↪Happy Reading↩
Joyceline memeluk tubuhnya sendiri. Matanya menatap kosong lampu tidur yang ada di hadapan nya. Sekujur tubuhnya sakit. Terlebih bagian inti nya.
Di kepalanya, terdapat banyak pertanyaan. Padahal dia tahu, seharusnya dia tidak perlu memikirkan pria yang sudah membuat nya seperti ini. Dia menghela nafasnya dan keluar dari selimut yang membalut tubuh nya.
Dengan tertatih, dia berjalan menuju sofa yang berada di kamar nya. Dia meraih ponsel nya dan mendial nomor Lily, Joyceline tersenyum ketika perempuan itu mengangkat telfon nya di deringan pertama.
"ASTAGA CELINE, APA KAU TAHU BAGAIMANA KHAWATIRNYA AKU?!"
Terdengar teriakan histeris dari Lily di sebrang sana. Hening setelahnya. Dia tidak membalas teriakan Lily dengan teriakan lainnya atau pun kata-kata yang dapat membuat Lily jengkel seperti biasanya.
"Beritahu aku, siapa yang mengajak mu ke club?! Aku menyusul kesana setelah mengetahui tentang club dari supir mu. Tapi kau justru tidak ada disana."
"Aku juga mencarimu ke rumah, tapi hanya menemukan orang orang menyebalkan disana sedang berpesta tanpa dirimu. Aku pulang ke apartemen, tapi kau juga tidak ada. Kau kemana malam tadi?!"
Joyceline termenung. Haruskah dia bicarakan hal ini pada Lily? Haruskah dia mengatakan jika dia menghabiskan malam dengan David? Membiarkan David menodai nya dalam keadaan mabuk?
Tapi setelahnya dia menggelengkan kepalanya. Jika dia membicarakan hal ini pada Lily, mungkin saja akan terjadi sesuatu yang tidak beres nantinya. Apalagi mengingat bagaimana khawatirnya perempuan itu saat mengetahui jika Joyceline pergi ke club.
"Aku... Hanya menginap di salah satu hotel di dekat club. Jangan khawatir." sahut Joyceline pada akhirnya. Dia tersenyum tipis, ternyata dia harus berbohong pada Lily.
Terdengar Lily menghela nafas nya di seberang sana, "Baiklah. Bagaimana dengan sekarang? Kau sudah kembali ke rumah?"
"Emm, begitulah." jawab Joyceline. Dia menipiskan bibirnya, menimbang nimbang apakah dia harus mengambil libur untuk hari ini. Tapi jujur, dia tidak yakin apa dirinya sanggup untuk bertahan diantara kerumunan orang dan memasang senyuman terbaiknya.
"Lily?" panggil Joyceline
"Apa?" balas Lily
"Aku... Apa aku boleh untuk libur untuk sehari ini? Rasanya aku tidak enak badan. Tubuhku panas." pinta Joyceline
Hening beberapa saat hingga terdengar Lily yang berdeham beberapa kali.
"Tentu. Menurutmu aku dan agensi akan memaksa seseorang yang sakit bekerja? Dimana hati nurani ku? Lagipula jadwal mu luang hari ini." kesal Lily
Joyceline tertawa mendengar nada kesal Lily yang seolah menyindirnya.
"Baiklah, terimakasih bu Manager. Aku sangat senang kau sangat memanjakan ku!" seru Joyceline. Dia tertawa riang setelahnya, seolah rasa sakit di tubuh dan hati nya tidak terasa.
"Hahh, baiklah Celine. Aku senang kau baik baik saja."
"Tapi jika kau mengalami masalah, kau tahu harus datang padaku, kan?"
Kini ganti Joyceline yang terdiam. Ucapan Lily seolah menohok nya. Tapi detik selanjutnya, Joyceline kembali memberikan tawa nya pada Lily.
"Uhm, tentu saja. Aku tahu jika Lilyanna ku adalah Ibu terbaik yang aku punya!" tegas Joyceline
"Aku tutup telfon nya, ya?" tanya Joyceline
"Silahkan. Beristirahatlah. Jika demam nya semakin parah, kau harus memberitahu ku." jawab Lily
Joyceline tersenyum, "Tentu. Bye Lily."
