Mengunjungi orang tua Leon

1173 Kata
Keesokan harinya, rumah Leon kembali sepi. Kedua orang tua Amanda sudah pulang. Kini, mereka kembali tidur sendiri, di kamar mereka masing-masing. Pagi ini, Amanda terlihat tengah sibuk mengelap motornya. “Kamu ada kuliah hari ini, Manda?” “Iya, ada dua mata kuliah hari ini. Memangnya kenapa? Mau ikut kuliah, biar bisa tebar pesona? “Sembarangan aja kalau ngomong.” Leon menggerutu. “Mau dianterin, gak? “Gak usah. Entar pulangnya malah jadi repot, harus pakai ojol.” "Ya, kan tinggal kirim pesan aja aja, entar kujemput,” jawab Leon. Amanda terdiam sesaat, lalu membalikkan tubuhnya, menatap Leon lekat-lekat, dengan tatapan kepo. Ia tengah menduga, apa yang ada di benak Leon saat itu. Tumben amat, Leon bersikap manis, pakai menawarkan diri mengantar jemput kuliahnya segala. "Kenapa malah melotot aneh gitu, sih? Susah bener deh, jadi cowok. Cuek salah, bersikap manis juga salah,” omel Leon. “Gak apa-apa. Makasih atas tawaran antar jemputnya, tapi Amanda lebih suka naik motor sendiri, deh.” “Terserah deh, kalau begitu. Aku kan cuma nawarin,” tukas Leon. Setelah itu, Leon masuk ke dalam rumah, mandi, dan bersikap-siap berangkat ke kantor. "Mas Leon dah sarapan?” tanya Amanda ketika Leon hendak memasuki mobilnya. “Belum. Entar aja deh, di kantor.” “Kenapa gak sarapan di rumah aja? Masih jam segini juga, kan? Gak enak ya, masakan Manda? Takut keracunan?” Amanda mulai merepet pada Leon. Leon mendengkus kesal. “Astaga, ngomel melulu sih jadi orang. Iya, deh, aku sarapan sekarang.” Amanda tersenyum penuh kemenangan. Katanya kemarin minta hidup hemat, lah ini malah mau sarapan di luar. Plin-plan kan namanya. Setelah Leon berangkat ke kantor, rumah semakin sepi. Amanda masih duduk di garasi. Ia tengah merenungi jalan hidupnya. Seperti sinetron FTV saja, lagi asyik-asyiknya kuliah dan menikmati masa muda, tahu-tahu aja dinikahin sama orang asing. Harus tinggal serumah lagi. Berasa lagi bermain pengantin-pengantinan aja deh, seperti masa bocil dulu. Amanda mengembuskan napasnya perlahan. ‘Ya udahlah, jalanin aja dulu,’ ujarnya dalam hati. “Amanda, sini!” Sebuah suara mengagetkan Amanda yang tengah duduk merenung di depan perpustakaan kampus. “Apa, Nad?” Amanda berjalan mendekati Nadea—teman kuliahnya. “Ke kantin, yuk, laper nih. Aku traktir deh.” Amanda melirik jam tangan mungilnya, ternyata masih jam 11. Masih ada waktu satu setengah jam lagi, sebelum dimulainya kuliah kedua nanti. “Oke lah. Yuk! Kedua gadis itu berjalan beriringan memasuki kantin. Nadea memesan soto dan es jeruk, sementara Amanda hanya memesan es jeruk saja. “Gak lapar?” tanya Nadea. “Enggak. Aku biasa makan siang jam satu lebih kok.” Mereka pun kemudian mengobrol dengan asyik. Sejak menikah, Amanda memang jadi jarang ngumpul-ngumpul dan ngobrol hahahihi dengan teman-teman kuliahnya seperti dulu. “Amanda, mo nanya nih. Tapi kamu jangan marah, ya,” ujar Nadea, dengan nada hati-hati. “Nanya apa, Nad? “Mmm … sebelumnya maaf nih. Waktu itu kan beredar kabar kalau kamu nikah mendadak tuh karena hamil duluan. Aku sih gak percaya sama sekali lah, lha wong pacar aja kamu gak punya selama ini. Ya, kan?" Amanda tertawa terbahak-bahak. Ia sudah menduga sebelumnya, jika pernikahannya yang mendadak, akan menimbulkan rumor tak sedap di antara orang-orang yang mengenalnya. “Wajar sih, kalau ada di antara kalian mikirnya sampai kaya’ gitu. FYI, biar kamu dan teman-teman lain gak pada penasaran, oke aku akan jawab. Saat ini aku gak lagi hamil, Nadea.” Amanda menjelaskan kondisinya pada Nadea, sembari tersenyum. Dalam hatinya, Amanda berucap, ‘Gimana mau hamil, wong hingga saat ini, segelku masih rapat belum dibuka kok. Masih Ori, akutuh.' Nadea terlihat manggut-manggut. “Berarti murni karena perjodohan orang tua, ya, Manda? Kok kamu mau sih, dijodohin kaya’ gitu. Gak canggung emangnya, tiba-tiba serumah, bahkan tidur sama orang asing?” cerocos Nadea, kepo. Amanda nampak salah tingkah. Ia tak ingin membuka kondisi rumah tangganya pada orang lain. Bisa runyam nanti jadinya. Ia lalu berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Udah deh, jangan ngomongin aku melulu. Eh, Nad, katanya Sherly kemarin dilabrak sama anak Hukum ya?” Nadea dan Amanda pun lalu larut dalam obrolan seru tentang hal-hal yang terjadi di kampus. Pukul empat sore, Amanda sudah sampai di rumah. Sore ini, ia sudah nampak rapi. Di meja makan terhidang sepiring bakwan dan segelas teh hangat untuk Leon. Benar saja, tak sampai sepuluh menit kemudian, nampak mobil Leon memasuki garasi. “Tumben, bikinin aku minum. Lagi waras, ya,” komentar Leon. Amanda melirik sengit. “Berisik!” Leon tersenyum simpul. “Gitu dong, jadi istri tuh pengertian. Suaminya dikasih makan, dikasih minum, dibikinin camilan, biar semakin betah di rumah.” Amanda tidak menyahuti komentar Leon, ia hanya mencebikkan bibirnya ke arah Leon. “Manda, entar Sabtu kita kita nginep di rumah orang tuaku, ya.” “Ada acara apaan?” “Gak ada. Kan sejak menikah kita belum mengunjungi mereka.” “Nginep, gak?” tanya Amanda was-was. “Ya, iyalah. Sehari doang, kok. Memangnya kenapa, kamu grogi ketemu mertua?” Amanda hanya nyengir kuda. Dalam hati, ia membenarkan ucapan Leon. Tahu-tahu dah Sabtu aja. Sore ini, Leon sudah nampak rapi. Sebuah traveling bag kecil berisi baju ganti sudah siap ditenteng. Leon juga sudah membeli beberapa oleh-oleh untuk kedua orang tuanya. “Amanda! Ayo berangkat!” teriak Leon, memanggil Amanda. Yang dipanggil, malah duduk bengong aja di kasur sedari tadi. Leon tak sabar, ia segera membuka pintu kamar Amanda. “Kamu kenapa, kok kayak ogah-ogahan gitu?” Amanda menjawab dengan suara lirih, “Aku grogi, Mas.” Leon tergelak, mendengar jawaban lugu Amanda. “Udah, deh, santai aja lagi," hibur Leon, berusaha menenteramkan hati Amanda. “Entar di sana kita tidur bareng, Mas?” “Oh, jadi selain grogi karena mau bertemu mertua, kamu juga grogi karena harus tidur sekamar lagi sama aku?” Amanda mengangguk. Lagi-lagi, Leon tergelak. “Entar bisa diatur. Aku gak bakalan macem-macem kok, tenang aja. Udahlah, ayo berangkat!” Mau tidak mau, Amanda beranjak dari ranjangnya, mengambil backpack-nya, lalu masuk mobil bersama Leon. Beberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah orang tua Leon, di Desa Tempuran, pinggir Kota Magelang. “Halo, Nduk Cah Ayu, sini masuk!” sambut Bu Hendra—ibunya Leon. Amanda mencium takjim tangan bapak dan ibu mertuanya. Leon juga melakukan hal yang sama. “Sepertinya Ibuk sehat bener, deh,” ujar Leon pada ibunya. Sang ibu tersenyum simpul, “Iya, Le, alhamdulilah Ibuk sekarang sehat terus. Sudah Lega, karena kamu sudah mau menikah, Le.” Amanda melirik Leon. Pada saat yang sama, Leon juga tengah melirik Amanda. Alhasil, mata mereka pun bersirobok. Amanda langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Leon pun demikian. “Antar istrimu ke kamarmu, Le!” perintah Bu Hendra kemudian. Leon langsung sigap, menggandeng tangan Amanda, lalu membimbingnya masuk ke kamar. "Asyik, malam ini ada yang nemenin aku tidur," bisik Leon di depan pintu kamar, jahilnya kumat. "Jangan macam-macam, ya, Mas! Siap-siap aja tak tendang sampai Merbabu sono, kalau berani iseng." Amanda balas mengancam. Leon tergelak. "Bercanda, Manda. Aku mana berani melawan T-Rex." Amanda mencubit Leon dengan sadis. "Dah tahu segalak T-Rex, mau-maunya nikah sama aku." "Terpaksa, keleus!" jawab Leon, sambil membuka pintu kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN