Chapter 7 "Celine dan air hujan"

2052 Kata
↪Happy Reading↩ Entah kenapa, Joyceline seperti merasa jika setiap pertemuan nya dengan David benar benar ditakdirkan oleh semesta. Seperti saat ini misalnya, Joyceline sedang menikmati waktu luang nya seorang diri di sebuah pusat perbelanjaan. Sayangnya karena kecerobohan dan kepalanya yang sedang terisi oleh berbagai pemikiran, membuatnya tanpa sadar menabrak seorang pria dan membuatnya terhuyung ke belakang. Seandainya seseorang tidak cepat menahan bahunya, Joyceline pastikan jika b****g nya akan mencium lantai mall dengan indah. "Ah, maaf." ucap Joyceline pada pria yang tanpa sengaja dia tabrak. Untungnya, pria itu tersenyum dan mengangguk. Tidak ambil pusing dengan tabrakan yang disebabkan oleh Joyceline. "Hati hati, Joyceline. Aku yakin kau tidak mau menabrak orang untuk yang kedua kalinya, kan?" Joyceline tersentak. Dia menolehkan kepalanya ke belakang, dia menemukan David tengah berada di belakang tubuhnya. Tidak cukup disana, David juga menahan tubuh nya agar tidak jatuh saat tabrakan kecil tadi. Joyceline tersadar ketika dia melihat David menaikan satu alisnya. Bibir tipis pria itu tersenyum saat melihat Joyceline tertegun. "Hai." sapa David "A-hai? Terimakasih." sahut Joyceline setengah terbata. Dia membenarkan masker yang dipakainya. "Kau bisa mengenalku? Padahal aku memakai masker dan kacamata." ucap Joyceline David tersenyum, "Rasanya aneh jika aku tidak mengenalimu. Bahkan rasanya jika ada keramaian sekalipun, aku dapat mudah mengetahui jika itu adalah Joyceline." gurau David Joy tersenyum. Dia benar benar tidak bisa menyembunyikan senyuman nya ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut David. Secara tidak langsung... Pria itu mengatakan jika Joyceline terlihat lebih bersinar dibanding orang lain. Dan mudah dikenali, tentunya. "Sedang berbelanja? Atau mungkin refreshing?" tanya David "Hanya melaksanakan Me-time milik ku. Aku belum belanja apapun." jawab Joyceline sambil memamerkan kedua tangannya yang masih kosong "Atau mungkin aku tidak akan belanja apapun." ringis Joyceline David tersenyum, "Boleh aku bergabung denganmu? Atau jika kau keberatan karena aku mengganggu me-time mu..." ujar David menggantung Joyceline dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Aku tidak keberatan. Aku senang jika ada yang mau menemaniku." sahutnya hangat. Dari kedua matanya, Joyceline jelas tengah tersenyum lebar. David mengangguk setelahnya. Dia berjalan bersampingan dengan Joyceline. Pria itu menatap sekitar dengan seulas senyuman tipisnya. Tidak menghiraukan Joyceline yang berkali kali mencuri pandang padanya dengan gugup. 'Gen Legiond memang patut di puji.' batin Joyceline takjub Bagaimana tidak? Hanya dengan celana bahan panjang berwarna hitam dan kemeja berwarna putih polos, David memancarkan aura Tuan Muda nya dengan sangat baik. Bagian tangan kemeja nya dilipat hingga siku, menampilkan urat kehijauan yang menonjol di lengan pria itu. Belum lagi dengan rambutnya yang ditata keatas, menampilkan dahi dengan titik titik keringat yang menghiasinya. 'Cukup! Aku tidak mau terpesona lebih dari ini!' pikir Joyceline. Dia menarik nafas dan memejamkan matanya sekejap. 