Setelah mematikan telfon nya, Joyceline melangkah masuk ke kamar mandi dengan langkah perlahan. Dia menyalakan keran air dan menyetel suhu nya hingga cukup hangat.
Sambil menunggu air untuk mandi nya hangat, Joyceline termenung. Memikirkan harga diri nya yang menghilang dalam semalam.
Pikiran Joyceline berkelana jauh. Meninggalkan raga nya yang saat ini masih terpaku di pinggir bathub besar.
Apa David sudah bangun?
Apa yang dia lakukan sekarang?
Apa pria itu mengingat semua perbuatan nya semalam pada dirinya?
Joyceline menghela nafasnya dan menutup kedua matanya, kembali mengingat apa yang terjadi semalam setelah dia melakukan itu dengan David.
"Kesalahan apa yang aku perbuat padamu hingga kau kembali pergi dari hidupku?"
Pertanyaan bernada lirih itu keluar dari mulut David. Joyceline tahu, David tengah putus asa saat ini. Perempuan itu juga tahu, jika David tengah merasakan sebuah penderitaan dalam dirinya. Sebuah penderitaan yang tanpa sengaja terkuak dihadapan nya karena David tengah mabuk.
Lily selalu bilang, untuk jangan pernah menangis terlalu lama. Karena setelahnya, kita akan merasa pusing. Dan saat ini, Joyceline membenarkan ucapan Lily.
Tubuhnya terasa panas, bahkan ketika saat ini, tubuhnya sama sekali tidak tertutupi oleh pakaian sama sekali. Hanya selimut berwarna merah yang menutupi tubuhnya saat ini.
Tapi Joyceline enggan kembali menjadi teman malam David. Dia harus pergi, secepatnya. Jadi dia melepaskan pelukan David dan mencoba berdiri tegak. Walau setelahnya, dia kembali terjatuh.
Perih.
Bagian bawah tubuhnya menjerit protes ketika Joyceline memaksakan dirinya untuk berdiri. Tangisan yang sejak tadi ditahan oleh nya berubah menjadi isakan kecil. Dia memeluk dirinya sendiri, tanpa memperdulikan David yang masih berada di atas ranjang.
Dia tidak baik baik saja. Bahkan keadaan nya sekarang sangat tidak baik baik saja. Dia lelah, sangat lelah.
Joyceline merasakan tubuhnya terangkat. David membawanya kembali ke atas tempat tidur.
"Maaf." lirih pria itu
Terlambat.
"Kau pikir semudah itu, David? Bahkan ketika orang yang aku suka, merusak ku seperti ini... Aku tidak bisa memaafkan nya." sahut Joyceline. Dia menatap David dengan kedua matanya yang basah.
David mendekap nya, pria itu mengusap rambutnya, menenangkan nya.
Hingga... Kesadaran Joyceline perlahan memudar. Dia kehilangan kesadaran setelah menangis, meraung dan menyumpahi dirinya sendiri yang hanya bisa terdiam dan merasakan seluruh tubuhnya kesakitan saat David menodai nya.
'Mungkin... Aku adalah orang terbodoh di muka bumi. Tapi tubuhku sangat lemas...'
'Aku... Tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Aku tidak yakin jika aku bisa bersikap normal, setelah apa yang terjadi antara aku dan David malam ini.'
Joyceline membuka kedua matanya. Dia mengusap sudut matanya dan memutar keran air karena air sudah memenuhi bathub nya. Dengan perlahan, dia menanggalkan pakaian nya dan melangkah masuk ke dalam bathub.
Dia menyandarkan dirinya pada sisi bathub dan termenung, "Kau salah David. Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu." gumam nya
"Apa kesalahan yang sudah aku lakukan hingga kau memperlakukan ku seperti ini?" lanjutnya dengan suara kecil
Perlahan, Joyceline kembali memejamkan matanya. Membiarkan tubuhnya di balut oleh air hangat, berharap agar luka yang di tinggalkan ditubuhnya oleh David, dibilas oleh air hangat itu.
Bahkan, jika boleh... Joyceline ingin agar luka yang ada di hatinya turut menghilang setelah dirinya membilas tubuh nya dengan air hangat.
✳✴✳✴✳
"Astaga!" seru David. Pria itu menatap bayangan dirinya sendiri di cermin yang berada di dalam kamar nya di Apartemen.
