"Masuk, Manda!" perintah Leon pada Amanda.
Memasuki kamar Leon sedikit banyak membuat Amanda merasa kikuk. Ia lalu duduk di ranjang, sambil mengamati isi ruangan itu. Kamar itu berukuran kecil, tapi nampak bersih dan rapi. Hanya terdiri dari sebuah ranjang ukuran sedang, sebuah lemari pakaian, dan sebuah meja kecil, lengkap dengan kursinya.
"Ada kamar lain gak sih?" tanya Amanda pada Leon.
"Ada. Tuh di sebelah. Tapi penuh barang-barang bekas. Kamu mau tidur di sana?"
Amanda bergidik. "Mbok entar malem Mas Leon tidur di sofa saja to."
Leon melotot. "Biar orang tuaku curiga, gitu? Gak usah aneh-aneh, Manda!"
Amanda mendecak kesal. Namun, Leon tak menanggapinya.
"Yuk, ke ruang tengah! Bapak sama Ibuk pasti dah nungguin kita." Leon mengulurkan tangannya pada Amanda.
Amanda menyambut tangan Leon dengan tampang cemberut.
"Jangan cemberut gitu lah. Kolokan, kayak anak kecil aja deh, kamu,"
protes Leon.
Amanda merasa tersentil. Ia paling tidak suka dicap sebagai anak kecil, gadis ingusan dan sejenisnya. Ia langsung memasang muka ramah. Leon pun jadi lega.
"Nah, kalau gak cemberut jadi tambah cantik, kan?" Leon menggoda Amanda.
Amanda tidak menggubris ledekan Leon, padahal jauh di lubuk hatinya ia merasa berbunga-bunga, mendengar gombalan Leon.
Mereka berempat pun, kemudian duduk bersama, mengobrol, dan bercanda, sambil menikmati hidangan yang tersedia di meja.
"Kalau misalnya kamu hamil sebelum wisuda, kira-kira bagaimana, Nduk?"
Amanda tergeragap mendengar pertanyaan ibu mertuanya. Ia melirik Leon, yang duduk di sampingnya.
"Ibuk kok pertanyaannya gitu, sih?" Leon menjawab pertanyaan sang ibu.
"Lha, kan bisa saja terjadi to. Kecuali kalau habis nikah, istrimu langsung ikut KB."
Amanda merasa salah tingkah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pak Hendra segera tanggap.
"Ibuk ini loh, senengnya mikir yang aneh-aneh. Kalau komentar senengnya waton saja," tukas Pak Hendra.
Leon merangkul pundak Amanda, niatnya ingin menenangkan hati Amanda. Namun yang terjadi, Amanda malah kaget. Tadinya ia ingin menolak rangkulan Leon, tapi ia lalu tersadar, bahwa tidak mungkin melakukan hal itu di depan kedua mertuanya.
"Leon, Amanda KB apa tidak to?" Bu Hendra masih kepo.
Leon merasa jengah dengan pertanyaaan sang ibu. Namun, mau tak mau, ia pun menjawab pertanyaan sang ibu. "Enggak, Bu. Amanda gak KB."
Bu Hendra langsung sumringah. Ia nampak begitu lega. "Alhamdulilah, Ibuk sudah gak sabar pingin gendong cucu, Le."
Leon melirik Amanda. Dilihatnya, pipi gadis itu berwarna merah. Setelah itu, pembicaraan beralih pada hal lain. Amanda tentu saja merasa lega. Leon pun demikian.
Tahu-tahu dah malam aja. Kedua orang tua Leon sudah masuk kamar, padahal sekarang baru jam setengah sembilan. Dah pada ngantuk rupanya. Amanda dan Leon masih menonton TV di ruang tengah, sambil ngemil kacang rebus.
"Mas, mbok nanti Mas Leon tidur di sofa aja ya?" Lagi-lagi, Amanda mengutarakan idenya tadi.
"Wis to, gak usah aneh-aneh. Nanti malah ditanyain macem-macem sama orang tuaku, malah repot. Kamu ini loh, senengnya nyari masalah."
"Nanti kalau Bapak atau Ibuk tanya, kan tinggal bilang kalau Mas Leon ketiduran di sofa. Gitu aja kok repot loh. Ya, Mas?"
Leon tidak menggubris perkataan Amanda. Ia masih saja asyik ngemil kacang tanah rebus. Merasa dicueki habis-habisan, diam-diam Amanda mengambil sebuah bantal sofa, lalu menimpukkannya ke tubuh Leon.
"Aduh!" jerit Leon.
Amanda memasang wajah juteknya.
"Apa sih, Manda? Ribut aja kamu itu!" protes Leon, sambil memungut bantal yang tadi dilemparkan Amanda.
"Makanya, kalau ada orang ngomong itu jangan dianggurin. Jangan dipisangin, apalagi dinanasin! Pokoknya malam ini Mas Leon tidur di sofa, ya! Please lah, cuma sekali doang kan," rayu Amanda, tak lupa memasang wajah memelas agar dikasihani Leon.
