↪Happy Reading↩
"Kau mengatakan sesuatu pada David malam tadi?"
Joyceline berhenti mengunyah apel yang ada di tangan nya. Dia mengerutkan dahi sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Lily, "Memang nya ada David malam tadi?"
Lily berbalik, dia menatap Joyceline dengan kesal sebelum akhirnya mendelik. Tidak tahan mendengar pertanyaan bernada polos yang diberikan Joyceline padanya.
"Sudahlah. Lupakan. Aku lupa jika saat kau sakit, kau selalu meracau. Malam tadi sepertinya target meracau mu adalah David. Karena kemarin sore dia menawarkan diri untuk menjaga mu. Dan kebetulan pengacara mu menelfon ku." jelas Lily
Kini pergerakan Joyceline benar benar terhenti. Dia fokus mengingat apa yang dia bicarakan pada David saat meracau. Tapi nihil. Berkali kali dia menggali ingatan nya, namun ingatan Joyceline berhenti pada saat dirinya kehilangan kesadaran di toilet restoran.
"Aku tidak bisa mengingatnya." ujar Joyceline
Lily melengos. Dia menyimpan semua barang Joyceline ke dalam satu tas dan berbalik mendekat pada perempuan itu.
"Yakin mau pulang hari ini?" tanya Lily
"Hm. Lagipula demam ku sudah turun, kan? Sangat memalukan jika hanya karena demam aku dirawat berhari hari." jawab Joyceline
"Oh, dua hari nanti, akan ada acara penghargaan film bergengsi. Kau di nominasikan disana." seru Lily tiba tiba
Senyuman Joyceline melebar. Lily benar. Dia di nominasikan sebagai Best Actress of The Years. Bersaing dengan aktris lainnya yang di nominasikan.
"Hmmmm, mari kita lihat. Apa kau akan menang?" ujar Lily
Dengan mata yang berbinar, Joyceline meringis, "Aku tidak yakin. Tapi hanya masuk nominasi pun, aku sudah bahagia." sahutnya dengan senyuman lebar
"Aku bersaing dengan para aktris ternama lain!" seru Joyceline. Dia turun dari ranjang rumah sakit dan menghampiri Lily. Keduanya bergandengan tangan, berputar putar dan menyenandungkan sebuah lagu random yang lirik nya tiba tiba ada di kepala Joyceline.
"La la la la, Celine the Champion!" teriak Joyceline heboh
Lily tertawa lebar. Keduanya kemudian berhenti dan duduk bersandar di sofa dengan nafas terengah.
"Astaga, aku pusing!" keluh Joyceline sambil setengah tertawa. Kepalanya masih sedikit sakit, tapi dia malah berputar putar riang karena merasa senang.
Lily juga tertawa. Suara tawa nya semakin keras setelah mendengar keluhan dari Joyceline, "Rasa senang memang membuat kita sedikit bodoh, Joyceline." sahutnya
Joyceline mengusap sudut mata nya yang basah, dia menghentikan sisa tawa nya dan menghela nafasnya.
'Andai aku selalu tersenyum seperti ini. Mari lupakan David. Lupakan semua luka yang aku buat sendiri karena mencintai pria yang gagal move on seperti David.' pikir Joyceline
'David adalah luka yang tanpa sadar aku rencanakan.'
"Oh iya. Aku dengar kau harus mendatangi stylist mu. Tadinya aku hendak membatalkan nya. Tapi aku juga ingat jika kau nanti akan membutuhkan stylist mu untuk datang ke acara Award. Itu adalah hari mu, Joyceline." ucap Lily
"Jadi... Bagaimana? Mau bertemu dengan nya? Jadwalnya siang nanti." lanjut Lily
"Hmmmm," gumam Joyceline. Dia menipiskan bibirnya sebelum akhirnya tersenyum lebar, "Aku akan menemui nya! Sekaligus memilih gaun yang mungkin sudah dia siapkan untukku." ujarnya semangat
Lily mengangguk dan menghela nafasnya, "Untung sebelumnya aku ingat tentang acara penting ini, Celine. Jika tidak, pasti sudah aku cancel semua jadwal mu. Semua." tekan Lily
✳✴✳✴✳
"HAI NABELLA!" seru Joyceline heboh saat memasuki ruangan miliknya di Agensi. Perempuan yang dipanggil olehnya tersenyum lebar dan berlari untuk memeluk Joyceline dengan hangat.