Tubuhnya tidak di balut oleh apapun saat dia bangun. Karena itu dia dengan tergesa memakai boxer yang entah bagaimana tergeletak mengenaskan di lantai kamarnya. Dia tambah terkejut ketika tubuhnya dipenuhi luka cakaran.
David menelan ludahnya dan berbalik kembali menuju tempat tidurnya. Dia menyibak selimut yang sejak tadi menutup tubuhnya. Matanya membelalak terkejut ketika melihat bercak merah menodai sprei nya yang berwarna putih.
"Darah?" gumam nya terkejut. Dia terpaku melihat noda itu. Pikiran nya yang masih kacau karena efek minuman mulai membentuk satu persatu memori.
David terhuyung. Dia langsung jatuh terduduk di atas ranjang.
"Siapa?"
"Siapa yang tidur denganku semalam?" tanya nya
Deringan telfon yang berasal dari atas meja membuatnya tersadar dari keterpakuan nya. Dia melangkah cepat meraih ponsel nya. Banyak panggilan masuk dari Adam. Pria itu tidak berhenti mengirimi nya pesan dan telfon.
"Ada apa?" tanya David langsung
"Kau dimana?!" sahut Adam
"Aku di rumah." jawab David singkat. Mata nya berkali kali melirik bercak merah yang terlihat sangat jelas.
Dia bahkan tidak menghiraukan ucapan Adam yang memberitahu nya tugas hari ini. Isi kepala nya kacau.
"Bisa kau ulangi?" tanya David
Pertanyaan bernada polos itu keluar dari mulut David. Cukup untuk membuat Adam meraung kesal dan ingin membanting ponsel nya ke lantai.
"Ada apa denganmu?!" kesal Adam
"Adam, entah bagaimana... Tapi sepertinya pikiran ku sedang kacau saat ini. Aku tidak bisa mendengar apapun dengan jelas." jelas David tergesa
Dia menutup bercak darah yang mengganggu nya dengan selimut. Kemudian melangkah tergesa menuju cermin, kembali memperhatikan tubuhnya yang dipenuhi luka cakaran.
"Dilihat dari mana pun, seperti nya jelas ini pemerkosaan." gumam David. Dia tidak menyadari jika panggilan nya dan Adam masih tersambung.
"Apa? Apa yang kau katakan?"
Beruntung nya, pria itu tidak mendengar apa yang Davi katakan. David berdecak pelan dan mengusap wajahnya penuh frustasi.
"Aku akan segera pergi ke kantor. Jelaskan pekerjaan ku hari ini dan aku akan memberitahu mu sesuatu yang penting. Karena seperti nya... Ini akan menjadi masalah yang panjang." ujar David
"Ugh, okay. Cepatlah datang." sahut Adam singkat
David menutup telfon nya. Dia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dengan tergesa, David berjalan memasuki shower dan membilas dirinya disana.
Dia menutup matanya.
Tapi apa yang dia lihat setelah nya, membuat David kembali membuka matanya. Dia dapat melihat seorang perempuan yang menangis. Menatapnya dengan penuh kesakitan.
Sayang nya, wajah perempuan itu tidak terlalu jelas.
David tidak bisa melihat wajahnya dengan baik.
"Siàl." umpatnya
David menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar. Apa yang sudah dia lakukan malam tadi hingga ranjang nya memiliki bercak darah dan tubuhnya dipenuhi bekas cakaran.
"Tidak. Bukan saat nya memikirkan ini. Aku akan kembali mencari tahu siapa perempuan itu saat pekerjaan ku sudah selesai." tekad David. Jadi dia kembali melanjutkan kegiatan nya membersihkan diri hingga lima belas menit kemudian, dia telah menyelesaikan kegiatan nya.
David memakai seragam nya dengan tergesa. Sesekali meringis ketika pakaian nya menggesek luka cakaran yang ada di tubuhnya. Setelah dirasa siap, dia segera keluar dari kamar dan berlari dengan tergesa menghampiri lift yang berada di ujung ruangan.
David menatap pantulan dirinya di cermin. Dahinya mengerut memikirkan apa yang sudah dilakukan nya malam tadi. Namun sayang nya, ingatan nya berhenti pada saat dia mabuk di club.