Akhirnya, Leon pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan keinginan Amanda, walaupun dengan hati dongkol. "Iya, deh. Terserah lah!"
Amanda merasa lega, akhirnya malam ini, ia bisa tidur dengan tenang, tanpa takut digerayangi atau menerima tindakan horor lainnya. Bisa saja kan terjadi khilaf?
Pukul 10 tepat Amanda masuk ke kamar, tanpa berpamitan pada Leon. Ia sudah merasa ngantuk tak terkira. Leon sendiri tengah asyik menonton sebuah film thriller di sebuah channel TV. Matanya masih nampak segar bugar. Sesampai di kamar, Amanda langsung merebahkan diri di kasur, menarik selimut, dan memeluk guling. Tak sampai lima menit, ia nampak sudah tertidur pulas.
Tengah malam, hawa dalam kamar semakin panas. Amanda tidur dengan gelisah. Ia ingin menyalakan kipas, tapi malas bangun. Karena matanya masih sangat lengket, ia membuka kaos yang dikenakannya dengan mata masih terpejam. Kini, ia tidur memakai bra saja. Toh, ia tidur sendirian saja malam ini, begitu pikirnya.
Sekitar pukul tiga pagi, Amanda terjaga. Ia merasa tak tidur sendirian, ada yang berbaring di sampingnya. Jangan-jangan ....
Benar saja. Ternyata Leon sudah berbaring dengan nyenyak di sampingnya. Perlahan-lahan, Amanda mendekati Leon. Lalu mencubit tangannya dengan keras, agar dia bangun. Benar saja, dia terbangun. Leon mengerjapkan matanya beberapa kali, tapi tak berapa lama kemudian, mata Leon kini malah melotot pada Amanda.
"Kamu mau mengajak bercinta, Manda?" ujar Leon santai.
Tentu saja Amanda terkejut. Beberapa detik kemudian, barulah ia menyadari keadaannya. Amanda sontak mengambil selimut di kasur, untuk menutupi dadanya.
"Mas Leon, merem! Gak merem aku tendang sampai jungkir balik!" Amanda mengancam Leon, sembari mengambil kaos yang tadi malam ia taruh di kasur, lalu memakainya secepat kilat. Amanda merasakan wajahnya memerah bak kepiting rebus.
Seperti biasa, Leon hanya senyam-senyum, cengar-cengir melihat Amanda yang tengah salah tingkah.
"Kenapa tidur sini, sih? Kan sudah janji mau tidur di sofa!" Amanda protes pada Leon.
Yang disalahkan nampak kalem-kalem aja. "Kali ini bukan salahku loh, ya. Tadinya aku tidur di sofa. Tapi entah jam berapa tadi, bapakku nyuruh aku pindah ke kamar. Masak iya, aku berani nolak? Nanti kalau bapakku malah curiga, gimana coba?"
Amanda merasa tersudut, tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia terdiam beberapa saat. Tak berapa lama kemudian, Leon pun tidur kembali. Sementara Amanda malah masih tampak bengong, duduk di pinggir ranjang, menatap wajah Leon yang sudah kembali teridur pulas.
Dalam keremangan lampu tidur, wajah Leon pun tetap terlihat tampan. Amanda tak memungkiri hal ini. 'Benar kata Ibuk, seharusnya aku bersyukur mendapatkan suami seganteng dan sebaik dia. Mapan lagi,' ujar Amanda dalam hati.
Kemudian ia pun membaringkan tubuhnya di samping Leon, memunggunginya. Lambat laun, ia pun tertidur kembali.
***
"Mas, bangun! Dah jam enam pagi. Kita belum nyubuh loh, Mas." Amanda menowel tubuh Leon, berusaha membangunkannya.
Leon hanya menggeliat. Amanda menowelnya lagi. "Bangun, Mas!"
Leon bergeming. Amanda menghentakkan kakinya, kesal. Dengan tampang cemberut, ia mengambil handuk, sikat gigi, dan baju gantinya. Kemudian membuka pintu kamarnya perlahan-lahan, lalu mengendap-endap masuk ke kamar mandi.
"Kesiangan, ya, Cah Ayu?" sapa sang ibu mertua.
"Iya, Buk," jawab Amanda sambil tersipu-sipu, karena ibu mertuanya tengah memandangi rambutnya yang basah.
"Keramas, Nduk?"
"I-iya, Buk," jawab Amanda sambil tersipu-sipu.
Sore harinya, Leon pun pamit kepada kedua orang tuanya.
"Yang sabar ya, Nduk, meladeni Leon," ujar ibunya Leon pada Amanda, sambil memeluk gadis itu.
"Kami pamit dulu, ya, Buk." Leon mencium takzim tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Hati-hati, ya, Le. Kalau istrimu sudah hamil, jangan lupa ya, segera kabari Ibuk," pesan Bu Hendra pada putranya.
Leon dan Amanda saling melirik satu sama lain ....