'David terlalu berbahaya untukku.' cicitnya dalam hati Seketika, gelombang kesadaran menghantam Joyceline. Dia tanpa sadar menahan bagian siku kemeja David, membuat pria itu menghentikan langkahnya dan menatap Joyceline dengan wajah bertanya. "Ada apa?" tanya David "Skandal itu. Bagimana jika ada orang yang melihat kita dan skandal itu semakin menjadi jadi?" gumam Joyceline David terdiam sejenak. Dia mengedarkan tatapan nya sebelum akhirnya kembali menatap Joyceline, "Aku cukup peka pada kilatan kamera. Sejauh ini tidak ada kamera yang mengarah pada kita." jelasnya Joyceline menipiskan bibirnya dan mengangguk. Dia kembali melanjutkan langkahnya untuk menyusuri pusat perbelanjaan besar itu bersama David. "Kenapa?" tanya David "Apanya yang kenapa?" "Kau terlihat sedang khawatir dan cemas. Apa akan ada seseorang yang marah jika kita berdua seperti ini?" tanya David, memperjelas ucapan nya Joyceline tertegun sesaat sebelum akhirnya menggeleng, "Sepertinya tidak. Aku... Tidak punya pacar." jawabnya sambil meringis 'Ini tidak terdengar seperti kode kan?' tanya Joyceline pada dirinya sendiri "Ah baguslah." sahut David sambil menganggukkan kepalanya Joyceline menganga. Dia menatap David dengan penuh terkejut ketika mendengar kalimat singkat penuh arti yang berasal dari mulut pemuda Legiond itu. 'Lily... Aku rasa, jika dulu kau membawaku ke klinik kecantikan, sekarang lebih baik kau membawaku ke klinik jantung.' ✳✴✳✴✳ Setelah 45 menit berkeliling tanpa kepastian kemana tujuan mereka, akhirnya David dan Joyceline memutuskan untuk memasuki sebuah restauran fast food. Keduanya langsung memesan makanan untuk mengisi perut mereka. Tak perlu menunggu lama, Joyceline dan David langsung mendapatkan pesanan mereka. "Aku kira kau bercanda ketika mengajak ku makan junk food." ucap David "Kenapa harus bercanda?" tanya Joyceline bingung. Dia meraih ice cream yang ada di hadapan nya. "Aku pikir artis menjaga makanan mereka. Apalagi mengingat kotak makan yang selalu kau siapkan untukku selalu makanan yang sehat." jawab David sambil tersenyum penuh arti pada Joyceline. Perempuan itu meringis, dia menatap David dengan serius, "Ini rahasia. Jangan beritahu Lily." bisik nya David tertawa, "Baik. Akan aku rahasiakan hal ini." Joyceline menyodorkan tangannya pada David, pria yang ada di hadapan nya menyambut sodoran tangan Joyceline dengan dahi berkerut. Tapi kemudian kerutan di dahinya hilang saat Joyceline tersenyum lebar dan berkata, "Senang berbisnis dengan anda. Saya harap anda mau merahasiakan hal ini dari saudara Lilyanna Jordan." ujar Joyceline David tersenyum tipis. Mulai mengerti kenapa Joyceline sangat bersinar di dunia entertaint. Dia ramah, lucu dan jujur. Semua ekspresi yang keluar dari wajahnya benar benar tulus, tanpa kepalsuan sama sekali. Sementara Joyceline... Dia pura pura tidak tahu jika David sedang tersenyum tipis sambil menatapnya. Dalam diam, Joyceline berusaha menetralkan ekspresinya. 'Tenang, Joyceline... Tenang. Kau sering mendatangi acara award, disana kau menerima banyak pujian, tapi kau berhasil menetralkan ekspresimu.' 'TAPI KENAPA JIKA DENGAN DAVID, SANGAT SULIT BAGIKU UNTUK MENETRALKAN EKSPRESI KU?! Dia bahkan tidak memuji ku atau mengeluarkan sepatah kata pun.' keluh Joyceline dalam hati Joyceline berdeham dan balik menatap David dengan serius. Dia tidak mau kalah. Jadi dia juga akan terus menatap David hingga pria itu salah tingkah sepertinya tadi. Tapi yang terjadi selanjutnya malah membuat Joyceline malu sendiri. David justru balik menatapnya, memberikan seulas senyuman tipis penuh arti. "Hm?" tanya David singkat "Ada apa?" lanjutnya ketika Joyceline tidak memberikan jawaban apapun Joyceline menggeleng, tatapan seriusnya ternyata tidak memberikan pengaruh apapun bagi David. Malah dia yang malu sendiri karena menatap David terang terangan seperti itu. "Aku penasaran apa yang seorang Polisi lakukan di mall seperti ini." ujar Joyceline pada akhirnya "Aku sedang mencari sesuatu. Sebuah hadiah untuk saudaraku yang sedang hamil." sahut David Kedua mata Joyceline membola, "Ada yang