"APA KAU TAHU BAGAIMANA SENANG NYA AKU SAAT MENGETAHUI JIKA KLIEN KU ADALAH DIRIMU?!" pekik Nabella dengan riang
"Berterima kasih lah padaku. Aku yang meminta Agensi untuk mempercayai mu soal gaun yang akan dipakai Celine." timpal Lily. Dia berjalan masuk ke dalam ruangan dengan seulas senyuman sombong.
"Wajahmu menyebalkan, tapi aku biarkan karena aku senang." sahut Nabella
Joyceline tertawa. Kepalanya masih pusing untuk turut heboh seperti Nabella yang memamerkan semua desain gaun miliknya yang sudah dipakai oleh para aktris ternama luar negeri. Jadi Joyceline berjalan menuju kursi yang ada di sudut ruangan dan memperhatikan kehebohan yang diisi oleh Lily dan Nabella.
"Dibandingkan bekerja, aku lebih merasa jika kita sedang pesta lajang." celetuk Nabella
"Makanya cepatlah bekerja. Agensi membayarmu untuk membuatkan gaun untuk Celine." perintah Lily dengan menyebalkan
Nabella langsung melayangkan pukulan ringan di dahi Lily. Dia berdecih dan menghampiri Joyceline yang masih tertawa melihat wajah masam Lily setelah menerima pukulan kasih sayang Nabella.
"Kau serius mau datang? Aku dengar dari Lily kau sakit." tanya Nabella memastikan. Dia duduk disamping Joyceline dan mengeluarkan sebuah sketsa tebal berisi semua desain gaun nya.
"Di buku sketsa ini ada beberapa desain yang belum pernah aku keluarkan dan berikan pada publik. Kau bisa memilihnya untuk kau gunakan." ujar Nabella
Joyceline menerima buku yang di sodorkan oleh Nabella dan membuka satu per satu sketsa yang ada. Melihat keseriusan Joyceline, Lily memutuskan untuk mendekat. Perempuan itu menarik kursi yang berada tak jauh darinya dan menempatkan benda itu di samping Joyceline. Kemudian Lily turut menatap sketsa yang ada di pangkuan Joyceline.
"Bagaimana dengan ini? Aku suka warna ungu nya." tanya Joyceline memastikan
"Uhmmm...," gumam Nabella. Dia menjauhkan kursi yang sedang dia duduki dari Joyceline. Kemudian membentuk kotak dengan kedua tangan nya, berkali kali melirik antara Joyceline dan sketsa sebelum akhirnya berseru senang, "Aku rasa kau akan cocok dengan gaun buatan ku yang ini!" ucapnya
Nabella kembali mendekatkan kursi yang dipakainya pada Joyceline, dia meraih buku sketsa yang ada di pangkuan Joyceline. Tangan nya bergerak cepat memindahkan satu demi satu halaman yang ada di buku hingga kemudian, sebuah senyuman terlihat di wajah Nabella. Dia kembali menyodorkan buku sketsa nya pada Joyceline sambil menunjuk sebuah gaun berwarna merah, "Aku kira... kau akan terlihat sangat cantik dengan gaun ini." ujarnya
"Desain nya simpel, tapi cantik dan elegan. Cocok untukmu. Dan yang terpenting... Desain ini belum pernah aku berikan pada siapapun."
"Joyceline lah yang akan pertama kali memakainya." lanjut Nabella
Joyceline menatap Lily, yang ditatap berdecak melihat sketsa gaun yang akan di sarankan oleh Nabella sebelum akhirnya mengangguk.
"Aku setuju, Celine. Gaun ini sangat cantik." takjub Lily
Nabella tersenyum bangga, "Gaun ini sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi milik Joyceline." ujarnya
Joyceline tersenyum tipis, "Aku suka ini. Terima kasih, Nabella."
✳✴✳✴✳
"Ah perfect. Sesuai dengan perkiraan ku." decak Nabella
Dua hari setelah pemilihan gaun itu, Joyceline benar benar beristirahat. Dia harus pulih dan bisa menghadiri sebuah acara Award sampai selesai. Dia harus benar benar menikmati semua moment disana dengan baik.
Karena... Entah kapan lagi dirinya bisa hadir dan menjadi nominasi di sebuah penghargaan bergengsi seperti itu? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan nya. Setidaknya itu adalah hal yang Joyceline anut selama ini.
'Menjalani hari ini, seolah tidak ada hari esok.'