"Seharusnya aku tidak mabuk." desis David
✳✴✳✴✳
"David, apa kau mendengarkan apa yang aku katakan?" tanya Adam skeptis. Terlebih ketika David hanya diam termenung menatap udara kosong di hadapan nya.
"For godness sake! Jika kau sedang memikirkan hal yang tidak penting, singkirkan itu terlebih dahulu. Kita memiliki tugas penting." keluh Adam
David menyandarkan tubuhnya dan memijit dahinya pelan. Dia melirik Adam dan menatap pria yang berada di dekatnya itu dengan serius.
"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran ku ini penting atau tidak. Tapi aku akan sangat berterima kasih jika kau mau menjelaskan padaku soal tugas kita kali ini." ujar David
Adam kembali mengerang kesal. Dia berjalan ke meja nya sendiri dan menyandarkan kepalanya di permukaan meja.
"Aku sudah melakukan nya tiga kali, David. Tiga kali!" tekan nya sebal
Adam kembali menegakkan tubuhnya dan menatap David dengan kesal, "Kasus pembunuhan, David. Ku dengar korban nya diperkosa dan di bunuh." jelas Adam secara singkat
Mendadak, David memfokuskan perhatian nya pada Adam, "Pemerkosaan?" tanya nya serius
Adam mengangguk, dia menyodorkan setumpuk kertas yang ada di tangannya pada David. Yang langsung diambil oleh pria itu dengan cepat.
"Aku tidak mengerti kenapa masih ada peristiwa mengenaskan seperti ini." ucap Adam. Pria itu menatap David dengan serius dan menegakkan tubuhnya, seolah menandakan jika dia tengah serius saat ini.
"Dilihat dari bekas luka di tangan, kaki dan leher perempuan itu, sepertinya dia melakukan perlawanan. Karena itu, pelaku nya nekat menghabisi nya saat itu juga." lanjut Adam
Lain dengan apa yang dia dengar, pikiran David justru mengarah pada peristiwa semalam. Walau dia tidak tahu pasti siapa, tapi perempuan yang dia tiduri semalam pasti tidak menginginkan hal ini terjadi.
Terlebih kilasan ingatan yang berada di kepala David tentang perempuan yang menangis, masih melekat jelas di kepala nya.
"Adam... Seorang PSK, apa mereka akan menangis saat melayani klien mereka?" tanya David tiba tiba
Pertanyaan itu cukup untuk membuat Adam mengerutkan dahi dan menatap David dengan wajah menghina, "Apa maksudmu?" sahut Adam
"Seseorang yang bekerja dalam bidang itu... Apa mereka akan menangis saat melakukan nya?" ulang David serius, dia bahkan menekan rasa malu yang timbul karena pertanyaan nya pada Adam terlalu blak-blakan.
Adam berfikir sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya tidak yakin, "Entah. Tapi aku rasa tidak. Mereka mengambil pekerjaan itu, tanda nya mereka mengetahui konsekuensi nya kan? Mereka mungkin saja harus melayani seseorang yang baru saja mereka temui." jelas Adam
David mengerang. Dia mengusak rambutnya hingga berantakan. Setelah menimbang beberapa hal, dan meyakinkan dirinya jika dia mungkin bisa mendapatkan bantuan dari Adam, David beranjak dari duduknya.
"Ayo selesaikan pekerjaan kita hari ini. Setelah itu, temani aku untuk minum kopi di cafe di samping rumah sakit." ajak David
Adam mendengus dan mengangguk. Dia turut beranjak dan meraih jaket yang berada di sandaran kursi nya. Pergerakan nya terhenti saat melihat space kosong yang biasanya tidak ada di meja David.
"Aktris itu, Joyceline. Dia tidak mengirimi mu bekal?" tanya Adam
David menolehkan kepala nya ke atas meja. Benar. Ada space kosong yang biasanya diisi oleh kotak bekal yang diberikan oleh Joyceline.
"Entah. Sepertinya tidak." jawab David pelan. Sedetik kemudian, dia menggelengkan kepalanya, mencoba untuk fokus pada pekerjaan nya.
"Sudahlah. Ayo pergi. Mungkin Joyceline sibuk. Dia seorang aktris, seperti katamu." lanjut David
Adam tersenyum kecil, "Benar. Terkadang aku lupa dia adalah aktris karena dia terlalu baik hati dan ramah pada semua orang."