Joyceline mendorong David menjauh. Matanya menatap pria itu penuh keterkejutan. Tidak menyangka jika pria yang selama ini dia hindari mati matian justru mendatangi nya dan menciumnya.
"Kau mabuk. Pulanglah." usir Joyceline. Dia bahkan menempelkan tubuhnya ke dinding untuk memberi jarak antaranya dan David sejauh mungkin.
Pandangan pria itu menyendu. Dia berjalan sempoyongan ke arah Joyceline yang berada di hadapan nya. Tubuhnya ambruk begitu saja di atas Joyceline, mengurung perempuan yang tidak sempat menghindar itu dengan tubuhnya yang jauh lebih besar.
"Hangat." gumam David. Dia menempelkan kepalanya di bahu Joyceline yang terbuka. Menghirup dan mengecup bahu itu dengan gerakan lambat.
"Tubuhmu selalu hangat. Aku menyukainya." lanjut David
Joyceline menghela nafasnya. David sudah terlalu mabuk, tidak ada guna nya berbicara dengan pria yang setengah dari kewarasan nya sudah menghilang akibat mabuk.
"Kau harus pulang. Aku akan mengantar mu." ajak Joyceline. Dia memapah tubuh David dan mengajaknya keluar dari club.
Joyceline menghampiri taksi yang berada di luar club. Dengan hati hati, dia membantu David untuk masuk ke dalam mobil sebelum akhirnya turut masuk ke dalam taksi.
"Kemana, Nona?" tanya Supir taksi itu
Joyceline menyesap bibirnya sendiri, dia melirik David.
'Akan jadi masalah jika aku mengajak nya ke Apartemen Lily.' pikirnya
"Ke Apartemen Legiond." putus Joyceline pada akhirnya. Sang supir mengangguk dan langsung menjalankan mobilnya.
Joyceline kembali melirik David. Wajah pria itu dipenuhi semburat merah. Sepertinya dia sudah terlalu mabuk. Tatapan Joyceline turun pada pakaian yang dikenakan David. Pria itu sudah menanggalkan semua pakaian kerja nya.
David hanya memakai celana bahan dan kemeja putih yang bagian atas kancing kemeja nya sudah terbuka. Menampilkan bayangan garis kotak yang membentuk d**a bidang di tubuhnya. Joyceline menggembungkan pipinya dan menggeleng.
Apa yang dia pikirkan?
Tubuhnya tersentak kaget ketika David menyandarkan kepalanya di bahu sempitnya. Hal itu membuat Joyceline duduk tegak dengan kaku. Dia melirik supir yang berkali kali tersenyum tipis.
"Tidak apa, Nona. Jangan sungkan. Saya tidak akan mengatakan apapun pada media. Setelah malam ini, saya akan tutup mulut. Jika Nona ingin mendekapnya agar dia dapat tidur dengan nyaman, saya akan pura pura tidak melihat."
Seolah mengerti apa yang di khawatirkan oleh Joyceline, supir taksi yang sedang mengemudikan mobilnya itu mengatakan sesuatu yang membuat Joyceline tersenyum tipis. Senyuman yang sarat akan arti.
Dia bukannya khawatir jika seseorang akan melihat dan melaporkan ke media. Tapi dia menjadi kaku seperti itu karena khawatir jika dinding yang dia bangun sebagai pembatas antara David dan dia akan hancur.
Joyceline melirik David yang tertidur di bahu nya, dia menghela nafasnya dan memeluk David. Membiarkan pria itu bersandar di d**a nya untuk tidur. 'Aku melakukan nya karena kasihan. Bukan karena aku menyukainya.' pikir Joyceline
Tanpa disangka, David membalas pelukannya. Pria itu bergumam kecil sebelum akhirnya kembali tertidur lelap seperti bayi.
Sepanjang perjalanan menuju Apartemen milik keluarga David itu... Joyceline habiskan dengan memandang wajah pria yang tertidur. Sebelum akhirnya rasa pening kembali hinggap di kepala nya.
Joyceline terdiam. Dia rasa, pusing di kepalanya bukan hanya karena dia sedang sakit. Tapi karena efek minuman milik Debora yang di minum nya sedikit karena penasaran akan sensasi dari wine yang memabukan itu.
Joyceline menghela nafasnya. Kedua matanya menyendu, sebelum akhirnya tertutup dengan sempurna. Hendak mengistirahatkan dirinya sendiri dari situasi yang ada saat ini.
'Aku ingin pulang.'
✳✴✳✴✳
Dengan susah payah, Joyceline membawa David masuk ke dalam kamar pria itu di apartemen. Untungnya di meja resepsionis tadi tidak ada yang berjaga. Dan untung nya lagi, bertepatan dengan itu ada pesan masuk dari Adam yang mengatakan keterkejutan nya karena David memiliki kamar di lantai atas Apartemen pribadi milik keluarga nya.