Dan sekarang, adalah hari penting. Acara Award itu kini hanya tinggal menghitung jam. Joyceline baru saja keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun berwarna merah yang di desain oleh Nabella. Gaun yang dipilihkan oleh Nabella ternyata memang sangat cantik!
Gaun tanpa lengan berwarna merah yang membalut tubuhnya dengan cantik. Bahu dan leher Joyceline terekspos dengan jelas, memperlihatkan garis tulang selangka yang indah, sesuai dengan standar kecantikan tak tertulis yang ada di negara ini.
"Benar? Aku cantik?" tanya Joyceline narsis. Dia bahkan menangkup wajahnya dengan kedua tangan, memberikan wajah secantik mungkin pada Nabella yang dibalas dengan tatapan kesal.
"Aku lupa kau adalah orang yang narsis." gumam Nabella
Joyceline tertawa puas. Dia berjalan sambil mengangkat sedikit ujung gaun nya yang menyapu lantai.
"Apa gaun ini tidak terlalu panjang?" tanya Joyceline
"Aku rasa cukup. Memang nya kenapa?" tanya Lily
"Aku sulit berlari karena bagian bawah gaun ini tidak mendukung." jawab Joyceline
"Celine... Memang nya kau akan berlari larian di acara award?" sarkas Nabella. Dia mendengus dan langsung menekan tubuh Joyceline untuk duduk di kursi yang di sediakan.
"Duduk. Jangan berlari larian. Dan biarkan make up artist mu melakukan tugasnya." perintah Nabella tegas. Tidak lupa dengan memelototkan matanya untuk menakut nakuti Joyceline.
"Aku 'kan hanya bertanya. Mungkin aku harus lari lari ketika menerima piala kemenangan." gerutu Joyceline
"Untuk apa kau berlari?! Stage nya tidak akan berlari kemanapun, bahkan jika kau harus merangkak untuk kesana." sewot Lily
"Lagipula memangnya kau positif akan menang?" sindir Nabella
Joyceline mengibaskan rambutnya. Dia berbalik dan menatap kedua sahabatnya dengan centil, "Tidak ada salahnya berharap." ujarnya percaya diri
Lily mendengus dan berjalan menuju sofa yang ada di belakang nya. Dia duduk bersandar di sofa itu sambil memainkan ponselnya.
"Oh? Adam dan David juga ada disini?" pekiknya terkejut
Joyceline terdiam ketika mendengar sebuah nama yang disebutkan oleh Lily. Dia melirik Lily dari cermin yang ada di depan nya untuk memastikan sesuatu.
"Sedang apa keduanya disini?" tanya Joyceline
"Aku tidak tahu. Adam yang memberitahuku. Tapi sepertinya kita tidak akan bisa bertemu dengan keduanya. Apalagi jika mengingat tamu yang datang di acara ini sampai ratusan orang." jawab Lily. Dia kembali bersantai sambil memainkan ponselnya.
"David? David Legiond?" tanya Nabella penuh ketertarikan
"Kau mengenalnya?" sahut Lily
"Samar samar aku rasa, aku pernah bertemu dengan nya..." gumam Nabella. Tapi sedetik kemudian dia mengendikkan bahunya, "Aku lupa. Tapi mungkin saja aku hanya bertemu dengan adik nya." lanjutnya acuh
Joyceline kembali terdiam. Dia hanya menatap pantulan dirinya di cermin, menatap make up artist yang membantunya merias diri untuk tampil lebih cantik di hadapan publik.
"Tutup matamu, Nona Celine. Aku harus mengaplikasikan eye shadow." pinta si make up artist
Dengan patuh dan tanpa berkata apapun, Joyceline menutup kedua mata nya, dapat dia rasakan sapuan halus di kedua kelopak matanya.
'Hari ini, jika memungkinkan, lebih baik jangan menemuinya. Jangan bertemu dengan nya. Setidaknya kita harus menjauh dari David hingga perasaan ku padanya menghilang.' pikir Joyceline
✳✴✳✴✳
"Aku ke toilet sebentar." pamit Joyceline pada teman teman nya yang ada di meja
Semua mengangguk. Dia langsung beranjak dari tempatnya duduk untuk menghampiri toilet yang cukup ramai. Joyceline menolehkan kepalanya ke sekitar. Dia menatap teman teman sesama artis yang datang ke club malam ini. Kebanyakan dari mereka mulai menggila di tengah dance floor, menggoyangkan tubuh dan kepala mereka sesuai dengan irama yang dimainkan oleh DJ.
