari senter dulu." jawab Leon dari luar.
Amanda meraba-raba handuk di kapstok, lalu memakainya sebatas d**a.
"Manda! Gak ketemu senternya. Pakai senter yang ada di ponselku aja, ya. Cepetan buka pintu!" perintah Leon, sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Amanda membuka pintu pelan-pelan. Lalu melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi dengan panduan cahaya dari ponselnya Leon. Tak mempedulikan tubuhnya yang hanya berbalut handuk sedada itu dipelototi Leon.
"Dah cepetan masuk kamar, pakai baju sana!"
"Iya ... galak!" jawab Amanda, kumat bawelnya.
"Nih, bawa dulu ponselku!"
Setelah menerima ponsel yang disodorkan Leon, Amanda bergegas menuju kamar, mengambil baju ganti. Memakainya cepat-cepat, lalu segera menemui Leon yang masih menunggunya di depan kamar.
"Sudah?" Leon mengambil lagi ponselnya dari tangan Amanda, lalu pergi.
"Mas, mau ke mana?" Amanda panik, takut ditinggal pergi.
"Ke teras. Ayo kalau mau ikut," ajaknya.
Amanda segera mengikutinya ke teras. Lumayan lah teras tak segelap di dalam rumah, dan yang jelas hawanya juga tak sepanas di dalam rumah.
"Mas, kalau listriknya gak nyala-nyala, gimana? Aku tak pulang ke rumahku aja po?"
"Husss ... kamu ini loh, kalau ngomong suka sembarangan. Malam-malam gini mau pulang kampung, apa kata bapak sama ibukmu nanti?"
"Lha terus nanti aku tidurnya gimana, Mas?"
"Ya, berbaring sambil merem lah, masa' iya mau tidur berdiri kaya' mummi?"
"Kita tidur bareng, ya, Mas?"
"Hah? Kamu kesambet, Manda?"
"Manda waras, tau'. Kita tidur sekamar, ya, Mas, kali ini aja. Please, ya ...."
Leon menatap Amanda tak berkedip. Meskipun dalam gelap, Amanda merasa tatapan Leon bagaikan sorot ular derik. Amanda sengaja memasang wajah iba, agar dikasihani Leon.
"Ya, deh. Kali ini aja, ya." Leon mengiyakan permintaan Amanda.
Setelah beberapa lama di teras.
"Tidur sekarang, yuk, Mas!" ajak Amanda setelah beberapa kali menguap lebar.
Tanpa menjawab ajakan Amanda, Leon beranjak dari tempat duduknya, masuk rumah. Amanda mengekor di belakangnya. Leon membuka pintu kamarnya.
"Tidur di kamarku saja, ya," ujarnya pada Amanda, sambil menyingkirkan beberapa barang dari ranjangnya.
Amanda tak bisa berkata apa-apa, selain mematuhinya. Maklum, lagi kalah posisi.
"Kamu anteng dulu di sini, ya. Kuambilkan bantal dan selimutmu."
Amanda menurut. Setelah mengambilkan bantal dan selimut milik Amanda, Leon meletakkan ponselnya di atas meja kamar, lalu merebahkan diri di samping Amanda.
"Awas loh ya, kamu jangan macam-macam!" ancam Leon pada Amanda.
Mendengar hal tersebut, Amanda melongo jadinya. 'Apa gak kebalik ya, kan seharusnya yang takut diapa-apain itu aku, bukannya dia,' omel Amanda dalam hati.
"Sorry, ya. Gak nafsu!" jawab Amanda kemudian.
"Udah merem sono! Gak usah bawel melulu!"
Amanda segera membalikkan tubuhnya, memunggungi Leon. Baru saja hendak memejamkan mata, ia teringat akan ponselnya.
"Mas, tadi ponselku kok gak diambilin sekalian, sih?"
"Tadi dah aku cek, baterai ponselmu tinggal 10%. Dah mati total palingan sekarang. Makanya punya power bank tuh dirawat, kalau lagi mati listrik gini ada gunanya, kan?" Leon malah menyalahkan Amanda.
Amanda hanya nyengir, mendengar perkataan Leon. Tak sampai lima menit kemudian, dia sudah tertidur lelap. Leon pun demikian.
Malam itu, Amanda dan Leon tidur seranjang lagi, dalam temaram lampu senter.
Sekitar pukul satu dini hari, listrik sudah kembali menyala. Leon terjaga sesaat, matanya silau terkena lampu kamar. Ia segera mematikan lampu kamar, dan menyalakan lampu tidur. Ia melihat Amanda masih tertidur lelap. Terbersit keinginan untuk pindah, tidur di kamar sebelah. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia kembali merebahkan tubuhnya di samping Amanda.
Tidur bersama Amanda ternyata nyaman juga. Ada rasa nyaman yang terbersit di hatinya. Leon kembali memejamkan matanya, menikmati kebersamaannya bersama Amanda malam itu ....