↪Happy Reading↩
Hampa.
Bosan.
Semuanya abu-abu.
Joyceline menghela nafasnya. Dia menatap datar Queena, sepupu nya yang saat ini memegang alih perusahaan milik keluarga nya.
"To the point. Apa yang ingin kau katakan?" tanya Joyceline
Queena menyimpan garpu dan pisau daging yang sedang di pakainya ke atas piring. Dengan tenang, dia balik menatap Joyceline yang terlihat sudah enggan untuk melanjutkan basa basi berupa makan siang bersama.
"Aku minta kau bilang pada Lily untuk mencabut tuntutan nya terhadap kedua orang tua ku." ujar Queena
"Aku tidak ada hak untuk mengendalikan Lily. Terlebih jika apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan ku." sahut Joyceline acuh
"Aku akan membantumu menutup skandal mu dan David. Dengan syarat, minta Lily mencabut tuntutan dan gugatan nya." tawar Queena
Joyceline mengerutkan dahinya, "Kau tidak punya televisi? Pagi tadi aku mengadakan konferensi pers. Media sudah tahu fakta yang ada dibalik skandal tak berdasar itu." sarkas Joyceline
"Lagipula... Jangan lupakan dengan cara apa kau bisa mengisi kursi di perusahaan yang saat ini kau tempati, Queena. Suatu saat, semua yang kau dan keluarga mu nikmati, harus kau kembalikan padaku." lanjut Joyceline penuh arti
Tanpa berkata apapun lagi, Joyceline langsung meraih tas tangan yang ada di sampingnya. Dia langsung bangkit dan berlalu dari ruangan berukuran 8×8 meter yang terisolasi dari dunia luar. Queena sengaja memesan tempat yang privat untuk membicarakan sesuatu yang bahkan tidak ada artinya bagi Joyceline.
"Sudah?" tanya Lily yang menunggu di luar ruangan. Tangan nya memegang garpu berukuran kecil untuk dessert.
"Sudah." jawab Joyceline singkat. Dia duduk di seberang Lily dan meraih ponsel di dalam tas nya. Tanpa berkata apapun lagi, Joyceline memainkan ponsel dan menggulirkan halaman sosial medianya.
"Pulang sekarang? Wajahmu semakin pucat. Seharusnya kita langsung pulang tadi. Tapi Queena justru mengajakmu untuk bertemu." ajak Lily yang melihat wajah datar Joyceline
"Selesaikan dessert mu dulu, Lily. Aku tidak keberatan menunggu." sahut Joyceline
Lily mengangguk, dia kembali memotong kecil brownies yang ada di hadapan nya.
Joyceline mengalihkan tatapan nya keluar jendela. Orang orang berlalu lalang kesana kemari, beberapa memakai sepeda dan beberapa lagi berjalan santai. Menikmati cuaca siang hari yang berawan. Kebetulan meja yang ditempati oleh Lily adalah meja yang berada di pojok ruangan. Pemandangan yang ditawarkan oleh meja yang ditempati oleh Lily sejak tadi justru lebih menarik dibanding ruangan privat bernuansa mewah dengan Queena tadi.
Atau mungkin karena orang yang mengisi ruangan tadi adalah orang yang dibenci nya.
"Menyebalkan." dengus Joyceline dengan suara pelan
Lily melirik Joyceline yang menatap lurus jalanan. Tapi enggan untuk menanggapi. Lagipula dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Queena pada Joyceline.
"Oh, itu David?" gumam Lily tiba tiba
Joyceline tanpa sadar mengikuti arah pandang Lily. Benar saja. Ada David bersama Adam tengah berjalan menuju cafe tempat mereka berada.
Dalam diam Joyceline mendengus dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Adam!"
Entah hantu ramah apa yang menyapa Lily. Perempuan itu melongokan kepalanya dari balik dinding dan melambaikan tangannya pada Adam yang datang bersama David.
"Oh, hai Lily!" seru Adam. Dia langsung berlari ke arah Lily dan Joyceline, hal itu membuat David dengan tenang mengikutinya.
Dia tersenyum tipis ketika melihat Joyceline yang tidak bergeming dari objek yang sedang dia perhatikan bahkan setelah Adam berada di dekatnya.
"Hai Joyceline." sapa Adam
Joyceline hanya melirik kecil dan tersenyum, "Hai." balasnya
"Aku ke toilet sebentar." pamit Joyceline sambil beranjak pergi dari tempatnya duduk
Lily mengikuti pergerakan Joyceline sampai tubuh perempuan itu menghilang dibalik dinding.
"Duduklah." ujar Lily pada David dan Adam yang masih berdiri di dekatnya
David duduk di tempat Joyceline sebelumnya. Sedangkan Adam duduk di samping Lily.
"Apa sesuatu terjadi? Sejak pagi raut wajah Joyceline terlihat muram." tanya Adam
"Pagi tadi?" sahut Lily bingung
"Oh, bekal," seru Lily sambil tertawa kecil. Dia menyesap minuman yang ada di hadapan nya, lalu kembali menatap Adam dengan seulas senyuman kecil, "Kau bertemu dengan nya pagi tadi?" tanya Lily
"Iya. Wajahnya juga aku lihat jauh lebih pucat." jawab Adam
Lily menghela nafasnya, "Dia sakit. Sejak malam, dia demam tinggi. Pagi ini dia menemukan skandal lain, lalu menggelar konferensi pers untuk mengkonfirmasi nya sendiri. Padahal sebelumnya perusahaan tidak akan membiarkan Joyceline terjun sendiri ke media." jelas Lily
"Kalian sudah lihat berita nya kan? Aku yakin beritanya sudah keluar setengah jam yang lalu." tanya Lily memastikan
"Ah iya... Begitulah. Semua polisi perempuan di kantor kami tengah membicarakan Joyceline saat ini. Mereka bilang Joyceline sangat tegas menghadapi media massa. Terlebih pada orang orang yang menyebarkan ujaran kebencian." ujar Adam
"Disaat yang sama, Joyceline juga terlihat sangat menjaga David. Bukan begitu, pak Inspektur?" goda Adam pada David
Sementara yang digoda hanya tersenyum kalem menanggapi candaan dari Adam.
Tak lama kemudian, seorang waiters mendekat. Dia menanyakan pesanan Adam dan David, setelah itu dia langsung mencatat pesanan keduanya untuk diserahkan ke dapur. Setelahnya, ketiganya kembali berbincang, melanjutkan pembicaraan yang tertunda karena interupsi dari waiters tadi.
Hingga kemudian teriakan melengking dari seorang perempuan terdengar dari kamar mandi.
"TOLONG!!! ADA MAYAT!!" jeritnya histeris
"ADA MAYAT DI KAMAR MANDI!!"
Lily langsung berlari menuju sumber suara. Terlebih karena mengingat jika Joyceline juga ada di dalam kamar mandi.
"CELINE!" seru Lily panik
Joyceline berada di bawah washtafel, terbaring lemas begitu saja dengan darah menetes dari dahinya. Lily langsung menghampiri perempuan yang menjadi tanggung jawab nya itu. Dia menyentuh dahi Joyceline yang panas.
"DIA BELUM MATI!" bentaknya pada seorang perempuan yang menjerit histeris sambil menunjuk Joyceline dengan panik
David dan Adam berjalan mendekat.
"Demam lagi?" tanya David
"Iya. Bisa bantu aku membawanya ke mobil?" pinta Lily
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, David langsung meraih Joyceline. Dia menyelipkan tangan nya pada bahu dan lutut Joyceline untuk memapah perempuan itu dan membawa nya keluar dari toilet.
Lily mengikutinya dari belakang. Tangan nya menjinjing tas tangan milik Joyceline dan miliknya. Sementara Adam menyempatkan diri untuk membayar pesanan nya dan David yang bahkan belum selesai dibuat.
"Jangan panik, Joyceline hanya pingsan karena demam nya tinggi." ujar Adam menenangkan Lily. Dia berhasil menyusul Lily yang panik hingga sembarangan ketika menyebrang jalan.
"David akan pergi ke rumah sakit terdekat. Kau ikutlah bersama ku." ajak Adam sambil menggenggam tangan Lily dan membawa perempuan itu menyebrang untuk sampai di mobilnya
"Kunci mobil." pinta Adam pada Lily. Tanpa membantah, Lily menyerahkan kunci mobilnya pada Adam, membiarkan pria itu menyetir dan menyusul mobil David yang sudah pergi terlebih dulu.
✳✴✳✴✳
"Dahi nya berdarah karena terbentur. Jangan panik, Nona Lily... Nona Celine akan baik baik saja." ujar seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan Joyceline
"Demam nya sangat tinggi. Karena itu sepertinya tubuhnya tidak kuat untuk berdiri terlalu lama, tubuhnya lemas dan dahinya membentur washtafel." lanjut perawat itu
Lily menghela nafasnya, dia menyunggingkan senyuman tipis pada perawat yang memberikan penjelasan terkait keadaan Joyceline, "Terimakasih. Aku sangat cemas tadi." gumam nya tulus
Perawat itu tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia pergi dari sana untuk mengerjakan tugasnya yang lain.
"Sudah ku bilang dia hanya demam kan?" ujar Adam
Lily mengangguk, "Aku tidak bisa tidak cemas." sahutnya pelan
"Pasalnya, sebelumnya Celine baru bertemu dengan sepupu nya. Aku takut dia memberikan sesuatu yang berbahaya pada Celine." sambung Lily
"Sepupu nya tidak mungkin sejahat itu, kan? Mereka mempunyai hubungan keluarga." sangkal David
"Kau tidak tahu apa apa tentang kejahatan anggota keluarga Celine yang tersisa." tekan Lily pada David
Lily mengangkat kepalanya ketika melihat seorang dokter keluar dari ruangan Joyceline.
"Aku boleh masuk?" tanya Lily pada dokter di hadapan nya
"Tentu. Tapi jangan membuat kegaduhan. Nona Celine harus istirahat." jawab dokter itu dengan seulas senyuman tipisnya
Jadi tanpa menunggu hal yang lainnya, Lily langsung bergegas memasuki ruangan tempat dimana sahabatnya terbaring lemas. Dia langsung mendesah lega ketika melihat Joyceline yang tertidur pulas.
"Sepertinya dia kurang istirahat?" tanya Adam sambil mendudukkan dirinya nya pada sofa yang tersedia di dalam ruangan
Lily berbalik dan tersenyum, "Seharusnya kemarin dia tidak kelelahan. Karena jadwalnya luang sejak kemarin. Tapi mungkin malam tadi, dia tidak tidur sama sekali. Ada yang menganggu pikiran nya, entah apa." jelas Lily
Dia berjalan menuju sofa, mendudukki nya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa di belakang nya.
"Tidak bertanya apa yang sedang mengganggu pikiran nya?" tanya David. Dia melirik sekilas Joyceline yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dalam hatinya, terbesit perasaan yang sulit dia artikan. Terlebih ketika melihat Joyceline yang biasanya ceria, kini terbaring lemas begitu saja.
"Walau aku manajer nya, bukan berarti aku harus tahu semua isi pikiran Joyceline," ujar Lily. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan ucapan nya, "Walau terlihat sangat terbuka, aku tidak bisa dan tidak berhak mengetahui semua yang ada di pikiran nya." gumam nya
"Yahh, ada kala nya Joyceline tidak ingin membagi kegelisahan nya dengan orang yang ada di sekitarnya." ulang Lily
Lily meraih tab berisi jadwal Joyceline untuk dua hari kedepan, "Joyceline harus mengosongkan jadwalnya. Terlebih jika kesehatan nya masih belum pulih." gumam Lily pada dirinya sendiri.
Cukup lama Lily berkutat pada benda berlayar tipis di hadapan nya. Ketika ia mengangkat kepalanya, dia masih menemukan Adam dan David di dekatnya. Lily mengerjapkan matanya, "Mau pesan sesuatu? Aku tahu kalian tadi sedang jam istirahat. Tapi malah terganggu karena hal ini." tanya Lily
"Kami mungkin akan turun ke kantin. Ayo Inspektur." ajak Adam sambil beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu. Aku akan memesan nya untuk kalian. Kebetulan ada temanku dan Joyceline yang sedang menuju kemari." ucap Lily
"Mama..."
Pergerakan Lily untuk mendial nomor seseorang terhenti ketika mendengar suara bisikan lirih dari Joyceline. Dia menoleh dan menghampiri Joyceline yang masih menutup kedua matanya.
"Aku disini, Celine. Tenanglah." ujar Lily sambil menepuk pelan lengan Joyceline untuk menenangkan.
✴✳✴✳✴
Joyceline mengerjapkan mata nya dengan gerakan pelan. Tubuhnya terasa lemas, untuk menggerakan ujung jari saja, rasanya sangat sulit. Jadi dia hanya melirik tempat yang ada di sekelilingnya yang dipenuhi dengan nuana putih.
Tanpa perlu bertanya dengan dramatis pada orang yang mungkin ada di samping nya, Joyceline sudah tahu jika ini adalah rumah sakit. Samar samar dia juga dapat mengingat jika dirinya kehilangan kesadaran ketika sedang mencuci tangan.
"Malam, Joyceline."
Yang dipanggil menolehkan kepalanya, dia melihat David ada di samping nya. Pria itu kini tidak lagi memakai seragam polisi nya, hanya kaos hitam dan celana training. Tangan nya dengan hati hati mengupas buah buahan.
"Kenapa kau disini?" tanya Joyceline pelan.
"Untuk bertanggung jawab. Entah kenapa aku merasa jika kau terbaring sakit seperti ini karena kesalahanku." jawah David
Dengan susah payah, Joyceline memutar tubuhnya ke arah kiri, menghindar dari David dan tatapan hangat nya yang tanpa arti.
"Pergilah." perintah Joyceline
"Jangan merepotkan dirimu untuk menjagaku." sambung nya
Terdengar suara sesuatu yang beradu. David menaruh pisau yang dipakainya untuk mengupas buah ke atas meja. Dia menghela nafas dan berjalan ke hadapan Joyceline yang memunggunginya.
"Aku minta maaf." ucap David
"Untuk apa? Aku jatuh sakit bukan karena mu." sangkal Joyceline.
"Aku jatuh sakit karena kesalahanku sendiri."
"Salahku... karena jatuh cinta... pada seseorang yang tidak bisa aku miliki. Semuanya salahku." lirih Joyceline
Kedua mata sayu nya perlahan kembali menutup. Meninggalkan David yang terdiam setelah mendengar ucapan Joyceline. Ucapan yang menggambarkan sebuah keputusasaan.