"Kau masih hidup?"
"Wow, aku kira kau sudah mati. Mereka membunuhmu atau mungkin mereka akan menikmati tubuhmu terlebih dahulu sebelum akhirnya membunuh mu."
Joyceline berbalik, dia menatap tajam bibi nya, penjahat nomor satu di rumah miliknya.
"Harus aku tegaskan, ini adalah rumahku! Bukan milikmu, suami mu atau anakmu." tekan Joyceline
"Harta, pakaian dan makanan yang kau nikmati sekarang adalah milikku. Aku pemilik yang SAH. Jadi, jaga ucapanmu. Jika bukan karena harta sumbanganku, kau pasti sudah menjadi gelandangan." sarkas Joy
Dia berbalik dan kembali menaiki tangga. Dia harus membersihkan dirinya setelah seharian pengalami penculikan.
"Jaga ucapanmu juga, Celine! Jika bukan karena belas kasih kami, kau hanya akan hidup sendirian ketika kedua orang tua mu mati!" sentak Tamara, bibi dari Joyceline
Joy kembali menghentikan langkahnya. Dia bersidekap dan berbalik, menatap bibi nya dengan angkuh.
"Dibandingkan berbelas kasihan dan merawatku, kalian lebih seperti lintah. Menempel dan menyedot. Beda nya, kalian menyedot habis hartaku." sahut Joyceline enteng
"Kalian melihat kematian orang tua ku sebagai kesempatan untuk kembali merasakan hidup dengan kemewahan dibandingkan merawatku. Jangan membuatku melaporkan kalian pada pengacara keluarga ku." lanjut Joy
Tanpa menghiraukan umpatan bibi nya yang menyumpahi nya untuk turut mati seperti kedua orang tua nya, Joy berjalan dengan acuh menaiki tangga. Dia sudah muak dengan keberadaan Paman, Bibi dan anak bibi nya yang sok berkuasa.
Joy menyalakan lampu kamarnya. Dia menatap kamarnya yang berukuran besar itu dengan sorot terharu.
Joy berlari dan melompat ke atas ranjang nya. Dia mendesah puas dan memejamkan matanya.
"Aku tidak jadi mati. Aku kira kemarin adalah saat terakhir ku untuk menikmati ranjang teristimewa ku." desahnya lega
Kemudian tatapan Joy beralih pada iPad nya yang berada di dalam laci nakas. Dia berguling, membuka laci nakasnya dan meraih benda elektronik kesayangan nya itu dengan hati hati.
Joy mengaktifkan benda itu, dia langsung mengirim pesan pada Lily untuk mengabarkan jika dirinya kini sudah baik baik saja dan sampai ke rumah dengan selamat. Setelah itu, Joy yang tadinya hendak me-non aktifkan iPad nya, mendadak berubah tujuan.
Jarinya menyentuh icon browser, dia mengetikkan jarinya diatas benda datar itu. Mencari sebuah kata kunci tentang keluarga Legiond.
"Ah, sepertinya para orang kaya memang memiliki masalah di level yang berbeda dari orang biasa." gumam nya ketika melihat deretan kasus yang bisa di telusuri berdasarkan keyword itu.
Kemudian tatapan nya mengarah pada sebuah foto. Ada David disana, membelakangi adiknya.
"Oh, kasus ini." gumam Joy lagi. Dia kembali mengingat sebuah kasus besar yang menyeret nama Dionald Legiond.
Setelahnya, Joy menghela nafasnya dan menyimpan benda pipih itu ke atas meja. Dia kembali berguling ke tengah ranjang dan menatap langit langit kamarnya.
Perlakuan David padanya sangat lembut. Pria itu seolah tahu jika Joy baru saja mengalami insiden yang bisa saja membuatnya terluka secara psikis. Karena itu, David terus menerus mengajak Joy untuk membicarakan sesuatu yang menyenangkan.
Suara notifikasi dari iPad nya kembali mengalihkan perhatian Joy. Dia meraih benda itu dan melihat balasan apa yang diberikan Lily padanya.
Bersihkan dirimu. Banyak kuman kuman yang bisa menyerang tubuhmu karena berinteraksi dengan para penjahat itu.
Dan sudah ku bilang, LAIN KALI IKUTI PERINTAHKU!
Joy tertawa puas ketika melihat pesan capslock yang diberikan Lily padanya. Tanpa membalas pesan itu, Joy menyimpan iPad nya dan beranjak dari tempat tidurnya. Dia membuka semua pakaian nya dan berjalan memasuki kamar mandi.
Joy menutup kedua matanya, menikmati guyuran air hangat yang menerpa tubuhnya. Tanpa disadarinya, air mata luruh begitu saja dari kedua mata yang tertutup itu.
'Aku mungkin tidak mati sekarang. Tapi melihat bagaimana rumahku yang dihuni oleh orang orang yang membenciku, kematian pasti akan selalu membayangiku.'
'Aku... Rindu Ayah dan Ibu.'
✳✴✳✴✳
Keesokan harinya, Joy turun dari kamarnya dengan pakaian rapi. Dia berjalan tanpa menghiraukan Paman, Bibi dan saudara nya yang tengah sarapan di meja makan.
Mereka seolah olah menjadi pemilik dari salah satu rumah besar di perumahan elit itu. Tingkah mereka cukup untuk membuat Joy berdecih kesal dan memasuki mobilnya dengan cepat.
"Sepertinya aku harus membeli apartemen. Aku tidak mau tinggal bersama mereka di rumah ini, tapi aku juga tidak ingin jika rumah peninggalan orang tua ku jatuh ke tangan mereka." gumam Joyceline
Dia menginjak pedal gas, membawa mobil itu bergerak keluar dari halaman rumahnya.
Suara notifikasi dari iPad yang ada di sebelahnya membuat Joy sedikit melirik benda berlayar besar itu. Terlihat notifikasi dari Lily yang meminta nya untuk cepat tiba di kantor polisi.
"Ah iya, aku lupa jika aku masih memiliki urusan di kantor polisi." gumam Joy lagi. Dia membelokkan stir mobilnya, mengarah pada jalan lain yang menuju ke arah kantor polisi.
Joy mengerutkan dahinya ketika melihat keramaian di depan kantor polisi. Beberapa orang terlihat memegang kamera nya, kilatan cahaya blitz terlihat menyorot ke arah kantor polisi.
"Wartawan?" tanya Joy bingung. Dia menjalankan mobilnya hingga sampai di depan kantor polisi, Joy kembali mengerutkan dahinya ketika melihat beberapa polisi yang semalam terlihat mengamankan tkp, kini sedang membuka jalan.
Mempersilahkan mobil Joy untuk masuk ke halaman kantor polisi yang luas.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Joy segera menjalankan mobilnya untuk memasuki wilayah kantor polisi. Setelah mobilnya terparkir dengan rapi, Joy segera turun dari mobilnya. Dia melirik sekilas pada kilatan kamera yang semakin mengganas.
"Ayo, kita sudah ditunggu." ujar Lily yang sudah sejak tadi menunggu di kantor polisi
"Kenapa kau tidak menjemputku?" protes Joy
"Aku malas. Lagipula aku datang lebih awal sebagai pelapor. Bukan manajermu!" sahut Lily santai
"Astaga, kau memakan gaji buta." rutuk Joy
Keduanya beranjak memasuki kantor polisi tanpa menghiraukan kilatan cahaya yang mengarah pada keduanya.
Sementara di ruangan nya, David menatap keramaian di luar sana dengan wajah datarnya.
"Joyceline pasti akan selalu menarik perhatian. Terlebih karena dia aktris yang sedang terkenal saat ini." ucap suara di belakang David, Adam
"Ya. Aku terkejut dengan popularitasnya." sahut David
"Kau tidak punya tv ya? Saat ini memang semua orang sedang menggila karena Joyceline. Cantik, pintar, menarik dan ramah. Empat pesona yang cukup untuk membuat banyak orang takjub. Terlebih dia masih muda." jelas Adam
"Aku tidak terlalu menyukai dunia yang gemerlap seperti itu. Banyak hal tersembunyi dibalik dunia yang gemerlap." sangkal David
"Seperti kasus kemarin?" tanya Adam
"Ya. Seperti kasus Annie." jawab David