segera menjadi seorang Paman." takjubnya David mengangguk, "Sulit aku percaya ternyata aku sudah tua." gumam nya "Kau akan menjadi Paman ter-keren. Tenang saja." ucap Joyceline sambil menganggukkan kepalanya berkali kali dengan semangat. David tersenyum. Dia meraih segelas soda di hadapan nya dan menyesapnya perlahan. "Ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?" tanya Joyceline David tersenyum, "Terlihat jelas jika aku sedang berfikir?" Joyceline mengangguk. "Aku memikirkan hadiah apa yang bagus dan cocok untuk Shannaya dan bayi nya." ujar David "Aku bisa membantu!" seru Joyceline sambil menyunggingkan senyuman lebar "Kau yakin?" tanya David "Hm, tentu saja. Apa yang aku tidak bisa?" sahut Joyceline sambil tersenyum sombong. Terlihat menggemaskan, apalagi ditangan nya terdapat ice cream yang hampir meleleh. "Baiklah, habiskan ice cream mu. Itu hampir meleleh." putus David pada akhirnya Joyceline memekik kecil, dia langsung menyendok ice cream nya yang benar benar sudah meleleh dengan cepat. Begitu juga dengan David. Dia menghabiskan kentang goreng dan burger nya tanpa mengatakan apapun lagi. ✳✴✳✴✳ David mengikuti langkah riang Joyceline memasuki sebuah toko perlengkapan bayi. Dia mempercayakan sepenuhnya pada Joyceline, karena sejujurnya... David juga mengikuti Joyceline bukan tanpa maksud. Dia bingung tentang apa yang harus diberikan sebagai hadiah pada Shanna. Dan berharap jika Joyceline bisa memberinya bantuan. Dan benar kan? Perempuan itu bisa memberinya bantuan. "Apa jenis kelamin bayi nya sudah terlihat?" tanya Joyceline tanpa mengalihkan pandangannya pada David. Dia terfokus pada deretan pakaian bayi yang berada di hadapan nya. "Hmmmm, biar aku ingat ingat dulu." gumam David. Joyceline menatapnya, menunggu jawaban yang keluar dari pria yang berdiri di samping nya. "Laki laki." jawab David Joyceline berseru takjub. Kemudian dia kembali menatap deretan pakaian bayi yang ada di hadapan nya. "Apa yang ingin kau beli? Pakaian? Mainan?" tanya Joyceline memastikan "Entah. Aku akan membeli apapun yang di butuhkan." jawab David Setelah menimbang beberapa saat, Joyceline akhirnya meraih beberapa pakaian bayi baru lahir dan memasukan nya ke dalam keranjang belanja. "Tidak masalah jika aku membeli sebanyak ini?" tanya Joyceline ragu, terlebih ketika menyadari jika toko yang di masuki nya dengan David sekarang ada sebuah toko pakaian bayi bermerk terkenal. "Tak apa. Ambil apa yang sekira nya dibutuhkan untuk anak bayi. Jangan lihat harga nya." sahut David Sedetik kemudian, Joyceline tersadar jika orang yang sedang bersama nya saat ini adalah seorang Legiond. "Baiklah, ayo lihat yang ke toko lain juga. Disini hanya ada pakaian." ajak Joyceline sambil melangkah kan kakinya ke arah kasir. Dia rasa, sudah cukup mengambil pakaian bayi nya. Masih ada beberapa barang yang diperlukan bayi. Joyceline menyimpan keranjang belanja nya ke atas meja. Dia memberikan senyuman pada seorang perempuan yang berdiri di belakang meja kasir. Walau sepertinya sia sia karena Joyceline tengah memakai masker saat ini. Cukup lama dia berdiri di sana, menatap layar LED berukuran kecil yang menampilkan total harga yang harus dibayar untuk baju bayi yang mereka beli. "Totalnya....." kasir itu mengatakan nominal uang yang harus di bayar. David tanpa keluhan sama sekali menyodorkan black card nya pada kasir itu. Dia menekan sejumlah angka dan meraih paper bag yang berisi pakaian bayi di hadapan nya. Keduanya kemudian berlalu setelah pembayaran mereka selesai. "David, kau tahu? Aku kira kau akan menjadi seorang Ayah yang baik." ujar Joyceline David menaikan satu alisnya dan menatap Joyceline, "Itu pujian?" tanya nya "Tentu saja." sahut Joyceline David terkekeh. Dia mengusap wajahnya dan tersenyum pada Joyceline, "Lupakan pembicaraan tentang Ayah yang baik. Ayo kita masuk ke toko lainnya." pinta nya Setelah mengatakan itu, David mempercepat langkahnya. Meninggalkan Joyceline yang terdiam di belakangnya. "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" gumam Joyceline 'Sekilas, aku bisa melihat rasa sakit di mata nya. Apa aku mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan?' ✳✴✳✴✳ Sejak saat itu, baik David maupun Joyceline, sama sama lebih banyak diam. Keduanya hanya berbicara seperlunya. Apalagi Joyceline yang entah kenapa, merasa jika dirinya saat ini tengah menghadapi kemarahan David. Padahal David tidak mengatakan sesuatu yang menyinggung nya. Dan sialnya, Joyceline harus menumpang di mobil David untuk pulang ke rumah. Mobil miliknya entah kenapa tidak bisa menyala. Awalnya Joyceline menolak, enggan terjebak dengan perasaan tidak menentu seperti ini lebih lama dari seharusnya. Sayang nya, ponsel miliknya mati. Jadi dia tidak bisa menghubungi Lily ataupun memesan taksi online. Kali ini Joyceline membenci bagaimana semesta harus membiarkan nya lebih lama dengan David. Sepanjang jalan, Joyceline menatap keluar jendela. Rintik air hujan membasahi jendela mobil yang di tumpangi nya. Dan Joyceline memutuskan jika untuk keadaan ini, bulir bulir air yang menghujami jendela lebih menarik dibanding wajah David. Kedua mata Joyceline perlahan menyendu. Dia bahkan tidak tahu kesalahan apa yang dibuatnya. Tapi aura kemarahan yang tersembunyi dibalik wajah tenang David membuatnya ciut begitu saja. "Maaf." Joyceline mengerjapkan matanya ketika suara David menyapa telinga nya. "Maaf karena suasana hatiku mendadak buruk seperti ini." lanjut David "O-oh? Tak apa. Aku juga tidak tahu apa apa tentang suasana hatimu, tenang saja. Aku banyak diam karena sepertinya aku sariwana." sahut Joyceline asal. Tak lupa dengan tawa canggung yang tentu saja terdengar sangat dipaksakan. "Sejujurnya aku menyadari jika yang kau ucapkan tadi adalah pujian. Tapi mendadak aku mengingat seseorang dari masa lalu yang pernah mengatakan hal yang sama." jelas David tanpa diminta Kali ini Joyceline terdiam. Dalam hati bergumam jika pria yang di depan nya ini... 'Baiklah. Dia sepertinya mengingat seseorang yang penting di hidupnya. Sepertinya perempuan.' "Tidak perlu menjelaskan nya. Tak apa. Salah ku juga. Seharusnya aku tidak mengatakan hal seperti itu pada seseorang yang baru aku kenal." sahut Joyceline dengan senyuman tipis. Dia kembali mengalihkan pandangan nya ke jendela. Senyumnya perlahan memudar. Dia menatap kosong pantulan dirinya di jendela. 'Benar. Kau dan David baru kenal, Joyceline. Bagaimana mungkin kau bersikap tidak tahu diri padanya?' Tanpa mengeluarkan suara, Joyceline menghela nafasnya. Mobil berhenti ketika lampu lalu lintas menunjukan warna merah. Keheningan kembali menguasai keadaan. Hanya suara hujan deras yang mengisi keheningan itu. Joyceline menatap sebongkah batu besar yang berada di pinggir jalan. Tetes demi tetes air menghujam benda berat itu tanpa henti. "Air hujan akan menghujami batu yang keras tanpa henti. Lama kelamaan, air itu mampu membuat bentuk batu nya berubah. Mereka mengikis batu itu tanpa henti walau mengetahui jika batu itu sangatlah keras. Belajarlah dari air hujan, Celine. Tanpa lelah menghujam batu, hingga nantinya batu itu akan terkikis dan kalah oleh benda cair seperti tetes hujan." Suara seorang perempuan yang dikenalnya tiba tiba terdengar di kepala Joyceline.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN