↪Happy Reading↩
"Bangun pagi lagi?" tanya Lily ketika melihat Joyceline tengah duduk di sofa ruang tamu Apartement nya. Perempuan yang bersama nya saat kecil itu menumpukan dagu nya pada lutut, menatap kosong udara di hadapan nya.
"Jangan terlalu sering melamun seperti itu. Aku tidak tahu hantu apa yang menghuni Apartement ku." tegur Lily ketika Joyceline sama sekali tidak menanggapi ucapan nya.
Nyatanya, teguran Lily benar benar ampuh. Joyceline langsung memasang wajah ngeri sebelum akhirnya mendengus kesal karena kegiatan merenung nya terganggu.
"Tidak membuat kotak bekal lagi untuk David?" tanya Lily penasaran
"Aku sudah membuatnya." jawab Joyceline dengan lemas
Lily menaruh majalah yang tadinya hendak dibaca, dia mengalihkan pandangan pada Joyceline dan mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan bernada lemas yang keluar dari mulut perempuan itu.
"Hello? Terjadi sesuatu? Perlu kau ingat saat ini kau berada di Apartemen ku, bukan rumah yang diisi oleh orang asing seperti Paman atau Bibi mu. Tidak ada alasan bagimu untuk bertingkah lemas seperti itu." tukas Lily
"Sepertinya aku tidak enak badan." gumam Joyceline
Lily menaikan satu alisnya, "Apa ada hubungan nya dengan kemarin? Kau pulang dalam keadaan hujan kan?"
"Iya..." jawab Joyceline. Dia mendesah pelan dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa di belakang nya. Tatapan Joyceline mengarah pada langit langit apartemen Lily yang tinggi.
"Maaf ya, aku jadi menginap disini." lanjut Joyceline
"Aku tidak punya pilihan lain. Dan hanya apartemen milikmu yang tidak jauh dari mall yang aku kunjungi kemarin. Mobilku enggan untuk menyala, ponselku lowbat dan aku terjebak dengan seseorang dalam keadaan yang canggung." jelas Joyceline sambil mengerucutkan bibirnya kesal
Lily menghela nafasnya, "Tidak perlu minta maaf. Sejak awal, aku memang menawarkan mu untuk tinggal di sini kan?"
Joyceline menghela nafasnya. Dia memejamkan matanya dan mengatur nafasnya. Sejak pagi jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Panas. Sepertinya kau benar benar sakit. Beruntung, hari ini tidak ada jadwal apapun." ujar Lily sambil menyentuh dahi Joyceline dengan punggung tangan nya
"Kembali ke kamarmu. Aku akan menyiapkan bubur dan s**u hangat." perintah Lily tegas
"Aku belum memberikan bekal pada David." sangkal Joyceline
"David lagi, David lagi." kesal Lily
"Perhatikan kesehatan mu sendiri, Joyceline! Setelah itu, kau bisa memikirkan David, Albert, Adam, aku, tetangga mu, teman teman mu dan keadaan dunia." tegas Lily
Joyceline berdecak pelan mendengar kalimat penuh sarkas yang berasal dari mulut Lily. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan pergi menuju dapur Lily dengan bibir mengerucut. Melayangkan protes pada perempuan yang sudah menjadi orang tua, teman sekaligus sahabatnya selama ini.
"Hanya sebentar. Aku janji, aku akan langsung pulang kemari." bujuk Joyceline. Dia berbalik dan menatap Lily dengan kedua mata nya yang bulat bersinar.
"Ugh." kesal Lily
"Baiklah, baiklah. Terserah. Kau boleh memakai mobilku. Tapi jika nanti kepala mu pusing, tubuhmu lemas atau matamu berkunang kunang, langsung hubungi aku. Aku akan menyusul." lanjut Lily sambil menggerakan kedua tangannya untuk mengusir Joyceline
"YES! TERIMAKASIH LILY!" seru Joyceline sambil melompat kecil. Sebenarnya, Joyceline tidak sebahagia itu. Tapi dia harus mempertahankan raut ceria Joyceline yang setiap pagi mengantarkan makanan pada David.
Karena akting itu, Joyceline menyembunyikan rasa pusing di kepalanya. Tapi sedetik kemudian, Joyceline memegangi kepalanya dan meringis.
'Seharusnya aku tidak boleh berakting se-senang ini. Tapi bagaimana lagi? Lily tahu jika aku selalu memasang wajah ceria setiap mengantarkan kotak makan ini pada David.'
Jadi Joyceline segera berjalan memasuki kamarnya sendiri yang terdapat di unit milik Lily. Dia mengganti pakaian tidurnya dengan kaos putih polos dan celana jeans highwaist, tidak lupa dengan cardigan berwarna pink untuk menghalau udara pagi yang dingin.
Setelah selesai bersiap, Joyceline langsung memasuki dapur. Dia meraih paper bag berisi kotak bekal milik David dan pergi keluar dari apartemen Lily.
Sementara di dalam unit, Lily melirik ponselnya yang bergetar tanpa henti di atas meja rias. Penasaran dengan apa yang terjadi, Lily langsung meraih ponselnya. Kedua netra nya melebar melihat pesan dari agensi yang menaungi nya.
Lily, amankan Joyceline. Beredar gosip jika dirinya tengah hamil karena berbelanja pakaian bayi bersama seorang anggota keluarga Legiond kemarin. Jangan sampai berita seperti ini melukai Joyceline ataupun pria yang bersama nya kemarin.
"Astaga kepalaku." gumam Lily sesaat setelah membaca pesan yang diberikan oleh petinggi perusahaan padanya
✳✴✳✴✳
"Selamat pagi!" sapa Joyceline sambil menyunggingkan senyuman hangatnya. Dia berjalan memasuki ruangan milik David. Hanya ada pria itu disana, sendirian dan ditemani oleh setumpuk berkas di meja nya.
"Ini sarapan mu. Jangan lupa dimakan." ujar Joyceline sambil menyimpan paper bag ke atas meja David.
David tersenyum, "Terima kasih." ujarnya
Joyceline mengangguk, "Kasih kembali. Kalau begitu aku kembali ya. Tugasku juga sudah selesai untuk mengantarkan makanan ini padamu." pamitnya
Tanpa menunggu David menjawab atau bereaksi, Joyceline langsung membalikan tubuhnya. Wajah ceria nya yang ditampilkan pada David tadi, perlahan memudar.
"Astaga!" pekik Adam. Bertepatan dengan dia melangkah masuk ke dalam ruangan David, Joyceline berbalik ke arahnya dan membuatnya terkejut.
"Ah, maaf." sahut Joyceline sambil meringis kecil. Tanpa berkata apapun lagi, Joyceline segera melarikan diri dari ruangan David.
Kepergiannya diiringi oleh tatapan bingung Adam. Pria itu bahkan sampai mengintip dari balik dinding yang menelan siluet Joyceline. Sekedar untuk memikirkan apa yang membuatnya bingung.
"Dia tidak seperti biasanya." komentar Adam sambil berjalan masuk ke ruangan nya dan David
"Kau tahu jika gosip tentang aku dan dia semakin menjadi jadi?" tanya David sambil menghela nafasnya lelah
"Ah, tentang membeli atribut bayi? Kenapa orang orang sangat senang mengomentari hidup kalian." jawab Adam
"Joyceline adalah publik figure, Adam. Dunia nya adalah dunia dimana orang orang akan selalu memberi perhatian padanya. Itu konsekuensi sebagai publik figure." jelas David. Dia menatap hampa paper bag berisi kotak sarapan yang dibuatkan oleh Joyceline untuk nya.
"Pantas saja aku merasa jika Joyceline sedikit aneh tadi. Biasanya dia selalu memberikan senyuman hangat. Tapi tadi hanya senyuman tipis yang dia berikan untukku. Wajahnya juga sedikit pucat." komentar Adam
David menghela nafasnya mendengar komentar dari mulut Adam. Dia memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi di belakang nya.
"Jika kau pikirkan lagi, kenapa agensi tempat Joyceline bekerja tidak mengeluarkan statement apapun? Bukannya seharusnya mereka menyangkal nya?" tanya David pada Adam
"Biasanya mereka memiliki peraturan sendiri, David. Ada berbagai alasan kenapa agensi tidak mengeluarkan bantahan. Kau tunggu saja. Siang ini mungkin agensi tempat Joyceline bernaung akan memberikan penjelasan terkait hubungan kalian." jawab Adam yakin
Di sisi lain, Joyceline menghela nafasnya ketika melihat buah buahan yang terdapat di kursi penumpang di mobil. Buah buahan ini sempat dia keluarkan dari paper bag ketika mengambil roti dari dalam sana. Terlebih, buah buahan ini milik David.
“Lagi? Wow, David. Aku kira Joyceline menyukaimu.” Komentar Adam ketika melihat sebuah kotak bekal yang ada di meja David.
Pria itu, David, menghela nafasnya.
“Jujur saja, aku mulai risih dengan semua perhatian yang diberikan media. Aku tidak tahu harus menanggapi semua ini dengan cara apa. Terlebih... Perlahan lahan media akan mengganggu pekerjaanku." Sahut David
“Kau jahat.” Komentar Adam
“Mungkin ini sudah waktunya kau jatuh cinta. Lagipula Joyceline terlihat cocok dengan mu. Walau terlihat seperti kekanak-kanakan, tapi dia juga terlihat dewasa di saat yang sama.” Ujar Adam
“Aku yakin, Joyceline juga tipe perempuan yang tidak akan mengatakan tentang kegelisahan nya atau bersikap manja. Dia tidak akan merepotkan mu.” Lanjut Adam sambil tertawa kecil
“Entahlah. Aku tidak suka. Menurutku, ini bukan saat yang tepat untuk aku jatuh cinta. Lagipula karir aktrisnya sedang di atas saat ini. Aku tidak mau menerima banyak sorotan dari media.” Tolak David
“Dasar orang ini.” Decak Adam tidak habis pikir
“Sejak awal juga keluargamu sudah menerima perhatian dari media. Kalian keluarga terpandang.” Lanjut Adam kesal
“Tapi aku tidak mau menerima lebih banyak perhatian. Anggap saja seperti itu. Aku risih.” Sahut David
Tanpa di ketahui oleh keduanya, Joyceline ada di balik dinding. Tangannya memegang sekantung buah-buahan yang menjadi bagian dari kotak bekal yang dia siapkan untuk David. Pegangan nya pada kantung buah-buahan itu mengerat.
'Seharusnya aku tidak lupa memasukan kembali buah ini ke dalam paper bag.'
'Jadi aku tidak perlu mendengar ucapan David... Jika dia selama ini pasti merasa tertekan dan risih karena aku terus menempeli nya, walau tanpa sengaja.'
'Tapi jika aku tidak mendengar ini, aku pasti akan bersikap tidak tahu diri lagi lain kali.'
Keadaan kantor polisi yang sepi itu membuat Joyceline termenung beberapa saat. Dia melirik singkat ruangan David sebelum akhirnya berlalu. Tidak jadi memberikan beberapa buah-buahan itu pada pria yang sempat disukainya itu.
Dia berjalan menuju mobil nya yang terparkir di depan kantor polisi. Joy terdiam sejenak di depan pintu mobilnya yang terbuka. Dia meraih dua potong roti yang akan dia makan. Tapi hasrat untuk memakan roti itu hilang begitu saja.
Akhirnya Joy memasukan dua potong roti itu ke dalam paper bag bersama buah buahan. Dia berjalan menuju seorang satpam yang berjaga di bank yang berada tepat di samping kantor polisi. Joy memberikan roti dan buah buahan itu pada satpam untuk makan siang. Setelahnya, Joy kembali berjalan ke mobilnya dan pergi dari sana.
“Cinta pertama, sekaligus patah hati pertama ku. Menyedihkan.” Gumam nya
✳✴✳✴✳
"Lily... Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" tanya Joy serius. Lily yang sedang terdiam di depan televisi langsung mengalihkan perhatian nya pada Joyceline dan tersenyum.
"Aku juga baru tahu, Celine." jawab Lily
Joyceline menghela nafasnya. Dia mendengar semua tentang skandal nya dari David. Lagi dan lagi, dia menjadi orang terakhir yang mengetahui keadaan tentang dirinya sendiri.
"Wajahmu pucat. Sesuatu terjadi?" tanya Lily khawatir
Joyceline berjalan menghampiri Lily dan mendudukkan dirinya di samping perempuan itu. Matanya menatap kosong layar televisi yang menyala, menampilkan channel gosip yang menjadikan skandal Joyceline sebagai topik utama.
Kedua mata Joyceline menyendu ketika presenter gosip itu menyebutkan berbagai komentar yang menyudutkan nya. Berbagai ujaran kebencian juga dilayangkan pada David. Mengatakan jika pria itu tak jauh beda dengan adiknya yang tengah mendekam di dalam penjara.
Tidak cukup disana, Joyceline dikaitkan dengan kasus prostitusi yang sebelumnya menjerat bagian dari keluarga Legiond juga. Anastasya Legiond.
Lily berdecak kesal dan mematikan televisi. Dia melirik Joyceline yang tidak berekspresi apapun.
"Jangan di dengarkan." ucap Lily
Sudut mata Joyceline basah. Ucapan David yang dia dengar tanpa sengaja ternyata benar. Skandal ini akan berdampak buruk pada pekerjaan nya.
'Aku merasa bersalah padanya. Tidak seharusnya David menerima cercaan dari orang orang. Terlebih karena statusnya sebagai seorang Polisi.' batin Joyceline
"Masuklah ke kamarmu, Celine. Biar aku dan perusahaan yang mengurus hal ini." perintah Lily
Dia langsung mengusap air mata Joyceline yang mengalir di pipi nya.
"Pergilah ke kamar." ulang Lily
"Aku tidak mau." tolak Joyceline
"Lily, kau sudah berkali kali mengurusi soal ini kan? Kau bahkan mengurus soal keluargaku. Jadi kali ini, aku akan menghadapi media sendiri." lanjut Joyceline
"Kesehatan mu belum pulih. Wajahmu semakin pucat." elak Lily
"Aku tak apa. Aku tidak mau jika skandal ini nantinya merugikan banyak orang terlebih David." jelas Joyceline
"Aku akan bersiap. Tolong hubungi perusahaan jika aku akan menggelar konfrensi pers ku sendiri. Jika publik ingin aku sendiri yang mengkonfirmasi nya, maka aku harus melakukan nya." pinta Joyceline sambil tersenyum tipis. Kemudian dia berlalu memasuki kamar nya untuk bersiap.
Sementara Lily, dia menghela nafasnya. Tangannya langsung mendial nomor perusahaan yang menjadi tempatnya dan Joyceline bekerja.
"Selamat pagi, Riri. Bisa kau hubungi Tuan Anton? Katakan padanya, jika Joyceline akan mengkonfirmasi sendiri skandal yang menimpa nya akhir akhir ini. Berikan juga pengacara untuk mendampingi Celine." ujar Lily pada seseorang yang berada di sebrang sana.
"Baik, Nona Lily. Aku akan mengkonfirmasi soal pers itu 10 menit dari sekarang." sahut Riri
✳✴✳✴✳
Joyceline menatap Lily yang berdiri di sampingnya. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum tipis. Seolah memberi kekuatan pada Joyceline untuk memasuki ruangan pers yang ada di depan nya. Sekaligus menyangkal berita jahat yang selama ini keluar di sosial media tentang dirinya.
"Nona Celine? Anda bisa masuk sekarang." ujar seorang operator pada Joyceline
Joyceline mengangguk dan berjalan memasuki ruangan pers. Kilatan cahaya dari lensa kamera langsung menghujani nya tanpa henti. Tapi Joyceline tetap berjalan lurus tanpa terganggu sedikit pun.
Dia langsung duduk di kursi yang di sediakan dan menatap para wartawan yang ada di hadapan nya tanpa emosi.
"Kalian bisa berhenti memotret. Aku ingin mengkonfirmasi berita yang beredar selama ini berbagai sosial media." ujar Joyceline dengan nada datar
Secara perlahan, cahaya blitzh dari lensa kamera itu perlahan berhenti memotret. Mereka memusatkan perhatian mereka pada Joyceline, aktris yang sedang di kenal kontroversi nya.
"Sebelumnya, aku pikir tidak perlu untuk mengkonfirmasi rumor tak berdasar yang berasal dari sebuah fotoku dan David. Tapi semakin kesini, rumor itu semakin menjadi jadi hingga merugikan banyak pihak."
Joyceline mengedarkan tatapan nya, menatap satu persatu wartawan yang berada di hadapan nya.
"Ditambah lagi dengan rumor kehamilan ku yang beredar baru baru ini. Komentar yang di lontarkan padaku seenaknya... Aku juga mendengarnya."
"Aku ada disini, untuk mengucapkan jika rumor yang beredar diantara aku dan David, adalah sebuah kesalahan. Kami berteman, dan aku kira tidak ada salahnya untuk berteman dengan orang yang menyelamatkan ku saat aku diculik. Tapi karena media dan komentar kebencian yang di layangkan orang orang atas pertemanan kami, kami jadi berada di dalam situasi yang canggung." ujar Joyceline dengan seulad senyuman tipis
'Hubungan ini bahkan bukan hanya menjadi canggung. Tapi sudah tidak bisa di selamatkan.' batin Joyceline
"Lalu, hal apa yang membuat mu, tidak menanggapi rumor pertama tentang hubungan mu dan David Legiond?" tanya seorang wartawan
"Tidak ada alasan mendasar untuk itu. Aku kira orang orang sudah cukup pintar untuk tidak menilai dari satu sudut. Foto itu diambil dari sudut yang aneh, hingga menciptakan foto yang ambigu." jelas Joyceline
"Aku sudah meminta rekaman cctv dari atas gedung perusahaanku." lanjutnya. Joyceline memutar kursinya, menatap layar besar yang berada di sisi kiri nya. Layar itu menampilkan rekaman cctv ketika Joyceline berada di atap dengan David.
"Foto itu diambil ketika David mengambil seekor ulat dari rambutku." ucap Joyceline
Dan benar. Rekaman itu benar benar menampilkan raut ketakutan Joyceline dan David yang tengah meraih seekor ulat kecil dari helaian rambut Joyceline.
"Tidak ada adegan kissing, seperti yang foto itu tunjukan." tegas Joyceline
"Bagaimana dengan rekaman kemarin? Foto mungkin bisa di rekayasa dari angle yang tepat. Tapi bukti video?" tanya seorang perempuan dengan name tag wartawan menggantung di lehernya.
Joyceline mengangguk, "Aku bertemu dengan David kemarin. Kami berada di pusat perbelanjaan yang sama. Dan tentang perlengkapan bayi, David membeli nya sebagai hadiah untuk sepupu nya."
"Kalian tahu jika Nyonya Harold, istri dari Tuan Damian Harold dari Harold Group adalah sepupu dari David kan? Kalian juga mungkin tahu jika Nyonya Harold tengah mengandung. David membeli perlengkapan bayi sebagai hadiah."
Para wartawan itu mengangguk. Beberapa menuliskan ucapan dan penjelasan Joyceline dalam sehelai kertas, sebagian lagi fokus pada rekaman konferensi pers untuk mendapatkan rekaman terbaik.
"Anggap saja... Aku melupakan media yang menyebarkan rumor tentang hubungan ku."
"Tapi untuk komentar bernada kebencian yang dilayangkan padaku dan David, aku tidak akan membiarkan nya. Aku akan menempuh jalur hukum untuk hal ini. Karena asal kalian tahu, komentar kalian mungkin akan mencemarkan nama baik David Legiond." tegas Joyceline
Joyceline menghiraukan para wartawan yang terkesiap kaget mendengar pernyataan nya soal menempuh jalur hukum.
"Aku harap pers ini akan menghilangkan rasa haus kalian terhadap rumor ku. Terimakasih sudah hadir dan mau mendengarkan ku." tekan Joyceline sebelum akhirnya menunduk, memberi hormat dan keluar dari ruang pers.
"Kau melakukan nya dengan baik." ujar Lily
"Kau menampar semua wartawan yang sempat menyindirmu di media dengan baik." lanjut Lily
Joyceline tersenyum, 'Dengan begini, David akan aman. Pekerjaan nya tidak akan terganggu oleh media.'
'Sekarang aku hanya perlu menyibukkan diri, agar tidak bertemu dengan David lagi.'