Nafasnya terengah. Dia berhasil menidurkan David diatas tempat tidurnya yang besar. Dia juga membuka sepatu dan kaus kaki yang dipakai David agar pria itu nyaman untuk tidur.
"Astaga, kepalaku..." ringis Joyceline. Dia memejamkan mata ketika merasakan kepalanya seperti dipukul oleh sesuatu yang berat.
"Aku harus segera pulang." gumamnya tergesa. Tubuhnya sudah kembali panas saat ini. Kepalanya juga pening, sepertinya ini karena dia mabuk... Dan juga sakit.
Joyceline meraih tas tangan nya dan beranjak pergi dari kamar David. Namun tiba tiba, dirinya tersentak kaget saat David justru menarik tangannya hingga dirinya turut berbaring diatas ranjang.
"Jangan pergi." bisik pria itu tepat di ceruk leher Joyceline. Tangannya membelit Joyceline, mendekap tubuh kecil perempuan itu hingga tidak menyisakan jarak diantara keduanya.
"Jangan biarkan..."
"Aku sendirian lagi."
Joyceline memejamkan matanya, hatinya sakit mendengar ucapan yang keluar dari mulut David. Dari data yang dia dapat saat mencoba mencari tahu tentang David, pria itu ditinggalkan saat masih kecil. Sama seperti dirinya.
Dirinya dan David sama sama melihat bagaimana orang tua mereka meninggal di hadapan mata.
Pria ini... Ada cerminan dari Joyceline dalam versi lain.
"Kenapa kau harus pergi ketika aku sudah tidak memiliki siapapun?" bisik David
Joyceline merasakan tubuhnya terguling. Dia berada di bawah kungkungan David. Pria itu berada di atasnya, menatapnya balik dengan mata sendu milik pria itu.
Joyceline menutup kedua matanya ketika merasakan cairan bening yang keluar dari mata David, menetes ke wajahnya.
"Aku tidak bisa membiarkan mu pergi lagi." gumam David. Pria itu merendahkan tubuhnya, mengecup singkat bibir Joyceline dan menyesapnya dengan lembut. Seolah tidak ingin melukainya.
Joyceline mendorong tubuh David, menghindari pergerakan pria itu yang hendak menciumnya lebih dalam. Joyceline menatap lekat wajah David yang basah. Dia mengusap sisa air mata yang berkumpul di pelupuk mata pria itu.
"Jangan seperti ini." ucap Joyceline
"Aku, bukanlah orang yang ada di bayangan mu saat ini. Karena mabuk, kau mungkin melihatku sebagai seseorang yang dekat denganmu di masa lalu. Tapi aku bukan dia, David. Tolong sadarkan dirimu." lanjut Joyceline. Dia tersenyum tipis dan mendorong tubuh David agar bisa merubah posisi nya untuk duduk.
"Tidurlah. Aku harus pulang." ujar Joyceline pada David. Dia keluar dari kungkungan tubuh David dan turun dari ranjang. Dia kembali meraih tas nya yang tergeletak begitu saja di atas lantai.
Perempuan itu melirik singkat David yang terdiam di sisi ranjang. Dia tersenyum dan berjalan untuk keluar dari kamar pria itu. Joyceline berhenti di depan pintu, dia kembali menoleh pada David dan menyunggingkan senyuman menenangkan.
"Selamat tinggal." ucapnya
Mendengar ucapan itu, David langsung kembali berlari. Dia kembali mendekap perempuan yang dirindukan nya, dia memutar tubuh perempuan itu dan meraup ciuman dalam darinya.
Joyceline meringis ketika merasakan sakit di bahu nya, tubuhnya dihempaskan ke dinding begitu saja oleh David tanpa melepaskan ciuman mereka. Kedua tangan Joyceline merambat naik, dia menangkup wajah David dan menjauhkan wajah pria itu untuk menghentikan ciuman mereka.
"Naiklah ke atas tempat tidur mu." ucap Joyceline
Dengan mata sendu nya, David mengangguk dan menautkan lengan mereka. Dia turut membawa Joyceline untuk naik ke atas tempat tidur berukuran besar itu.
"Tunggu disini, aku akan mengambilkan mu minuman."
"Jangan pergi." tolak David. Dia memutar posisi mereka, kembali membuat Joyceline ada di bawahnya.
Satu tangan David menahan kedua lengan Joyceline di atas tubuhnya. Sementara satunya lagi mengusap bibir bawah Joyceline dengan lembut.
"Aku tidak akan membiarkan mu meninggalkan aku sendiri lagi." bisik David
Joyceline memejamkan matanya ketika David kembali mencium nya, tangan pria itu tidak tinggal diam. Perlahan, dia menurunkan tali kecil nan tipis yang terdapat di bahu Joyceline. Meloloskan benda itu dari tubuh Joyceline.
Ciuman David bergerak turun, mengecup dan menyesap rahang hingga bahu Joyceline. Meninggalkan jejak berkas kemerahan diatas kulit putih seputih porselen itu.
"Cantik." bisik David
Joyceline menelan ludahnya gugup. Suhu tubuhnya meningkat drastis, rangsangan yang diberi David, sekaligus ciuman manis yang diberikan pria itu padanya membuatnya mabuk. Dia tidak lagi bisa menggerakan tubuhnya. Kali ini... Mungkin dia akan sepenuhnya terjatuh dalam malam bersama David.
Joyceline merapatkan bibirnya, tidak ingin sebuah desahan atau lenguhan keluar dari bibirnya. David menghisap d**a nya dengan tergesa. Tangan pria itu meremas dan memanjakan tubuh Joyceline dengan gerakan lembut.
David menegakkan tubuhnya, dia melepas satu persatu kancing kemeja nya hingga tubuhnya terpampang sempurna. Dia tersenyum miring melihat perempuan yang kini berada di bawah tubuhnya menatapnya dengan kedua mata yang membesar.
"Suka dengan apa yang kau lihat?" tanya David
Joyceline tersentak. Dia terkejut ketika David meloloskan dress yang dipakainya hingga tubuh nya, sama polosnya dengan pria itu.
Joyceline memejamkan matanya. Batin nya terus meneriaki nya untuk berlari, menjauh dari pria itu. Tapi tubuhnya sulit untuk bergerak.
"David... Aku tidak ingin melalukan ini." lirih Joyceline
Pria itu, David, menatap Joyceline dengan mata sendu nya. Tangannya bergerak mengusap air mata yang berada di sudut mata Joyceline. Dia merendahkan tubuhnya hingga bibirnya hanya berjarak 2 senti dari Joyceline.
"Maaf Adelia, tapi aku harus melakukan ini. Agar kau tidak pernah pergi lagi dariku." bisik David
Tangisan Joyceline perlahan luruh. Dia menangis terisak ketika merasakan benda asing memasuki kewanitaan nya. Mengoyak dan menghilangkan apa yang dia pertahankan selama ini.
Dia memejamkan matanya ketika mendengar suara desahan pelan yang keluar dari mulut David. Semakin cepat pria itu menggerakan kejantanan miliknya, semakin terkoyak juga hati dan tubuh Joyceline.
'Kau... Bahkan melihatku sebagai orang lain.' Batin Joyceline
Kedua mata Joyceline perlahan meyendu. Dia mengusap air matanya sendiri dan menutup bibirnya rapat rapat. Enggan untuk mengeluarkan desahan ataupun rintihan yang ditahan nya sejak tadi.
Kedua tangannya mengepal.
Dia... Tidak akan pernah melupakan peristiwa ini. Dia tidak akan melupakan bagaimana pria yang disukai nya selama diam diam, pria yang menjadi cinta pertama sekaligus patah hati pertama nya, merusaknya dan membuatnya kehilangan apa yang selama ini di jaga nya.
"David... Aku tahu kau bukan orang yang seperti ini, kan?" lirih Joyceline. Nafasnya terengah, pusing di kepalanya semakin menjadi jadi, tubuhnya sakit, dan bagian bawah tubuhnya benar benar seperti terkoyak.
Joyceline melepaskan pegangannya pada bahu David. Dia memaksakan diri untuk bergerak mundur menghindari David yang masih berada di atas tubuhnya. Joyceline menyandarkan tubuhnya pada dipan, dia menatap David dengan penuh terluka.
"Biarkan aku pergi." parau Joyceline. Bulir bening kembali menetes dari mata nya. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan nya, berusaha menghindari tatapan David yang asing.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi." sahut David pelan. Dia menarik kedua tangan Joyceline yang menutupi wajahnya. Dia menatap wajah perempuan yang ada di depan nya.
"Aku mencintaimu, Adelia." ujar David
Joyceline kembali menangis terisak. Dia memukul d**a David yang berada tepat di hadapannya. Hati nya sakit. Hancur. Bahkan ketika sebuah hal berharga dalam dirinya direnggut secara paksa oleh pria yang ada di hadapan nya, pria itu masih menyebutkan nama yang asing.
Adelia.
"Aku bukan Adelia, David. Aku bukan Adelia." lirih Joyceline. Dia mendorong David agar pria itu menjauh darinya dan bergerak ke sisi tempat tidur. Bagaimana pun caranya, dia harus pergi dari sini.
Tapi sebelum dirinya beranjak dari ranjang, David memeluk nya dari belakang. Pria itu menangis, menyandarkan kepalanya di bahu Joyceline.
"Kesalahan apa yang aku perbuat padamu hingga kau kembali pergi dari hidupku?"