Ia sudah siap menyangkal ucapan sang ayah, tapi tidak jadi, karena tiba-tiba Leon memeluknya dari samping, tanpa malu-malu. Tindakan Leon membuat Amanda tersipu malu. ‘Awas kamu Leon!’ geramnya dalam hati.
“Iya, Pak. Saya paham kok,” jawab Leon sopan, tangannya mengelus-elus rambut Amanda yang lembut tergerai. Pencitraan!
Yang dielus-elus dongkol bukan main, risih, dan malu bukan main. Namun Amanda segera sadar diri, berusaha mengimbangi peran Leon. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Leon. Sekarang, giliran Leon yang salah tingkah.
Sementara bapak dan ibunya Amanda mesam-mesem saja melihat kemesraan anak dan menantunya. Mereka sangat maklum, namanya juga pengantin baru.
Justru mereka malah lega melihat keakraban dan kemesraan antara anak dan menantunya itu. Apalagi, mereka menikah dengan cara dijodohkan, dan belum mengenal satu sama lain sebelumnya.
“Bapak Ibuk menginap, kan, ya.”
“Iya, hanya sehari kok. Ibuk kangen sekali sama Amanda, Mas.” Kali ini, ibunya Amanda yang menjawab.
Leon mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudut bibirnya membentuk senyum yang aneh. Entah apa maksudnya. Amanda melirik Leon dengan ekor matanya. Yang dilirik, malah pura-pura gak lihat. Dasar!
Pukul satu siang, mereka berlima makan bersama. Tadi Amanda memasak bersama sang ibu. Pak Rochim juga sudah selesai membereskan kamar sebelah. Perabotan yang tadi Leon beli, juga sudah tertata rapi. Kamar itu sudah siap huni sekarang.
“Bapak dan Ibuk barangkali mau istirahat, itu kamarnya sudah siap,” Leon menawari orang tua Amanda, lalu menghampiri Amanda dan membimbingnya masuk ke kamar mereka. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan gadis itu.
Amanda bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, menuruti apa saja perintah Leon. Walaupun dengan hati dongkol.
Begitu sampai di kamar, Amanda segera menyentakkan gengaman tangan Leon. Leon cuek saja. Ia mengajak Amanda duduk di ranjang.
“Mau apa, sih?” Amanda bicara dengan nada jutek.
“Sssstt! Jangan keras-keras, nanti mereka dengar!”
“Apaan?” Kali ini, Amanda merendahkan nada bicaranya. Ia lalu duduk di samping Leon, tapi tetap menjaga jarak.
“Mau gak mau, suka gak suka, malam ini kita harus tidur sekamar. Ngerti kan, maksudku?”
Amanda tercenung mendengar ucapan Leon barusan. Waduh, modyar nih, seranjang sama Leon lagi.
"Tapi Mas Leon jangan dekat-dekat aku ya, tidurnya. Jangan melangkahi pembatas. Terus, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!”
“Gayamu! Yang tidurnya jelalatan, muter kayak baling-baling tuh, kamu, bukan aku! Aku mah tidurnya anteng.”
“Anteng apaan! Yang kemarin tangannya nemplok di badanku tuh tangannya siapa?”
“Itu kan karena lagi ngimpi ngelonin janda, keleus!”
“Idih, jorok! Awas kalau besok mimpi yang enggak-enggak lagi. Entar tahu-tahu Amanda yang dijadiin sasaran. Dasar tukang modus!”
Leon tak mempedulikan tuduhan Amanda. Ia bergegas menyalakan AC kamar, lalu berbaring di ranjang, sisi sebelah kanan.
“Mau apa?” tanya Amanda judes, ia menggeser tubuhnya, menjauhi Leon, takut terjadi kontak tubuh.
“Mau tidur lah, masak mau nukang?”
“Itu gulingku!” Amanda berusaha merebut guling yang sedang dipeluk Leon.
Leon tetap mempertahankan guling itu. Amanda merasa gemas. Ia kerahkan tenaganya kuat-kuat. Tapi Leon justru malah melepaskan guling itu.
Brrruuk ….
Amanda mengaduh. Ia terjerembab ke lantai. Pantatnya mendarat di lantai dengan sukses. Ia meringis kesakitan.
“Ada apa, Manda?” Terdengar suara dari luar.
Leon dan Amanda saling berpandangan.
“Tidak ada apa-apa, Buk. Amanda Cuma jatuh dari kasur.”
“Woalah, siang-siang gini kok ya mesra-mesraan to. Mentang-mentang pengantin baru.”
Pipi Amanda memerah. Ia merasa malu sekali. Leon merasa di atas angin. Ia puas menertawakan Amanda.
Amanda membaringkan tubuhnya di sebelah Leon. Keduanya berbaring saling memunggungi.
“Dah, kalau ngantuk merem aja. Gak usah mengkhayal yang enggak-enggak gitu.” Suara Leon membuyarkan lamunan Amanda.
“Sok tahu!”
Leon merasa gemas dengan Amanda. Ia membalikkan tubuhnya ke arah Amanda, lalu menowel bahu gadis itu. “Amanda!"
“Apa, sih?”
“Aku gak bisa tidur, temani aku ngobrol lah.”
“Mmm ….”
“Rio itu siapa, sih?”
“Tahu nama Rio dari mana, Mas?”
“Bapak ibumu pernah menyebut namanya saat kami ngobrol dulu.”
“Serius ini nanyain Rio?”
“Iya, serius.”
“Jadi, Amanda kenal sama Mas Rio itu dah sejak lama. Kan tetanggaan. Walaupun umur kami beda tujuh tahun, tapi kami selalunya main bareng gitu, dekat banget lah hubungan kami pokoknya. Cuma, setelah dia lulus SMA, aku jarang banget lihat dia. Soalnya kan dia kuliah di luar kota. Setelah wisuda, dia kerja di luar Jawa. Nah, baru setahunan ini dia balik lagi ke Muntilan, kerja di sini.”
“Kenapa balik lagi ke Jawa?”
“Waktu itu ibunya sakit, jadi dia memutuskan untuk resign. Nyari kerja di sini, biar bisa nungguin orang tuanya. Gitu.”
“Emangnya Rio anak tunggal?”
“Ada sih kakaknya, cewek. Tapi ikut suaminya, tinggal di Jawa Timur.”
Hening beberapa saat. Amanda masih menunggu pertanyaan lainnya dari Leon. “Mas … mau nanya lagi, gak? Kalau gak, Manda mau tidur nih.”
“Mmm … jadi, Rio itu cinta pertamamu, ya?”
Amanda membalikkan tubuhnya, ingin mencubit Leon karena merasa gemas. Amanda terkejut, karena wajah mereka berdua kini berhadap-hadapan. Ia pikir, Leon masih memunggunginya. Kini, mereka saling bertatapan. Rona merah mulai menjalar di pipi Amanda.
“Kenapa berbalik arah? Pingin nyium aku karena gemas? Sinilah cium, aku tak merem deh, biar kamu gak malu.” Leon mulai jahil pada Amanda.
“Nih, ciuman dariku!” ujar Amanda, sambil mencubit pipi Leon.
Leon secara refleks menangkap tangan Amanda, lalu menggengamnya erat-erat.
“Lepasin!”
“Ogah!”
“Mas ….”
“Hmmm ….”
“Lepasin! Manda mau tidur, ngantuk. Kekenyangan tadi.”
“Cium dulu, dong.”
“Ogah!”
“Ya udah, kalau gak mau.” Leon membalikkan tubuhnya, otomatis tangan Amanda ikut terseret. Tubuhnya kini menempel erat pada tubuh Leon.
“Aduh!” Leon menjerit, ketika Amanda menghujaninya dengan cubitan, dengan sebelah tangannya. Keduanya kini bergumul di ranjang, saling cubit dan saling elak.
“Kalian ini loh, siang-siang gini kok ya ribut saja dari tadi. Berisiknya dah kayak kucing mau kawin.” Tiba-tiba, suara ayahnya Amanda terdengar dari balik pintu kamar mereka.
Leon dan Amanda tersipu. Mereka langsung menarik diri, saling menjauh, dan saling memunggungi kembali. Kamar itu menjadi hening, tanpa canda tawa dan obrolan mereka lagi. Lama-lama, keduanya pun tertidur nyenyak.
Di kamar sebelah, orang tua Amanda tengah mengobrol.
“Pak, kalau menurut Bapak, gimana itu Nak Leon sama Amanda?”
“Gimana apanya?”
"Lha ya hubungan keduanya to. Ibuk khawatir, Amanda tidak bisa mengimbangi Nak Leon. Bapak kan tahu, perbedaan umur mereka cukup jauh, 17 tahun. Amanda kadang masih kekanak-kanakan, pecicilan, pethakilan. Dah gitu, mereka ini menikahnya karena dijodohkan, bukan karena kemauan sendiri lho, Pak.”
“Gak usah terlalu dipikir, Buk. Bukannya Ibuk sendiri to, yang dulu bilang bahwa ‘witing tresno jalaran saka kulina’, cinta datang karena terbiasa. Beri kesempatan kepada mereka untuk beradaptasi. Biarkan mereka saling mengenal satu sama lain, memahami karakter pasangan, dan lain-lain. Kita, sebagai orang tua, sebaiknya tidak memburu-burunya untuk segera punya anak. Itu bisa menjadi beban bagi mereka. Yang paling penting, biar mereka merasa nyaman dulu. Masalah anak sih gampang, bisa dirembuk nanti. Iya, kan, Buk?”
Tidak ada jawaban dari sang istri. Pak Rahmat mencebikkan bibirnya. “Diajak ngobrol, lha kok malah ditinggal tidur. Kebiasaan!”