"Mereka gila." gumam Joyceline sambil mempercepat langkahnya memasuki kamar mandi.
Ya. Kalian tidak salah membaca. Malam ini Joyceline tengah berada di club malam. Sebagai pesta, atas kemenangan nya di berbagai nominasi. Tapi dia sendiri justru tidak menikmati pesta ini.
"Lily pasti akan membunuhku jika mengetahui aku datang ke club malam." ucap Joyceline pada dirinya sendiri. Dia menghela nafasnya dan memutar keran yang ada di hadapan nya. Mencuci tangannya dengan sabun sebelum akhirnya kembali meringis kesakitan.
Kepalanya kembali berdenyut nyeri. Sepertinya dia memang belum sembuh sepenuhnya. Tapi karena desakan teman teman seprofesi nya, dia jadi harus ikut ke club malam untuk merayakan kemenangan yang entah mengapa terasa hambar.
"Sebaiknya aku pulang." putus Joyceline pada akhirnya
Dia keluar dari toilet dan segera menghampiri teman teman nya yang masih asik mengobrol satu sama lain. Sebagian bahkan mulai mabuk.
"Guys!" teriak Joyceline, berusaha berbicara dengan teman teman nya walau suara dari musik yang dimainkan membuatnya harus berteriak
"APA?" sahut teman teman nya
"AKU PULANG! LILY SUDAH MENCARIKU!" seru Joyceline. Dia segera berbalik dan melambaikan tangannya pada teman teman nya.
Joyceline berjalan keluar dari club. Dia menolehkan kepala kesana kemari untuk melihat keadaan. Sejujurnya, ini pertama kali nya dia mendatangi club malam. Lily tidak pernah mengizinkan nya pergi ke club karena takut terjadi sesuatu.
Tapi khusus malam ini, Lily tidak tahu jika Joyceline diam diam dibawa oleh teman teman nya yang lain untuk bergabung bersama mereka untuk pesta di club.
Langkah Joyceline terhenti. Dia melihat seorang pria yang di kenal nya duduk di salah satu sofa yang terdapat di sudut ruangan. Pria itu terlihat menunduk, melamun seorang diri. Di tangan nya ada segelas minuman berwarna ke kuningan yang hanya tersisa setengah gelas lagi.
"Itu David? Dia mabuk?" gumam Joyceline. Tanpa sadar dia berjalan perlahan untuk melihat dengan jelas siapa yang dia lihat. Apa itu benar David?
Tapi sesaat kemudian, tatapan keduanya beradu. Joyceline terdiam saat melihat sorot David yang menatapnya dengan dingin.
Jantung nya berdetak kencang. Terlebih ketika melihat David beranjak dari duduk nya, dan berjalan mendekat ke arahnya.
Joyceline memundurkan langkah nya. Dia berbalik dan berlari, memutuskan untuk keluar dari sana sebelum David berhasil menghampiri nya.
"Maaf!" ucapnya tergesa ketika tubuhnya tanpa sengaja menabrak seorang pengunjung club.
Joyceline berbelok, menelusuri lorong panjang yang akan membawa nya keluar dari club. Jantung nya semakin berdetak kencang, bersamaan dengan rasa pusing di kepala yang semakin menyiksa nya.
Langkah Joyceline perlahan terhuyung, dia mendekat ke sisi lorong dan menyandarkan kepala nya. Baru sebentar dia mengistirahatkan kepalanya, terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat. Perempuan itu berdecak pelan, baru saja dia akan kembali berlari, seseorang menahan pergelangan tangan kanan nya dan mendekap tubuhnya dengan hangat.
"I got you." bisiknya
Tubuh Joyceline menegang. Dia mengenal jelas sentuhan dan suara seorang pria yang sedang mendekapnya sekarang.
Joyceline tidak membalas pelukan nya sama sekali. Tangan nya mendadak lemas dan sulit digerakan.
Pria itu, David, melepaskan pelukan nya. Dia menangkup wajah Joyceline dan menatap dalam dalam kedua mata bulat berwarna hitam itu.
Tanpa aba aba, David menundukkan kepalanya. Dia mendaratkan ciuman yang dalam pada bibir tipis berwarna merah itu.
"Aku... merindukan mu." bisiknya di sela sela ciuman nya